Karya Tuhan Yesus yang Pertama: Memperbarui dan Memulihkan Khotbah Minggu 20 Januari 2019

Bulan Penciptaan / Minggu II Setelah Epifania
Stola Putih

Bacaan 1         : Yesaya 62:1-5
Bacaan 2         : I Korintus 12:1-11
Bacaan 3         :Yohanes 2:1-11

Tema Liturgis: Alam Ciptaan Tuhan Wujud Pemeliharaan Terhadap Umatnya
Tema Kotbah: Karya Tuhan Yesus yang pertama: memperbarui dan memulihkan

 

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 62:1-5

Yesaya 62 adalah bagian dari Yesaya III ( Trito Yesaya-Ps 56-66), yang tidak begitu erat hubungan antara pasal satu dengan pasal lainnya.  Bagian ini ditulis setelah masa pembuangan Israel, setelah pembebasan Israel oleh dekrit Raja Koresj dari Parsi pada tahun 538 SM yang memperbolehkan mereka pulang ke Yerusalem.  Dalam situasi itu seorang nabi dari tradisi Yesaya tidak dapat berdiam diri.  Dengan penuh gairah dan euphoria dia menubuatkan dan ingin menyaksikan datangnya keselamatan Sion itu.  Bangsa-bangsa akan melihat kebenaran dan kemuliaan Sion atau Yerusalem.  Ia akan menjadi mahkota keagungan yang tidak disebut lagi sebagai perempuan merana, kesepian yang ditinggalkan suami, melainkan “yang bersuami, yang berkenan kepada Allah” penuh cinta seperti mempelai.

I Korintus 12:1-11

Jemaat Korintus adalah jemaat yang besar yang berada di kota pelabuhan.  Karena itu selain anggotanya banyak, banyak pula dari antara mereka yang kaya dan mempunyai potensi, bakat dan karunia yang bermacam macam.  Hal ini mestinya menjadi kekayaan yang luar biasa bagi jemaat.  Namun masalah pokoknya bahwa potensi, bakat dan karunia yang mestinya dapat untuk saling mengkayakan itu justru menjadi penyebab masing-masing saling meninggikan diri dan merendahkan yang lain, merasa diri yang berarti dan yang lain tidak berarti, bahkan saling menyingkirkan antara satu dengan yang lain.  Akibatnya menjadikan jemaat pecah dan berbagai karunia itu sia-sia.  Itulah yang memprihatinkan Rasul Paulus, sehingga dia menulis berlembar-lembar suratnya sekitar tema Kepelbagian dalam kesatuan atau kesatuan dalam kepelbagian.  Dia menandaskan bahwa semua karunia yang bermacam macam itu berasal dari satu Roh, Roh Tuhan sendiri (12:4-6).  Semua diberikan untuk kepentingan bersama (12:7), untuk saling melayani dan saling menyejahterakan antara satu dengan yang lain.

Yohanes 2:1-11

Hanya di Injil Yohanes kisah perkawinan di Kana ini diceriterakan.  Hebatnya lagi, dalam komentarnya di ayat 11 penulis mengatakan bahwa mujizatNya ini sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya, dan dengan itu Ia telah meyatakan kemuliaan-Nya, serta murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. Kata Yunani arkhe tidak hanya berarti yang pertama dalam urut-urutan waktu saja, melainkan bahwa yang pertama itu menjadi asas dari yang lain–lain selanjutnya.  Artinya bahwa apa yang dilakukan Tuhan Yesus di Kana itu menjadi asas dari karya-Nya yang lain.  Karya mujizat-Nya di Kana adalah bahwa ditengah kekacauan perhelatan perkawinan karena kekurangan anggur Dia menjadikan air menjadi anggur yang enak, meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih membahagiakan, menyenangkan.  Dan semua itu dilakukan di tengah keluarga, bahkan keluarga yang baru akan mengarungi lautan kehidupan.

 

RANCANGAN KOTBAH:  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

 Pendahuluan

Saudaraku kekasih, betapa dahsyatnya hukum kerusakan di dunia ini.  Apa yang semula baik menjadi merosot dan rusak, bahkan hancur. Demikianlah juga kehidupan manusia, persis yang digambarkan pemazmur, manusia seperti rumput dan bunga rumput.  Begitu pula yang terjadi pada masyarakat, bangsa lahir, berkembang dan tenggelam.  Itulah yang terjadi pada keluarga sebagai akar masyarakat, umat dan bangsa.  Ada yang siklusnya (putarannya) begitu panjang, ada yang pendek, bahkan ada yang baru akan melangkah tanda-tanda kekacauan dan kerusakan itu sudah menggerogoti, seperti yang diceriterakan dalam Injil Yoh 2:1-11 ini.

1. Perhelatan Perkawinan yang Kehabisan Anggur di Kana

Pada hari ketiga setelah Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya, Tuhan Yesus bersama murid-muridNya dan ibu-Nya yakni Maria diundang menghadiri perhelatan perkawinan di desa Kana.  Semua sepertinya telah direncanakan dan dipersiapkan dengan baik jauh-jauh sebelumnya, sehingga semua berharap perayaan perkawinan ini penuh suka cita dan kebahagiaan.  Namun apa dikata, dipuncak perayaan itu anggur tiba-tiba habis.  Kekacauan terjadi di belakang, hingga Maria ibu Tuhan Yesus mengutarakan kepada-Nya: “mereka kehabisan anggur”.  Walaupun kepada sang ibu Tuhan Yesus mengatakan “saat-Ku belum tiba”, namun Maria berkata kepada pelayan-pelayan itu apa yang dikatakan kepadamu lakukanlah.  Tuhan Yesus memerintahkan supaya 6 tempayan (yang sebenarnya tempat untuk pembasuhan menurut adat Yahudi) supaya diisi air sampai penuh dan cedoklah serta bawalah kepada pemimpin pesta untuk dibagikan kepada para tamu.

Air menjadi anggur dengan kualitas yang bagus, sehingga pemimpin pesta itu berkata kepada mempelai laki-laki “setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan setelah orang puas minum, barulah yang kurang baik, tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.  Demikianlah perayaan itu tidak hanya diselamatkan, akan tetapi juga menjadi lebih baik dan lebih penuh sukacita.

Anggur adalah lambang sukacita dan kesejahteraan lahir batin.  Ketika Tuhan Yesus ada di tengah rumah tangga dan kita persilahkan untuk berfirman dan bertindak dengan kita taati Firman-Nya maka akan menjadikan keluarga kita terus tumbuh berkembang dari kualitas yang rendah, bahkan di tengah berbagai ancaman kekacauan dan kegagalan menjadi tumbuh kokoh, berkembang dan berbuah kesejahteraan.

Yang menarik, bahwa mujizat di Kana ini bukan hanya mujizat yang pertama dalam urut-urutan waktu saja, melainkan bahwa yang pertama itu menjadi asas dari semua karya Tuhan Yesus di dunia ini.  Yaitu bahwa misi-Nya datang ke dunia sebagai Sang Juru Selamat itu bukan untuk menciptakan sesuatu yang baru, melainkan memperbarui ciptaan yang sudah ada yang dikuasai hukum kerusakan, kemerosotan dan kehancuran karena dosa, untuk menjadi lebih baik, lebih sejahtera dan lebih bahagia.  Misi-Nya memulihkan kembali terputusnya manusia dengan Allah untuk menjadi satu kembali dengan-Nya dan hidup bersama-Nya tidak lagi dikuasai oleh dosa dan maut.  Karena itu, melalui mujizat-Nya itu Yesus dimuliakan dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

Firman ini memberikan harapan bahwa ditengah situasi yang rusak, bahkan hancur berkeping-keping seperti yang dialami oleh bangsa Yehuda di tengah pembuangan waktu itu, di sana Tuhan selalu memberi harapan pembaharuan kepada mereka yang bertobat dan mengandalkan Tuhan (Yes 62:1-5).  Demikian juga di tengah keluarga, masyarakat dan bangsa kita ketika kemerosotan, kekacauan menjadi-jadi.  (Bisa diberikan ilustrasi sendiri).  Karena kasih setia Tuhan itu tidak terbatas, mengatasi langit dan awan-awan (Mzm 36:6-10).  Dialah tempat perlindungan yang aman dan penyedia kehidupan yang mengalir terus tiada habisnya.

2. Panggilan kita

Betapa indahnya Jemaat Korintus yang besar, yang mempunyai banyak anggota dan berbagai karunia.  Betapa mentakjubkan juga tiap-tiap keluarga kita yang berawal dari dua orang, yakni laki-laki dan perempuan yang mula-mula tidak kenal, berbeda phisik, latar belakang keluarga, pendidikan adat-istiadat, pola pikir, sifat-sifat, potensi, talenta dan karunia rohani karena karya Tuhan dapat menjadi satu daging, artinya persekutuan organisma, persekutuan yang hidup yang tidak terpisahkan lagi.  Dan dari sana menjadi muncul anak-anak, cucu-cicit.

Tuhan berkehendak dengan keaneka ragaman karunia itu supaya saling melayani, saling belajar, saling mendoakan, saling menopang, saling menyembuhkan, saling melengkapi dan saling menyejahterakan.  Dengan menjadi satu persekutuan organisma itu antara satu dengan yang lain bisa saling berpadu, bersinergi mengikis habis yang buruk dan menumbuh kembangkan yang baik, yang menyejahterakan.

