Kehadiran-Nya Membawa Pemulihan dan Perdamaian Khotbah Minggu 19 Desember 2021 (Adven 4)

6 December 2021

Minggu Adven IV
Stola Ungu

Bacaan 1: Mikha 5 : 2 – 5a
Bacaan 2: Ibrani 10 : 5 – 10
Bacaan 3: Lukas 1 : 39 – 45

Tema Liturgis: Bersiap dan Mawas Diri Menanti Kedatangan Tuhan
Tema Khotbah: Kehadiran-Nya Membawa Pemulihan dan Perdamaian

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Mikha 5 : 2 – 5a
Mikha adalah seorang nabi yang hidup sezaman dengan Amos, Hosea, dan Yesaya (sekitar abad 8 SM). Ia menjadi nabi di Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) pada masa pemerintahan Raja Yotam (742 – 735 SM), Raja Ahaz (735 – 715 SM), dan Raja Hiskia (715 – 687 SM). Sebagai seorang nabi utusan Allah, Mikha hadir untuk menyoroti kemerosotan moral (penindasan dan ketidakadilan pada orang miskin, korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin, dan rupa-rupa penyelewengan hukum yang dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya menegakkan hukum) yang sedang terjadi di tengah-tengah Kerajaan Yehuda.1

Dalam keadaan yang demikian, Mikha menubuatkan bahwa Kerajaan Yehuda akan mengalami kehancuran (penghukuman dari Allah) di tangan bangsa-bangsa asing (Mik. 1:8 – 2:11). Akan tetapi, nubuatan nabi Mikha tidak berhenti di situ. Sebab, setelah “kehancuran” yang akan dialami oleh Kerajaan Yehuda, Allah akan menyelamatkan “sisa-sisa Israel” melalui kehadiran seorang Raja Mesias (terjemahan LAI). Raja Mesias tersebut akan bangkit (lahir) dari kota kecil Betlehem Efrata (ayat 1) dan Dia-lah Sang Gembala yang akan membawa pemulihan, penguatan, dan damai sejahtera untuk orang-orang yang tertindas sampai ke ujung bumi (ay. 3). Jadi, nabi Mikha menubuatkan lahirnya seorang Raja Mesias yang akan membawa kedamaian di tengah-tengah dunia.

Ibrani 10 : 5 – 10
Surat Ibrani merupakan “khotbah” panjang tentang Yesus Kristus, Anak Allah, sebagai pribadi yang unggul. Menurut Surat Ibrani, Yesus Kristus adalah pribadi yang memiliki “kedudukan” istimewa. Ia lebih tinggi daripada malaikat-malaikat (Ibr. 1:5 – 14). Ia lebih tinggi dari pada nabi Musa (Ibr. 3:1–6), dan Ia pun lebih tinggi dari pada imam Harun (Ibr. 7:11–28). Bahkan, Yesus Kristus dikatakan sebagai Imam Besar yang sejati (lbr. 8:1). Tidak cukup sampai di situ, Yesus Kristus pun dikatakan lebih “sempurna” daripada Hukum Taurat (Ibr. 10:8 – 9). Sebab, aturan-aturan Hukum Taurat tentang korban dan persembahan hanya sebuah bayangan keselamatan (lbr. 10:1). Sedangkan, persembahan tubuh Yesus Kristus (yang telah mati di kayu salib) adalah kurban yang sejati, sekali untuk selamanya, yang menyelamatkan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Artinya, kehadiran Yesus Kristus ke dalam dunia (ayat 5) ialah sebagai pembawa damai dan keselamatan yang sejati.

Lukas 1 : 39 – 45
Dalam Injil Lukas, peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis dan kelahiran Yesus Kristus dijelaskan secara khusus. Hal tersebut (agak) berbeda dengan Injil-Injil yang lainnya (Injil Matius tidak menceritakan tentang kelahiran Yohanes Pembaptis; Injil Markus pun tidak menceritakan kisah kelahiran Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus, melainkan langsung mengisahkan karya pelayanan Yohanes dan Yesus Kristus; sedangkan Injil Yohanes menjelaskan kisah “kelahiran” (asal-usul) Yesus Kristus dengan cara yang berbeda dari Injil-Injil Sinoptik lainnya). Dengan demikian, bagi Lukas, peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus merupakan sebuah keadaan yang sangat istimewa. Secara khusus, terkait dengan “proses” kehamilan yang dialami oleh Elisabet dan Maria. Elisabet hamil dalam usia yang sudah lanjut, sedangkan Maria hamil saat belum bersuami. Artinya, kedua bayi yang dilahirkan oleh Elisabet dan Maria adalah anak-anak yang istimewa.

Pada pasal 1:39–45, dijelaskan bahwa setelah mendapatkan kabar sukacita (mengandung dari Roh Kudus), Maria mengunjungi Elisabet, sepupunya, yang juga sedang mengandung anak pertamanya. Dalam kunjungannya tersebut, Maria ingin berbagi kabar sukacita. Ia memberikan salam kepada Elisabet dan Elisabet yang mendengarkannya dipenuhi oleh Roh Kudus (ayat 41). Artinya, kehadiran dan salam yang diberikan Maria kepada Elisabet benar-benar mendatangkan sukacita dan damai sejahtera baginya. Oleh karena itulah, maka Elisabet yang sedang dipenuhi Roh Kudus menaikkan pujian syukur kepada Allah atas segala anugerah yang telah diterimanya dan juga diterima Maria (ayat 42 – 45).

Benang Merah Tiga Bacaan:
Allah adalah cinta. Ia tidak menyukai penindasan, ketidakadilan, penyelewengan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Oleh sebab itu, Allah akan memberikan hukuman bagi para pelaku pelanggaran tersebut (bacaan 1). Adapun demikian, hukuman Allah bukanlah tanda kekejaman-Nya, melainkan tanda cinta-Nya yang sejati, yang tidak membiarkan umat-Nya semakin jatuh pada kehancuran. Dan cinta-Nya semakin nyata, tatkala Ia mengutus (menghadirkan) Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi Raja Mesias, yang memulihkan, yang menguatkan, dan yang membawa perdamaian bagi dunia (bacaan 2 & 3).

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Setiap orang tentu memiliki cara yang beragam untuk mewujudnyatakan rasa cintanya. Sekalipun, seringkali wujud cinta selalu digambarkan dengan hal-hal yang “indah”, namun ada kalanya, wujud cinta tampak seperti hal-hal yang “kejam”. Maksudnya, tidak selalu mencintai ditandai dengan tindakan-tindakan yang tampak “baik”, sebab ada pula seseorang yang menyatakan rasa cintanya melalui tindakan-tindakan yang tampak “kejam”. Namun, dengan cara dan bentuk seperti apapun (tampak “baik” atau “kejam”), orang yang memiliki rasa cinta dengan tulus, pasti akan berorientasi pada kebaikan orang yang dicintai. Misalnya: untuk menghargai kerja keras yang telah dilakukan oleh anaknya, orang tua memberikan sebuah hadiah saat anaknya mendapatkan prestasi yang baik; untuk mendidik anaknya agar mampu menghargai barang-barang yang dimilikinya, orang tua tidak selalu menuruti semua yang diminta oleh anaknya, sekalipun anaknya menangis dan marah, dll. Artinya, cinta yang sejati memang tidak selalu ditentukan dari cara/ wujud mencintai, melainkan ditentukan dari proses dan tujuan cinta itu sendiri.

Isi
Allah pun memiliki cara yang beragam untuk mewujudnyatakan cinta dan kasih-Nya kepada manusia. Ada kalanya Allah menyatakan cinta-Nya melalui cara-cara yang tampak “kejam”. Misalnya, ketika Allah ingin “membersihkan” (menghukum) orang-orang yang bermoral buruk (yang melakukan penindasan dan ketidakadilan pada orang miskin, melakukan korupsi, dan melakukan rupa-rupa penyelewengan hukum, dll. – lih. Mikha 1: 8 – 2: 11). Akan tetapi, ada kalanya pula Allah menyatakan cinta-Nya melalui karya yang amat indah dan luar biasa. Misalnya, ketika Allah menyelamatkan dan mengeluarkan bangsa Israel dari tanah Mesir; menyelamatkan bangsa Israel dari kejaran tentara Mesir dengan cara membelah laut merah; melindungi perjalanan bangsa Israel di padang gurun dengan tiang awan dan tiang api; memberikan pemeliharaan kepada bangsa Israel dengan menurunkan manna dan burung puyuh; dll. Jadi, Allah memang dapat melakukan berbagai macam cara untuk mewujudkan cinta-Nya kepada manusia.

Secara khusus, cinta Allah kepada manusia diwujudkan dalam “kehadiran-Nya” di dunia melalui Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus (lih. Lukas 1:35). Sebuah kehadiran yang membawa sukacita dan kedamaian bagi dunia. “Dan ketika Elisabet mendengar salam dari Maria (yang sudah mengandung bayi Yesus Kristus – tambahan penulis), melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus” (ayat 41). Tidak hanya sampai di situ, bahkan cinta Allah semakin nyata ketika Ia merelakan Anak-Nya yang tunggal dijadikan kurban persembahan yang sejati, sekali untuk selamanya, sebagai kurban penebus dosa, agar manusia memperoleh keselamatan yang sejati dan mengalami perdamaian dengan Allah (lih. Ibrani 10:10).

Relevansi
Pada saat ini, kita bersama telah memasuki Minggu Adven IV. Adven IV adalah pekan terakhir dari masa adven yang memiliki arti khusus, yaitu masa perdamaian. Oleh karena itu, berdasarkan terang Firman Allah, kita bersama diajak untuk menghayati/ merefleksikan masa ini dalam dua hal:

  1. Kehadiran-Nya Membawa Pemulihan
    Kehadiran Yesus Kristus ke dalam dunia ialah untuk memulihkan hubungan yang telah rusak antara Allah dan manusia. Melalui kehadiran-Nya, umat manusia diajak agar mau kembali mendekat dan mengenal Bapa. Selain itu, kahadiran Yesus Kristus ke dalam dunia pun memberikan daya kepada manusia agar mampu memberikan “salam” kepada sesamanya (pasangan, orang tua, anak-anak, sahabat, teman dan para kerabat – seperti salam Maria kepada Elisabet). Supaya, setiap relasi yang ada dapat semakin erat dan hangat serta yang berada dalam keretakan segera mengalami pemulihan.
  2. Kehadiran-Nya Membawa Perdamaian
    Selain membawa pemulihan relasi antara Allah dan manusia, kehadiran Yesus Kristus juga membawa perdamaian antara manusia dengan dosa (dengan cara mengurbankan diri-Nya – Ibrani 10:10). Yesus Kristus hadir untuk mengalahkan dosa supaya manusia memperoleh keselamatan dan kedamaian. Sebab, kuasa dosa membuat manusia mengalami berbagai macam penderitaan; dan melalui tindakan Allah yang berkenan hadir (melalui Yesus Kristus), sejatinya mengajak kita hadir pula bagi kehidupan sesama yang mengalami penderitaan, penindasan, kekerasan, kesewenang-wenangan, ketidakadilan, dll. Kita diajak untuk hadir menjadi pembawa damai bagi sesama.

Penutup
Wujud nyata sebuah cinta tidak selalu hadir pada hal-hal yang tampak “baik”, ada kalanya tampak “kejam”. Namun yang pasti, wujud nyata cinta ialah tidak membiarkan orang lain tenggelam dalam “dosa”, melainkan mengangkat mereka yang sedang “jatuh”, sekalipun tampak amat menyakitkan.
Sebab, hakikat cinta yang sejati ialah selalu mengupayakan (menghadirkan) pemulihan dan perdamaian bagi sesama. Amin. (7us)

               

Pujian: KJ. 81 : 1, 2 O, Datanglah Imanuel


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Saben tiyang tamtu kagungan cara ingkang mawarni-warni kagem nindakaken tresnanipun. Sinaosa wujuding katresnan asring kagambaraken ing bab-bab ingkang “endah”, nanging wonten titi wancinipun, wujuding katresnan ugi kagambaraken ing bab-bab ingkang “kejem”. Tegesipun, tresna punika boten namung kawujudaken kanthi tindak-tanduk ingkang ketingalipun “endah”, awit wonten tiyang ingkang nindakaken tresnanipun kanthi tindak-tanduk ingkang ketingalipun “kejem”. Nanging ingkang baku, tiyang ingkang saestu tresna, tamtu kagungan pangajeng-ajeng supados tiyang ingkang dipun tresnani punika nampi kabecikan. Contonipun: tiyang sepuh ingkang paring hadiah dhateng putranipun awit saking prestasinipun ing bangku pawiyatan; tiyang sepuh ingkang boten nuruti sedaya panyuwunan putranipun, supados putranipun saged gumati kaliyan sedaya barang-barang (dolanan) ingkang dipun gadhahi; lsp. Wosipun, tresna ingkang sejati punika boten dipun temtokaken kaliyan cara/ wujudipun nresnani, ananging dipun temtokaken kaliyan proses lan tujuan tresna punika.

Isi
Gusti Allah ugi mekaten, kagungan mawarni-warni cara mujudaken tresnanipun dhateng manungsa. Wonten titi wancinipun Gusti Allah nindakaken katresnanipun kanthi cara ingkang ketingal “kejem”. Contonipun: nalika Gusti Allah badhe “ngresiki” (paring paukuman) tiyang-tiyang ingkang asipat ala (nindhes sesaminipun, tumindak besel, remen nerak angger-angger, lsp. – lih. Mikha 1:8 – 2:11). Ananging, wonten titi wancinipun Gusti Allah nindakaken katresnanipun kanthi perkawis ingkang adi. Contonipun: nalika Gusti Allah paring pangluwaran dhateng bangsa Israel saking Mesir, nuntun lelampahanipun bangsa Israel ing ara-ara kaliyan tugu mega lan tugu geni, paring pangrimatan lumantar tedhanipun manna lan manuk gemak, lsp. Dados, Gusti Allah saged nindakaken mawarni-warni cara kagem mujudaken katresnaipun dhateng manungsa.

Mligi, tresnanipun Gusti Allah dipun wujudaken kanthi “rawuhipun” ing alam donya lumantar Putranipun ingkang ontang-anting, Gusti Yesus Kristus (lih. Lukas 1:35). Tanda rawuhipun ingkang ngasta kabar kabingahan lan katentreman ing alam donya. “Kocapa nalika Elisabet midhanget uluk-salame Maria (ingkang sampun ngandhut bayi Yesus Kristus – tambahan saking penulis), bayi kandhutane nggronjal, lan Elisabet tumuli kapenuhan Roh Suci” (ay. 41). Boten cekap namung mekaten, langkung-langkung tresnanipun Gusti Allah nyata nalika Piyambakipun masrahaken Putra ontang-anting kagem kurban ingkang sejati, sepisan, lan salaminipun, minangka kurban pambirating dosa, supados para manungsa nampi kaslametan ingkang sejati lan saget sarujuk malih kaliyan Gusti Allah (lih. Ibrani 10:10).

Relevansi
Ing wegdal punika, kita sami lumebet ing mangsa adven IV. Adven IV punika pekan pungkasan ing salebeting masa adven lan kagungan teges mangsa perdamaian. Pramila, linandesan dhawuhipun Gusti punika, kita kaajak supados ngraos-ngraosaken mangsa punika ing kalih perkawis:

  1. Rawuhipun Gusti Yesus Ngasta Pemulihan
    Gusti Yesus rawuh ing alam donya supados sesambetanipun Gusti Allah lan manungsa ingkang risak saget kadadosaken enggal (mengalami pemulihan). Lumantar rawuhipun, para manungsa kaajak supados purun “wangsul” lan “wanuh” malih kaliyan Gusti Allah. Sanensipun, rawuhipun Gusti Yesus ing alam donya ugi badhe maringi daya dhateng manungsa supados purun paring “uluk-salam” dhateng sesami (semah, para putra, tiyang sepuh, lan brayat – kados dene uluk salamipun Maria dateng Elisabet). Supados, sedaya sesambetan ingkang wonten tansah rumaket, menawi wonten ingkang saweg risak, supados enggal rampun.
  2. Rawuhipun Gusti Yesus Ngasta Perdamaian
    Gusti Yesus rawuh ing alam donya ugi supados para manungsa saged “uwal” saking dosa (kanthi ngurbanaken sariranipun – Ibrani 10:10). Gusti Yesus rawuh badhe nglawan panguwasaning dosa, supados para manungsa nampi kaslametan lan katentreman. Sabab, panguwasaning dosa ndadosaken manungsa nampi mawarni-warni kasisahan; lan lumantar tumindakipun ingkang karsa rawuh ing alam donya, sejatosipun ngengetaken kita supados purun “rawuh” kangge tiyang sanes ingkang saweg ngalami kasisahan. Kita kaajak supados purun rawuh dados para duta perdamaian tumrap sesami kita.

Panutup
Wujudipun katresnan boten namung katelakaken wonten tindak-tanduk ingkang “sae”, wonten titi wancinipun ing tindak-tanduk ingkang ketingalipun “awon”. Ananging ingkang baku, wujudipun katresnan ingkang sejati punika nyata lumantar tindak-tanduk ingkang ngupadi kabecikan kegem tiyang ingkang kita tresnani, tindak-tanduk ingkang saged ngrawuhaken “pemulihan” lan “perdamaian” tumrap sesami. Amin. (7us).

 

PAMUJI: KPJ. 242 : 1, 2 Rawuha Sang Imanuel


1  http://www.sarapanpagi.org/mikha-kitab-mikha-vt7119.html, diakses 30 November 2020 pukul 20.30.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak