Khotbah Minggu 2 April 2017

MINGGU PRA PASKAH
STOLA UNGU

 

Bacaan 1         : Yehezkiel 37 : 1 – 14
Bacaan 2         : Roma 8 : 6 – 11
Bacaan 3         : Yohanes 11 : 1 – 45

Tema Liturgis : Taat melakukan kehendak Allah
Tema khotbah :  Ketaatan yang membawa kehidupan

 

Keterangan bacaan

Yehezkiel 37 : 1 – 14

Yehezkiel menubuatkan bahwa bangsanya secara politis akan bangkit kembali. Tulang-tulang kering mengartikan suatu balatentara yang terbunuh dalam pertempuran. Ini menggambarkan Bangsa Israel yang sudah tawar hati, dalam keadaan yang tidak berpengharapan lagi (11, 33:10); satu-satunya yang dapat mengerjakan pemulihan hanyalah tindakan ajaib dari Tuhan Allah. Ketaatan Nabi Yehezkiel untuk menubuatkan apa yang diperintahkan oleh Tuhan memungkinkan terjadinya kehidupan melalui kuasa Roh Kudus.

Roma 8 : 6 – 11

Paulus mempertentangkan hidup dalam kasih karunia sebagai pekerjaan Roh dan hidup dalam daging di bawah Hukum Taurat. Hidup yang lama menempatkan perhatian dan kesenangan pada hal-hal yang bersifat daging, tetapi hidup yang baru menempatkan pada hal-hal yang rohani. Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Hidup dalam daging menyia nyiakan keinginan Allah tentang manusia, hidup berpusat pada diri sendiri, memusuhi Allah, tidak berkenan kepada Allah dan benar-benar tidak mampu untuk menaati hukum Allah.

Kekuatan yang mengarahkan hidup rohani adalah kehadiran Roh Kudus. Itulah asal kemenangan kasih karunia atas hukum Taurat, sebab karena kasih karunia, karena iman, Roh ada dalam mereka dan mereka ada dalam Roh.

Sang Bapa adalah sumber segala kasih karunia; Sang Anak adalah salurannya; Sang Roh yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak adalah yang melaksanakan. Batu ukuran orang Kristen adalah kekuatan Allah yang mendiami dan memberi  arah. Tanpa kekuatan ini tidak mungkin ada persekutuan dengan Allah.

Yohanes 11 : 1 – 45

Bagi Yesus ketaatan kepada Allah adalah segala galanya. Dalam terang pikiran yang demikian ini Yesus melihat semuanya dalam peristiwa kematian dan pembangkitan Lazarus.

  1. BagiNya tujuan penyakit yang dialami oleh Lazarus bukanlah kematian, melainkan pemuliaan Anak Allah. Kemuliaan Allah lebih penting daripada penyakit. Penyakit digunakan untuk tujuan yang lebih besar.
  2. Yesus menunda kedatangaNya ke Lazarus yang sakit bukan berarti Yesus tidak peduli, kurang perhatian, tetapi untuk kepentingan keluarga Betania. Tujuan yang lebih mulia dari semuanya ini, untuk menyatakan kemuliaan Allah (4) dan supaya kamu belajar percaya (15).
  3. Murid-murid Yesus mengingatkan Dia jangan pergi ke Yudea, karena orang-orang Yahudi sedang berusaha untuk merajam Dia, mereka merasa lega bahwa Yesus menunda kedatanganNya ke Yudea dan bahkan mereka sangat senang kalau Yesus membatalkan. Tetapi bagi Yesus yang penting melanjutkan misiNya, mentaati kehendak BapaNya.
  4. Yesus masygul karena pengetahuaNya tentang kekuatan ketidakpercayaan dari beberapa kalangan mereka, yang akan mengakibatkan mereka menolak Dia, sekalipun mereka menyaksikan tanda yang menakjubkan.
  5. Puncak seluruh peristiwa ini dalam penegasan Yesus “Aku adalah”, yakni : Akulah kebangkitan dan hidup. Ia menyamakan diriNya dengan puncak dari pekerjaanNya, seolah-olah kebangkitan telah terjadi. Sumber penghiburan yang paling besar dalam saat kematian adalah Tuhan yang telah bangkit. Kebangkitan dicatat sebelum hidup, karena bagi manusia yang fana, hidup yang baru adalah hasil dari kebangkitan. Tersedianya hidup ini adalah dengan jalan kepercayaan, percayakah engkau akan hal ini ? Perlu dicatat bahwa disini Yesus tidak menuntut pengakuan iman pada diriNya, tetapi pada penyataanNya. Kedua hal ini pada asasnya tidak dapat dipisah tetapi tekanan di sini jatuh pada isi dari kepercayaan.

Benang Merah Tiga Bacaan

Hidup Yesus adalah hidup yang taat kepada Allah Bapa, ketaatan sampai mati, yang membuahkan kasih karunia bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Ia sangat berharap supaya para murid dan para pengikutNya mengikuti teladanNya dengan hidup penuh ketaatan, sebagai bentuk ucapan syukur kepada Allah karena telah menerima kasih karunia-Nya. Hidup yang demikian yang membuahkan hidup dalam arti yang sesungguhnya.

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia

Pembukaan

Hampir di segala bidang kehidupan pasti ada peraturan, tata tertib, aturan main yang harus kita taati bersama. Dan tujuan peraturan dibuat pasti untuk kebaikan, ketertiban hidup supaya hidup kita menjadi damai sejahtera lahir batin, aman dan nyaman, teratur, baik dan benar, hidup dalam arti yang sebenarnya.

Isi

Berdasarkan bacaan kita hari ini dan dalam terang tema khotbah kita: Ketaatan yang membawa kehidupan, kita mendapatkan beberapa pengajaran iman.

  1. Jika pencobaan atau penderitaan datang kepada kita, khususnya jika itu disebabkan karena kesetiaan kita kepada Yesus, itu merupakan salib yang harus kita pikul. Kita harus memandangnya sebagai kemuliaan dan satu-satunya jalan menuju kesukaan yang lebih besar lagi. Bagi Yesus, tidak ada jalan lain yang menuju kepada kemuliaan selain daripada salib, dan oleh karena itu salib itu harus ada juga pada kita yang mengikuti Yesus.
  2. Yesus menunda kedatanganNya ke Rumah Lazarus, Dia mau menunjukkan kepada kita bahwa Yesus mengambil tindakan atas dasar inisiatifNya sendiri dan bukan atas dasar bujukan orang lain atau karena dipaksa oleh orang lain. Perbuatan Yesus di sini dilakukan pada waktu yang Dia tentukan sendiri. Ini merupakan peringatan bagi kita. Seringkali kita menginginkan Yesus melakukan hal-hal yang sesuai dengan waktu dan cara kita. Kita harus menyerahkan kepadaNya untuk melakukan sesuai dengan waktu dan caraNya sendiri, dalam rangka ketaatan kita kepada-Nya.
    Di pihak lain, kita diingatkan ada 12 jam dalam satu hari –akan tetapi juga hanya 12 jam sehari. Tidak ada keperluan untuk tergesa-gesa, akan tetapi benar juga tidak ada kesempatan untuk membuang-buang waktu. Ada cukup waktu dalam kehidupan, akan tetapi tidak pernah ada waktu untuk dibuang-buang percuma. Pergunakanlah waktu se-effektif dan se-effisien mungkin, untuk selalu taat kepada-Nya. Pergunakanlah waktu yang ada padamu!
  1. Bukti yang terakhir dalam kekristenan ialah melihat apa yang Yesus bisa perbuat. Kata-kata mungkin gagal untuk meyakinkan, akan tetapi terhadap Allah dalam tindakan-Nya tidak ada alasan untuk membantah. Adalah suatu kenyataan yang sederhana bahwa kuasa Yesus, telah mengubah seorang pengecut menjadi pahlawan, seorang peragu menjadi orang yang yakin, seorang yang hanya mementingkan diri sendiri menjadi hamba orang lain, orang jahat menjadi baik. Inilah yang memberi tanggungjawab yang begitu besar kepada kita sebagai orang Kristen. Dalam terang rencana Tuhan tiap orang di antara kita harus merupakan bukti yang hidup dari kuasa Kristus. Tugas kita bukan hanya memuliakan Kristus dengan kata-kata, melainkan menampakkan dalam hidup kita apa yang telah Kristus lakukan bagi kita.
  2. Dalam kenyataan, orang bisa begitu memikirkan kebutuhan diri sendiri saja sehingga dia mati terhadap kebutuhan orang lain. Seorang bisa begitu tanpa perasaan sehingga dia mati terhadap perasaan-perasaan orang lain (bacaan 2). Seorang bisa begitu terlibat dalam ketidakjujuran dan ketidaksetiaan yang keji dalam hidup, sehingga sudah mati terhadap kehormatan. Seorang bisa menjadi begitu putus asa sehingga ia dipenuhi oleh kelambanan yang berarti kematian rohaniah. Atau juga kematian badaniah dalam arti pisahnya nyawa dan raga. Yesus Kristus dapat membangkitkan orang-orang itu. Melalui Yesus Kristus kita tahu bahwa kita sedang dalam perjalanan, bukan menuju senja, melainkan menuju fajar, kita tahu bahwa kematian pintu gerbang di kaki langit. Dalam arti yang sebenarnya kita bukan pada jalan yang menuju kematian, melainkan yang menuju ke kehidupan.
  3. Segala apa yang Yesus lakukan adalah karena kuasa Allah dan dimaksudkan bagi kemuliaan Allah. Betapa bedanya dengan kita manusia. Begitu banyak yang kita lakukan dengan kekuatan diri sendiri dan direncanakan untuk gengsi diri kita sendiri. Mungkin akan ada lebih banyak mujizat lagi dalam hidup kita, jika kita berhenti berbuat dengan kekuatan kita sendiri, dan sebaliknya menempatkan Tuhan pada tempat yang sentral dalam hidup kita.
  4. Dalam situasi dan kondisi tertentu karena ketidaktaatan kita, bisa saja kita menjadi tawar hati dan kehilangan pengharapan, bagaikan tulang-tulang yang kering (bacaan 1). Satu-satunya jalan pemulihan hanyalah tindakan Allah yang ajaib. Karena ketidaktaatan Adam yang pertama kepada perintah Tuhan, manusia mati, tetapi sebaliknya karena ketaatan Adam yang kedua (Yesus Kristus), manusia menerima hidup yang kekal. Dan ini merupakan kasih karunia Allah kepada kita. Sebab karena kasih karunia, karena iman, Roh ada dalam kita dan kita ada dalam Roh, sehingga hidup kita diterangi oleh Roh Allah, dipimpin oleh Roh Allah, hidup baru; tidak lagi hidup dalam daging dan dikuasai oleh nafsu kedagingan kita, hidup lama (bacaan 2). Sebab siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (bdk.II Kor 5:17).

 

Penutup

Ketaatan membawa kehidupan. Sebaliknya, ketidaktaatan membawa kematian dalam segala segi kehidupan. Sebagaimana Yesus taat kepada kehendak dan rencana Bapa-Nya bagi kehidupan dan keselamatan kita, demikianlah hendaknya kita semua juga belajar taat, supaya kita juga mengalami dan menerima kehidupan dan hidup dalam arti yang sesungguhnya. Amin.(SS)

Nyanyian: Kidung Jemaat 446 : 3,4

 

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Bebuka

Ing sedaya babaganing gesang kita mesthi wonten tatanan, tata tertib ingkang kedah kita tuhoni sesarengan. Menggah ingkang dados gegayuhanipun tatanan menika kadamel amrih kasaenaning gesang lan pigesangan kita, supados gesang kita tata lan tentrem lair lan batos, sae lan leres, gesang ingkang sayektos.

 

Isi

Adhedhasar waosan kita lan sesirahing khotbah dinten menika, kita sami angsal piwulang ing gesang tata karohanen kita, ing antawisipun :

  1. Menawi pacoben lan kasangsaran ndhatengi kita, mliginipun menawi menika dipun sebabaken karena kasetyan kita dhateng Gusti Yesus, menika minangka salib ingkang kedah kita pikul. Kita kedah mawas salib menika satunggaling kamulyan lan margi ingkang anjog dhateng kasukan ingkang langkung ageng. Kagem Gusti Yesus, boten wonten malih margi ingkang anjog dhateng kamulyan anjawi salib. Pramila saking menika salib kedah wonten ugi ing gesang kita para pendherekipun Gusti.
  2. Gusti Yesus nyumenekaken anggenipun rawuh dhateng dalemipun Lazarus, Panjenenganipun ngersakaken paring pitedah dhateng kita bilih Panjenenganipin nindakaken samukawis prekawis awit saking kersanipun piyambak lan boten amargi dipun bujuk utawi dipun peksa dening tiyang sanes. Pakaryanipun Gusti Yesus menika katindakaken ing wegdal ingkang dipun tamtokaken piyambak dening Panjenenganipun. Menika mujudaken pepenget kangge kita. Asring kita nggadhahi pepenginan Gusti Yesus nindakaken pakaryanipun utawi bab-bab sanesipun miturut wegdal lan cara kita. Kita kedah sumarah pasrah dhateng Gusti Yesus supados nindakaken pakaryanipun miturut wegdal lan caranipun Gusti piyambak. Anjawi saking menika kita ugi kaengetaken bilih wonten 12 jam ing salebeting setunggal dinten, ananging inggih namung 12 jam menika. Boten wonten kabetahan ingkang kesesa-sesa, ananging ugi boten wonten wewengan kangge bucal-bucal Wonten wegdal ingkang cekap ing salebeting gesang kita, ananging boten nate wonten wegdal kabucal nglaha. Kita kedah ngginakaken wegdal peparingipun Gusti menika kanthi prayogi lan namung kanggema kamulyanipun. Gunakna wektu kang ana!
  3. Minangka bukti ingkang wekasan tumraping kekristenan kita inggih menika ningali menapa ingkang saged katindakaken dening Gusti Yesus. Tumraping menapa ingkang katindakaken dening Gusti Yesus, boten wonten manungsa ingkang saged m Satunggaling kasunyatan menawi pangwasanipun Gusti Yesus ngewahi tiyang ingkang mamang dados mantep ing pitados, tiyang ingkang namung mentingaken diri pribadinipun dados tiyang ingkang maelu dhateng kebetahanipun ngasanes, tiyang awon/jahat dados sae. Kula lan panjenengan sami kedah dados bukti ingkang gesang tumraping pangwasanipun Gusti menika. Kuwajiban kita boten namung mulyakaken Gusti Yesus srana pitembungan kita, ananging ngetingalaken ing gesang kita menapa ingkang sampun katindakaken dening Gusti Yesus ing gesang kita.
  4. Ing salebeting pigesangan kita sadinten-dinten, saged kemawon tiyang menika namung mikiraken kabetahanipun piyambak, satemah pejah tumraping kabetahanipun tiyang sanes. Tiyang saged kemawon tanpa perasaan, satemah pejah tumraping perasaan-perasaanipun tiyang sanes (waosan 2). Tiyang saged kemawon nindakaken tumindak boten jujur lan boten setya, satemah ngalami pejah Tiyang saged kemawon ngalami semplah ing manah ingkang sanget, satemah ngalami pejah karohanenipun. Utawi saged ugi tiyang ngalami pejah tata wadhag, inggih menika pisahing raga lan sukma. Gusti Yesus kagungan pangwasa nggesangaken tiyang-tiyang menika. Wonten ing Sang Kristus kita mangertos bilih kita saweg lumampah boten tumuju dhateng lingsiring surya, ananging tumuju dhateng mletheking surya wanci enjing. Kita boten wonten ing margi ingkang tumuju dhateng pejah, ananging tumuju dhateng gesang.
  5. Sedaya ingkang katindakaken dening Gusti Yesus karana pangwasanipun Allah lan tumuju dhateng kamulyanipun Allah. Saiba bentenipun kaliyan kita manungsa! Asring sanget kita nindakaken samukawis prekawis kanthi kekiyatan kita piyambak lan kangge gengsi kita pribadi. Badhe kathah mukjijat ingkang kelampahan menawi kita boten nindakaken samukawis prekawis srana kekiyatan kita piyambak, ananging kosokwangsulipun tansah mapanaken Gusti Yesus ing papan ingkang premana ing gesang kita.
  6. Ing salebeting kawontenan tartamtu karana kita boten setya dhateng Gusti, saged kemawon kita dados semplah, cuwa ing manah, kecalan pangajeng-ajeng, kadosdene balung-balung ingkang aking (waosan 1). Ing kawontenan ingkang makaten namung pangwasanipun Allah ingkang elok ingkang saged mulihaken. Karana Adam ingkang wiwitan mbalela dhateng Gusti Allah, manungsa dhawah ing pejah, ananging karana pambangunturutipun Adam ingkang kaping kalih (Gusti Yesus), manungsa kagesangaken lan nampi gesang ingkang langgeng. Lan menika mujudaken sih kanugrahanipun Allah dhateng kita, amargi namung karana sih kanugrahanipun Allah, karana pitados, Roh Suci dedalem wonten ing gesang kita lan kita gesang kita wonten ing Sang Roh Suci, matemah gesang kita tansah katuntun dening Roh Suci, gesang enggal; boten gesang tata daging malih, ingkang dipun kwasani dening hawa nafsu kedagingan, gesang lami (waosan 2). “Dadi sapa kang ana ing Sang Kristus, iku dadi titah anyar: kang lawas wus sira, lan kang anyar pranyata wus teka.” (II Kor 5:17)

 

Panutup

Tumindak setya tuhu nuwuhaken gesang. Kosokwangsulipun, tumindak boten setya nuwuhaken pejah ing sadaya babaganing gesang. Kadosdene Gusti Yeus tansah setya tuhu dhateng rancangan lan karsanipun Allah Sang Rama kangge gesang lan kawilujengan kita, inggih mekaten kita katimbalan tansah setya tuhu, supados kita nampeni lan ngalami gesang sejatos lan sejatosing gesang. Amin (SS)

 

Pamuji: KPK 248 : 2,3

 

Bagikan Entri Ini: