Bersyukur Dan Bersukacita Menerima Undangan Tuhan Khotbah Minggu 11 Oktober 2026

28 September 2026

Minggu Biasa | Bulan Ekumene
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 25 : 1 – 9
Mazmur: Mazmur 23
Bacaan 2: Filipi 4 : 1 – 9
Bacaan 3: Matius 22 : 1 – 14

Tema Liturgis: Merawat Persaudaraan Sejati
Tema Khotbah: Bersyukur dan Bersukacita Menerima Undangan Tuhan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 25 : 1 – 9
Yesaya dipilih Tuhan Allah menjadi nabi dan mentor bagi raja Ahas dan raja Hizkia serta bangsa Yehuda dimana kondisi bangsa Yehuda (Israel Selatan) menghadapi bangsa Asyur yang sedang memperluasan wilayah. Hal ini sangat mengancam kondisi Yehuda yang jauh di bawah bangsa Asyur. Pada sisi lainnya bangsa Yehuda mengalami kemerosotan kualitas iman. Oleh karena itu, nabi Yesaya memperingatkan raja Yehuda, Ahas untuk tidak mengharapkan bantuan dari Asyur melawan Israel dan Aram. Ia juga mengingatkan Raja Hizkia, setelah kejatuhan Israel tahun 722 SM, agar jangan mengadakan persekutuan dengan bangsa asing menentang Asyur. Ia menasihati kedua raja itu untuk percaya kepada Tuhan Allah saja sebagai pelindung mereka (Yes. 7:3-7; Yes. 30:1-17).

Ancaman dan ketakutan bangsa Yehuda bisa saja menghalau mereka dari Tuhan Allah. Yesaya mengingatkan kembali bahwa Tuhan Allah adalah Tuhan yang menjadi sumber keselamatan, yang akan menyelamatkan, memberkati, dan melindungi bahkan menyediakan apa yang terbaik bagi umat-Nya. Oleh karena itu, Yesaya mengajak bangsa Yehuda agar tidak berpaling dari Tuhan Allah, namun terus nantikan Tuhan Allah yang menyelamatkan dengan cara-Nya yang dahsyat. Tuhan Allah yang mengubahkan ketakutan dan ancaman dari bangsa Asyur menjadi sukacita dan sorak-sorai. Namun semua ini harus diimbangi dengan respons seluruh umat, dimana mereka harus meletakan iman mereka hanya kepada Tuhan Allah bukan kepada illah lain.

Dalam kehidupan bangsa Yehuda, raja Ahas, dan raja Hizkia, ada Nabi Yesaya yang memberikan tegoran, mengingatkan, dan menjadi teladan dalam iman keseharian. Teladan bagaimana terus beriman dan menjaga iman kepada Tuhan Allah serta tidak merasa rugi ketika bangsa Yehuda setia kepada Tuhan Allah sekalipun ada resiko yang besar. Yesaya menjadi mentor bagi raja Ahas dan Hizkia yang relatif lebih muda dari dirinya. Yesaya tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga menjadi teladan iman bagi mereka.

Perikop bacaan saat ini adalah tulisan luapan sukacita dan syukur Yesaya akan karya Tuhan Allah dalam menolong bangsa Yehuda dan menghancurkan musuh-musuhnya. Karya Allah adalah bagaimana Ia membela umat yang teraniaya dan memulihkannya dari segala dukacita. Oleh sebab itu, umat meresponsnya dengan ucapan syukur serta memuliakan Tuhan Allah.

Filipi 4 : 1 – 9
Konteks Jemaat Filipi dalam bacaan kita ialah dalam keadaan teraniaya oleh Romawi dan mendapatkan tekanan dari kaum Yudais (Keturunan Yahudi) yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Hal ini diperparah dengan kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di dalam tubuh jemaat. Oleh sebab itu, di awal-awal suratnya, Paulus menyerukan pesan persatuan (Fil. 2:1-11). Prinsipnya Paulus memberikan perhatian sekaligus pesan pastoral kepada jemaat Filipi di tengah pergumulan yang mereka alami.

Terkhusus pada perikop kita saat ini (mendekati penutup surat), Rasul Paulus memberikan penekanan pesan dan penguatan kepada Jemaat Filipi. Jika dirumuskan pesan-pesan Paulus ialah sebagai berikut:

  1. Berdiri teguh di dalam Tuhan (Filipi 4:1)
  2. Membangun dan mengupayakan relasi yang harmoni (Filipi 4:2-3)
  3. Bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 4:4)
  4. Jangan khawatir (Filipi 4:6a)
  5. Damai sejahtera Allah, melampaui segala akal (Filipi 4:7)
  6. Kebenaran adalah kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8)
  7. Melakukan segala ajaran Tuhan, Allah sumber damai sejahtera akan menyertai (Filipi 4:9).

Matius 22 : 1 – 14
Perumpamaan ini dimulai dengan seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya (Ay. 2). Ketika raja telah mempersiapkan segala sesuatunya, ia mengirimkan hamba-hambanya untuk mengundang para tamu, teteapi mereka yang diundang justru menolak undangan tersebut. Beberapa di antara mereka ada yang pergi ke ladang dan lainnya menjalankan usaha mereka. Sementara itu, ada juga yang menangkap hamba-hamba raja dan memperlakukan mereka dengan kejam (Ay. 5). Di sisi lain, ada juga yang sudah datang pada pesta perkawinan itu, namun mereka tidak menghargai pesta tersebut dengan pakaian yang tidak layak (Ay. 11-12).

Cerita ini menunjukkan kepada kita bahwa sering kali, kita lebih memilih kesibukan duniawi daripada menyambut undangan Allah untuk bersekutu dengan-Nya. Raja dalam perumpamaan ini mencerminkan Tuhan yang berusaha menjangkau umat-Nya melalui Kristus. Ketika kita menyadari betapa besar kasih Allah, lalu kita tetap mengabaikan undangan-Nya, maka kita harus mempertanyakan motivasi dan prioritas hidup kita. Begitupun saat seseorang sudah mau menerima undangan Tuhan dalam pesta (Kerajaan Surga dalam Iman Kristen), haruslah terus menjaga hidupnya agar selalu pantas dan layak di hadapan Tuhan.

Perumpamaan ini bukan hanya sebuah cerita, tetapi juga menggambarkan realitas spiritual yang terjadi di sekitar kita. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam kesibukan yang membuat kita lupa akan undangan Tuhan. Kita perlu mengingat bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk lebih dekat kepada-Nya. Hal ini pun menjadi pengingat bahwa perjamuan kawin yang dimaksud adalah lambang dari Kerajaan Surga, di mana semua orang diundang untuk merasakan kasih dan anugerah-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan
Tuhan Allah dengan segala kasih dan kemurahan-Nya bersedia memanggil dan menolong seluruh umat dan ciptaan-Nya. Meskipun demikian tidak semua orang mau merespons panggilan Tuhan itu dengan kesediaan dan kesetiaan. Kadang oleh karena pergumulan dan persoalan hidup yang kita alami membuat kita semakin jauh dari-Nya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Sebagian dari kita pasti pernah mengikuti sebuah pesta, entah dalam rangka apapun. Tentunya dalam sebuah pesta tersebut tersedia berbagai macam makanan, hiburan, dan berbagai macam hal yang menambah kebahagiaan para pesertanya. Demikian pula sebagai pelaksana atau pemilik pesta, jika para tamu undangan berkenan hadir dan antusias dalam mengikuti pesta tersebut, tentunya ia pun turut merasakan kebahagiaan dan merasa dihargai.

Namun bagaimana perasaan kita, jika kita dalam posisi si pemilik acara pesta itu tetapi para sahabat, kerabat, dan orang-orang yang kita undang mengikuti acara tersebut justru tidak berkenan hadir. Tentu lahirlah rasa kecewa bahkan mungkin marah. Bukan saja karena merasa bahwa segala hal yang sudah kita persiapkan terasa sia-sia namun juga merasa para undangan tidak menghormati dan menghargai kita sebagai pemilik pesta. Padahal di sisi lain, kita pasti memilih orang-orang yang dianggap layak untuk diundang. Entah karena masih kerabat, rekan sekerja, atau mungkin mempunyai ikatan emosional dengan kita sebagai pemilik pesta itu.

Isi
Demikianlah gambaran umum saat kita membaca Injil Matius 22:1-14, kita diajak merasakan perasaan Tuhan saat Ia mengundang umat yang dikasihi-Nya turut serta bersukacita dalam Kerajaan-Nya, yang diumpamakan dengan pesta perkawinan. “Undangan” yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan itu adalah undangan untuk menerima keselamatan dari Anak Manusia, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Namun pada kenyataannya, undangan tersebut direspons dengan ketidakhadiran, karena lebih mengutamakan hal lainnya, ada yang ke kebun, berdagang, dan sebagainya. Tentu sebagaimana yang saya sampaikan di awal tadi, sebagai si pemilik pesta yang akan kecewa dan marah karena orang yang diundangnya tidak hadir bahkan tidak menghormatinya. Demikian pula yang dirasakan Tuhan, saat Ia dengan segala kasih dan kemurahan-Nya mengundang dan merengkuh umat manusia untuk turut serta dalam sukacita Kerajaan Surga, namun manusia menolak-Nya. Maka kita bisa membayangkan betapa kecewa dan marahnya Tuhan saat umat-Nya menolak undangan Tuhan itu.

Mungkin banyak hal yang menjadi alasan manusia menolak undangan Tuhan, mungkin ada yang merasa hal itu tidak penting. Atau karena mereka lebih mengutamakan hal-hal duniawi, semisal pekerjaan, karir, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa sering kali, kita lebih memilih kesibukan duniawi dari pada menyambut undangan Tuhan Allah untuk bersekutu dengan-Nya. Lebih mengutamakan yang duniawi daripada yang surgawi.

Di sisi lain, ada juga yang ternyata di awal telah menerima undangan Tuhan, namun berikutnya ia tidak mampu menjaga diri untuk tetap layak di hadapan Tuhan dalam pesta kesalamatan Kerajaan Surga. Hal ini yang tercermin di ayat 12, sehingga Tuhan meresponsnya dengan mencampakkan dia ke dalam kegelapan. Hal ini memiliki makna bahwa ada pula fenomena terjadinya ketidak-konsistenan seorang Kristen dalam menghidupi anugerah keselamatan. Benar ia telah dibaptis, benar ia telah mengikuti peneguhan sidi, dan di KTP-nya tertulis beragama Kristen. Namun berikutnya justru ia meninggalkan Tuhan Yesus melalui perilakunya yang jahat dan dosa-dosa yang dilakukannya tanpa penyesalan. Pribadi yang demikian pun ternyata bagi Tuhan Yesus, bukanlah pribadi yang layak turut serta dalam “pesta perkawinan”, yaitu keselamatan surgawi yang kekal. Bahkan Tuhan Yesus menyebutkan dalam ayat 14, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Berikutnya marilah kita menyimak bacaan pertama pada hari ini, Yesaya 25: 1-9. Perikop ini adalah tulisan luapan sukacita dan syukur Yesaya tentang karya Allah dalam menolong bangsa Yehuda dan menghancurkan musuh-musuhnya. Karya Allah adalah bagaimana Ia membela umat yang teraniaya dan memulihkan mereka dari segala dukacita. Oleh sebab itu, umat akan merespons dengan ucapan syukur serta memuliakan Tuhan Allah. Meskipun demikian jika kita melihat konteksnya, ada hal yang menarik, yaitu di awal umat Yehuda sedang dalam pergumulan, mereka lupa untuk berserah dan memohon pertolongan kapada Tuhan Allah. Seakan-akan mereka lebih percaya kepada bangsa asing dan kemampuan mereka sendiri. Oleh sebab itu, Yesaya menasihati kedua raja Yahuda (Ahas dan Hizkia) itu untuk percaya kepada Tuhan Allah saja sebagai pelindung mereka (Yes. 7:3-7; Yes. 30:1-17).

Melalui Kitab Yesaya ini, kita diingatkan agar tetap mengandalkan Tuhan dalam segala kehidupan kita. Bukan kekuatan diri kita sendiri ataupun hal apapun di dunia. Hanya Tuhanlah yang akan memberikan kelegaan dan memiliki rancangan yang terbaik bagi kita umat-Nya. (Yes. 25: 1).

Sedangkan di dalam kita menggumuli Surat Paulus kepada Jemaat Filipi (Filipi 4: 1-9), kita diajak untuk masuk dalam konteks Jemaat Filipi. Mereka ada dalam keadaan teraniaya oleh Romawi dan mendapatkan tekanan dari kaum Yudais (Keturunan Yahudi) yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Hal ini diperparah lagi dengan kemungkinan terjadinya peselisihan dan perpecahan di dalam tubuh jemaat. Oleh sebab itu, di awal-awal suratnya Paulus pun menyerukan pesan persatuan (Fil. 2:1-11). Prinsipnya Paulus memberikan perhatian sekaligus pesan pastoral kepada jemaat Filipi di tengah pergumulan yang mereka alami.

Terkhusus pada perikop kita saat ini (mendekati penutup surat), Rasul Paulus memberikan penekanan pesan dan penguatan kepada Jemaat Filipi. Jika dirumuskan pesan-pesan Paulus ialah sebagai berikut:

  1. Berdiri teguh di dalam Tuhan (Filipi 4:1)
  2. Membangun dan mengupayakan relasi yang harmonis (Filipi 4:2-3)
  3. Bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 4:4)
  4. Jangan khawatir (Filipi 4:6a)
  5. Damai sejahtera Allah, melampaui segala akal (Filipi 4:7)
  6. Kebenaran adalah kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8)
  7. Melakukan segala ajaran Tuhan, Allah sumber damai sejahtera akan menyertai (Filipi 4:9).

Penutup
Sebagai penutup renungan kita pada saat ini, saya mengajak kita untuk berefleksi:

  1. Kita adalah pribadi yang spesial di hadapan Tuhan, sehingga kita pun turut diundang-Nya dalam pesta keselamatan dalam Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, marilah kita menerima undangan Tuhan itu dengan penuh sukacita dan syukur, serta datang ke hadirat-Nya dengan cara tetap setia dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.
  2. Sebagaimana jemaat mula-mula, seperti di kota Filipi, kehidupan beriman tidak berarti terlepas dari tantangan dan pergumulan dunia. Entah itu bersifat personal maupun komunal dalam persekutuan. Namun hendaknya kita tetap bersyukur dan bersukacita di dalam Tuhan. Karena Tuhan tidak akan membiarkan persoalan itu berlarut-larut. Pertolongan dan damai sejahtera Tuhan akan terus menyertai kita.
  3. Terakhir, marilah kita mengandalkan Tuhan di setiap usaha dan perjuangan kita. Kita percaya bahawa Tuhan akan memberikan kemenangan dan sukacita. Karena hanya Dialah sumber keselamatan kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin. [PY]

 

Pujian: KJ. 357  Dengar Panggilan Tuhan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing antawis kita tamtu nate ngrawuhi acara pahargyan/hajatan/pesta. Mesthinipun ing pahargya punika kacawisaken mawerni-werni tetedhan, hiburan, lan macem-macem prekawis ingkang nambah raos bingah kangge para tamu. Mekaten kangge ingkang kagungan pesta punika tamtu ngraosaken bingah menawi para tamu undanganipun karsa rawuh lan ngraosaken bingah salebeting pesta punika. Piyambakipun ngraosaken dipun ajeni kaliyan para tamunipun.

Nanging kados pundi pangraos kita, menawi kita ingkang kagungan pesta punika sumerep bilih para mitra, sanak sadherek, lan tiyang-tiyang ingkang kita ulemi kangge ngrawuhi acara punika malah mboten rawuh. Tamtu badhe nuwuhaken raos kuciwa malah saged ugi duka/nesu. Mboten namung amargi sadaya ingkang sampun dipun cawisaken kraos nglaha/sia-sia nanging ugi rumaos menawi para tamu undangan punika mboten ngurmati lan ngajeni kita ingkang kagungan pesta punika. Kamangka kita mesthi milih tiyang-tiyang ingkang kita anggep prayogi kangge dipun ulemi, kados ta sanak sedherek, rekan sekerja, utawi tiyang ingkang nggadhahi hubungan emosional kaliyan kita.

Isi
Kirang langkung mekaten gambaran umum anggen kita maos Injil Mateus 22:1-14, kita dipun-ajak ngraosaken pangraosipun Gusti Allah, nalika Panjenenganipun nimbali/ngundang umat kekasih-Ipun supados tumut lan suka bingah lumebet ing Kratoning Allah. Ingkang dipun umpamikaken kaliyan pesta perkawinan. “Undangan” ingkang dipun dawuhaken Gusti Yesus ing salebeting pasemon punika undangan kangge nampi kawilujengan saking Putranipun Manungsa, inggih punika Gusti Yesus piyambak. Nanging ing kasunyatanipun, undangan punika mboten dipun tanggepi kanthi sae. Malahan langkung ngutamiaken bab sanesipun, wonten ingkang makarya ing pategalan, dagang, lan sanesipun. Kados punapa ingkang sampun kula contohaken ing wiwitan bilih tiyang ingkang kagungan pesta punika tamtu ngraosaken kuciwa lan duka awit tiyang dipun ulemi mboten dumugi, ingkang dados pratanda bilih tiyang punika mboten ngajeni tiyang ingkang nindhakaken pesta punika. Mestinipun mekaten ingkang dipun raosaken dening Gusti Allah, ing sadengah sih lan kamirahan-Ipun karsa ngundang umat manungsa kangge nampeni kabingahaning Kraton Suwarga, nanging manungsa sami selak lan sumingkir. Pramila kita saged bayangaken kados pundi raos kuciwa lan dukanipun Gusti Allah, nalika umat-ipun selak saking timbalan-Ipun.

Menawi kathah bab ingkang dados alesan manungsa selak saking timbalanipun Gusti, wonten ingkang rumaos bab punika mboten wigatos. Utawi amargi piyambakipun langkung ngutamiaken bab-bab kadonyan, kados pandamelan, karir, lsp. Bab punika nedahaken dhateng kita bilih asring kita punika langkung milih bab kadonyan tinimbang nampeni timbalanipun Gusti Allah, tetunggilan kaliyan Panjenenganipun. Kita langkung ngutamiaken kadonyan tinimbang Kratoning Swarga.

Kejawi punika, kasunyatanipun wonten tiyang ingkang wiwit mula sampun nampi undangan/timbalanipun Gusti, nanging selajengipun piyambakipun mboten kuwawi njagi dhiri wonten ngarsanipun Gusti, ing salebeting pahargyan kawilujengan Kratoning Swarga. Kados ingkang kaserat wonten ing ayat 12, pramila Gusti paring paukuman, mbucal tiyang punika ing panggenan ingkang peteng lan tinemu panangis ugi keroting waja (Ay. 13). Punika ngemutaken dhateng kita bilih wonten tiyang Kristen ingkang mboten konsistenan gesangipun. Pancen leres piyambakipun sampun dipun baptis, dipun sidi/luwar tanggel, KTP-ipun kaserat Kristen nanging piyambakipun malah nilaraken Gusti Yesus, tumindakipun jahat lan damel dosa tanpa nggetuni tumindakipun. Pribadi ingkang kados mekaten, kagem Yesus sanes pribadi ingkang prayogi tumut saha lumebet ing “pesta perkawinan”, inggih punika nampi kawilujengan swarga langgeng. Malah Gusti Yesus ngandika ing ayat 14, “Sabab akeh kang tinimbalan, nanging mung sathithik kang pinilih.”

Salajengipun sumangga kita sami mirsani waosan kapisan, inggih punika Yesaya 25:1-9. Ing bab punika, nedahaken seratan kabingahan lan saos sokur nabi Yesaya awit pakayanipun Gusti Allah ingkang paring pitulungan dhateng bangsa Yehuda lan ngancuraken mengsahipun. Pakaryanipun Gusti Allah, inggih punika mbelani umat ingkang ngraosaken panganiaya lan mulihaken umat-Ipun saking sadaya kasisahan. Pramila, umat ngrespons kanthi saos sokur saha ngunjukaken kamulyan kagem Gusti Allah. Nanging menawi kita ningali konteks-ipun Kitab Yesaya, wonten bab ingkang wigati, ing wiwitanipun bangsa Yehuda saweg nandang karibetan lan pakewet gesang. Bangsa Yehuda kesupen kangge pasrah lan nyuwun pitulungan dhumateng Gusti Allah. Kadosipun bangsa Yehuda langkung pitados kalih bangsa asing lan kakiyatanipun piyambak. Pramila, nabi Yesaya paring pitutur dhateng ratuning Yehuda (Ahas lan Hizkia), supados tansah pitados Gusti awit namung Panjenenganipun ingkang dados benteng pangayomanipun para umat (Yes. 7:3-7; Yes. 30:1-17).

Lumantar Kitab Yesaya punika, sapisan malih kita dipun engetaken supados tetep ngandelaken Gusti Allah ing salebeting pigesangan kita. Sampun ngantos kita namung ngandelaken kakiyatan dhiri piyambak utawi punapa kemawon wonten ing donya punika. Namung Gusti Allah kemawon ingkang maringi pangluwaran lan kagungan rancangan ingkang endah dhateng kita umat-Ipun (Yes. 25:1).

Dene ing salebeting kita ngraosaken seratipun Paulus dhateng Pasamuwan ing Filipi (Filipi 4:1-9), kita dipun-ajak kangge mlebet ing salebeting konteks Pasamuwan Filipi. Inggih punika kawontenan ingkang kebak panganiaya bangsa Romawi lan ugi dipun mungsuhi kaliyan kaum Yudais (turunipun bangsa Yahudi) ingkang dereng pitados dhumateng Gusti Yesus. Mboten namung punika kemawon, wonten ing salebeting pasamuwan ugi wonten crah lan raos memungsuhan. Pramila, wonten ing wiwitan seratipun, Paulus nggih ngengetaken bab “patunggilan” (Fil. 2:1-11). Paulus mujudaken kawigatosan lan ngiras pesen pastoral dhateng Pasamuwan Filipi wonten ing sadengah prekawis ingkang dipun adepi.

Ing perikop kita (Filipi 4:1-9), Rasul Paulus paring piwulang lan panguatan kangge Pasamuwan Filipi. Menawi kita rumusaken piwulangipun Rasul Paulus inggih punika:

  1. Padha disantosa ana ing Gusti (Filipi 4:1)
  2. Mbangun lan mbudidaya relasi ingkang harmoni (Filipi 4:2-3)
  3. Swawi sami bebungah ing Asmanipun Gusti (Filipi 4:4)
  4. Sampun kuwatos ing pigesangan kita (Filipi 4:6a)
  5. Tentrem rahayu ingkang saking Gusti Allah ngungkuli saliring budi (Filipi 4:7)
  6. Gesang ing kaleresan punika kabacikan ingkang pantes dipun alem (Filipi 4:8)
  7. Nindakaken piwulangipun Gusti, Gusti Allah Sang Sumbering Tentrem Rahayu tansah nganthi (Filipi 4:9).

Panutup
Kangge panutupan reraosan kita, kula ngajak kita sadaya sinau malih bab:

  1. Kita punika pribadi ingkang spesial wonten ing ngarsanipun Gusti. Pramila kita dipun undang/timbali saged bebingah sesarengan ing salebeting pahargyan pesta Kratoning Allah. Pramila, sumangga kita tampeni timbalanipun Gusti punika kanthi kebak kabingahan lan saos sokur. Kita ugi sumadya marek sowan ing ngarsanipun Gusti kanthi cara setya tuhu pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus.
  2. Kadosdene pasamuwan ing wiwitan, ing Filipi, gesang ing kapitadosan punika mboten ateges kita badhe uwal saking sadaya prekawising jagad. Duka asipat pribadi utawi patunggilan. Sanadyan mekaten, swawi kita tansah saos sokur lan kebak kabingahan ing dalem Asmanipun Gusti. Awit Gusti Allah mboten badhe negakaken kita gesang ing pacoben. Pitulungan-Ipun lan tentrem rahayu tansah nganthi gesang kita.
  3. Ingkang pungkasan, sumangga kita tansah ngandelaken Gusti Allah ing samubarang pambudidaya kita. Kita pitados Panjenenganipun tansah maringi kita kemenangan lan kabingahan awit namung Panjenenganipun ingkang dados sumbering kawilujengan gesang kita. Gusti Yesus mberkahi kita sadaya. Amin. [PY].

 

Pamuji: KPJ. 53  Kapyarsi Gusti Nimbali

Renungan Harian

Renungan Harian Anak