Sayang betapa banyaknya keluarga mengalami disorientasi dalam perjalanannya sehingga tidak tahu lagi hakekatnya dan kearah mana perjalanan ditujukan serta prioritas apa yang harus didahulukan, ditambah buntunya komunikasi sehingga masing-masing hanya berorientasi dan berpusat pada dirinya sendiri.  Akibatnya perbedaan dan potensi masing-masing itu justru menjadi penyebab antara satu dengan yang lain saling mengunggulkan diri dan merendahkan yang lain, saling menggagahi dan menyingkirkan antara satu dengan yang lain.  Semua karunia akhirnya menjadi sia-sia.

Penutup

Saudaraku, memang banyak permasalahan yang dapat menghancurkan keluarga kita, masyarakat kita, tetapi yang paling berat adalah permasalahan dari dalam diri kita sendiri, ketidaksolidan persekutuan kita.  “Lakukanlah apa yang dikatakan-Nya”.  Kita dikaruniai berbagai karunia.  Semua itu dikaruniakan kepada kita untuk menumbuh berkembangkan kehidupan kita sehingga makin menjadi berkat, bukan untuk merusak dan menghacurkannya.  Amin.

 

Nyanyian: KJ.451.

RANCANGAN KOTBAH:  Bahasa Jawa

Pambuka

Sadherek kinasih, iba nggegirisi hukuming karisakan ing jagad punika.  Sadaya ingkang suwaunipun sae dados mrosot, risak, malahan gapuk lan ancur.  Mekaten ugi gesanging manungsa, ceples kaliyan ingkang dipun gambaraken dening pemazmur.  Manungsa punika kados dene suket ing ara-ara.  Wiwitanipun tuwuh, lajeng ngwedalaken sekar endah, ananging mboten ngantos sonten sampun alum lan aking lajeng kabuncang dening angin, pangling papanipun nguni.  Bebrayan, bangsa lahir, tuwuh ngrembaka lajeng tumlawung surem lan kerem.  Mekaten ugi brayat minangka oyoting masyarakat, umat lan bangsa.  Wonten ingkang siklusipun (jangkanipun panjang, ananging ugi wonten ingkang cendhak, malahan wonten ingkang saweg ancang-ancang badhe jumangkah, sampun katempuh kisruh miwah kagrogoti karisakan kadosdene ingkang kacariyosaken dening Injil Yokanan 2:1-11 punika.

1. Memanton ing Dusun Kana Ketelasan Anggur

Ing dinten kaping tiganipun sasampunipun Gusti nimbali para murid, Gusti Yesus, murid-muridipun dalasan Maryam keng ibu kaundhang ngrawuhi olah memanton punika.  Sadaya ketingalipun sampun kacawisaken kanthi sae.  Sedaya sami nggadhahi pangajeng-ajeng ewuh mantu punika saged lumampah kanthi sae.  Ananging kanthi mboten kanyana-nyana ing tengahing bujana punika dumadakan angguripun telas.  Tamtu kemawon kawontenan ing wingking dados kisruh, ngantos ibu Maryam ngendika dhumateng Gusti Yesus: “Padha kentekan anggur”!  Sanajan Gusti Yesus ngendika: Ibu, “dereng dumugi wekdal Kula”, ananging keng ibu dhawuh dhumateng para pelados: “ apa sakdhawuhe marang kowe padha lakonana.  Saestu Gusti Yesus lajeng dhawuh dhumateng para pelados supados ngebaki toya 6 genthong punika.  Lajeng pangandikanipun:”Saiki cidhuken, lan aturna marang pitayaning gawe.  Sadaya katindakaken, sareng dipun icipi dening pitayaning damel, lajeng matur dhumateng temanten kakung: “Saben tiyang nyegah anggur punika ingkang sae rumiyin.  Dene menawi para tamu anggenipun ngunjuk sampun sampun kathah lajeng saweg nyegahaken ingkang kirang sae.  Nanging panjenengan kok nyimpen anggur ingkang sae ngantos sapunika” (Yok 2:10).  Kanthi mekaten damel memanton punika mboten namung kawilujengaken, nanging bujana punika sangsaya sae lan kebak kabingahan.

Anggur tumrap tiyang Israel minangka lambanging kabingahan miwah karahayon.  Karana marupi-rupining masalah iba asring kabingahan lan karahayon punika ical saking brayat kita.  Ananging menawi Gusti Yesus kita undhang dedalem ing tengahing brayat, kita aturi papan ing manah kita miwah kita pirengaken lan tindakaken pangandikanipun tamtu brayat kita badhe terus tuwuh ngrembaka saking kualitas ingkang asor dadosingkang unggul.  Malahan toya ingkang awon, pait badhe kaebah dados toya wening.  SAnajan ing tengahing ancaman kekacauan miwah kegagalan toyaning gesang lan karahayon terus mili mboten wonten telasipun ing brayat kita.  Mujizatipun Gusti kelampahan ing brayat kita!

