Berkarya Dengan Cinta Khotbah Minggu 17 November 2019

4 November 2019

Minggu Biasa XXII
Stola Hijau

Bacaan 1 : Maleakhi 4 : 1 – 2a
Bacaan 2 : 2 Tesalonika 3 : 6 – 13
Bacaan 3 : Lukas 21 : 5 – 19

Tema Liturgis : Tinggalkan Kebiasaan Buruk dan Gantikan dengan yang Baik
Tema Khotbah: Berkarya dengan Cinta

Keterangan Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Maleakhi 4 : 1 – 2
Kitab Maleakhi ditulis dalam abad kelima sebelum Masehi, sesudah Rumah Allah di Yerusalem dibangun kembali. Kitab ini dimaksudkan untuk mendorong para imam dan umat Israel supaya membaharui kesetiaan mereka kepada perjanjian dengan Tuhan. Tuhan akan datang untuk mengadili dan menyucikan umatNya. Ia akan mengirim utusan-Nya untuk menyiapkan jalan dan mewartakan perjanjian Tuhan.

Tesalonika 3 : 6 – 13
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika mengajak untuk tekun dan giat dalam bekerja sesuai bidang pekerjaanya masing-masing. Walaupun Paulus dalam kunjunganya diterima dengan baik bahkan dicukupi kebutuhanya sebagai wujud penghargaan dan penghormatan (8,9) tetapi Paulus tidak serta merta memanfaatkan begitu saja kebaikan jemaat Tesalonika ini, melainkan ia tetap bekerja siang malam. 10b, jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan. Paulus ingin mengajarkan kepada jemaat Tesalonika bahwa Allahpun senantiasa berkarya menyelamatkan dan dalam diri Yesus Kristus pekerjaan penyelamatan Allah dinyatakan.

Lukas 21 : 5 – 19
Lukas mengemukakan Yesus mengajar dalam Bait Allah dan ini merupakan penampilanNya yang terkahir di Bait Allah. Pernyataan mengenai kehancuran Bait Allah yang dihubungkan dengan akhir dunia. Ketakutan dan pengharapan akan membuat orang peka terhadap pesan-pesan palsu. Mereka akan menujuk kepada tanda-tanda apokaliptik (perang, gempa bumi, penyakit) untuk menunjukkan bahwa akhir dunia sudah mendekat. Yesus sudah pernah mengatakan bahwa usaha untuk memperhitungkan akhir dunia adalah tidak seorangpun yang tahu (Luk. 17:20-32) bahkan kapan hari atau waktunya. Hendaknya jangan gelisah mengenai apa yang harus mereka katakan. Para pengikut Yesus harus memikul salib dalam perjalanan ke Kalvari seperti yang Ia lakukan. Kiasan-kiasan ini mengenai perlindungan yang sangat spiritual terhadap mereka yang menderita penganiayaan demi Yesus.

Benang Merah Tiga Bacaan
Menciptakan kebiasaan baik tidaklah sulit kalau kita juga mengatakan mudah. Menciptakan kebiasaan baik membutuhkan pengorbanan usaha, waktu, tenaga dan berproses. Berbeda dengan menciptakan kebiasaan buruk, terkadang hanya dengan melihat atau mendengarkan maka bisa dengan cepat manusia menciptakan kebiasaan buruk. Banyak kebiasaan yang sebenarnya diawali sejak manusia lahir. Salah satunya adalah dengan bekerja. Mengubah kebiasaan kerja yang buruk menjadi kebiasaan bekerja yang baik. Karena baik buruknya seseorang bekerja pasti itu juga akan mempunyai dampak bagi diri manusia.

 

Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia

Pendahuluan
Tubuh manusia memiliki mekanisme mengingat sesuatu yang dilakukan berulang kali dan menganggapnya sebagai sesuatu yang normal yang dinamakan dengan kebiasaan. Mengingat dan mengulang-ulang dimulai dari manusia lahir di dunia ini. Untuk bisa menjalani hidupnya maka manusia harus mengingat dan mengulang. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani. Ketika kita membiasakan diri melakukan suatu kebiasaan baik maka lama-kelamaan kita akan terbiasa melakukan kebaikan. Begitu pula dengan kebiasaan buruk, seperti yang dikatakan Ibrani 10:25a, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, …”. Pada awalnya mereka mungkin tidak bermaksud menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Tapi karena mereka membiasakan diri melakukannya, hari demi hari, minggu demi minggu, sampai bulan berganti bulan dan akhirnya tahun berganti tahun, akhirnya mereka pun benar-benar menghilang dari persekutuan.

Untuk memulai kebiasaan yang baik dapat kita lakukan melalui berkarya/bekerja setiap hari. Kita mengawali hari kita dengan doa, menyerahkan segala pekerjaan dan tugas kita kepada Allah. Kita membangun pola pikir dan cara pandang yang baik, yang positif. Kita membiasakan diri untuk berlaku disiplin, tertib dan bertanggungjawab dengan segala pekerjaan dan tugas yang dipercayakan pada kita.

Pada bacaan kita yang kedua, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika memberikan penjelesan bagi kita untuk menyadari apa arti berkarya. Paulus mengajak jemaat Tesalonika untuk tekun bekerja sesuai bidang pekerjaan mereka masing-masing. 2 Tes 3:10b menyebutkan, ”jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”. Bekerja adalah hal yang penting bagi manusia. Mengapa? Hal ini dikarenakan Allahpun senantiasa berkarya menyelamatkan manusia. Dalam diri Yesus Kristus perkerjaan penyelamatan Allah dinyatakan. Artinya Yesus telah menyelesaikan karya-Nya di dunia. Hal ini hendaknya mengingatkan, menghibur dan menguatkan bagi kita untuk terus bekerja dengan penuh semangat dan tanggungjawab.

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, ”Apa yang kamu lihat di situ—akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya, ”Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, ”Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata, “Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.” Ia berkata kepada mereka: ”Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.” Lalu bagaimana sikap kita ?

Sikap paling baik adalah menyerahkan hidup kita setiap saat kepada Tuhan. Kapan pun itu terjadi bukanlah suatu masalah. Tugas kita hanyalah bekerja/berkarya melakukan yang terbaik setiap hari dengan baik. Tentang kapan hidup kita berakhir, cepat atau lambat hidup kita, kita senantiasa pasrah kepada Tuhan. Ada banyak hal yang tidak bisa kita prediksi dalam hidup ini. Jangankan soal kedatangan Yesus yang kedua, kadangkala untuk memprediksi apa yang akan terjadi esok hari pun kita tak bisa mengetahuinya. Hari-hari kita dipenuhi oleh misteri dan ketidakpastian. Tugas kita adalah menyelesaikan tugas hidup yang menjadi tanggung jawab kita sebaik-baiknya. Setiap hari setiap waktu terus berkarya melakukan yang terbaik.

Sebagai orang percaya, kita memang yang tidak bisa memprediksi akan hari besok, masihkah kita bisa makan atau tidak? Masih sehat ataukah sakit? Hidup atau mati? Namun kita memiliki keyakinan bahwa kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini. Kita harus selalu yakin bahwa Tuhan terus memelihara dan menjagai hidup kita. Ini adalah cara menjalani hidup yang sangat sederhana, yaitu kita menjalaninya dengan selalu percaya dan bersandar kepada Tuhan Sang Sumber Kehidupan kita.

Penutup
Tanam sesuatu yang baik ke dalam hidup kita hari ini, dan kita akan menuai sesuatu yang baik di masa depan. Tanam sesuatu yang buruk ke dalam hidup kita hari ini, maka kita akan menuai sesuatu yang buruk di masa depan. Jika kita memilih untuk membiasakan diri membaca Alklitab hari ini, suatu hari nanti kita akan kuat dan mampu menghadapi setiap persoalan yang terjadi dalam hidup kita. Sebuah kejujuran, ya rasanya sangatlah sulit mengalahkan kebiasaan-kebiasaan buruk di dalam hidup kita. Dan rasanya juga sangatlah sulit untuk memulai kebiasaan baik yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan. Jadi bagaimana caranya kita dapat mengalahkan kebiasaan–kebiasaan buruk kita dan memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik di dalam hidup?

Pertama, meminta pertolongan Tuhan. Bertarunglah dalam pertarungan iman yang baik. Jangan biarkan apapun atau siapapun dimuka bumi ini menguasai kita. Sikap kita seharusnya adalah, ”Sudah cukup. Aku tidak akan tinggal di tempat dimana aku berada saat ini. Aku akan naik. Aku tahu bahwa aku jauh lebih baik dari ini”. Memulai kebiasaan baru adalah hal yang sulit. Namun mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik itu mudah. Kita hanya perlu menentukan kebiasan apa yang ingin kita ubah. Setelah itu mencari solusinya. Memulai suatu kebiasaan (baik ataupun buruk) tentu membutuhkan waktu dan usaha. Tapi ketika itu sudah mendarah daging barulah kita merasakan manfaat atau kerugiannya. Karena itu tentukanlah kebiasaan apa yang akan kita kembangkan dalam diri kita hari ini. Apakah kebiasaan baik atau kebiasaan buruk?

Bila kita setia dalam iman dan berani menunjukkan serta mewartakan cinta Allah dalam hidup, apa pun konsekwensinya kita menikmati kemenangan. Lukas 21:19, ”Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu”. Wartakanlah cinta Allah melalui setiap karya kita. Amin. (TKN).

Pujian : KJ. 426 : 1, 2

Rancangan Khotbah : Basa Jawi

Pambuka
Badaning manungsa punika nggadhahi mekanisme kangge ngenget-enget tumindak ingkang kelampahan bola-bali lan nganggep punika ingkang dipun wastani kebiasaan. Kangge mlampahi tumindak gesangipun manungsa kedah ngenget lan ngimbali tumindakipun. Perkawis ingkang sami ugi katindakaken ing pigesangan karohanen. Nalika kita biasa nglampahi tumindak gesang ingkang sae, lami-lami kita biasa nindakaken kasaenan. Mekaten ugi kaliyan kebiasaan ingkang awon, kados ingkang kaserat ing Ibrani 10:25a, “Kita aja ngedohi pakumpulan-pakumpulan pangibadah kita, kaya pakulinane sawenehing wong, …” . Ing wiwitan tiyang punika boten nggadhahi maksud nebih saking pakumpulan pangabekti, ananging karana kebiasaan boten nate nderek kempalan, dinten gantos dinten, minggu gantos minggu, ngantos sawulan, setahun, pungkasanipun piyambakipun ical saling pakempalan.

Kangge miwiti kebiasaan ingkang sae saged kita lampahi sarana pakaryan/nyambut damel saben dintenipun. Kita wiwiti kanthi dedonga saderengipun makarya, masrahaken sedaya pendamelan lan pakaryan kita dateng Gusti Allah. Kita mbangun pola pikir lan cara pandeng ingkang sae lan positif. Kita nyupaya supados biasa tumindak disiplin, tertib lan tanggeljawab dumateng sedaya ayahan pendamelan lan tugas ingkang sampun dipun pasrahaken dateng kita.

Ing waosan kita ingkang kaping kalih, Rasul Paulus nyerat layangipun dateng pasamuan Tesalonika kanthi penjelasan punapa artosipun makarya punika. Paulus ngajak pasamuan ing Tesalonika supados temen anggenipun makarya laras kaliyan bidang pendamelanipun piyambak-piyambak. Ing 2 Tes 3: 10b nyebataken, “Wong kang ora gelem nyambut gawe iku iya aja mangan.” Makarya punika perkawis ingkang wigati kangge manungsa. Kenging punapa? Karana Gusti Allah sampun makarya nyelametaken manungsa saking dosa lumantar Gusti Yesus. Gusti Yesus ngrampungaken pakaryanipun ing donya kanthi masrahaken nyawanIpun. Perkawis punika tansah ngegetaken dateng kita supados tansah makarya kanthi semangat lan tanggeljawab ing salebeting gesang kita.

Nalika sawetawis tiyang sami wicantenan bab Padaleman suci lan ngagumi bangunan punika ingkang dipun hiasi kaliyan selo ingkang endah lan mawerni-werni pisungsung, Gusti Yesus ngendikan, “Apa kang padha kok deleng iku bakal tumeka ing wektu ora ana watu siji bae kang lestari tumumpang ing watu liyane, kabeh bakal padha digempur.” Lajeng para sakabat ngaturi pitakenan dateng Gusti Yesus, “Guru benjing punapa kalampahanipun punika? Saha punapa ngalamatipun manawi punika badhe kalampahan? Atur wangsulanipun Gusti Yesus, ”Sing padha waspada, supaya kowe aja nganti disasarake. Amarga bakal ana wong akeh kang padha teka nganggo jenengKu lan calathu : Iya aku iki Panjenengane lan iki wus ndungkap wektune. Kowe aja ngetut buri wong-wong iku. Sarta menawa kowe krungu pawarta bab peperangan lan kraman, aja padha kaget. Awit iku kabeh mesthi kudu kalakon dhisik, ewadene iku durung ateges, yen bakal enggal tumeka ing wekasaning jaman.” Panjenenganipun lajeng ngendika dateng tiyang-tiyang wau, “Bakal ana bangsa kang nglawan padha bangsa. Karajan nglawan padha karajan, lan bakal ana lindhu kang nggegirisi sarta ing kana kene bakal ana pageblug pes lan pailan, apadene bakal kalakon uga ana bab-bab kang ngagetake tuwin ilapat-ilapat kang nggegirisi saka ing langit.” Lajeng kados pundi sikap kita ?

Sikap ingkang paling prayogi inggih punika kita masrahaken sawetah gesang kita ing ngarsaning Gusti. Kapan pun bilih kedadosan pungkasan jaman punika kelampahan boten dados masalah. Tugas kita inggih namung nglampahi gesang kanthi tumindak gesang ingkang sakleresipun. Perkawis kapan pungkasaning gesang kita, sedaya namung kita pasrahaken ing Astaning Gusti Allah. Kathah perkawis ingkang boten saged kita prediksi ing gesang punika, sampun ngantos bab rawuhipun Gusti Yesus ingkang kaping kalih, kangge prediksi punapa ingkang badhe kelampahan ing ngajeng, kita boten mangertos punapa-punapa. Dinten-dinten punika namung kebak misteri ingkang boten pasti, tugas kangge kita nindakaken sedaya ayahaning gesang kanthi tanggel jawab lan pitados dateng Gusti. Kita boten mangertos, punapa benjing kita taksih saged nedha punapa boten, nanging kita kedah nggadhah keyakinan, kasisahan sedinten cekap kangge dinten punika. Kita kedah yakin Gusti Yesus tansah ngrimati gesang kita.

Panutup
Swawi kita sami nanem bab kabecikan ing gesang dinten punika. Awit ing tembe dinten mangke kita badhe nampi kabecikan. Kosokwangsulipun bilih kita nanem kacilakan, ing tembe dinten kita badhe ngalami kacilakan. Bilih kita milih kebiasaan maos Kitab suci saben dinten, ing tembe dinten mangke nalika kita ngadepi perkawis ingkang ewet, kita saged kiat ngadepi perkawis punika. Sajujuripun pancinipun raosipun ewet ngalahaken kebiasaan-kebiasaan awon ing gesang kita. Mekaten ugi ewet kangge miwiti kebiasaan ingkang sae ingkang saderengipun dereng nate kita tindakaken. Lajeng kados pundi caranipun supados kita saged ngawonaken kebiasaan-kebiasaan awon lan kita nggadhahi kebiasaan-kebiasaan ingkang sae ing gesang punika?

Kaping sepisan, kita nyuwun pitulungan dateng Gusti Allah. Swawi sami tanding ing pertandingan iman ingkang sae. Sampun ngantos sinten lan punapa kemawon ing donya punika nguwasani kita. Sikap kita punika, ”Sampun cekap. Aku ora bakal manggen neng papan ku sing saiki. Aku bakal mungah. Aku ngerti yen aku kudu luwih apik tinimbang dina iki.”

Kaping kalih, miwiti kebiasaan ingkang enggal pancinipun ewet, ananging ngubah kebiasaan awon dados kebiasaan sae punika gampil. Kita namung perlu nentuaken kebiasaan punapa kemawon ingkang kedah kita ubah. Sak sampunipun lajeng pados solusinipun. Miwiti kebiasaan ingkang sae betahaken wektu lan usaha. Nanging bilih kebiasaan punika sampun mendarahdaging kita sadar manfaat itu. Karana punika kita kedah nentuaken kebiasaan punapa ingkang kita kembangaken dinten punika. Kebiasaan sae punapa kebiasaan awon?

Bilih kita setya tuhu ing iman lan wantun martosaken katresnaning Gusti Allah salebeting gesang kita, punapa kemawon akibatipun kita badhe nampi kemenangan. Lukas 21 : 19 nyebatkaken, “Menawa kowe padha tetep mantep kowe bakal padha nampani uripmu”. Swawi kita sami martosaken sih katresnaning Gusti lumantar pakaryan kita. Amin (AR).

Pujian : KPJ. 346A.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak