Pulanglah ke Rumahmu dan Ceritakanlah yang Diperbuat Tuhan Allah Atasmu Khotbah Minggu 19 Juni 2022

6 June 2022

Minggu Biasa | Bulan Kesaksidan dan Pelayanan
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 65 : 1 – 9
Bacaan 2: Galatia 3 : 23 – 29
Bacaan 3: Lukas 8 : 26 – 39

Tema Liturgis: Allah Memperlengkapi Kita Bersaksi dan Melayani dengan Ragam Cara, Media, dan Usia
Tema Khotbah: Pulanglah ke Rumahmu dan Ceritakanlah yang Diperbuat Tuhan Allah Atasmu

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 65 : 1 – 9
Teks pada bagian Trito Yesaya ini menuliskan tentang jawaban Allah kepada bangsa Israel. Pada bagian ayat 1-5, dituliskan tentang Allah yang selalu membuka diri kepada orang-orang berdosa dan yang selalu menjauhkan diri dari Allah, karena perbuatan-perbuatannya yang berdosa. Lalu, pada ayat 6-9 dituliskan: di satu sisi tentang pembalasan Tuhan terhadap dosa dan kesalahan bangsa Israel yang telah memberontak kepada Allah. Tapi, di sisi lain, Allah memberikan kesempatan kepada sisa keturunan Israel yang akan mewarisi “orang-orang pilihan Allah” yang akan tetap tinggal. Ini menunjukkan kasih Allah yang besar kepada umat-Nya. Sekalipun banyak sikap hidup mereka yang telah melukai hati Tuhan dan menjauh dari Tuhan, tapi Tuhan masih memberi kesempatan kepada mereka di tengah hukuman yang diberikan-Nya. Hal ini menjadi kesaksian hidup kita.

Galatia 3 : 23 – 29
Konteks surat Paulus kepada jemaat di Galatia (terlepas kepastian penerima surat ini), adanya pertentangan orang kafir yang baru menjadi Kristen dengan orang Kristen Yahudi. Mereka dituntut oleh orang Kristen Yahudi untuk melakukan ketaatan terhadap hukum Taurat dan sunat. Hal ini yang mendorong Paulus menulis suratnya kepada Jemaat Galatia supaya orang Kristen saat itu, bisa memahami makna Hukum Taurat sebagai orang Kristen dan di tengah perbedaan yang ada. Pada ayat 26, langsung merujuk kepada setiap personal yang percaya kepada Yesus Kristus adalah anak-anak Allah, tanpa terkecuali. Sehingga di ayat 28, ditegaskan kembali, tidak adanya perbedaan karena semua telah menjadi satu di dalam Kristus Yesus. Hal ini mengingatkan tentang perbedaan yang seringkali menjadi akar masalah atau perpecahan dalam persekutuan, padahal kesatuan Tubuh Kristus itulah hendaknya yang perlu menjadi kesaksian iman.

Lukas 8 : 26 – 39
Pasca Tuhan Yesus meredakan angin rebut, Tuhan Yesus memperlihatkan kuasa-Nya atas Roh Jahat di Gerasa. Setelah itu, Tuhan Yesus melakukan perubahan dramatis dalam kehidupan seseorang yang telah dibebaskan dari kerasukan setan itu. Orang-orang di sekitar, saat itu merasa takut melihat apa yang terjadi. Namun, rasa takut itu tidak mendorong mereka memuji Allah, melainkan malah menolak Tuhan Yesus. Hilangnya babi-babi itu lebih memberi kesan kepada mereka daripada perubahan dalam diri orang yang telah sembuh dari kerasukan setan tersebut. Pada saat orang-orang datang, orang yang kerasukan setan itu sudah sembuh, ia duduk bersimpuh di kaki Tuhan Yesus, seperti seorang murid yang sedang mendengar ajaran seorang guru. Lalu, orang itu ingin mengikuti Yesus, tetapi panggilannya adalah untuk membagikan apa yang sudah dialami kepada seluruh kota.

Teks ini mengingatkan manusia yang seringkali tidak fokus dengan karya kasih Allah di dalam dunia, dan bahkan cenderung menolak kehadiran Tuhan Yesus di dalam hidup. Padahal, saat kita menyadari kejatuhan diri karena yang jahat dalam diri manusia dan telah dibebaskan oleh kasih Kristus, maka sudah selayaknya kita mewujudkan panggilan kesaksian hidup kita, seperti laki-laki di Gerasa tadi.

Benang Merah Tiga Bacaan
Kasih Allah yang besar bagi manusia, merupakan kesempatan yang Tuhan berikan supaya manusia menyadari bahwa di dalam kasih Tuhan Yesus hendaknya terjadi kesatuan tubuh Kristus, untuk bisa mewujudnyatakan kesaksian. Fokus manusia hendaknya kepada karya kasih Allah yang telah dinyatakan bagi manusia yang berdosa dan memperoleh hidup yang baru. Maka, hendaknya kita berani mewujudnyatakan kesaksian iman sebagai sebuah perjumpaan personal bersama dengan Tuhan. Pengutusan Tuhan Yesus kepada laki-laki di Gerasa itu kiranya juga menjadi pengutusan kita bersama.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Selama pandemi Covid-19 sejak Maret 2020, bermacam usaha dilakukan untuk bisa mengatasinya. Mulai dari menerapkan protokol kesehatan, sampai usaha menciptakan Herd Imunity melalui pemberian vaksin. Banyak jenis vaksin yang digunakan, mulai dari Sinovac, Astrazenica, dan Vaksin Nusantara, dll. Penemuan yang dilakukan oleh para ilmuwan ini dilakukan dengan penelitian yang tekun dan cermat. Setelah itu, menginformasikan/ mewartakan hasil temuan tersebut kepada khalayak luas. Bayangkan apa jadinya kalau mereka menyembunyikan hasil penelitian tersebut? Tentu lebih banyak korban jiwa. Bersyukur para ilmuwan tersebut mau mewartakan atau mempublikasikannya. Mereka sama sekali tidak mendesak atau memaksakan temuan vaksin tersebut. Mereka hanya mewartakannya, seperti yang dilakukan dr.Terawan dengan Vaksin Nusantara. Apakah pewartaan atau informasi itu diterima atau ditolak, itu terserah. Begitu juga dengan pesan teks kita hari ini.

Isi
Kabar sukacita atau kabar baik itu tentu membuat kita ingin menyampaikannya kepada khalayak luas, supaya banyak orang ikut bersukacita dan terberkati. Bukan hanya disimpan di dalam hati. Begitu juga usaha Tuhan Yesus yang melakukan (baca: mempraktikkan) kesaksian-Nya di wilayah Galilea dan sampai pada peristiwa di Gerasa. Begitu juga panggilan bagi kita yang hidup pada zaman ini, supaya kita juga ikut mewartakan kabar sukacita dan kabar baik tentang nilai-nilai kasih Allah kepada orang-orang di sekitar kita. Hal ini tentu berangkat dari perjumpaan personal kita dengan Tuhan, lalu kita refleksikan melalui sikap/ tindakan di dalam kehidupan. Kabar sukacita tentu bisa disampaikan dengan pujian, lukisan, teater, tarian, buku, perilaku keteladanan, persahabatan, perbuatan baik, khotbah, cerita, Vlog, Channel di Youtube, dls.

Dari hal tersebut, maka mewartakan kabar sukacita tidak hanya bersifat verbal, tapi juga bisa bersifat non verbal-melalui praktik hidup yang bisa langsung dirasakan oleh orang lain. Misal, kejujuran seseorang di tengah lingkungan yang korup, mempraktikkan hidup sadar akan lingkungan hidup dengan mengurangi plastik, dls. Dari pada berkhotbah muluk-muluk tentang kejujuran, cinta lingkungan, dls. Padahal pengkhotbah sendiri tidak jujur dan tidak sadar akan lingkungan. Pewartaan kabar sukacita ini merupakan tugas semua orang percaya-pengikut Kristus, bukan hanya tugas Pendeta atau Majelis Jemaat. Dengan demikian, panggilan bersaksi dan melayani mempunyai makna yang patut kita renungkan bersama, antara lain :

  1. Hidup ini adalah kesempatan
    Kesadaran bahwa manusia sering jatuh dalam dosa dan memberontak kepada Allah, maka sudah selayaknya manusia mendapat hukuman atas pemberontakannya tersebut. Pemberontakan dan kesalahan manusia tidak hanya satu atau dua kali di dalam kehidupan, tapi berkali-kali dan sering dilakukan. Bahkan mengabaikan panggilan Tuhan untuk hidup benar di hadapan-Nya. Konteks dunia modern, yang semakin cepat dan pragmatis semakin membuat manusia melupakan Tuhan di dalam hidup. Contoh: waktu 24 jam terasa kurang untuk pemenuhan finansial, sehingga tidak ada waktu untuk membangun doa pribadi atau bersama keluarga. Saat menjalani proses pergumulan tidak semakin dekat dengan Tuhan, tetapi semakin jauh dari Tuhan dan mencari solusi di luar Tuhan, dls. Hal tersebut, seperti yang dilakukan bangsa Israel di hadapan Tuhan (Yes.65:1-5).

    Peringatan Allah, bahwa hidup kita sampai saat ini merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan (Yes. 65:6-9). Kesempatan demi kesempatan itulah yang hendaknya menjadi kesaksian iman kita untuk hidup benar dihadapan Tuhan.

  2. Hidup persekutuan merupakan ladang kesaksian
    Kesaksian iman tentu perlu dimulai dari lingkup yang paling dekat dengan kehidupan kita, salah satunya adalah persekutuan iman kita. Kesaksian Paulus kepada Jemaat Galatia mengingatkan kita supaya hidup di dalam kesatuan tubuh Kristus tanpa memandang perbedaan-perbedaan di dalam Jemaat (Gal.3:27-28). Perbedaan memang sering menjadi persoalan di dalam persekutuan iman di gereja. Contoh: dalam kepanitian, jika ada usul yang tidak disetujui menjadi marah dan tidak mau ke gereja. Dalam pelayanan bersama di satu komisi, ada perbedaan pendapat menjadikan pertengkaran dan tidak saling sapa, dls. Gereja sebagai sebuah persekutuan harusnya menjadi ladang kesaksian iman untuk saling mewujudnyatakan kasih, pengampunan, dan damai sejahtera, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan. Mari membangun persekutuan iman kita untuk menjadi sarana kesaksian bagi semua orang, termasuk bagi yang belum mengenal Tuhan Yesus. Persekutuan yang mampu menghadirkan syalom dan yang mampu menghadirkan terang Ilahi.
  3. Hidup bersaksi yang membebaskan
    Kesaksian iman bersifat membebaskan, bukan mendesak-desak atau mengancam dan memaksa. Kehadiran Tuhan Yesus di Gerasa bukan untuk memaksa orang-orang disana untuk menerima kehadiran-Nya, karena saat Tuhan Yesus diminta meninggalkan Gerasa, Tuhan Yesus tidak berkeras hati tinggal disana (Luk.8:37). Kesaksian iman kita tentu perlu diwartakan dalam kerangka damai sejahtera, bukan dengan desakan atau paksaan. Hal ini berarti kesaksian iman tidak boleh bersifat menipu. Namun, seringkali kita banyak mendengar atau menyaksikan kesaksian iman melalui media sosial yang bersifat spektakuler dan mendesak. Contoh: “Saya sudah diajak jalan-jalan oleh Tuhan Yesus ke sorga, tapi belum waktunya. Sehingga saya harus kembali dan menyatakan supaya yang belum bertobat, hari inilah waktunya. Bagi yang belum percaya kepada Yesus, segera terima Yesus dalam hatimu”, dls.

    Perhatikan Luk. 8:38-39, saat orang yang sudah dibebaskan dari kerasukan setan ingin mengikut Yesus, tapi Yesus menyuruhnya pergi, pulanglah dan ceritakan yang diperbuat Allah. Kemudian orang itu, pergi mengelilingi seluruh kota dan mewartakan kabar sukacita itu, bukan ke rumahnya. Apakah ada orang yang tidak percaya? Tentu ada! Apakah ada orang yang percaya? Tentu juga ada! Kesaksian yang membebaskan merupakan kesaksian yang menghargai hak asasi orang lain yang berbeda. Kesaksian iman itu bisa ditolak atau bisa diterima. Sikap ini sudah dilakukan Yesus dalam pelayanan kesaksian iman-Nya. Hal ini senada dengan kisah para ilmuwan yang menemukan formula Vaksin Covid-19 di awal.

Berangkat dari 3 hal tersebut di atas, kiranya semakin meneguhkan kita dalam bersaksi dan melayani dengan berbagai cara dan media yang bisa digunakan, sehingga nama Tuhan semakin dipermuliakan.

Penutup

Mari, kita bersama mengingat bahwa:

  1. Hidup adalah kesempatan untuk bersaksi tentang kasih Tuhan Yesus.
  2. Hidup persekutuan merupakan ladang kesaksian, sebagai kitab yang terbuka
  3. Hidup bersaksi yang membebaskan, membawa syalom bagi sesama.

Kesaksian iman yang membebaskan akan menjadi ancaman bagi pribadi yang enggan dipulihkan, tetapi akan menumbuhkan iman bagi setiap orang yang menyambut dengan hati terbuka. Amin. [KULZ]

 

Pujian: KJ. 426 Kita Harus Membawa Berita

— 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Wonten ing satengah pagebluk Covid-19 ingkang kawiwitan wulan Maret 2020 kepengker, kathah usaha ingkang sampun dipun lampahi kangge mrantasi pagebluk punika, wiwit saking nglampahi protokol kesehatan ngantos usaha wujudaken Herd Imunity lumantar vaksinasi. Kathah jenis vaksin ingkang dipun ginakaken, wonten Sinovac, Astrazenica, lan Vaksin Nusantara, lsp. Para ilmuwan kanthi tekun lan cermat ngupaya penelitian supados vaksin punika saged dipun panggihaken. Sak cekapipun punika, Para ilmuwan punika lajeng martosaken bab hasil penelitian punika dhumateng masyarakat luas. Kita saged mbayangaken, kados pundi bilih para ilmuwan punika mboten purun martosaken hasil penelitianipun lan dipun singitaken? Tamtu langkung katah korban jiwa karana kenging virus Corona punika. Awit saking punika kita kedah saos sokur bilih para ilmuwan punika kersa maringi pawartos bab vaksin punika. Para ilmuwan punika mboten meksa supados hasil temuan vaksinipun punika kedah dipun akeni lan dipun damel. Para ilmuwan punika namung paring pawartos, kados ingkang dipun lampahi dr. Terawan ing bab Vaksin Nusantara. Punapa pawartos punika dipun tampi utawi boten, punika ugi dipun wangsulaken malih dhateng tiyang ingkang nampi pawartos punika. Mekaten ugi kaliyan waosan kita dinten punika.

Isi
Kabar kabingahan punika tamtu ndadosaken kita kepingin paring pawartos dhateng tiyang sanes supados langkung kathah tiyang ingkang ngraosaken kabingahan lan dipun berkahi. Mboten namung dipun simpen piyambak wonten ing saklebeting manah. Mekaten ugi ingkang dipun lampahi Gusti Yesus wonten ing paseksinipun wonten ing Galilea ngantos ing Gerasa. Dados timbalan kita ingkang gesang ing zaman punika, saged martosaken kabar kabingahan bab sih katresnanipun Gusti Allah dhateng para tiyang ing lingkungan kita. Bab punika saged kita wiwiti lumantar pitepangan kita kaliyan Gusti Allah, lajeng kita wujudaken lumantar sikap/ tindakan gesang kita padintenan. Kabar kabingahan punika, saged kita wartosaken kanthi puji-pujian, lukisan, teater, tarian, buku, tumindak, tuladha, pasedherekan, kasaenan, khotbah, cerita, Vlog, Channel di Youtube, dls. Saking prekawis punika, pawartos kabar kabingahan punika mboten namung asifat verbal, nanging ugi asifat non verbal. Contonipun ingkang nyata saking praktik gesang, sacara sadar kita ngirangi sampah plastik, katimbang namung khotbah bab kejujuran lan sadar bab lingkungan. Nyatanipun ingkang paring khotbah piyambak mboten jujur lan mboten sadar bab lingkungan. Tugas kita tansah martosaken kabar kabingahan punika, minangka panderekipun Gusti Yesus Kristus, mboten namung tugasipun Pandito lan Majelis ing Pasamuwan kemawon. Saking prekawis punika, timbalan dados paseksi lan lelados dhateng Gusti lan sesami punika nggadahi makna ingkang patut kita raos-raosaken, nggih punika:

  1. Gesang punika kesempatan
    Kanthi sadar, kita ngrumaosi bilih manungsa punika asring dawah wonten ing dosa lan nglawan Gusti Allah. Tamtu sampun pantes bilih kita manungsa punika nampi paukuman saking panerak dosa kita punika. Kita tumindak dosa punika boten namung kaping sepisan utawi kaping kalih wonten ing gesang, nanging asring kita lampahi. Punapa malih, kita asring mboten mirengaken timbalanipun Gusti Allah lan mboten mlampah wonten gesang ingkang leres. Kawontenan donya ingkang modern, ingkang tansah cepet lan pragmatis punika asring ndandosaken manungsa kesupen dhumateng Gusti Allah. Contonipun: wekdal 24 jam, karaosaken kirang kanggenipun tiyang ingkang pados kabetahan finansial, ngantos mboten wonten wekdal kangge dedonga sacara pribadi lan sesarengan kaliyan brayat. Nalika ngadepi pergumulan, asring kita mboten celak Gusti Yesus, nanging malah tebih saking Gusti lan pados solusi kanthi margi sanes, lsp. Bab punika, kados ingkang dipun lampahi bangsa Israel wonten ing ngarsanipun Gusti Allah (Yes. 65:1-5). Gusti Allah paring dawuh, gesang kita ing dinten punika minangka kesempatan ingkang dipun paringaken Gusti dhateng kita (Yes.65:6-9). Kesempatan punika mugi dadosaken paseksi iman kita, supados kita saged nglampahi gesang ingkang sembada wonten ing ngarsanipun Gusti Allah.
  2. Gesang patunggilan dados wujuding paseksi Kita
    Dados paseksi iman punika saged kita wiwiti saking lingkup ingkang celak saking pigesangan kita, nggih punika saking patunggilan iman kita. Paseksinipun Rasul Paulus dhumateng pasamuwan Galatia, paring dawuh supados kita saged gesang sesarengan dados satunggal minangka badanipun Sang Kristus, mekaten ugi kita mboten benten-bentenaken ing gesang patunggilan (Gal. 3:27-28). Prekawis benten-bentenaken punika asring dadosaken masalah wonten ing gesang patunggilan/ Greja. Contonipun: wonten ing kepanitiaan, bilih wonten usulan ingkang mboten dipun setujui, lajeng dadosaken nesu lan mboten purun tindak greja. Wonten pelados ing komisi ingkang benten pemanggihipun, lajeng piyambakipun mboten purun wicantenan, lsp. Greja minangka patunggilaning tiyang pitados kedahipun dados wujud paseksi ingkang nyata. Paseksi ingkang wujudaken sih katresnan, pangapura, lan sih rahmat kados ingkang sampun dipun tuladhaaken Gusti Yesus dhumateng kita sami. Sumangga kita sami mbangun patunggilan iman, supados saged dados sarana paseksi kangge sedaya tiyang, termasuk ingkang dereng tepang kaliyan Gusti Yesus. Patunggilan ingkang saged wujudaken syalom, ingkang wujudaken pepadhang saking Gusti Allah.
  3. Gesang dados paseksi ingkang mbebasaken
    Dados paseksi iman punika nggadahi sifat mbebasaken, mboten ndesek, ngancaman, lan meksa. Gusti Yesus ingkang rawuh ing Gerasa ugi mboten meksa tiyang kathah supados pitados lan nampi rawuhipun. Awit punika, Gusti Yesus dipun usir saking Gerasa, Gusti Yesus piyambak ugi mboten netep wonten ing Gerasa (Luk. 8:37). Ing paseksi iman kita punika, kita kedah martosaken, mboten sarana kadesek lan kapeksan, nanging sarana katresnan. Paseksi iman punika ugi mboten angsal ngapusi. Asring kita mireng utawi mangertos paseksi iman ing media sosial ingkang asifat luar biasa lan mekso, contonipun: “Kula dipun ajak mlampah-mlampah kaliyan Gusti Yesus wonten ing Swarga, nanging dereng wancinipun. Lajeng kula kedah wangsul malih kangge paring pawartos supados tiyang ingkang dereng mratobat, dinten punika wekdalipun kangge mratobat. Kangge tiyang ingkang dereng pitados dhumateng Gusti Yesus, sakpunika wekdalipun nampi Gusti Yesus wonten ing manah kita.”

    Ing seratan Luk. 8:38-39, wekdal tiyang ingkang kerasukan setan punika sampun saras lan badhe nderek Gusti Yesus, Gusti Yesus ngandika dhateng piyambakipun supados medhal, wangsul lan paring cariyos bab punapa ingkang sampun dipun tindakaken Gusti Allah dhumateng piyambakipun. Tiyang punika lajeng mlajeng dhumateng sedaya kutha lan paring pawartos bab kabar kabingahan punika. Saking pawartosipun punika, punapa wonten tiyang ingkang mboten pitados? Tamtu wonten! Punapa wonten tiyang ingkang pitados? Tamtu kemawon ugi wonten! Paseksi ingkang mbebasaken punika paseksi ingkang ngajeni ing hak asasi tiyang sanes. Paseksi punika saged dipun tolak utawi dipun tampi. Sikap kados mekaten punika sampun dipun lampahi Gusti Yesus wonten ing paseksi imanipun. Cariyos punika sami kaliyan cariyos bab ilmuwan ingkang sampun ngemuaken formula vaksin covid-19 kados ing wiwitan.

Saking 3 prekawis ing nginggil punika, mugi dadosaken kita saged wujudaken paseksi lan peladosan kanthi kathah cara lan media ingkang saged dipun ginakaken, supados Asmanipun Gusti Yesus tansah kaluhuraken.

Panutup
Sumangga, kita sami engget bilih:

  1. Gesang punika kesempatan kangge wujudaken paseksi bab sih katresnanipun Gusti Yesus
  2. Gesang patunggilan punika wujud paseksi ingkang nyata, dados kitab ingkang tinarbuka
  3. Gesang paseksi ingkang mbebasaken, kedah dados syalom kangge sesami.

Paseksi iman ingkang mbebasaken saged dados ancaman kangge pribadi ingkang mboten kersa kapulihaken, nanging badhe nuwuhaken iman dhumateng tiyang ingkang purun nyambeti kanthi manah ingkang jembar. Amin. [KULZ].

Pamuji: KPJ. 212 Aku Mbok Caritanana

Renungan Harian

Renungan Harian Anak