Ingkang mbingahaken, bilih mujizat ing dusun Kana punika sanes namung mujizat ingkang kawitan kemawon, nanging bilih ingkang kawitan punika dados asasing sadaya pakaryanipun Gusti Yesus ing jagad punika.  Artosipun,  bilih misinipun Gusti Yesus tedhak ing jagad punika sanes nyiptakaken bab ingkang enggal, ananging ngenggalaken ciptaan ingkang dipun kuwaosi hukuming karisakan karana dosa supados dados langkung sae, langkung rahajeng lan kebak kabingahan.  Misinipun mulihaken sesambetaning manungsa kaliyan Allah ingkang sampun risak saged kawangsulaken dados manunggil malih, gesang tetungilan kaliyan Allahipun.  Bab punika dados kekiyatan lan jaminan tumrap kita ingkang nggadhahi krenteg lan tekad sae ing tengahing marupi rupining ancaman lan alangan.  Mila kanthi mujizatipun punika Gusti Yesus kamulyakaken lan murid-muridipun pitados dhumateng Panjenenganipun.

Pangandika punika ugi dados sumbering pangajeng-ajeng ing tengahing kawontenan ingkang risak, gapuk, malahanajur-mumur sawalang-walang kadosdene ingkang dipun alami dening bangsa Yehuda ing pambuangan ing wekdal punika.  Gusti Allah tansah maringi pangajeng-ajeng kaenggalaken lan kapulihaken tumrap sintena ingkang mratobat miwah namung ngendelaken Gusti Allah (Yes 62:1-5).  Mekaten ugi ing tengahing brayat, masyarakat lan bangsa ingkang ngalami kemerosotan, kisruh (kaparingana illustrasi/conto-conto piyambak).  Sebab sih susetyanipun Gusti Allah punika tanpa wates,  nglangkungi akasa miwah mega-mega (Jabur 36:6-10).  Panjenenganipun papan pangayoman miwah sumbering gesang ingkang mili terus tanpa mandheg.

2. Timbalan Kita

Iba endahipun tumrap pasamuan Korintus ingkang ageng lan nggadhahi warga ingkang kathah kanthi mawarni-warnining peparing.  Iba ngeram-eramaken tumrap brayat kita ingkang kawiwitan saking tiyang jaler lan tiyang estri ingkang benten tata wadhag, benten brayat ingkang nglairaken, pendidikanipun, sifat-sifat, padatan, adat-istiadat, talenta lan peparing, nanging karana pakaryanipun Gusti saged dados satunggal daging, liripun patunggilan ingkang gesang (organisma), ingkang mboten saged kapisah malih.  Saking brayat punika lair putra wayah lan buyut.

Kanthi mawarni-warnining talenta miwah peparing punika kakarsakaken Gusti supados dados patunggilan ingkang saged sinau antawis satunggal lan satunggalipun, lados-linadosan, donga-dinonga, bantu-binantu, sampurna-sinampurnakaken, sugih-sinugihaken, matemah ingkang awon saged kakikis telas lan ingkang sae kinembangaken ndadosaken karahayon lan karaharjaning brayat saha pasamuan.

Eman sanget, kathah brayat Kristen ingkang ngalami disorientasi, nilaraken hakekating brayating Allah, mboten mangertos kedah dhateng pundi jangkah kaarahaken lan prioritas punapa ingkang kedah katengenaken. Katambah buntunipun komunikasi njalari saben paraga namung mikiraken dhirinipun piyambak.  Akibatipun marupi-rupining peparing miwah talenta malah ndadosaken dadakan ngunggulaken dhirinipun piyambak lan ngasoraken tiyang sanes, gagah-ginagahan miwah singkir-siningkiraken.  Pinten kathahing brayat ingkang katelasan angguring karahayon miwah kabingahan?

Penutup

Sadherek kinasih, pancen kathah sanget masalah ingkang saged ndadosaken kereming brayat kita, ancuring masyarakat kita.  Ananging saestunipun masalah ingkang paling awrat inggih ingkang tuwuh saking nglebet dhiri kita piyambak, mboten kiyating patunggilan kita.  Mila pangandikanipun ibu Maryam: “Apa sadhawuhe marang kowe padha lakonana” (Yok 2:5).  Tamtu mujizatipun Gusti badhe kelampahan malih.  Marupi-rupining peparing saestu dados berkah ageng, mboten namung milujengaken lampahing baitaning gesanging brayat kita kemawon, nanging ugi dados berkah tumrap tiyang kathah, ndherek mbangun bebrayan ageng.   Amin

Pamuji: KPJ. 316

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •