Bersyukur adalah Bentuk Cinta Kepada-Nya Khotbah Minggu 15 Mei 2022

2 May 2022

Minggu Paskah V | Unduh-unduh
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 11 : 1 18
Bacaan 2: Wahyu 21: 1 6
Bacaan 3: Yohanes 13: 31 35

Tema Liturgis: Mensyukuri Berkat Tuhan di Segala Keadaan
Tema Khotbah: Bersyukur adalah Bentuk Cinta kepadaNya

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 11 : 1 18
Kasih Tuhan itu dinyatakan untuk semua orang yang Dia kehendaki tanpa kita bisa menghalanginya. (bandingkan dengan ayat 17). Semua yang memimpin ke arah kebaikan dan pertobatan adalah kasih karunia Tuhan. Pengakuan bahwa bangsa-bangsa lain juga diperkenankan mendapatkan kasih karunia Allah menjadi penting dalam Kisah Para Rasul ini. Perikop kita ini membawa pelajaran berharga, yakni Pertama, kasih karunia Allah itu berlaku untuk semua, sesuai dengan kehendakNya. Tak ada yang bisa mengatur Tuhan untuk memberikan kasih karuniaNya kepada orang lain. Dengan pemahaman ini tidak boleh lagi ada pemahaman bahwa gereja kita lebih baik daripada gereja orang lain, kecuali dalam pemahaman bersama aku menjadi gereja Tuhan yang melayani sebaik mungkin tanpa menghakimi yang lain sebagai yang lebih rendah daripada kita.

Kedua, kita yang telah menerima kasih karunia, semua dipanggil untuk menjadi alat Tuhan sebagai pemberita karya Tuhan itu, yang memimpin kita pada kasih karuniaNya, dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup ini. Selama kita masih menghakimi orang lain sebagai orang-orang berdosa, maka kita tidak akan pernah berelasi sehat dan mereka takkan pernah merasakan kehadiran Tuhan yang terlihat melalui hidup dan tindakan kita sehari-hari. Keselamatan Tuhan itu dianugerahkan bagi kita dan juga bagi orang lain, dan pekerjaan kita adalah melanjutkan dan mengejawantahkan kasih dan keselamatan yang dari Allah itu kepada siapa pun di sekeliling kita.

Wahyu 21 : 1 – 6
Bacaan kedua ini lebih bermakna metafor, bumi dan langit yang baru turun dari Sorga, turun ke mana? Ya ke dunia ini. Dunia yang sama namun dengan suasana yang baru. Suasana yang ditandai dengan keberadaan kemah Allah yang berada di tengah-tengah manusia (Ay. 3), yaitu penegasan kedekatan Tuhan dan manusia yang lebih baik, lebih taat, dan lebih membahagiakan, di mana Tuhan diakui sebagai raja. Pengharapan indah dijawab oleh Tuhan dan damai sejahtera dirasakan oleh semua yang mengakuiNya. Tak ada lagi tangisan, bahkan maut pun dikalahkanNya. Bahkan setiap orang boleh minum di mata air kehidupan (Ay. 6), dan inilah kebahagiaan yang didambakan oleh semua makhluk dalam tujuan akhir kehidupan ini.

Yohanes 13 : 31 35
Tuhan Yesus mengungkapkan kata-kata di perikop ini kepada para murid-muridNya sebagai salam perpisahan sekaligus mempersiapkan apa yang harus dilakukan mereka saat Tuhan tidak bersama lagi. Terdapat tiga perintah utama dalam perikop tersebut yaitu :

  1. Tugas yang harus dilakukan para murid, yakni bersaksi dengan mengasihi serta menghasilkan buah.
  2. Adanya perlawanan dari Iblis dan dunia akan dihadapi para murid.
  3. Penguatan dari Tuhan yang mendukung para murid dalam menghadapi Iblis serta membuat mereka menang dan bersama Tuhan Yesus pada saatnya.

Yang menjadi luar biasa adalah perintah baru, yaitu saling mengasihi, karena mereka bukan lagi sebagai suku atau bangsa Yahudi, namun karena mereka sekarang adalah milik Tuhan Yesus. Perwujudan kasih ini adalah kesaksian para pengikut Tuhan Yesus di seluruh dunia, bahkan menjadi identitasnya. Meskipun demikian, itu terjadi bukan karena manusia yang membuatNya, tetapi Tuhan Yesus sendirilah yang telah menjalankan bahkan memenuhi kasih yang luar biasa indah. Yang bahkan manusia pun tak pernah bisa membayangkannya, namun turut merasakan dan melanjutkan karya kasih Tuhan itu kepada dunia.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Kasih memang ajaib dan itu bukan karena manusia, namun Tuhan sendirilah kasih itu. Manusia diberikan kasih indah itu serta pengharapan dengan satu tujuan: Tuhan dimuliakan, tidak ada yang lain. Kebersamaan sebagai sesama milik Tuhan Yesus melintas suku dan bangsa itu membuat kita semua dikuatkan bersama, dalam bersaksi di tengah dunia dan memenuhi panggilan Tuhan sendiri, bahwa hidup adalah kasih yang bisa dirasakan oleh semua makhluk.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Banyak orang lupa apa makna belas kasih. Dalam masyarakat kita, belas kasih biasanya bermakna kelembutan, seolah-olah belas kasih itu hanya berarti bersikap lembut dan memberi sesuatu kepada orang lain atau memberi amal. Namun tindakan berbelas kasih juga bisa berarti melakukan tindakan yang keras dan tegas pada orang yang kita kasihi. Antara kelembutan dan ketegasan berjalan beriring dalam membawa kebaikan untuk sesama yang kita temui. Tindakan berbelas kasih tidak berarti merendahkan diri, namun belas kasih itu bersikap solider kepada sesama secara merata. Belas kasih membutuhkan karakter kuat dan pengorbanan yang besar. Itu sebabnya dalam pendidikan karakter, baik di sekolah maupun di rumah, antara kelembutan dan ketegasan selalu bertautan untuk membawa anak-anak kita ini peduli, mengasihi, namun juga tidak bodoh dan asal dalam menjalankannya. Ada tanggung jawab dalam melakukan tindakan mengasihi, bahkan ketika berbelas kasih. Tindakan belas kasih memiliki konsekuensi yang besar. Siapapun yang pernah mengalami belas kasih dan bersyukur akan mengalaminya dalam waktu yang lama sebagai kenangan indah, dan bahkan menginspirasi untuk melakukan dan meneruskannya kepada orang lain. Apakah itu balas budi ? Tentu sebagai orang percaya akan berkata: Ini ucapan syukur atas kebaikan Tuhan melalui orang yang berbelas kasih. Sejak kita kecil, kita memerlukan bantuan orang lain, lahir, dewasa, bahkan saat mati pun manusia memerlukan bantuan orang lain bukan?

Isi
Hidup sebagai orang Kristen yang bersyukur adalah salah satu pokok ajaran Bapa Gereja, Johanes Calvin (1509-1564). Anugerah Allah Bapa dalam Tuhan Yesus Kristus yang menyelamatkan dunia menjadi dasar hidup bersyukur. Kita pun bersyukur, karena diberikan karunia itu, meskipun secara geografis barangkali tidak memungkinkan jika tidak ada orang yang bersusah payah memberitakan. Negeri Indonesia tidak saja jauh, namun belum dikenal saat itu, oleh mereka yang menjelajah dan membawa pewarta Injil. Kesaksian dalam Kisah Para Rasul 11 : 1-18 menunjukkan bahwa Kasih Tuhan itu tidak bisa dihalangi oleh apapun, dan bahwa setiap orang dikaruniai kasih Tuhan sama kesempatannya dengan yang lain. Dengan maksud bahwa setiap orang percaya yang diberi karunia kasih dan kemurahanNya itu melanjutkan membawa kepada mereka yang belum mengenal kasihNya.

Seringkah kita bertanya, “Sudahkah aku mengucap syukur kepada mereka yang mengenalkanku pada Tuhan Yesus Sang Juru Selamat? Mungkin kebanyakan kita akan menjawab gereja, atau guru sekolah Minggu, atau pendeta. Sebelum mereka semua mengenal Tuhan, bukankah ada yang berjuang untuk memberitakan Injil sampai ke bumi Nusantara dengan banyak pengorbanan, bahkan jiwa dan raga? Dan apa yang kita berikan untuk menghargai mereka? Jawabnya sederhana: Mari kita meneruskan kebaikan mereka, semangat mereka mengabarkan damai sejahtera dengan mengejawantahkan semangat itu melalui hidup kita yang bersyukur. Pekerjaan yang diberikan Tuhan dan dipercayakan untuk kita ini, mari dilakukan dengan penuh cinta, dan membawakan cinta Tuhan Yesus terasakan di tengah-tengah keluarga, tempat kerja, juga pelayanan dalam gereja dan masyarakat di manapun kita berada.

Suasana sorgawi yang digambarkan dalam kitab Wahyu 21 terutama di ayat 3 adalah kehadiran Tuhan di tengah umatNya di mana kebahagiaan dan ketaatan itu terjadi dalam pengakuan bahwa hanya Tuhanlah yang meraja dalam hidup ini menjadi nyata. Yerusalem baru bukanlah tempat yang asing, dia turun dari sorga ke dunia. Itu artinya dunia ini adalah tempat kebahagiaan baru, pengharapan baru bersama kasih Tuhan, dan keberadaan Tuhan bersama manusia yang percaya penuh kepadaNya.

Bahwa kita semua boleh berpengharapan adalah karunia indah Tuhan. Ada damai sejahtera, tak ada lagi tangisan, bahkan maut pun lenyap ketika bersamaNya. Setiap orang yang sungguh menyerahkan hidup kepadaNya melalui semua aktivitas selama di dunia, pada saatnya boleh minum di mata air kehidupan (Ay. 6). Bukankah ini yang menjadi kebahagiaan yang didambakan oleh semua makhluk dalam tujuan akhir kehidupan ini? Dalam lagu karangan sesepuh kita bapa Dirman Sasmokoadi disebutkan: Ngarah apa maneh aku… aku bocah kang rahayu. (disitir dalam Kidung KPJ 379. LAH AKU BOCAH RAHAYU). Apa lagi yang hendak kita cari, jika bukan kehidupan bersama Tuhan Yesus selama-lamanya dalam kebahagiaan kekal.

Sebagai sesama murid dan milik Tuhan Yesus, kita semua mendapat panggilan yang sama, yakni bersaksi dan menghasilkan buah yang bisa dirasakan oleh dunia. Itu tanggung jawab kita yakni bersyukur dengan mengingat kebaikan dan kemurahan Tuhan ini, selama kita diberi kesempatan. Di dalam hidup penuh syukur, yakinlah bahwa penyertaan Tuhan Yesus selalu bersama di saat apapun, bahkan di saat tergelap dalam hidup yang kita jalani, selalu ada cahaya Kristus ketika kita mendekat kepadaNya dan minta penyertaanNya. Perkataan Tuhan Yesus di Yohanes 13:3435 seakan menjadi salam perpisahan dengan para muridNya, namun sebenarnya perintahNya dan identitas berharga untuk semua murid Tuhan termasuk kita yaitu: hendaklah kamu saling mengasihi. Itulah identitas sebagai sesama sebagai milik Tuhan.

Penutup
Mari kita semua belajar untuk membuktikan identitas bahwa hidup mengikut Tuhan Yesus itu adalah memberi. Sudah seberapa kita memberi dalam hidup ini? Kasih yang sesungguhnya itu memberi dan itu akan selalu menjadi identitas kita bersama. Mari kita rayakan kasih dan pemberianNya ini melalui hidup yang mengasihi dengan memberi. Sebab kita hidup ini sebenarnya sudah diberi dan oleh karenanya, kita bersemangat untuk beryukur dengan berbagi pemberian serta berkat Tuhan itu kepada sesama. Dengan demikian benarlah bahwa kasih itu menghasilkan buah yang dikenan Tuhan Yesus Kristus, sang pembawa kasih sejati. Amin. [LUV].

Kita bisa memberi tanpa mengasihi,
namun tidaklah mungkin mengasihi tanpa memberi.

PUJIAN : KJ. 302 : 1, 2 ,3 Ku B’ri Persembahan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Kathah tiyang ingkang mboten mangertos punapa sih katresnan punika, ing batos kita manggihaken bilih katresnan punika lembah manah, sikap ingkang alus lan sopan, ugi dhemen aweweh dhateng tiyang sanes utawi amal jariyah. Nanging sih katresnan ugi saged dipun mangertosi tindakan ingkang keras lan tegas tumrap tiyang ingkang kita tresnani. Antawis lampah ingkang alus ajur ajer, lan lampah teges punika lumampah sesarengan kangge kasaenaning gesang tumrap sesami umatipun Gusti.

Nresnani mboten ateges andhap asor kemawon, nanging ngemu teges solider dhateng sesami. Punika mbetahaken karakter ingkang kiyat lan pangurbanan. Wosipun ing pendidikan karakter tumrap para lare ing sekolah lan ing griya, lembah manah lan sikap teges menika dados penting. Supados mboten sembrono anggenipun nandukaken katresnan, nanging tanggel jawab anggenipun nresnani.

Nandukaken katresnan punika nggadahi konsekuensi ingkang ageng. Inggih punika saged dados pangenget-enget dhateng sok sintena ingkang sampun paring katresnan tumrap kita. Lan kita ugi kaparingan wewengan nglajengaken sih katresnan punika tumrap tiyang sanes. Punapa punika ingkang kasebut balas budi? Minangka tiyang pitados kita nyebat: Punika saos syukur awit kasaenanipun Gusti lumantar tetiyang ingkang nandukaken sih katresnan. Estunipun wiwit alit kita sampun kaparingan sih katresnanipun tiyang sanes. Wiwit lair, dewasa, ngantos dumugi seda, kita mbetahaken pitulunganipun tiyang sanes.

Isi
Gesang ingkang saos sokur minangka tiyang pitados punika setunggal ajaranipun Bapa Greja, Johanes Calvin (1509-1564). Sih rahmatipun Gusti lantaran Gusti Yesus ingkang mitulungi rahayu punika dados dhasar anggen kita sedya sami saos sokur. Kita saos sokur dene sacara geografis negri kita Indonesia punika langka saged pikantuk pawartos rahayu, menawi mboten wonten tiyang pitados ingkang nepangaken lan martosaken Injil. Mboten namung tebih, nanging negari kita malah dereng dipun kawruhi dening para penjelajah ingkang mbeta warta rahayu punika.

Mila paseksi wonten ing Lelakone Para Rasul 11:1-18 nelakaken bilih Sihipun Gusti punika mboten saged dipun alangalangi dening sok sintena kemawon. Lan ugi tiyang ingkang kaparingan sih katresnanipun Gusti punika gadhah wewengan ingkang sami kangge nglajengaken kamirahanipun Gusti dhateng sesami kalangkung ingkang dereng ngraosaken lan tepang klayan katresnanipun Gusti.

Sepinten anggen kita sampun pitaken dhateng diri kita piyambak: Punapa kita sampun matur nuwun dhateng ingkang sampun nepangaken kita klayan Gusti Yesus Sang Juru Wilujeng? Pandhitaning pasamuwan, pamong anak, utawi sanesipun inggih punika para paraga ingkang sampun labuh lebet anggenipun martakaken kabar kabingahan Injil ing bumi Nuswantara klayan pangurbanan jiwa lan raga? Punapa ingkang badhe kita aturaken kangge nyaosi para sedherek kita punika?

Wangsulanipun prasaja: Mangga kita nglajengaken semangat lan pangurbanan para rasulipun Gusti punika srana mujudaken ing gesang ingkang tansah saos sokur. Sae wonten ing pedamelan ingkang kaparingaken Gusti, sae wonten ing paladosan, dalasan ing brayat, sedaya katindakaken kanthi katresnan ingkang ageng. Kanthi punika, kita ugi mbiwarakaken katresnanipun Gusti Yesus ing salampahing gesang kita padintenan.

Swasana kaendahaning swarga ingkang kababar ing kitab Wahyu 21:3, inggih punika Gusti rawuh ing saktengah-tengahipun para umat ingkang tuhu setya lan ngakeni bilih namung Gusti ingkang dados raja ing gesang kita punika. Yerusalem enggal punika sanes papan ingkang tebih krana Gusti piyambak rawuh saking swarga tumuju ing donya, inggih Yerusalem enggal. Punika ngemu teges bilih donya punika dados papan ingkang mbingahaken, dados pengajeng-ajeng enggal, krana Gusti makuwon ing manungsa ingkang estu pitados lan tuhu tresna dhateng Panjenenganipun. Dene kita taksih pinanggih pengajeng-ajeng gesang kebak ing karahayon punika estu kanugrahaning Gusti piyambak. Ing ngriki wonten swasana kabingahan, mboten wonten malih panangis, lan ugi pati sampun musna nalika gesang ndherek Gusti Yesus.

Sedaya tiyang ingkang leladi lan masrahaken gesangipun dhateng Panjenenganipun ginanjar toyaning gesang (Ay. 6), lan punika estu ingkang dados kabingahan tumrap sok sintena, inggih sedaya makhluk ing alam punika minangka ancasing pungkasaning gesang punika. Kidung KPJ. 379 LAH AKU BOCAH RAHAYU, anggitanipun bapa Dirman Sasmokoadi kasebataken: Ngarah apa maneh aku…aku bocah kang rahayu nelakaken bilih mboten wonten malih ingkang kita angkah, krana kita tinampi dening Gusti Yesus ing kabingahan langgeng, gesang sesarengan Gusti.

Minangka para pitados lan kagunganipun Gusti Yesus, kita sedaya pikantuk timbalan ingkang sami, inggih punika dados seksinipun Gusti ingkang ngasilaken woh ingkang saged dipun raosaken sekeca dening jagad. Punika tanggel jawab kita ugi kanthi saos sokur ngengeti kasaenanipun lan palimirmanipun Gusti ingkang maringi wewengan gesang punika. Wonten ing saos sokur punika kita pitados bilih panganthinipun Gusti Yesus sumrambah wonten ing sedaya kawontenan gesang kita. Ing pepeteng tansah wonten cahyanipun Sang Kristus nalika kita cecaketan lan nggandhol Gusti ing sadengah kawontenan. Pangandikanipun Gusti Yesus ing Yokanan 13:34-35 nelakaken salam pepisahan dhateng para sekabatipun Gusti, nanging ugi timbalan dados kagunanipun ugi identitas sinten ta kita punika ingkang kawistara ing tembung: kowe iya padha tresna-tinresnanana uga. Lan kanthi mekaten kita dados sesami kagunganipun lan sakabatipun Gusti Yesus.

Panutup
Mangga sesarengan mbuktekaken bilih gesang ndherek Gusti Yesus punika dados identitas kita, inggih nandukaken katresnan kanthi paweweh. Gesang punika peparing lan kita ingkang sampun dipun paringi berkah endah punika, mangga nglajengaken gesang kanthi saos sokur, kanthi ngasilaken woh ingkang mbingahaken Gusti Yesus Kristus ingkang dados wohing katresnan sejati. Amin. [LUV].

Kita bisa menehi tanpa katresnan,
nanging ora mungkin nresnani ku
wi tanpa paweweh.

 

Pamuji: KPJ. 379 : 14 Lah Aku Bocah Rahayu

Renungan Harian

Renungan Harian Anak