Khotbah Minggu 19 Februari 2017

MINGGU BIASA
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1         : Imamat 19:1-2,9-18
Bacaan 2         : 1 Koriuntus 3:10-11,16-23
Bacaan 3         : Matius 5:38-48

Tema Liturgis  : Melakukan lebih dari yang ditetapkan
Tema Khotbah : Kasih tanpa Batas

 

Keterangan Bacaan

Imamat 19:1-2,9-18

Imamat adalah kitab yang penuh dengan berbagai peraturan. Aturan tentang keimaman, ketentuan ritual dan berbagai instruksi lain yang berkaitan dengan kehidupan Israel. Bagian bacaan hari ini juga memuat instruksi, namun bukan berkaitan dengan peribadatan namun kehidupan. Dibuka dengan perintah: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (ay.1), lalu dilanjutkan dengan berbagi petunjuk etis yang menarik. Bagi Israel yang lekat dengan corak kehidupan agrikultural, diberikan perintah agar tidak memanen semua gandum di ladang dan tidak memungut buah anggur  yang jatuh saat dipanen. Israel diminta untuk membiarkan sisa hasil panennya untuk dimanfaatkan saudaranya yang miskin dan untuk orang  asing (ay.9-10). Ini menunjukkan bahwa TUHAN bukan hanya meminta Israel untuk peduli pada sesamanya, namun juga memperlakukan mereka dengan bermartabat. Karena orang miskin dan orang asing tidak perlu meminta ijin untuk memakan hasil panen yang ditinggal di ladang.

Instruksi etis lalu dilanjutkan dengan narasi mirip dekalog yang menggunakan kata “jangan”. Jangan mencuri, jangan berbohong dan seterusnya (ay.11-18). Yang menarik adalah, dalam setiap bagian instruksi diakhiri dengan frase yang sama: Akulah TUHAN. Nampaknya Imamat ingin menekankan bahwa perintah-perintah itu haruslah ditaati karena satu alasan, yaitu TUHAN.

 

1 Korintus 3:10-11,16-23

Surat ini adalah surat yang ditulis Paulus untuk memberikan tanggapannya pada perselisihan dan perpecahan di Jemaat Korintus. Perpecahan itu terjadi akibat pengaruh gnostisisme yang sedang berkembang saat itu. Dalam bagian ini, kita bisa melihat bagaimana Paulus memberikan analogi tentang dasar dari bangunan untuk menasihati Jemaat Korintus. Dasar dan bangunan –yang menjadi bidang keahlian Paulus sang tukang tenda- digunakan untuk menggambarkan bagaimana ia sebagai rasul yang mengabarkan Injil pada Korintus telah meletakkan dasarnya yaitu Yesus Kristus. Siapapun yang membangun di atas dasar itu harus memperhatikan dasar yang telah diletakkan dan tak boleh menggantinya. Paulus merasa perlu menasihati Korintus dengan gamblang agar mereka yang menekankan pengelompokan (Kelompok Paulus, Kefas atau Apolos) tidak memegahkan diri (ay.21) karena mereka semua adalah milik Allah (ay.23)

 

Matius 5:38-48

Bagian dari khotbah di bukit ini bisa dikatakan sebagai salah satu ajaran Yesus yang paling terkenal. Bagaimana tidak, Ia menambahi hukum yang telah dikenal oleh Yudaisme saat itu sehingga menjadi lebih sulit dilakukan. Hukum gigi ganti gigi dan mata ganti mata adalah nukilan dari Keluaran yang membatasi pembalasan dendam agar kompensasi yang diberikan sesuai dengan kerusakan yang telah ditimbulkan. Jika yang rusak gigi, gantinya hanya gigi sedang jika yang rusak mata, gantinya juga hanya mata (jus talionis). Tidak boleh lebih! Sebenarnya, hukum ini sudah cukup baik untuk membatasi kerusakan akibat balas dendam. Namun Yesus memberikan sudut pandang yang berbeda dari hukum itu, Ia menambahkan hukum “memberi”: ditampar pipi kanan, beri pipi kiri; diminta baju, beri jubah. Beri, beri dan berikan, itu menurut Yesus. Dengan begitu, siklus dendam berhenti dan orang yang ingin berbuat jahat tak ingin berbuat jahat lagi. Di ayat-ayat selanjutnya Yesus terus memberikan tambahan hukum-hukum lain yang  meminta para pendengarnya saat itu untuk melakukan lebih dari yang ditetapkan.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Tuhan tidak hanya menuntut kesalehan ritual, namun juga terutama kesalehan spiritual dan laku hidup yang mau memberi diri dengan berdasar pada Yesus Sang Kasih.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Rancangan khotbah ini disiapkan di tengah banjirnya ungkapan belasungkawa untuk Intan Olivia Marbun, seorang balita 2 tahun yang menjadi korban bom di HKBP Samarinda. Gambar tubuh kecilnya yang terluka bakar parah disandingkan dengan fotonya semasa sehat menyayat hati banyak orang baik di dunia maya dan juga di dunia nyata. Kebanyakan orang marah, mengecam dan mengutukJuhanda sang pembela Tuhan itu. Namun, tak sedikit pula yang mengutuk paham yang dianutnya. Saya, yang biasanya tak terlalu sering berpendapat di media sosial sempat marah melihat banyaknya komentar yang menyatakan bahwa bom itu hanya pengalihan isu dari isu politis bernuansa agamis yang saat itu sedang gencar. Teganya mereka berkata begitu saat ada seorang balita tak bersalah meninggal dunia dengan cara yang menyakitkan?

Namun ternyata, tak semuanya bereaksi penuh amarah. Bahkan Pdt. Elmun Rumahorbo yang melayani ibadah saat pengeboman itu terjadi menceritakan bahwa ia sempat memegang tangan pelaku dan mendoakannya, ia berseru pada Jemaat yang emosi agar tak menghakiminya. Pengendalian diri yang luar biasa, perkataan di atas mimbar dan perbuatan berlangsung seiring.Inilah saat dimana kasih bukan hanya diucapkan tapi dibuktikan.

 

Isi

Sekedar membaca, mendengar atau mengkhotbahkan firman bukan hal sulit. Kasih sudah biasa jadi jargon dan motto utama kita sebagai orang Kristen. Namun, apakah kasih itu telah sungguh-sungguh kita wujudkan dalam kehidupan sesehari? Jangan lupa, melakukan ritual tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas spiritual yang mendasari laku hidup kita. Rajin datang ibadah minggu, rajin ikut pelayanan atau rajin memberikan persembahan itu baik. Namun, jangan lupa bahwa hal-hal itu adalah laku ritual. Hari ini mari bersama belajar untuk mengintegrasikan praktek ritual dengan perilaku spiritual.

Imamat mempersiapkan Israel yang akan masuk ke tanah Kanaan dengan memberikan petunjuk etis praktis. Diawali dengan perintah berlatar belakang kehidupan agrikultural, Israel diminta untuk tidak mengambil semua hasil panennya meski itu memang haknya. Mereka diminta untuk mengingat sesamanya, orang miskin dan orang asing yang tidak memiliki lahannya sendiri. Petunjuk ini menarik, karena meminta Israel untuk peduli dan di saat yang sama juga meminta mereka tetap menghargai martabat orang tak berpunya; karena dengan demikian orang miskin tidak perlu menadahkan tangan, tapi cukup mengambil sisa-sisa panen di ladang untuk dimanfaatkan. Lalu petunjuk-petunjuk ini dilanjutkan dengan beberapa formulasi aturan yang diawali dengan kata “jangan” dan diakhiri dengan frase “Akulah TUHAN”. Hal ini menunjukkan bahwa Israel harus menaati perintah itu dengan alasan karena TUHAN sendiri. Jelas, bahwa hidup sebagai umat milik Allah tidak hanya berarti saleh dalam hal-hal ibadah, namun kesalehan itu harus termanifestasikan pula dalam tindakan etis sehari-hari.

Yesus pun menekankan hal yang sama. Dalam khotbah di bukit Dia menyinggung hukum jus talionis (gigi ganti gigi, mata ganti mata) yang dikenal baik oleh orang Yahudi saat itu. Namun, Dia memberikan hukum memberi yang tidak hanya menghentikan pembalasan dendam, namun juga menumbuhkan cinta kasih. Jika Jus Talionis mengatur pembalasan dendam, Tuhan Yesus tak membiarkan pembalasan dendam terjadi. Ia justru meminta pendengarnya saat itu dan kita sekarang untuk memberi. Memberi pipi kiri jika ditampar pipi kanan, memberi jubah (bagian terluar baju orang Palestina saat itu) saat diminta baju. Belum cukup, Tuhan Yesus juga meminta kita untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi orang yang menganiaya.

Hal mengasihi musuh dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita bisa dikatakan hampir mustahil untuk dilakukan. Bagaimana mungkin seorang manusia mampu mengasihi orang yang telah lama dibencinya? Bagaimana caranya berdoa bagi orang yang telah jelas-jelas menyakiti kita? Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus menjawab pertanyaan tadi dengan sederhana: itu semua mungkin, jika Kristus menjadi dasarnya.

 

Penutup

Hidup sebagai pengikut Kristus di tengah konteks yang tak ramah, kaum minoritas memang tak mudah. Tentu besar harapan kita bahwa tak ada Intan lain yang kehilangan masa depannya karena kebencian tak beralasan, apalagi membawa-bawa nama Tuhan. Sikap kita sebagai roang Kristen jelas, tak ada balas dendam. Tak perlu. Yang perlu kita usahakan adalah memberi. Memberi pengampunan, memberi kepercayaan pada negara dan sistem hukum yang ada. Sementara itu, sebagai pribadi mari kita belajar untuk menyelaraskan perangai ritual dengan laku spiritual hidup kita. Akhirnya….selamat memberi. Amin. [Rhe]

 

Nyanyian: KJ 467:1-3


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Rancangan khotbah menika dipuncawisaken rikala kathahing ucapan belasungkawa kagem Intan Olivia Marbun, bocah umur kalih tahun ingkang seda krana bom wonten ing greja HKBP Samarinda, Nopember 2016 kepengker. Gambar layonipun Intan dipunsandhingaken kaliyan gambar Intan rikala taksih sehat, murugaken kathah tiyang rumaos sedhih, sae wonten ing dunia maya lan ugi wonten ing dunia nyata. Kathah tiyang ingkang mboten trima lan mboten saged paring pangapura dhateng Juhanda, pengebom ingkang ngrumaosi mbela Gusti Allah.  Ananging, ugi wonten ingkang mengutuk paham ingkang dipunanut dening Juhanda. Kula, ingkang biasanipun mboten patos aktif wonten ing media sosial rumaos mboten saged nampi menawi wonten tiyang ingkang komentar bilih bom menika namung pengalihan isu saking isu politis ingkang dibalut isu agamis. Kok nggih mentala tiyang ingkang mungel mekaten wekdal wonten balita tiwas klayan cara ingkang kados mekaten?

Ananging, mboten sedaya tiyang lajeng nesu. Pdt. Elmun Rumahorbo, Pandhita ingkang ngladosi pangabekti wekdal pengeboman menika kadadosan paring cariyos bilih piyambakipun ndongakaken Juhanda lan ugi nyuwun dhateng warganing pasamuwan ingkang swami muntap supados mboten njegsani piyambak. Miturut kula, menapa ingkang dipuntindakaken dening Pandhita menika saestu utami lan ugi saged dados conto. Rikala khotbah lan tindakan wonten ing jalur ingkang sami.

 

Isi

Menawi namung maos, mirengaken utawi ngotbahaken bab Pangandikanipun Gusti Yesus, menika sanes perkawis ingkang ewet. Katresnan sampun biasa dados jargon lan motto pigesangan kita minangka tiyang Kristen. Ananging, menapa katresnan menika sampun dipunwujudaken ing satengahing gesang? Sampun kesupen, bilih perkawis-perkawis ritual (pangibadah, pandonga) mboten mesthi murugaken kita nindakaken perkawis sae ingkang adhedhasar kawontenan karohanen ingkang sae ugi. Sregep ngibadah, sregep misungsung lan sregep ndherek peladosan pancen sae. Menika perkawis ingkang kalebet praktek ritual. Dinten menika, sumangga sami sinau mengintegrasikan (nyundhukaken) praktek ritual lan perilaku karohanen.

Waosan kapisan nedahakan bilih Israel ingkang badhe lumebet ing tanah Kanaan dipunparingi pitedah-pitedah kasusilan. Dipunwiwiti kaliyan perintah bab pigesangan agrikultural (pertanian), Israel dipunsuwun supados mboten manen sedaya asil panenipun senaosa hasil tanem menika pancen sampun dados hakipun. Menika krana Israel kedah enget kaliyan sesaminipun ingkang mlarat lan tiyang manca ingkang mboten gadhah lahan kangge ananem. Pitedah menika sae, awit murugaken Israel perduli lan ugi tetep ngajeni sesami senaosa tiyang mlarat. Angger-angger kalawau kalajengaken kaliyan ungeling tatanan ingkang dipun wiwiti kaliyan tembung “kowe aja….” Lan dipunpungkasi kaliyan tembung “Aku iki Pangeran Allahmu”. Perkawis menika nedahaken bilih Israel kedah mbangun turut dhumateng angger-angger kalawau krana Gusti Allah piyambak ingkang paring dhawuh. Sampun cetha, bilih gesang minangka umat kagunganipun Gusti mboten cekap namung saleh ing salebeting pangibadah, ananging ugi wonten ing salebeting gesang padintenan.

Gusti Yesus ugi maringi dhawuh ingkang kirang langkung sami. Wonten ing dhawuhipun, Gusti Yesus paring pangeling-eling bab hukum jus talionis (untu ganti untu, mripat ganti mripat) ingkang sampun limrah tumrap tiyang Yahudi rikala semanten. Ananging, Gusti Yesus njangkepi angger-anggeripun nabi Musa menika kaliyan pepaken “menehi” ingkang malah mboten maringi wewengan kangge piwales lan nuwuhaken katresnan. Gusti Yesus malah ndhawuhi para sakabatipun rikala semanten lan ugi kita samangke supados tansah weweh. Menika kemawon kadosipun dereng cekap, Gusti Yesus nglajengaken bilih kita kedah mboten namung tansah weweh, ananging ugi kedah nresnani mengsah lan ndongakaken tiyang ingkang sampun nganiaya kita. Wadhuh…pancen awrat ndherek Gusti Yesus!

Perkawis nresnani mengsah lan ndongakaken tiyang ingkang sampun nganiaya kados-kadosipun mokal dipunlampahi. Ananging menika ingkang saged mbedakaken kita saking tiyang lintu ingkang mboten ndherek Gusti Yesus. Pancen nglampahi angger-angger menika awrat sanget, ananging Rasul Paulus ngengetaken kita bilih menika saged kita lampahi menawi kita yakin bilih Gusti Yesus piyambak ingkang dados dhasar saking pigesangan kita.

 

Panutup

Gesang minangka pandherekipun Sang Kristus ing satengahing kawontenan ingkang mboten ramah kaliyan umat minoritas pancen mboten gampil. Tamtu kita sedaya nggadhahi pengajeng-ajeng bilih mboten wonten korban kados Intan malih ingkang masa depanipun muspra krana raos sengid ingkang mboten perlu, menapa malih menawi raos sengid menika dipundhasaraken atas asmanipun Gusti. Sikap kita minangka tiyang Kristen sampun cetha, mboten pareng males awon. Mboten perlu. Ingkang perlu kita tindakaken menika namung weweh. Aweh pangapura, aweh kapitadosan tumraping negari lan sistem hukum ingkang sampun mumpuni. Samangke, minangka pribadi sumangga kita ugi sami sinau ngupaya ritual dados selaras kaliyan laku karohanen pigesangan kita sadinten-dinten. Pungkasanipun, sugeng weweh! [Rhe]

 

Pamuji: KPK 71

 

Bagikan Entri Ini: