Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan, Tetap Bersama Tuhan Allah Khotbah Minggu 11 September 2022

Minggu Biasa | Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

 

Bacaan 1: Keluaran 32 : 7 – 14
Bacaan 2:
1 Timotius 1 : 12 – 17
Bacaan 3: Lukas 15 : 1 – 10

Tema Liturgis: Jalanilah Kehidupan di dalam Terang Firman Allah!
Tema Khotbah: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan, Tetap Bersama Tuhan Allah

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 32 : 7 – 14
Ayat 9-14: Tuhan Allah berencana membinasakan seluruh umat karena dosa-dosa mereka. Tetapi Musa memohon belas kasihan-Nya dan Tuhan Allah mengabulkannya. Hal ini merupakan salah satu contoh di dalam Alkitab tentang belas kasihan Tuhan Allah. Meskipun kita pantas mendapat kemarahan-Nya, tetapi Ia rela mengampuni dan memperbaiki kita bagi-Nya. Kita juga dapat menerima pengampunan-Nya atas dosa kita dengan memohon kepada-Nya. Seperti Musa, kita juga dapat berdoa dengan keyakinan bahwa Ia akan mengampuni sesama kita dan berkenan menggunakan kita untuk membawa warta belas kasihan-Nya bagi sesama kita.

Ayat 14: Bagaimana Tuhan Allah dapat mengalah dan kemudian berbelas kasihan? Tuhan Allah tidak mengubah rencana-Nya, sama seperti orang tua yang mendidik dan mendisiplinkan anak-anak mereka supaya tertib. Jika Tuhan Allah pertama-tama ingin membinasakan umat, Ia bertindak konsisten dengan keadilan-Nya. Jika Musa memohon pengampunan atas nama umat, Tuhan Allah mengalah dan berbelas kasihan agar tindakan-Nya konsisten dengan jati diri-Nya, berbelas kasihan! Tuhan Allah memberitahu umat bahwa jika mereka bersedia mengubah tata cara hidup mereka, Ia tidak akan menghukum mereka.

1 Timotius 1 : 12 – 17
Ayat 12-17: Umat dapat merasa sedemikian bersalah atas dosa masa lalu mereka sampai menganggap bahwa Tuhan Allah tidak pernah bersedia mengampuni dan menerima mereka kembali. Tetapi kita bisa belajar dari masa lalu dan kehidupan Paulus. Ia mengejek/ mencemooh ajaran Tuhan Yesus (‘seorang penghujat’) dan mengejar, menganiaya, serta membunuh para pengikut-Nya (‘seorang penganiaya dan seorang agresor/ penyerang yang bengis’), sebelum Paulus datang kepada Kristus dan beriman dalam Kristus (Kis. 9:1-9). Tuhan Allah mengampuni Paulus dan memakai Paulus bagi kerajaan-Nya. Jangan terlalu pusing dengan masa lalu anda, seberapa memalukan masa lalu anda, Tuhan Allah juga berkenan mengampuni dan memakai anda.

Ayat 14: Kita mungkin merasa bahwa iman kita dalam Allah, kasih kita bagi Kristus dan bagi sesama tidak pernah memadai. Tetapi kita perlu yakin bahwa Kristus akan menolong iman dan kasih kita untuk terus bertumbuh agar hubungan/ relasi kita dengan-Nya semakin dekat dan mendalam.

Ayat 15: Di sini Paulus meringkaskan ‘Kabar Baik’: Tuhan Yesus datang ke dunia menyelamatkan para pendosa dan tidak ada pendosa berada di luar jangkauan kuasa penyelamatan-Nya (Lih. Luk. 5:32). Tuhan Yesus tidak hanya datang untuk menunjukkan kepada kita bagaimana membangun sebuah kehidupan yang lebih baik atau memberi tantangan bagi kita untuk menjadi umat yang lebih baik. Ia datang menawarkan kita keselamatan yang membimbing kita pada hidup kekal. Apakah anda menerima tawaran-Nya?

Paulus menyebut dirinya orang yang ‘paling’ berdosa. Mungkin kita sempat menganggap Paulus sebagai seorang pahlawan besar iman, tetapi Paulus tidak pernah melihat dirinya dengan cara pandang itu, sebab ia ingat hidup masa lalunya sebelum bertemu Kristus. Paulus lebih memahami belas kasih Allah lebih daripada kesadaran dirinya akan kebobrokannya sendiri. Kerendahan hati dan syukur sebaiknya menandai kehidupan setiap orang Kristen. Jangan pernah lupa bahwa anda juga seorang pendosa yang diselamatkan oleh anugerah-Nya.

Ayat 17: Ayat ini merupakan sebuah ‘doxology’ (lagu pujian) yang diungkapkan oleh Paulus secara spontan, sebuah respon emosional, sebuah refleksi tentang anugerah Allah. Paulus sedemikian tergerak oleh kasih Allah, yang membuatnya dapat memuji Allah secara spontan.

Lukas 15 : 1 – 10
Ayat 2: Mengapa orang Farisi dan para ahli Taurat merasa terganggu dengan kehadiran para pemungut cukai dan para pendosa? Mengapa Tuhan Yesus bergaul dengan orang-orang itu? Para pemimpin agama selalu menjaga diri agar tetap ‘bersih’ dengan cara menjauhi/ menghindari orang-orang tertentu dan melakukan ritual pembersihan diri. Berbeda dengan Tuhan Yesus yang memiliki konsep berbeda tentang ‘bersih’. Ia mengambil risiko tercemar dengan menyentuh/ menyapa orang yang sakit kusta, yang justru dihindari dalam rangka pembersihan diri versi orang Farisi dan ahli Taurat. Ia datang menawarkan keselamatan bagi orang berdosa. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Allah mengasihi mereka juga. Tuhan Yesus tidak ragu dengan berbagai tuduhan, Ia terus berkarya bagi yang membutuhkan-Nya, tanpa menghiraukan penolakan orang atas reputasi-Nya.

Ayat 3-6: Kesannya, merupakan sebuah pilihan bodoh bagi gembala, jika ia mau meninggalkan 99 ekor domba dan hanya mencari 1 ekor domba saja. Tetapi gembala tahu bahwa 99 ekor domba akan tetap aman di kandang, sedangkan yang seekor ada dalam bahaya. Karena masing-masing domba bernilai/ berharga tinggi, maka gembala tahu adalah bermanfaat/ berfaedah jika ia mau mencari dengan tekun seekor domba yang hilang. Tuhan Allah mengasihi setiap individu sama besarnya dengan ketika Ia mencari seorang yang hilang dan ditemukannya kembali. Tuhan Yesus bergaul dengan orang berdosa sebab Ia ingin membawa domba yang hilang.

Ayat 4-5: Kita bisa mengerti Tuhan Allah mengampuni orang yang datang kepada-Nya mohon pengampunan-Nya. Tetapi Tuhan Allah dengan lemah lembut mencari orang berdosa, kemudian dengan sukacita mengampuni mereka. Inilah cinta kasih yang mendorong Tuhan Yesus datang ke bumi, mencari orang yang hilang dan menyelamatkannya. Cinta kasih inilah yang diberikan Tuhan Allah bagi anda. Ketika anda merasa jauh dari Allah, jangan putus asa, Ia tetap mencari anda!

Ayat 8-10: Perempuan ini menerima 10 dirham sebagai hadiah perkawinan (Dirham satuan uang dalam sistem moneter Yunani. Satu dirham = 1 dinar Romawi = upah harian seorang pekerja). Selain bernilai ekonomis, uang tersebut juga bernilai sentimental seperti halnya cincin kawin dan jika salah satu hilang sangatlah sedih. Karena itu jika ia menemukan uang/ cincinnya, ia sangat bersukacita. Demikian juga para malaikat bersukacita atas seorang berdosa yang penuh penyesalan serta bertobat. Setiap orang berharga bagi Tuhan Allah. Ia akan sangat berduka setiap kehilangan dan bersukacita kembali bila seorang dari anak-anak-Nya ditemukan serta dibawa-Nya ke kerajaan-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan:

Ada tiga hal yang menghubungkan ketiga bacaan kita, yaitu:

  1. Rencana Tuhan Allah atas diri manusia tetap sama, yakni menyelamatkan manusia, baik dahulu, kini, dan yang akan datang.
  2. Rencana keselamatan itu memberi peluang kepada manusia untuk ikut ambil bagian mewujudkannya, juga di masa kini.
  3. Partisipasi manusia tersebut memberi warna dan dinamika yang berdampak pada semakin bertumbuhnya relasi yang lebih sehat dan benar dengan Tuhan Allah.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada sebuah kata mutiara yang berbunyi demikian, “Dunia ini menjadi tempat yang berbahaya untuk ditinggali, bukan karena orang-orangnya yang jahat, tapi karena orang-orang yang tidak berbuat apa-apa terhadap orang jahat itu.” (Albert Einstein 1879 – 1955, fisikawan). Agar kita dapat memberi kontribusi positif dalam kehidupan ini dan agar kita tidak semakin membuat dunia ini berbahaya bagi kehidupan, maka sangatlah tepat kedua tema kita kali ini: Tema Liturgis: “Jalanilah Kehidupan Di Dalam Terang Firman Allah” dan Tema Khotbah: “Masa lalu, masa kini, dan masa depan, tetap bersama Tuhan Allah.” Kedua tema tersebut membantu kita untuk merenungkan ulang tentang perjalanan hidup kita. Apa yang pernah kita lakukan, apa yang sedang kita lakukan, dan apa yang akan kita lakukan. Berkaitan dengan perenungan itu, ada sebuah pertanyaan yang perlu kita cari dan perlu kita temukan jawabannya. Pertanyaan adalah: “Dengan siapa kita melakukan perjalanan hidup ini agar arah dan tujuan hidup kita benar?” Ketiga bacaan kita ini membantu kita menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut!

Isi
Rencana Tuhan Allah atas diri manusia tetap sama, yakni menyelamatkan manusia, baik dahulu, kini, dan yang akan datang. Manusia memiliki keinginan agar hidupnya terjamin. Misalnya: terjamin keselamatannya, terjamin keamanannya, terjamin kesehatannya, terjamin kebutuhannya, terjamin keuangannya, terjamin masa depannya, dsb. Dalam rangka menjamin terwujudnya keselamatan bagi semua orang, Tuhan Yesus bersedia mengambil risiko tercemar dengan: menyapa, menyentuh, dan bergaul dengan orang yang sakit kusta, yang ketika itu justru dihindari oleh para pemimpin agama, orang Farisi, dan para ahli Taurat. Ia datang menawarkan keselamatan bagi orang berdosa. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Allah mengasihi mereka juga. Tuhan Yesus tidak ragu dengan berbagai tuduhan, Ia terus berkarya bagi yang membutuhkan-Nya.

Tuhan Yesus menawarkan cara yang melawan arus. Kesannya, merupakan sebuah pilihan bodoh bagi gembala, jika ia mau meninggalkan 99 ekor domba, hanya untuk mencari 1 ekor domba saja. Tetapi gembala tahu bahwa 99 ekor domba akan tetap aman di kandang, sedangkan yang seekor ada dalam bahaya sebab tidak tahu dimana domba tersebut berada. Karena masing-masing domba bernilai/ berharga tinggi, maka gembala tahu adalah bermanfaat/ berfaedah jika ia mau mencari dengan tekun seekor yang hilang. Tuhan Allah mengasihi setiap individu sama besar nilainya. Tuhan Yesus bergaul dengan orang berdosa sebab Ia ingin membawa domba yang hilang. Inilah cinta kasih yang mendorong Tuhan Yesus datang ke bumi, mencari orang yang hilang dan menyelamatkannya. Cinta kasih inilah yang diberikan Tuhan Allah bagi kita.

Dalam perumpamaan tentang dirham yang hilang ini disebutkan, seorang perempuan menerima 10 dirham sebagai hadiah perkawinan (dirham satuan uang dalam sistem moneter Yunani. Satu dirham = 1 dinar Romawi = upah harian seorang pekerja). Selain bernilai ekonomis, uang tersebut juga bernilai sentimental seperti halnya cincin kawin, dan jika salah satu hilang sangatlah sedih. Karena itu jika ia menemukan uang/ cincin kawinnya, ia sangat bersukacita. Semoga kita juga lebih bersukacita jika kita bisa membagi kasih Tuhan Yesus dan peduli dengan yang hilang. Ketika kita merasa jauh dari Tuhan Allah, jangan putus asa, Ia tetap mencari kita! Para malaikat bersukacita atas seorang berdosa yang penuh penyesalan serta bertobat. Setiap orang berharga bagi Tuhan Allah. Ia akan sangat berduka setiap kehilangan dan bersukacita kembali bila seorang dari anak-anak-Nya ditemukan serta dibawa-Nya ke kerajaan-Nya.

Rencana keselamatan itu memberi peluang kepada manusia untuk ikut ambil bagian mewujudkannya di masa kini. Partisipasi yang ditunjukkan oleh orang Farisi dan para ahli taurat, terkait dengan rencana keselamatan-Nya adalah dengan cara menjaga kesucian diri supaya tetap terjamin ‘bersih’, yakni dengan cara menjauhi/ menghindari orang-orang tertentu, dan melakukan ritual pembersihan diri. Cara tersebut diskriminatif, memecah belah, dan diubah oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang ‘domba yang hilang’.

Partisipasi Paulus diawali dengan pengakuan bahwa dirinya adalah orang yang ‘paling berdosa’ sebab masa lalunya kelam: Ia mencemooh ajaran Tuhan Yesus dan mengejar, menganiaya, serta membunuh para pengikut-Nya. Paulus seorang agresor/ penyerang yang bengis sebelum ia datang kepada Kristus dan beriman dalam Kristus (Kis. 9:1-9). Kemudian Paulus mensyukuri pengampunan Tuhan Allah dan perkenan-Nya memakainya bagi pewartaan kerajaan-Nya, yakni ‘Kabar Baik’. Tuhan Yesus datang ke dunia menyelamatkan para pendosa, dan tak ada pendosa berada di luar jangkauan kuasa penyelamatan-Nya (Lih. Luk. 5:32). Paulus mengakhirinya dengan ‘doxology’ (lagu pujian) yang diungkapkannya secara spontan, sebuah respons emosional, sebuah refleksi tentang anugerah Allah. Paulus sedemikian tergerak oleh kasih Allah yang membuatnya memuji Allah secara spontan.

Tuhan Yesus tidak hanya datang untuk menunjukkan kepada kita bagaimana membangun sebuah kehidupan yang lebih baik atau memberi tantangan untuk menjadi umat yang lebih baik. Ia datang menawarkan keselamatan yang membimbing kita kepada hidup kekal. Jangan terlalu pusing dengan masa lalu kita, seberapa memalukan masa lalu kita, Tuhan Allah juga berkenan mengampuni dan memakai kita. Kita perlu yakin bahwa Kristus akan menolong iman dan kasih kita untuk terus bertumbuh agar hubungan/ relasi kita dengan-Nya semakin dekat dan mendalam.

Ketika Tuhan Allah berencana membinasakan seluruh umat karena dosa-dosa mereka, Musa memohon belas kasihan-Nya dan Dia mengabulkannya. Meskipun kita pantas mendapat kemarahan-Nya, tetapi Ia rela mengampuni dan memperbaiki kita bagi karya-Nya. Seperti Musa, kita juga dapat berdoa dengan keyakinan bahwa Ia akan mengampuni sesama kita dan berkenan menggunakan kita untuk membawa warta belas kasihan-Nya bagi sesama kita.

Penutup
Di awal khotbah ini ada tiga ungkapan penting:

Pertama sebuah kata mutiara: “Dunia ini menjadi tempat yang berbahaya untuk ditinggali, bukan karena orang-orangnya yang jahat, tapi karena orang-orang yang tak berbuat apa-apa terhadap orang jahat itu.” (Albert Einstein 1879 – 1955, fisikawan). Kedua, Tema Liturgis: “Jalanilah Kehidupan Di Dalam Terang Firman Allah”. Ketiga, Tema Khotbah: “Masa lalu, masa kini, dan masa depan, tetap bersama Tuhan Allah”.

Seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang membosankan. Semoga kita bisa lebih kreatif, dan inovatif dalam kebersamaan kita dengan-Nya. Partisipasi manusia menjadikan kehidupan ini penuh dengan dinamika. Semoga dinamika ini memberi peluang bagi manusia untuk membangun relasi yang semakin baik, sehat, dan subur dengan Tuhan Allah. Amin. [esha].

 

Pujian: KJ. 400 : 1 – 4 Kudaki Jalan Mulia

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten ‘Mutiara Kata’ ingkang ungelipun: “Jagad punika dados papan ingkang mbebayani kangge gesang, mboten karana tiyang-tiyangipun jahat, ananging karana tiyang-tiyang ingkang mboten nindakaken punapa-punapa ngadhepi tiyang jahat punika.” (Albert Einstein 1879 – 1955, fisikawan).

Supados kita saged berkontribusi positif ing salebeting pigesangan punika lan supados kita mboten malah ndadosaken jagad punika mbebayani kangge pigesangan, pramila sanget cocok kalih tema kita punika: Tema Liturgis: “Nindakna urip iki ing sajroning pepadhange Sabdaning Allah” lan Tema Khotbah: “Mangsa kepengker, mangsa sakpunika, lan mangsa ingkang badhe kelampahan, tetep sesarengan kaliyan Gusti Allah”. Kalih tema punika mbantu kita kangge ngrenungaken malih bab lumampahing gesang kita. Punapa ingkang sampun nate kita tindakaken, punapa ingkang sakpunika saweg kita tindakaken, lan punapa ingkang badhe kita tindakaken. Gandheng kaliyan renungan punika, wonten setunggal pitakenan ingkang perlu kita padosi lan perlu kita panggihaken jawabanipun. Pitakenanipun mekaten: Kaliyan sinten kita nglampahi gesang punika supados arah lan tujuan gesang kita leres? Tiga waosan kita punika mbantu kita manggihaken jawaban tumraping pitakenan kasebat!

Isi
Rancanganipun Gusti Allah kangge manungsa punika tetep sami, inggih punika milujengaken manungsa, sae ing wekdal kepengker, sak punika, lan ingkang badhe kelampahan. Manungsa gadhah pepenginan supados gesangipun terjamin, upaminipun: terjamin kawilujenganipun, terjamin keamananipun, terjamin kesehatanipun, terjamin kabetahanipun, terjamin keuanganipun, terjamin masa depan-ipun, lsp. Kangge njamin mujudaken kawilujenganipun sedaya tiyang, Gusti Yesus cumadhang nampi risiko tercemar, upaminipun: kersa sapa-aruh, nggepok-senggol, lan srawung kaliyan tiyang ingkang sakit lepra/ kusta, ingkang ing wekdal semanten dipun siriki dening para pemimpin agami, para tiyang Farisi, lan para ahli Toret. Panjenenganipun rawuh ngasta kawilungen kangge para tiyang dosa, nedahaken bilih Gusti Allah nresnani para tiyang dosa ugi. Gusti Yesus mboten kuwatir kaliyan maneka warni tuduhan, Panjenenganipun terus makarya kangge saben tiyang ingkang mbetahaken Panjenenganipun.

Gusti Yesus nawaraken cara ingkang nglawan arus. Kesanipun, punika pilihan bodho kangge juru pangon, menawi piyambakipun purun nilaraken 99 menda, namung kangge madosi 1 menda kemawon. Ananging pangon punika sumerep bilih 99 menda badhe tetep aman ing kandhangipun, dene ingkang setunggal wonten ing salebeting bebaya sebab mboten sumerep ing pundi menda kasebat ical. Karana saben menda punika aji, pramila pangon punika sumerep bilih estu maedahi yen piyambakipun purun madosi kanthi tekun setunggal menda ingkang ical. Gusti Allah nresnani saben individu, sami ajinipun. Gusti Yesus srawung kaliyan tiyang dosa sebab Panjenenganipun kepengin manggihaken menda ingkang ical. Katresnan ingkang mekaten ingkang nyurung (mendorong) Gusti Yesus rawuh ing jagad, madosi tiyang ingkang ical lan milujengaken. Katresnan ingkang kados mekaten punika ugi dipun paringaken Gusti Allah dhateng kita.

Ing pasemon bab yatra dirham ingkang ical kasebataken, wonten tiyang estri gadhah 10 dirham minangka hadiah perkawinan (dirham satuan uang dalam sistem moneter Yunani. Satu dirham = 1 dinar Romawi = upah harian seorang pekerja). Sak sanesipun yatra dirham punika gadhah nilai ekonomis, Dirham kasebat ugi bernilai sentimental kados dene cincin kawin, pramila yen salah setunggal ical lajeng sanget sedhihipun. Pramila yen saged manggihaken dirham/cincin-kawinipun, piyambakipun sanget bingahipun. Mugi-mugi kita ugi badhe langkung bingah yen kita saged mbagi katresnanipun Gusti Yesus lan peduli kaliyan sesami ingkang ical. Yen kita rumaos tebih saking Gusti Allah, sampun ngantos putus asa, sebab Panjenenganipun tetep madosi kita!

Para malaikat asukarena tumraping tiyang dosa ingkang kebak ing panalangsa sarta mratobat. Saben tiyang aji ing ngarsanipun Gusti Allah. Panjenenganipun badhe sungkawa saben kecalan lan badhe asukarena malih yen salah setunggal saking para putranipun ical, dipun panggihaken malih sarta kabekta wangsul ing Kratonipun.

Rancangan kawilujengan punika maringi kesempatan kangge manungsa tumut tandang-damel mujudaken ugi ing jaman samangke. Partisipasi ingkang dipun tedahaken dening para tiyang Farisi lan para ahli Toret, gandheng kaliyan rancangan kawilujenganipun Gusti Allah, inggih punika kanthi cara njagi kasucen dhiri supados tetep terjamin ‘resik/ suci’, ngangge cara nebihi/ nyiriki tiyang-tiyang tartamtu, lan nindakaken ritual pembersihan diri. Cara kasebat diskriminatif, memecah belah, lan dipun ribah dening Gusti Yesus lumantar piwulang pasemon bab ‘menda ingkang ical’.

Partisipasi Paulus dipun wiwiti kanthi pengaken: ‘aku iki kang gedhe dhewe dosaku’, sebab masa-lalu-nipun pancen kelam: Paulus nyawiyah piwulangipun Gusti Yesus, ngoyak, nganiaya, sarta mejahi para pendherekipun Gusti Yesus. Paulus dados agresor/ penyerang ingkang wengis sakderengipun piyambakipun sowan ing ngarsanipun Sang Kristus lan pitados ing ndalem Asmanipun (Lelakone Para Rasul 9:1-9). Selajengipun Paulus saos sokur tumraping pangapunten saking Gusti Allah lan Panjenenganipun kersa ngagem Paulus kagem martosaken Kratonipun, inggih punika ‘Pawartos Rahayu’: Sang Kristus Yesus rawuh ing ndonya perlu mitulungi rahayu marang wong dosa. Mboten wonten setunggal kemawon ingkang uwal saking pangwaos kawilujenganipun (Luk. 5:32). Paulus mungkasi ngangge ‘doxology’ (pepujian) ingkang dipun lairaken sacara spontan, minangka respons emosional, minangka refleksi bab anugerah-ipun Gusti Allah. Paulus sanget anggenipun tergerak dening sih katresnanipun Gusti Allah, ingkang nyurung piyambakipun saged memuji Gusti Allah sacara spontan.

Gusti Yesus mboten namung nedahaken dhateng kita kadospundi mbangun pigesangan ingkang langkung sae utawi maringi tantangan supados dados umat ingkang langkung sae. Panjenenganipun rawuh maringi kawilujengan ingkang mbimbing kita tumuju ing gesang langgeng. Mboten perlu pusing bab wekdal ingkang sampun kepengker, sepinten ageng prastawa ingkang ndadosaken kita isin, sebab Gusti Allah ugi kersa ngapunten lan ngagem kita. Kita perlu yakin bilih Sang Kristus badhe mitulungi iman lan katresnan kita supados saged terus thukul subur, supados sesambetan kita kaliyan Panjenenganipun langkung raket.

Rikala Gusti Allah ngrancang numpes umatipun sebab dosa-dosanipun, Musa nyuwun welas asihipun lan Gusti Allah nyembadani. Senadyan kita pantes nampi dukanipun, ananging Gusti Allah rila lan kersa ngapura lan ndadosaken kita titah enggal kagem pakaryanIpun. Kados Musa, kita ugi dipun parengaken ndedonga kanthi yakin bilih Panjenenganipun badhe paring pangapura dhateng sesami kita ugi lan kersa ngginakaken kita kangge mbekta pawartos katresnanipun Gusti Allah kangge sesami kita.

Panutup
Ing wiwitaning khotbah punika wonten tiga ungkapan penting:

Sepisan, wonten ‘Mutiara Kata’ ingkang ungelipun: “Jagad punika dados papan ingkang mbebayani kangge gesang, mboten karana tiyang-tiyangipun jahat, ananging karana tiyang-tiyang ingkang mboten nindakaken punapa-punapa ngadhepi tiyang jahat punika.” (Albert Einstein 1879 – 1955, fisikawan). Kaping kalih, Tema Liturgis: “Tindakna urip iki ing sajroning pepadhange Sabdaning Allah” lan katiga, Tema Khotbah: “Mangsa kepengker, mangsa sakpunika, lan mangsa ingkang badhe kelampahan, tetep sesarengan kaliyan Gusti Allah”.

Asring kita terjebak ing swasana rutinitas ingkang ndadosaken kita bosen. Mugi-mugi kita saged langkung kreatif lan inovatif ing salebeting tetunggilan kaliyan Panjenenganipun. Partisipasi manungsa ndadosaken gesang punika kebak ing dinamika. Mugi-mugi dinamika punika maringi peluang kangge kita manungsa supados saged mbangun sesambetan ingkang langkung sae, sehat, lan subur kaliyan Gusti Allah. Amin. [esha].

 

Pamuji: KPJ. 159 Gesang Kawula

 

Bagikan Entri Ini: