Minggu Paskah 6 | Unduh-unduh
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 16 : 9 –15
Bacaan 2: Wahyu 21: 10, 22 – 22 : 5
Bacaan 3: Yohanes 14 : 21 – 31
Tema Liturgis: Mesyukuri Berkat Tuhan dalam Segala Keadaan
Tema Khotbah: Bersyukur dalam Segala Perkara
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 16 : 9 – 15
Paulus mendapatkan penglihatan untuk memberitakan Injil ke daerah Makedonia (Ay. 9). Ia menyimpulkan bahwa Allah telah memanggil mereka untuk memberitakan Injil secara lebih luas kepada orang-orang yang berada di daerah tersebut (Ay. 10). Ketika tiba di Makedonia, mereka berkesempatan untuk memberitakan Injil kepada perempuan yang berkumpul di salah satu tempat sembahyang Yahudi, dan salah satu di antara mereka adalah Lidia (ay. 13-14). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Paulus dkk tidak hanya memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja, mereka juga memberitakan kepada para perempuan.
Lidia adalah seorang penjual kain ungu sehingga dari status sosial, ia merupakan orang kaya, karena kain ungu merupakan kain yang mahal harganya. Ia dibaptis bersama dengan seisi rumahnya. Keselamatan yang diterima oleh Lidia beserta dengan keluarganya telah menjadikannya ikut ambil bagian untuk juga melayani Paulus dkk, dengan mengajak mereka untuk menginap di rumahnya (Ay. 15).
Wahyu 21 : 10, 22 – 22 : 5
Gambaran tentang “Yerusalem Baru” sungguh menyenangkan penuh dengan terang kemuliaan Allah. Keadaan dimana Allah bertahta membuat manusia tidak lagi memikirkan kebutuhan duniawi, karena penuh kedamaian dan sukacita. Kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus (Anak Domba) juga dirasakan oleh segala bangsa. Semua orang hanya mengabdi pada kehendak Allah dan bukan kebutuhan pribadinya. Semua orang hidup dalam terang yang artinya perilaku yang berkenan dihadirat–Nya, serta hidup dalam kedamaian dan sukacita.
Yohanes 14 : 21 – 31
Perikop ini merupakan bagian dari rangkaian selamat berpisah dari Tuhan Yesus kepada murid-murid–Nya yang dimulai dari pasal 13-16. Yudas yang bukan Iskariot menyampaikan reaksinya terhadap pernyataan Tuhan Yesus demikian, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri–Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Ay. 22). Ini merupakan reaksi keempat dari para murid. Melihat hal ini Tuhan Yesus memberitahukan kepada mereka bahwa Ia akan memberikan penolong yang lain yaitu Roh Kudus. Selain itu, Roh Kudus juga akan menyertai, menghibur, mengajarkan, dan mengingatkan semua yang sudah diajarkan oleh Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus juga akan memberikan damai sejahtera, yang bersumber pada kayu salib karena melalui salib itulah, Tuhan Yesus memperdamaikan kita dengan Allah. Semua ini diberitahukan kepada para murid supaya mereka tidak kuatir dan ragu akan apa yang akan terjadi dalam kehidupan mereka, melainkan menjadi sukacita.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kasih Allah kepada manusia berupa keselamatan tidak dibatasi oleh bangsa, jenis kelamin, maupun keadaan fisik. Semua orang layak menerima pemberitaan Injil dan menerima karya keselamatan Allah. Tuhan juga akan memberikan kedamaian dan sukacita kepada setiap orang percaya kepada–Nya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Para kekasih Tuhan, siapakah di antara kita yang pernah mengalami perubahan acara, rencana atau peristiwa secara tiba-tiba, mendadak, dan mengejutkan? Kalau boleh saya menduga, kita semua tentu pernah mengalaminya, bahkan bisa jadi belum sempat kita berpikir dan bersiap-siap, justru peristiwa itu sudah terjadi di depan mata kita. Masalahnya, bila peristiwa itu sangat tidak kita harapkan, tidak cocok, menyusahkan, merugikan, bisa dipastikan kita semua akan tergopoh-gopoh, resah, gelisah, tidak tenang bahkan putus harapan.
Isi
Bacaan Kisah Para Rasul 16:9–15 menyuguhkan cerita tentang perubahan rencana yang dialami rasul Paulus (Ay. 9). Berbeda dengan perjalanan sebelumnya (Kis. 16:4–5) dari kota ke kota untuk menyampaikan keputusan para rasul dan penatua di Yerusalem yang membuahkan hasil pertumbuhan dan pertambahan anggota Jemaat dalam jumlah besar. Kali ini rasul Paulus menyusur tepian sungai menemukan tempat sembayang orang Yahudi dan sekelompok kecil perempuan dan hanya membaptiskan Lidia beserta seisi rumahnya (Ay. 15). Kendati demikian, rasul Paulus tidak bersungut-sungut, kecewa, ataupun memberontak kepada Tuhan, karena ternyata rencana Tuhan yang diikutinya kali ini, hasilnya tidak sebanding dengan perjalanan sebelumnya.
Mungkin kita masih ingat atau pernah mendengar cerita Sandi Rihata, penyandang cacat tubuh yang menjadi kuli bangunan di Mabes Angkatan Darat. Ia sadar akan kekurangan badannya, tetapi ia tidak meratapi kekurangannya, tidak menjual belas kasihan. Ia tetap dan terus bekerja, menanggungjawabi hidupnya. Sampai suatu saat Kepala Staf Angkatan Darat melihat memperhatikan kegigihan dan mengajaknya makan siang. Tidak berhenti di sini, Sandi akhirnya mendapatkan dukungan secara pribadi dari pimpinan Angkatan Darat, baik moril maupun material, meskipun Sandi Rihata masih tetap dan terus bekerja sebagai kuli bangunan.
Bapak, Ibu, Saudara yang terkasih, setiap orang yang dipanggil, dipilih oleh Tuhan dan dipersekutukan dalam gereja-Nya, dia mengemban dan memenuhi panggilan itu sebagai saksi dan surat Kristus menjadi berkat bagi sesamanya. Bersyukur merupakan salah satu cara untuk bersaksi. Kendala, tantangan dan cobaan seringkali kita alami, namun tetaplah bersyukur, kendati kenyataan yang kita terima tidak sesaui dengan apa yang diharapkan. Dengan senantiasa bersyukur maka kita dimampukan untuk:
- Setia dengan panggilan Tuhan.
- Sungguh-sungguh dalam melakukan panggilan itu.
- Seperti Rasul Paulus, kita yakin bahwa Tuhan pun turut bersama-sama hadir dan merasakan penderitaan kita.
- Kita yakin apa yang kita alami tidak pernah sia-sia.
Penutup
Tetap dan terus bersyukur dalam segala keadaan adalah jalan hidup bagi setiap orang percaya, pilihan yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri. Kesadaran bahwa kesetiaan, kesungguhan, keyakinan Tuhan Yesus sebagai Gembala yang baik turut hadir dan merasakan penderitaan kita akan menjadikan kita tetap dapat melanjutkan hidup ini dan menjadikan hati dan pikiran tenang tentram. Tidak akan ada yang sia-sia apabila kita meyakini dan sadar dalam segala hal Allah bersama kita, karena semua akan berakhir dengan kemuliaan dan ketentraman. Amin. [Japri].
Pujian: KJ. 287b : 1, 2 Sekarang B’ri Syukur
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Ing antawis kita tamtunipun nate ngalami prekawis ingkang wujudipun rancangan, angen-angen, pangajeng-ajeng ingkang dumadakan ewah. Tamtunipun sampun limrah menawi kita sami kaget awit punapa ingkang sampun kita rancang boten sami kaliyan kasunyatanipun. Punapa malih ingkang kita alami punika prekawis kaprihatosan, kasisahan. Tamtu sampun sak mesthinipun kita gupuh, kecuwan ing panggalih lan saged ugi murugaken kita cupet ing nalar lan wusananipun kecalan pangajeng-ajeng, rumaos gesang punika mboten wonten gunanipun, mboten ngremenaken, lan mboten nentremaken.
Isi
Ing waosan kita, Lelakone Para Rasul 16:9-15, kacariosaken bilih rasul Paulus dumadakan kadawuhan dening Gusti Allah ngewahi rancanganipun. Piyambakipun kedah lumampah martosaken Injil wonten ing tlatah Makedonia (Ay. 9). Rancangan punika saestu linawanan klayan rancanganipun netepi jejibahan, anggenipun martosaken lan masrahaken pancasanipun para rasul lan pinisepuh ing Yerusalem dhumateng pasamuan-pasamuan (16:4,5) ingkang sumebar ing kitha-kitha, ingkang karana paladosan punika nuwuhaken cacahipun pasamuan ingkang kathah. Samangke rasul Paulus jumangkah ing tlatah Filipi namung pinanggih klayan sapantha alit pawestri lan namung mbaptis satunggal pawestri klayan priyantun ing griyanipun. Wondene rasul Paulus mboten nggrundel, mboten kecuwan ing panggalih, karana namung saged martosaken Injil ing antawisipun pawestri ugi namung saged mbaptis tiyang sakedhik (16:15).
Para kekasihipun Gusti, mbok bilih ing antawis kita nate mirsani utawi mireng cariosipun Sandi Rihata, piantun “penyandang cacat”, ingkang nyambut damel ing Markas Besar Angkatan Darat dados kuli bangunan. Piyambakipun mboten sambat, mboten sumelang, mboten “adol kasangsaranipun”, nanging kosok wangsulipun piyambakipun tansah sregep lan ulet ngayahi pandamelanipun, nanggeljawabi kabetahan gesangipun. Ing satunggaling wekdal, Sandi pikantuk kawigatosan Kepala Staf Angkatan Darat. Wiwit ing dinten punika Sandi pikantuk sokongan ingkang saestu mbiyantu nyekapi kabetahinipun. Senaosa pikantuk pitulungan lan pambyantu ingkang saestu linangkung nyekapi kabetahinipun, Sandi mboten kendhel anggenipun nyambut damel.
Para kekasihipun Gusti, saben tiyang ingkang tinimbalan lan kapiji dening Gusti dados panderekipun lan kaiket ing patunggilan punika, nggadahi jejibahan minangka saksi lan layang ingkang migunani tumraping sesami. Anggen kita sami nyaosaken pamuji sokur punika salah satunggaling lantaran ingkang migunani. Ing pundi sok sintena sesami kita saged tepang lan sumurup babagan Gusti Yesus Kristus minangka “Pangon Gesang ingkang sayekti”. Ewondene, saestu mboten gampil kangge kita nyaosaken pamuji sokur ing ngarsanipun Allah nalika kita sami nampi kasangsaran, rubeda, ugi sawernining pambengan. Lumantaran waosan kita ingkang anggelar kapribaden lan tumindhakipun rasul Paulus, kita dipun tuladani tata cara ning gesang ingkang wosipun gesang nderek Gusti kebak saos sokur sinaosa klawan tata laku gesang prasaja. Ing antawasipun inggih punika:
- Setya tuhu ing timbalanipun Gusti.
- Kanthi tumemen nglampahi jejibahinipun.
- Mboten gampil kecuwan ing panggalih nalika angen-angen kita mboten cocok klayan kasunyatan.
- Rasul Paulus pitados bilih Gusti Yesus mboten namung anyarengi umatipun nanging ugi ngraosaken rekasa lan kasangsaranipun.
- Rasul Paulus pitados Gusti tansah nganthi lan punapa kemawon kasangsaran ingkang dipun tampi punika mboten nglaha.
Panutup
Gesang kebak ing saos sokur punika minangka lelampahan gesang ingkang kedah ka ambah dening saben tiyang ingkang wanuh dhumateng Gusti Yesus Kristus. Kanthi kesadaran bilih kasetyan, tumemen ,lan pitados bilih Gusti Yesus mboten namung anyarengi, nanging ugi nderek ngraosaken karibedan lan kasangsaran ingkang kita sandang punika, minangka kalairipun gesang ingkang kebak saos sokur ugi punika wujudipun kita sami netepi timbalanipun Gusti. Kita purun dados seksi ingkang gesang lan dados talang ing berkah. Anjawi saking punika, gesang kita tamtu nampi katentreman. Mboten wonten ingkang muspra nalika kita pitados bilih Gusti anyarira ing salebeting lan sawerninipun panandang, karana tamtu pungkasanipun, kita badhe ngraosaken kamulyan lan katentreman ingkang sayekti. Amin. [Japri].
Pamuji: KPJ. 154 : 1, 2 Adrenging Tyas Kula