Kenaikan Yesus Kristus | Pembukaan Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11
Bacaan 2: Efesus 1 : 15 – 23
Bacaan 3: Lukas 24 : 44 – 53
Tema Liturgis: Allah Memperlengkapi Kita Bersaksi dan Melayani dengan Ragam Cara, Media, dan Usia
Tema Khotbah: Bersaksi dan Melayani dengan Beragam Cara, Media, dan Usia
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11
Kitab ini menceritakan kisah kenaikan Tuhan Yesus dengan perspektif yang berbeda, meskipun penulis kitab Lukas dan Kisah Para Rasul diperkirakan sama. Bisa jadi, penulis menceritakan Kisah Kenaikan Tuhan Yesus di awal kitab sebagai pengantar untuk masuk pada cerita tentang tumbuhnya jemaat mula-mula. Perbedaan dari Lukas adalah penyebutan Roh Kudus sebagai sumber kuasa para murid untuk bersaksi dan kehadiran dua malaikat yang berbicara pada para murid yang terpaku pada peristiwa kenaikan Tuhan Yesus. Dan untuk itu, dalam renungan dibawah Lukas dan Kisah Para Rasul akan direnungkan sebagai dua perikop yang saling melengkapi.
Efesus 1 : 15 – 23
Pada bagian ini, Paulus sedang membagikan pengalaman tentang apa yang ia perbuat kepada jemaat Efesus, setelah ia mendengarkan apa yang telah jemaat ini lakukan. Terlebih ketika ia mendengar tentang iman mereka kepada Tuhan Yesus, Paulus menyatakan ungkapan penuh syukur dalam doa. “Supaya Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, memberikan kepadamu Roh Hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” (Ay. 17). Dalam doanya, Paulus menekankan bahwa pekerjaan Tuhan selalu melibatkan manusia. Segi manusia adalah melalui pengenalan akan Dia dan untuk itu, Tuhan Yesus memohon supaya Allah memberikan kepada manusia Roh Hikmat. Roh ini dihubungkan dengan ungkapan Yesaya 11:2, “Roh TUHAN akan ada padanya,Roh Hikmat dan pengertian, Roh nasihat dan keperkasaan, Roh pengenalan dan takut akan TUHAN.” Tanpa pekerjaan Roh, maka pekerjaan Allah tidak mungkin terjadi dan terwujud.
Lukas 24 : 44 – 53
“Inilah perkataan–Ku ketika Aku masih bersama”, menunjukkan bahwa ketika Tuhan Yesus berkarya di hadapan umum sampai dengan wafat–Nya, Ia hadir di antara pengikut–Nya secara fisik, historis, dan duniawi. Sedangkan pada hari itu, kehadiran–Nya adalah sama sekali baru dan Yesus yang sudah bangkit menyampaikan kepada para pengikut-Nya tentang wasiat rohani.
Tuhan menyampaikan bahwa kematian dan kebangkitan–Nya sejatinya adalah upaya penggenapan Kitab Suci yang dinubuatkan Yesus sebelum wafat–Nya, yang bukan hanya tercatat di PL, tetapi Lukas kembali menegaskannya, supaya berkat kebangkitan–Nya, semua yang historis dahulunya memperoleh makna baru. Bahwa kematian dan kebangkitan–Nya adalah dalam rangka pengampunan dan penyelamatan bagi banyak orang. Berita ini juga harus disampaikan bagi semua bangsa. Di sini tampak pemikiran universalis Lukas.
Setiap orang yang hadir dan dipanggil untuk mewartakannya, selanjutnya disebut sebagai saksi-saksi Kristus. Saksi-saksi fakta historis, bukan hipotesis dan mitos. Untuk itu, Roh Kudus akan memperlengkapi para murid dengan kekuasaan dari tempat tinggi untuk menjalankan panggilan–Nya sebagai saksi. Roh yang dijanjikan ini menandakan bahwa relasi Sang Guru dan Murid tidak terputus bahkan oleh kematian sekalipun. Betapa indahnya.
Selanjutnya, Tuhan Yesus membawa mereka ke Betania, suatu tempat yang dekat dengan bukit Zaitun dan untuk pertama kalinya Yesus mengajak para murid keluar Yerusalem. Di tempat itulah, Tuhan Yesus mengangkat tangan, memberkati para murid, dan berpisah dengan mereka. Ia naik ke surga, dan para murid bersukacita, pulang ke Yerusalem, dan senantiasa memuliakan Tuhan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Atas pekerjaan Roh dalam kehidupan Coolen, Emde, Jellesma, Tosari dan para Penginjil yang lain, kita mengucap syukur sebab melalui mereka, kita mengenal Yesus Kristus Sang Juru Selamat di tanah Jawa Timur. Belajar dari apa yang dilakukan oleh para Penginjil tersebut, kita menemukan bahwa Coolen, Emde, Jellesma, dan Tosari memiliki kekhususan pendekatan yang berbeda dalam berbagi kabar baik. Coolen bersaksi tentang pilihannya mengikut Yesus Kristus melalui “ngelmu”. Baginya, tidak mungkin orang Jawa tanpa “ngelmu”. Ia tidak hanya bercerita, tetapi mengarahkan mereka dengan visualisasi pagelaran wayang purwa. Lain lagi pendekatan Emde dan kelompoknya ketika mengajak Pak Dasimah dan orang-orang Jawa untuk bergabung dengan persekutuan gerejawinya. Ia menyambut mereka dengan penuh persahabatan, mengakui mereka sebagai saudara di dalam Kristus, dan mendorong mereka untuk dibaptis. Melihat bahwa penyebaran Injil efektif berjalan dari dan oleh sesama orang Jawa, maka hal itu, menginspirasi Emde menjadikan pendidikan cara memimpin kebaktian menjadi hal yang penting. Di sisi lain, Paulus Tosari memakai kemampuannya untuk berkomunikasi dengan pejabat untuk menjelaskan aktivitas kekristenan, sehingga penyebaran kekristenan dapat terjadi secara meluas. Kesemuanya baik dan menjadi pilihan pendekatan dikarenakan latar belakang dan situasi berbeda yang dihadapi para saksi-saksi Injil tersebut. Ragam pendekatan mereka, namun satu tujuan mereka yaitu menyampaikan kabar baik dalam Alkitab, yang disadari tidak hanya dimonopoli kelompok orang tertentu saja.
Isi
Demikian juga kisah para saksi perdana dalam Injil Lukas. Mereka dipanggil untuk mewartakan tentang penderitaan dan kebangkitan Yesus Kristus kepada semua orang percaya untuk hidup dalam pertobatan dan pengampunan. Sebagai seorang Yahudi, para murid memang hidup dalam pengajaran Kitab Suci (Taurat Musa, Kitab Nabi-nabi, dan Mazmur). Mereka hidup, belajar dan memahami Kitab Suci seperti yang telah diturunkan dan diajarkan para leluhur mereka. Tuhan Yesus membuka pemikiran mereka untuk lebih mengerti apa yang dimaksud dalam Kitab Suci. Cara membaca Alkitab kemudian dipahami bertumbuh sesuai dengan konteks yang dihadapi para murid, yaitu di tengah situasi penindasan, baik secara sosial maupun ekonomi.
Satu Roh
Untuk pekerjaan besar yang akan dilakukan para murid itu, Tuhan Yesus menyatakan, “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan BapaKu.” Dalam kitab Lukas yang “dikirimkan Tuhan” tidak secara eksplisit menyebut tentang sesuatu, tetapi dalam Kisah Para Rasul disebutkan bahwa yang akan dikirimkan itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus ini menjadi tanda kehadiran Allah, meskipun Ia sudah tidak lagi bersama para murid.
Roh Kudus menjadi tanda pendampingan dan penyertaan Allah yang memampukan setiap orang yang biasa dan terbatas memiliki kuasa untuk ‘melakukan sesuatu’. Roh Kuduslah yang akan bekerja memberi hikmat dan kuasa, sehingga pekerjaan-pekerjaan besar dapat diwujudkan. Dalam konteks Lukas, Roh Allah ini yang menguasai dan memampukan Yesus Kristus untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Roh yang telah mengutus Yesus untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:16-19). Berkaitan dengan penugasan para murid, sama seperti yang diyakini sang Guru, bisa dimaknai bahwa berita pengampunan yang seharusnya diwartakan adalah pertobatan bagi setiap kita yang belum menjadi penuntun bagi orang buta, pembebas bagi tertawan dan dorongan untuk terlibat berjuang dalam pemberitaan tentang tahun rahmat Tuhan yang telah datang bagi seluruh umat manusia. Untuk pekerjaan besar yang akan mereka mulai, Yesus mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka.
Ragam Tampilan
Siapa saja yang hadir dan diutus di tempat itu? Para murid. Petrus, Yohanes,Yakobus, Andreas, Filipus, Thomas, Bartolomeus, Matius, Yakobus bin Alfeus, Simon orang Zelot, Yudas bin Yakobus, dan Tadeus. Meskipun mereka berasal dari daerah yang hampir sama, tetapi mereka memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda. Dari beberapa sumber kita bisa mengenal lebih dekat para murid:
Simon Petrus. Pekerjaannya nelayan, arti nama Simon dalam bahasa Yunani adalah batu. Josephus menggambarkan orang Galilea dengan cara ini, “Mereka selalu menyukai inovasi dan pada dasarnya cenderung berubah dan senang dalam hasutan.” Petrus aktif menyebarkan ajaran Kristen hingga ke kota Roma.
Yakobus adalah seorang nelayan, pria pemberani dan pemaaf, seorang pria dengan iman yang luar biasa. Selanjutnya ia disebutkan menyebarkan ajaran Yesus di Hispania, Galicia, Spanyol, Guimaraes, dan Portugal.
Yohanes adalah seorang nelayan, pria yang sangat ambisius, temperamen yang meledak-ledak. Dalam pekabaran Injil, Yohanes bekerja sama dengan Petrus mengenalkan Yesus kepada orang Samaria di Yerusalem. Kemudian pada tahun 60 Masehi, dikatakan Yohanes pergi ke Asia kecil.
Andreas, seorang yang optimis, meskipun keadaan menempatkan dia pada posisi yang tidak mudah. Andreas mempunyai peran dalam mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang. Andreas-lah yang membawa anak dengan nampan lima roti dan dua ikan kepada Yesus. Sepeninggal Yesus, Andreas mengabarkan ajaran Yesus hingga ke Rusia dan Yunani.
Tak banyak yang tercatat tentang Tadeus di Alkitab. Karya penginjilannya mencakup Yudea, Samaria, Idumea, Suriah, Mesopotamia, dan Libya. Konon, Tadeus bersama Bartolomeus adalah rasul pertama yang membawa agama Kristen ke Armenia.
Bartolomeus, nama depannya mungkin adalah Natanael, yang oleh Yesus disebut “seorang Israel, yang tidak ada tipu daya” (Yohanes 1:47). Dalam penyebaran agama Kristen, Bartolomeus atau Natanael sebagai misionaris pergi ke India, Ethiopia, Mesopotamia (Irak), Partia (Iran bagian Timur), dan Armenia.
Yakobus putra Alpheus, saudara dari Rasul Yudas. Yakobus adalah salah satu murid yang kurang dikenal, pria dengan karakter kuat dan paling berapi-api. Yakobus memilih berkarya di Yerusalem.
Yudas adalah bendahara kelompok dan seorang pemimpin yang blak-blakan yang pada akhirnya menyerahkan Tuhan Yesus.
Matius atau Lewi, putra Alfeus adalah pemungut cukai. Para pemungut cukai dibenci karena kebanyakan dari mereka terkenal tidak adil. Dalam misi penginjilannya, Matius berkarya selama 15 tahun dan mengajarkan Injil kepada masyarakat Yahudi di Yudea, serta berkeliling ke Ethiopia, Makedonia, Persia, dan Partia.
Filipus adalah pria dengan hati yang hangat dan pesimis. Dia adalah orang yang sangat ingin melakukan sesuatu untuk orang lain, tetapi terkadang tidak melihat bagaimana hal itu bisa dilakukan. Ia hadir ketika Tuhan Yesus membagi makanan bagi 5000 orang. Disebutkan Filipus mewartakan Injil ke Prancis, Rusia, Turki, hingga India.
Simon, orang Zelot, seorang Nasionalis yang fanatik, mengabdi pada Hukum dan membenci siapapun yang berani berkompromi dengan Roma. Namun, Simon jelas muncul sebagai orang beriman. Dia dan Tadeus menyebarkan Injil ke Persia dan Mesir.
Thomas Didimus tinggal di Galilea. Dia berkata kecuali dia melihat bekas paku di tangan Yesus dan bekas tombak di lambung-Nya, dia tidak akan percaya. Dia pesimis, namun dia adalah pria yang berani. Keraguan Thomas diubah menjadi iman. Dengan fakta ini, iman Thomas menjadi besar, kuat, dan meyakinkan. Menurut catatan gereja, Thomas termasuk salah satu Rasul Yesus yang melakukan penyebaran Injil ke daratan timur seperti Persia dan di India.
Setiap murid bertumbuh di lingkungan yang berbeda, yang menciptakan karakter yang beragam. Dan hal itu mempengaruhi bagaimana mereka bersikap. Petrus berbeda karakter dengan Yohanes. Tomas, Petrus atau Maria merespon kebangkitan dengan sikap berbeda. Yang satu cukup dengan mendengar, yang lain harus melihat dan menyentuh. Para murid dengan karakter dan pengalaman yang berbeda dan unik selanjutnya dipakai Tuhan menjadi saksi-Nya. Seperti kesadaran Paulus bahwa pekerjaan Allah selalu melibatkan manusia didalamnya. Firman Tuhan yang menjadi akar, dasar pemberitaan, dan Roh yang satu memberi kuasa para murid untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah meskipun harus berhadapan dengan tantangan bahkan kematian. Karena panggilan adalah panggilan.
Refleksi
Di bulan kesaksian ini, kita kembali diajak untuk merayakan bulan dimana panggilan untuk bersaksi menjadi pangilan bagi semua orang yang percaya bahwa kematian, kebangkitan Yesus Kristus demi pengampunan dan Kasih–Nya. Kasih Allah yang melimpah ruah, memenuhi hidup, dan kasih Allah yang melengkapi kita untuk mewujudnyatakan karya Allah kepada sesama. Supaya siapa saja dapat mendengar, melihat, dan merasakan kasih Allah dalam hidupnya.
Berita itulah yang terus disuarakan dari waktu ke waktu melewati jaman dan perubahan. Di tengah konteks dan budaya yang berubah dan bergerak. Karena saat ini, kita sedang menjumpai murid-murid Yesus yang dipenuhi Roh untuk mewartakan berita baik dengan ragam cara dan dimanapun mereka ditempatkan. Murid-murid yang “mengikuti” Kristus, yang bergerak, dan dibimbing oleh–Nya. Gambaran murid Kristus yang mengembara. Para murid yang tidak statis, tetapi terus berkembang.
Benih-benih Injil telah tersebar melalui para saksi di jamannya, Simon Petrus, Andreas, Thomas, Collen, Emde, Jellesma dan Tosari. Maka hari ini, kita mengenal Satya sang dalang muda, Purbo seorang enterpreuner muda, Natasya sang pemain kendang, Charles seorang pelukis, Santi sang aktivis lingkungan dan perdamaian dan masih banyak lagi para saksi yang dipanggil untuk terlibat mewartakan tentang kebaikan Allah dengan cara masing-masing. Ragam latar belakang ini akan memperkaya kesaksian untuk mewartakan tentang cinta Kristus yang menggerakan dunia, untuk bersatu dan berekonsiliasi. Maka, mari kita yang masing-masing di ragam usia dan kapasitas, telah diperlengkapi Tuhan untuk mewartakan kesaksian mewujudkan karya-karya itu bersama dengan sesama kita dalam upaya menemukan dan merayakan kehadiran Allah di dalam dunia. Untuk pekerjaan besar ini, Tuhan Yesus mengangkat tangan–Nya dan memberkati kita. Amin. [NW].
Pujian: KJ. 429 Masih Banyak Orang Berjalan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Kita perlu ngaturaken saos sokur kagem sedaya pakaryanipun Sang Roh Suci wonten ing gesangipun Collen, Emde, Jellesma, Tosari lan penginjil sanesipun. Awit sarana pawartos para Penginjil punika kita saged mangertos bab Yesus Kristus minangka Juru Wilujeng gesang kita ing tlatah Jawi Wetan punika. Bilih kita niti priksa saking punapa ingkang sampun katindakaken dening para penginjil punika, kita manggihi manawi Collen, Emde, Jellesma lan Tosari kagungan cara ingkang benten kangge martosaken Injil punika. Collen maringi paseksi kanthi cara netepaken pilihan ngetut wingking Gusti Yesus punika sarana ngelmu. Piyambakipun boten namung maringi carios bab Kitab Suci kemawon, ananging sarana ndalang lan nggeber wayang purwa supados pawartos Injil punika saged katampi. Benten kaliyan Emde lan klompokipun, Emde ngundhang Pak Dasimah lan para tiyang Jawi sanesipun supados saged nunggil kaliyan pasamuwan. Emde nyambut para tiyang punika kanthi raos memitran, piyambakipun purun ngakeni bilih sadherek Jawi punika ugi sadherek wonten Sang Kristus, lan atur piwucal supados para sederek punika kabaptis. Emde ingkang mirsani bilih penyebaran Injil wonten ing satengahing tiyang Jawi saged kalampahan kanthi sae, lajeng piyambakipun ngetrapaken pendhidhikan babagan lelados pangabekti. Paulus Tosari ngangge ketrampilan “raket” kaliyan pejabat kangge nerangaken kegiatan tiyang Kristen, supados panyebaran kekristenan punika saged sumrambah kanthi wiyar. Tamtunipun, sedaya ingkang katindakaken para seksi Injil punika sae lan dados pilihan pendekatan awit kahanan ingkang benten-benten ingkang dipun adhepi dening para saksi Injil. Sanajan nawerni-werni cara pendekatanipun, nanging satunggal tujuanipun inggih punika mbabaraken Kitab Suci, ingkang karaosaken sanes namung monopoli klompok tertamtu.
Isi
Kajawi punika carios para saksi Injil ing tlatah Jawi Wetan, Injil Lukas ugi nyariosaken babagan seksi ingkang kaping pisan, inggih punika para sakabatipun Gusti Yesus. Para sakabat dipun timbali kangge martosaken babagan kasangsaran lan wungunipun Gusti Yesus dhateng sedaya tiyang ingkang pitados wonten ing salebeting pramatobat lan pangapuntening dosa. Minangka tiyang Yahudi, para sakabat tuwuh wonten ing salebeting tradisi Kitab Suci (Torah Musa, Kitab Nabi-nabi lan Mazmur). Para sakabat gesang, sinau lan mangertosi bab Kitab Suci kados dene ingkang dipun wucalaken dening para leluhuripun, nanging Gusti Yesus mbikak pangertosanipun para sakabat supados saged mengertosi punapa ingkang kamaksud dening Kitab Suci. Selajengipun cara maos lan mengertosi Kitab Suci punika tuwuh miturut konteks ingkang dipun adhepi dening para sakabat, inggih punika wonten ing satengahing tumindak pamulasara bab sosial lan ekonomi.
Tunggal Roh
Kangge pakaryan ingkang ageng punika, Gusti Yesus paring dhawuh, “lan Aku bakal ngirim sampeyan apa sing wis dijanjekake karo RamaKu.” Injil Lukas nyebataken “dipun kirim dening Gusti Allah” boten secara jelas nyebataken kanthi cetha punapa ingkang dipun kirim Gusti Allah punika, nanging wonten ing carios Lelakone Para Rasul kasebataken bilih ingkang kakirim punika Roh Suci. Roh Suci punika minangka tandha rawuhing Gusti Allah, sanadyan panjenenganipun boten nunggil kaliyan para sakabat malih.
Roh punika minangka tandha sih pitulungan lan panganthinipun Gusti Allah ingkang nyagedaken sedaya tiyang ingkang ringkih lan winates nampi kakiyatan kangge makarya. Sang Roh Suci punika ingkang paring kawicaksanan lan kakiyatan supados pakaryan-pakaryan ageng punika kawujud. Ing konteks Lukas, Rohing Allah punika ingkang nunggil Gusti Yesus Kristus martosaken pawartos endah dhateng sedaya tiyang ringkih lan Rohing Allah punika ingkang ngutus Gusti Yesus nguwalaken tiyang-tiyang wuta, ngluwaraken tiyang-tiyang ingkang katindhes, kangge martosaken warsa ingkang kebak sih-rahmat, Gusti Allah sampun rawuh (Lukas 4:16-19).
Babagan ayahan para sakabat punika kados dene ayahanipun Sang Guru, inggih punika mawartosken paningal kangge tiyang wuta, mbabaraken pawartos bab warsa sih-rahmatipun Gusti Allah ingkang rawuh kangge sedaya manungsa. Mila, Gusti Yesus mberkahi para sakabatipun, saderengipun nindakaken pakaryan agung punika.
Mawarni Tampilan
Sinten kemawon ingkang kautus dening Gusti Yesus? Para sakabat. Petrus, Yokanan, Yakobus, Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Yakobus Bin Alfeus, Simon Zilot, Tadeus. Sanadyan para sakabat saking daerah ingkang celak, nanging ing antawisipun para sakabat punika nggadhah karakter lan latar belakang ingkang benten-benten. Saking sumber-sumber kita nepangi para sakabat :
Simon Petrus. Juru amek ulam, artosipun nami Simon ing basa Yunani inggih punika sela. Yosephus nggambaraken tiyang Galiléa kanthi cara tiyang ingkang “inovative, molah malih, lan remen ing sedisi.” Sak bibaripun Gusti Yesus mekrad, Petrus kanthi aktif nyebar piwulang Kristen ngantos dumugi kitha Roma.
Yakobus, juru amek ulam, tiyang ingkang kendel lan loman pangapura, kagungan iman ingkang ageng. Yakobus, kasebataken martosaken piwulang bab katresnanipun Gusti wonten ing Hispania, Galicia, Spanyol, Guimaraes, lan Portugal.
Yokanan, juru amek ulam, tiyang ingkang ambisius, temperamen lan asring boten toleran. Wonten ing pawartosipun Injil, Yohanes makarya sareng kaliyan Petrus, nepangaken Gusti Yesus dhateng para tiyang Samaria ing Yerusalem. Lajeng ing tahun 60 masehi, Yokanan tindak dhateng Asia Alit.
Andreas, tiyang ingkang optimis, sanadyan kahanan mapanaken Andreas wonten ing satengahing posisi ingkang boten gampil. Andreas nderek wonten ing satengahing pakaryanipun Gusti Yesus nalika Gusti Yesus maringi nedha dhateng gangsal ewu tiyang. Andreas betha lare alit ingkang betha gangsal roti lan kalih ulam dhateng Gusti. Pakaryanipun Andreas martosaken Injil ngantos dumugi Rusia lan Yunani.
Boten kathah carios bab Tadeus ing Kitab Suci. Pakaryanipun ngantos dumugi Yudea, Samaria, Idumea, Suriah, Mesopotamia, lan Libya. Kasebutaken manawi Tadeus kaliyan Bartolomeus minangka rasul wiwitan ing Armenia.
Bartolomeus, nami ngajengipun kasebat Natanael, ingkang artosipun “Israel, sing ora ngapusi” (Yokanan 1:47). Bartolomeus utawi Natanael punika minangka misionaris kaping pisan ing India, Ethiopia, Mesopotamia (Irak), Parthia (Iran Timur) lan Armenia.
Yakobus Putra Alpheus, sadherekipun rasul Yudas. Yakobus punika salah satunggaling sakabat ingkang boten dipun tepangi. Tiyang jaler ingkang karakteripun kiyat. Yakobus makarya netep wonten ing Yerusalem.
Yudas minangka bendahara klompok lan pimpinan, ingkang masrahaken Gusti Yesus.
Matius utawi Levi, putranipun Alfeus minangka petugas pajeg. Pakaryan punika dipunsengiti awit asring kaanggep boten adil. Ing misi pengInjilanipun, Matius makarya 15 taun lan mulang Injil dhateng komunitas Yahudi ing Yudea, Makedonia, Persia, Persia, lan Partia.
Filipus minangka tiyang jaler ingkang sae nanging ugi pesimis. Piyambakipun kepingin nindakaken prekawis–prekawis kangge tiyang sanes, nanging kadang boten saged nemu kados pundi cara kangge nindakaken punika. Piyambakipun nunggil kaliyan Gusti Yesus mbagi tetedhan kangge 5.000 tiyang. Filipus lajeng martosaken Injil dhateng Prancis, Rusia, Turki lan India.
Simon, tiyang Zelot kawastanan tiyang ingkang nasionalis, ngabekti miturut angger-anggering Toret lan boten kompromi kaliyan Roma. Simon punika tiyang pitados. Wonten ing carios kasebataken bilih piyambakipun lan Tadeus nyebar Injil ing Persia lan Mesir.
Thomas Didimus manggen ing Galiléa. Thomas, nyuraos menawi piyambakipun boten ningali tilas paku wonten ing astanipun Gusti Yesus lan tandha tumbak ing madharanIpun Gusti Yesus, piyambakipun boten badhe pitados. Piyambakipun tiyang ingkang pesimis, nanging ugi kendhel. Raos kuwatiripun dipun ewahi dados pangandel. Kasunyatan punika dadosaken Thomas gadhahi pangandel ingkang bakuh lan kiyat. Miturut catatan gereja, Thomas kalebet salah satunggaling rasul ingkang nindakake penyebaran Injil dhateng Persia lan India.
Para sakabat punika tuwuh wonten ing lingkungan ingkang benten-benten, tuwuh dados karakter ingkang unik. Sedaya punika ngaruhi kados pundi kita tumindak. Petrus benten kaliyan Yohanes. Tomas, Petrus utawa Maria nanggapi wungunipun Gusti ugi kanthi sikap ingkang benten. Ingkang satunggal cekap mirengaken, ingkang sanes kedah ningali lan ndemek. Para sakabat kanthi karakter lan pengalaman ingkang benten-benten punika dipunagem Gusti dados saksi. Kadosdene pemanggihipun Paulus bilih pakaryanipun Gusti Allah tansah ngrengkuh manungsa. Sabdanipun Gusti Allah dados oyod lan Roh ingkang paring kuwaos dhateng para sakabat kangge nindakaken pakaryanipun Gusti Allah, sanadyan kathah tantangan lan paniksa. Nanging timbalan tetap timbalan.
Refleksi
Ing wulan kesaksian punika, kita dipun timbali mahargya sasi ing pundi timbalan ngaturi paseksi dhateng sedaya tiyang pitados, bilih seda lan wungunipun Gusti Yesus katujuaken kangge pangapuntening dosaning manungsa lan nedahaken katresnanipun Gusti. Katresnanipun Gusti Allah ngluberi, njangkepi gesang. Katresnanipun Gusti Allah ngiyataken kita leladi kangge sesami. Supados, sinten kemawon ingkang mireng, nilangi saged ngraosaken katresnanipun Gusti Allah wonten gesangipun.
Pawartos punika ingkang kalajengaken nglangkungi jaman. Wonten ing satengah konteks lan budaya sing owah lan obah. Awit, dinten punika, kita manggihi para sakabatipun Gusti Yesus kangge martosaken kabar kabecikan kanthi mawarni-warni cara lan ing pundi kemawon kita leladi. Para sakabat ingkang “ngetut wingking” Kristus, ingkang obah lan kabimbing dening Gusti. Gambar para sakabatipun Gusti ingkang ngembara. Para sakabat ingkang boten statis, nanging terus tuwuh.
Wiji Injil sampun sumebar nglangkungi para saksi ing jaman. Petrus, Andreas, Thomas, Collen, Emde, Jellesma lan Tosari. Dinten puniki, kita tepang Satya dalang enom, Purbo usahawan, Natasya penabuh kendang, Charles juru lukis, Santi aktivis lingkungan lan perdamaian saha para saksi ingkang dipun timbali martosaken kabecikanipun Gusti dhateng para pepadha. Kesaksian punika bab katresnanipun Kristus ingkang menggerakan dunyo kangge nyatunggil lan mangun perdamaian. Mila, swawi kita sesarengan nderek ngwartosaken paseksi, makarya kangge sesami supados kita saged mahargya pakaryanipun Gusti wonten ing satengahing bumi. Kangge pakaryan ageng punika, Gusti Yesus mberkahi kita. Amin. [NW].
Pamuji: KPK. 262 Panglipur Kang Sejati