Malam Natal
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 9 : 1 – 6
Bacaan 2: Titus 2 : 11 – 14
Bacaan 3: Lukas 2 : 1 – 14
Tema Liturgis: Kelahiran Kristus menjadi Terang dan Sukacita bagi Semua
Tema Khotbah: Kelahiran–Nya: Sebuah Titik Berangkat Menuju Keselamatan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 9 : 1 – 6
Bagian ini merupakan bagian penting dalam rangkaian pengharapan mesianis di Israel. Untuk dapat memahami lebih dalam tentang pengharapan mesianis ini, perlu diketahui terlebih dahulu kondisi historis bangsa Israel kala itu. Pada abad ke-8 sM, Israel Utara, yang berbatasan dengan Fenisia dan Aram, menarik banyak faedah karena letaknya yang strategis untuk usaha komersial. Demikian juga dengan Yehuda (Israel Selatan), melalui lautan mengadakan hubungan dagang dengan Arabia Selatan (Sebna dan Ofir). Di satu sisi hal ini menambah potensi dan kekayaan Negara. Namun di sisi lain, perdagangan ini memunculkan golongan pedagang yang kaya dan berpengaruh. Golongan ini mempengaruhi para pemimpin dan pejabat, sehingga menimbulkan gejolak sosial dan kemerosotan moral, jurang kesenjangan antara yang kaya dan miskin, pelecehan keadilan dan kebenaran, dsb. Keadaan ini diperparah oleh adanya ancaman dari luar, yakni munculnya negara adi kuasa yang baru, Asyur, dari Timur Laut, yang berambisi untuk melakukan ekspansi ke Barat. Ini berarti negara-negara di wilayah Bulan Sabit terancam keselamatannya. Keadaan inilah yang oleh Yesaya digambarkan dalam bacaan kita sebagai “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan”. (ay.1)
(Disarikan dari S.H. Widyapranawa; “Tafsiran Alkitab: KITAB YESAYA Pasal 1-39”; BPK GM, 2006)
Dalam situasi seperti itu, umat Israel (khususnya Israel Selatan) di bawah pimpinan Raja Ahaz sempat berpikiran bahwa Mesias yang akan datang itulah Asyur. Inilah pemahaman mesianis umat kala itu. Akan tetapi Yesaya bernubuat bahwa Tuhan sendiri yang akan datang dalam pribadi “seorang Anak” (ay. 5). bahwa Tuhan sendirilah yang akan menjawab pengharapan mesianis umat melalui pribadi yang akan datang. Tuhan tidak mengalahkan musuh Israel dengan menggunakan tentara yang lebih besar dan kuat, tetapi melalui pengaruh “Seorang Anak” yang akan dilahirkan. Anak yang akan lahir itu akan memiliki sifat yang menunjukkan bahwa Tuhan menyertai mereka. Ini diperkuat dengan empat gelar yang dikenakan kepada Sang Anak itu untuk menggarisbawahi keilahian dan sekaligus kemanusiaan-Nya, yakni Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai.
Titus 2 : 11 – 14
Bacaan ini merupakan bagian penting dari surat penggembalaan yang dikirimkan Paulus kepada Titus. Dalam rangka menata hidup jemaat yang ada di Kreta (Tit. 1:5), Paulus memberikan instruksi kepada Titus agar mencermati perilaku berbagai kelompok orang-orang Kristen, dan mengajarkan kepada mereka bagaimana seharusnya mereka hidup. Hal ini perlu ditekankan mengingat kala itu pengaruh budaya Helenis Yunani menyebabkan orang-orang Kristen di Kreta melakukan sinkretisme (mencampuradukkan) ajaran-ajaran Kristen dengan budaya Helenis dan menghasilkan perilaku yang dipandang Paulus tidak sesuai dengan nilai-nilai kristiani.
Menurut Paulus kasih karunia Allah yang terwujud melalui kehidupan dan pengorbanan Yesus Kristus adalah teladan yang cukup jelas bagi umat. Maka seharusnya perilaku yang dihasilkan haruslah perilaku yang sepadan. Bagi Paulus, dalam rangka menegakkan ketertiban hidup berjemaat, Paulus menekankan pentingnya membangun kehidupan batin umat sebagai penangkal terbaik terhadap kesalahan (ay. 12), dan cara mewujudkannya tak lain adalah rajin berbuat baik (ay. 14).
Lukas 2 : 1 – 14
Yang menarik dari kisah kelahiran Yesus versi Lukas ini adalah ketika Lukas menuturkan kisah yang kontras antara kelahiran Yohanes (Luk. 1:57-66) dengan kelahiran Yesus dalam bacaan ini. Saat mengisahkan kelahiran Yohanes, sepertinya Lukas lebih menekankan pada penamaan—Yohanes adalah nama pemberian malaikat (Luk. 1:13; 60,63). Sedangkan saat mengisahkan kelahiran Yesus, Lukas menekankan pada setting tempat, waktu, dan keadaan untuk menunjukkan bahwa Yesuslah Mesias yang dijanjikan. Dalam bacaan kita kali ini jelas bahwa Lukas menggambarkan situasi politik untuk menjelaskan mengapa Yesus lahir di Betlehem. Lukas menuturkan kelahiran Yesus dalam konteks sejarah dunia. Lukas juga menghubungkan Betlehem dengan Daud untuk menunjukkan bahwa Yesus memenuhi syarat sebagai Mesias. Selanjutnya kepedulian Lukas terhadap kaum marginal dituturkan dalam kisah kelahiran Yesus yang sederhana, dengan demikian Lukas memperkenalkan tema identifikasi Yesus dengan orang miskin. Kontras yang terakhir yang tidak kalah menarik adalah bahwa kelahiran Yohanes diumumkan oleh ayahnya sendiri, Zakharia (1:63), sedangkan kelahiran Yesus diumumkan oleh para malaikat (2:11).
Dengan cara penuturan seperti itu Lukas hendak menegaskan bahwa kisah kelahiran Yesus adalah pengejawantahan kehadiran Allah. Ini diperkuat dengan nyanyian bala tentara sorga. Perlu diketahui bahwa para malaikat bernyanyi hanya jika bersama dengan Tuhan (Yes. 6:1-3; Why. 4-5).
Benang Merah Tiga Bacaan
Apa yang sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam Yes. 9:1-6 tentang Sang Anak yang akan lahir sebagai Terang bagi umat, terwujud nyata melalui kisah kelahiran Yesus yang disaksikan oleh Lukas. Ini merupakan sejarah Kerajaan Allah yang berlangsung di dunia, di mana Tuhan berkenan untuk memberlakukan kasih karunia-Nya bagi dunia melalui kehadiran Yesus, dan konsekuensinya adalah perubahan perilaku seperti yang diajarkan Paulus dalam Titus 2:11-14, yakni tak lain adalah meniru cara hidup Kristus.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Pernahkah Anda memikirkan hal ini: “Mengapa Allah dalam rangka menyelamatkan dunia dari belenggu dosa, mengirimkan “Seorang Bayi”? Mengapa tidak langsung datang dalam wujud laki-laki perkasa seperti super hero yang bisa menumpas langsung segala kejahatan?”
Mari mencari jawabnya dengan mencermati ciri-ciri umum bayi yang baru lahir. Hal pertama yang nampak dari seorang bayi yang baru lahir adalah tangisan. Tangisan pada bayi yang baru lahir sangat penting sebab itu menandakan:
- Upaya pertama kalinya paru-paru bekerja.
- Upaya untuk membuang sisa-sisa air ketuban
- Bukti bahwa bayi tersebut tidak bisu
- Bukti bahwa bayi tersebut punya daya hidup
Ini ciri bayi normal. Itu sebabnya jika ada bayi lahir tidak segera menangis, sang dokter/ bidan akan mencubit atau memukul pantat bayi untuk upaya agar bayi itu menangis. Sebab jika tidak menangis, bisa dipastikan bahwa bayi itu tidak normal. Maka dapat disimpulkan bahwa tangisan bagi bayi adalah simbol perjuangan, artinya bahwa kehidupan tanpa perjuangan itu tidak normal.
Isi
Peristiwa Natal/ kelahiran Yesus adalah upaya Tuhan Allah untuk menunjukkan pada manusia bahwa proses menuju kemesiasan itu juga harus melalui sebuah proses perjuangan yang alamiah seperti yang umumnya terjadi pada manusia, yakni proses dari lahir sampai mati. Maka Natal adalah sebuah awal/ start perjuangan untuk membuktikan kemesiasan. Di mana puncak kemesiasan itu sendiri baru terwujud pada saat kebangkitan. Proses alamiah ini sekaligus menunjukkan kekuasaan Allah dalam proses penyelamatan dunia. Allah hendak menunjukkan pada manusia bahwa keselamatan yang agung itu tidak serta merta ada, tetapi mengikuti proses alamiah, dengan demikian manusia tidak hanya menerima keselamatan, tetapi manusia terhisap pada proses perjuangan untuk mencapai keselamatan. Inilah puncak mahakarya Allah. Dia justru tidak menunjukkan karya penyelamatan itu dengan hal yang spektakuler tetapi melalui proses alamiah kristiani: lahir-mati-bangkit.
Tanda-tanda mesianik telah melekat sejak awal Yesus dilahirkan. Lukas menuturkannya dengan baik dalam bacaan kita. Sang Bayi itu dilahirkan di tengah situasi bangsa yang berada di bawah penjajahan Romawi (ay. 1-3), Dia dilahirkan di kota Daud (Betlehem), sebab Mesias haruslah dari keturunan Daud (ay. 4-5), kabar kelahiran-Nya diberitakan oleh malaikat (ay. 9-12), dan Allah sendiri berkenan hadir itu sebabnya para malaikat bernyanyi (ay. 13-14). Ini semua adalah permulaan pemenuhan harapan mesianis.
Bahwa penerima berita kelahiran Yesus pertama kali adalah para gembala menunjukkan keberpihakan Allah pada yang tertindas, miskin, lemah, dan tak berdaya. Bagi merekalah Allah hadir melalui Sang Bayi yang penuh daya itu. Untuk menunjukkan kepada umat bahwa Allah ada bersama-sama dengan mereka melalui proses hidup yang penuh perjuangan.
Penutup
Maka jelaslah peran kehadiran Yesus bagi dunia. Selain sebagai Kristus Sang Juruselamat, Tuhan Yesus adalah “role model” bagi umat-Nya. Dia dengan keseluruhan hidup dan karya-Nya, ialah tokoh yang patut diteladani. Melalui kehidupan-Nya sebagai manusia dari lahir-mati-bangkit, Ia meneladankan bagaimana keselamatan itu Ia perjuangkan.
Maka sekarang, bagi kita yang merayakan Natal di tahun ini, jadikanlah Natal kali ini sebagai start atau titik awal bagi kita untuk memulai sebuah perjuangan hidup yang baru, yakni dengan betul-betul berusaha meniru cara hidup Kristus, melalui proses yang alamiah, di dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin. (WV).
Pujian: KJ. 125 Lahir Kristus di Dunia
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Punapa panjenengan nate nggagas ingkang mekaten: “Kenging punapa Gusti Allah anggenipun nebus dosaning manungsa kanthi ngutus Putra ingkang taksih “bayi”? Kenging punapa mboten ngutus piyantun ingkang rosa kados dene “Super Hero” supados saged saknalika numpes sadaya duraka?”
Mangga sami niti priksa kados pundi tetenger bayi ingkang nembe lair. Pratandha wiwitan nalika bayi normal nembe lair inggih punika “nangis”. Tangis bayi ingkang nembe lair punika bab ingkang penting sanget, awit punika nedahaken:
- Fungsi paru-paru kawiwitan
- Upaya kangge mbucal sisa toya ketuban
- Bukti bilih bayi punika normal, mboten bisu
- Bukti bilih bayi punika nggadhahi daya urip
Punika kalawau ciri-ciri bayi ingkang limrah/ normal. Pramila menawi wonten bayi lair dereng saged nangis, dokter/ bidan lajeng njiwit utawi nyeples bayi punika saperlu supados bayi punika puruna nangis. Amargi menawi mboten saged nangis, saged dipun pesthi bilih bayi punika “bermasalah”. Saking perkawis punika saged dipun wastani bilih nangis kanggenipun bayi inggih punika “simbol perjuangan”. Lan ugi saking ngriki saged dipun tarik kesimpulan bilih gesang tanpa perjuangan punika ateges mboten limrah/ mboten normal.
Isi
Gusti Allah, lumantar wiyos-Ipun Gusti Yesus, paring piwucal tumraping manungsa bilih proses tumuju dhateng “kemesiasan” punika ugi kedah lumampah kanthi proses perjuangan ingkang alamiah. Kados dene gesang manungsa limrahipun, inggih proses saking wiwitan lair dumugi pati. Pramila Natal inggih punika start/ wiwitan perjuangan kangge mujudaken kasampurnaning “kemesiasan”. Kita sami mangertosi bilih puncak kemesiasan nembe kawujud nalika Gusti Yesus wungu. Proses alamiah punika ugi nedahaken bilih panguwaos-Ipun Gusti Allah estu ing satengahing proses kawilujenganipun jagad. Gusti Allah paring piwulang bilih kawilujengan ingkang agung punika mboten dumadakan sakala wonten, ananging kedah kelampahan ing sauruting proses gesang ingkang alamiah. Kanthi mekaten manungsa mboten namung sadermo nampi kawilujengan, ananging manungsa ugi kedah purun ndherek tut wingking Gusti ing salebeting proses perjuangan supados saged mujudaken kawilujengan. Punika titah-Ipun Gusti ingkang agung. Panjenengan-Ipun mboten nedahaken bilih kawilujengan punika katampi kanthi perkawis ingkang spektakuler, ananging kanthi proses alamiah kristiani: lair-pati-katangekake.
Pratandha mesianik sampun katingal wiwit Gusti Yesus miyos. Lukas nyariosaken kanthi cetha ing waosan kita. Gusti Yesus miyos ing satengahing kawontenan bangsa ingkang saweg kajajah dening Romawi (ay. 1-3). Panjenengan-Ipun miyos ing kitha Bethlehem (karan kitha Dawud), amargi Mesias kedah saking tedhak turunipun Dawud (ay. 4-5). Pawartos wiyos-Ipun dipun wartosaken dening malaekat (ay. 9-12), lan Gusti Allah pribadi karsa rawuh katitik saking para malaekat ingkang sami ngidung (ay. 13-14). Punika sadaya nedahaken bilih “pengharapan mesianis” kawiwitan kajangkepaken.
Bilih pawartos wiyos-Ipun Gusti Yesus katampi dening para pangon punika nedahaken Gusti Allah tansah peduli tumrap karingkihanipun manungsa. Gusti Allah tansah nganthi ing sauruting gesang manungsa ingkang saweg nandang sangsara lan sekeng.
Panutup
Saking waosan punika cetha bilih wiyos-Ipun Gusti Yesus nggadhahi peran: sepisan Panjenengan-Ipun punika estu Sang Kristus Juru Wilujeng, kaping kalih Panjenengan-Ipun dados “role model” tumrap ing manungsa. Manungsa kedah nuladhani gesang-Ipun Sang Kristus.
Pramila samangke, tumraping kita ingkang sami ndherek pahargyan Natal ing tahun punika, supados kasagedna prastawa Natal punika dados start/ titik berangkat/ wiwitaning kita ngupadi gesang enggal, inggih punika gesang ingkang kanthi estu nulad gesang-Ipun Sang Kristus. Kanthi proses alamiah, prasaja, ing gesang padintenan. Amin. (WV)
Pamuji: KPJ. 221 Duk Bumi Kinemulan Ratri