Hidup Itu Untuk Sesama Khotbah Minggu 10 November 2019

29 October 2019

Minggu Biasa XXI
Stola Hijau

 

Bacaan 1         :  Ayub 19 : 23 – 27a
Bacaan 2
         :  2 Tesalonika 2 : 1 – 5, 13 – 17
Bacaan 3
         :  Lukas 20 : 27 – 38

Tema Liturgis  :  Tinggalkan Kebiasaan Buruk dan Gantikan dengan yang Baik
Tema Khotbah
:  Hidup Itu Untuk Sesama

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) 

Ayub 19 : 23 – 27a

Ayub ingin ada orang yang menuliskan kata-katanya, agar selalu diingat orang siapa Ayub itu. Mungkin ini buku sangat kuno yang ada sekarang. Ayub ingin percakapannya dengan teman-temannya tentang Tuhan, tercatat dengan baik.  Ayat 25-27 merupakan ayat yang penting. Kalau di ayat lain Ayub mengutarakan masalah, ketakutan dan keraguannya, disini dijelaskan alasan mengapa dia masih menpunyai harapan.

Di ayat lain dia ragu akan keyakinannya sendiri. Dia berdoa namun ragu apakah Tuhan akan menolongnya. Di ayat ini keyakinannya menguat kembali. Di ayat lain Ayub meyakini bahwa kematian merupakan akhir dari segalanya. Orang mati tidak mungkin hidup kembali. Namun di ayat-ayat ini Dia yakin bahwa Tuhan bisa membuat orang mati hidup kembali.  Ayub percaya bahwa dia akan bertemu Tuhan.

Ayub sadar bahwa dirinya akan mati, namun itu bukan akhir dari segalanya. Setelah kematiannya, dia akan melihat Tuhan. Saat seperti itu sangat dinantikannya.

2 Tesalonika 2 : 1 – 5, 13 – 17

Paulus, Silas dan Timotius sudah mengajar orang Tesalonika bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali. Sebelum kedatanganNya, orang Kristen akan mengalami banyak kesengsaraan. Namun ketika DIA datang, semua orang percaya – hidup maupun mati – akan diangkat untuk tinggal bersamaNYA.

Ada orang lain yang mengajarkan bahwa Hari Tuhan itu sudah datang. Hal ini mengacaukan umat Kristen di Tesalonika. Semesthinya mereka tidak mempercayai kabar yang bukan dari Paulus, Silas atau Timotius.

Dua hal akan terjadi sebelum Hari Tuhan, banyak orang akan berpaling dari Tuhan dan orang-orang jahat akan datang. Namun Tuhan akan menghancurkan kejahatan mereka. Tuhan akan menghancurkan mereka yang menuhankan dirinya

Penulis bersyukur atas penyertaan Tuhan kepada orang Tesalonika. Tanpa penyertaan dan kasih Tuhan, tidak mungkin orang Tesalonika selamat. Penyertaan Tuhan itu sebuah anugerah.

Lukas 20 : 27 – 38

Saduki adalah satu kelompok di dalam agama Yahudi. Imam kepala dan banyak imam lain adalah orang Saduki. Orang Saduki berbeda dengan orang Farisi. Mereka percaya Taurat, lima kitab pertama Perjanjian Lama, namun tidak percaya akan kehidupan setelah kematian.

Orang Saduki bertanya kepada Yesus. Pertanyaannya dimulai dengan persoalan, ada seorang wanita kawin dengan tujuh bersaudara secara berurutan. Ketujuh suaminya itu mati berurutan sebelum wanita itu mati. Mereka tidak mempunyai anak. Pertanyaannya, di antara tujuh orang itu siapa yang akan menjadi suami wanita itu di kehidupan setelah kematian semuanya (lihat hukum di kitab Ulangan 25:5-6).

Yesus menjawab, bahwa kehidupan setelah kematian itu berbeda dengan kehidupan sebelum kematian. Dalam kehidupan baru itu tidak ada kawin mawin. Bukan hanya itu, dalam kehidupan baru itu juga tidak ada kematian lagi. Hidup bersama Allah itu abadi. (lihat juga Matius 22:29; Markus 12:24 dan Keluaran 3:1-6). Allah bersama umatNYA selamanya. 

Benang Merah Tiga Bacaan :

Kehidupan setelah kematian itu mungkin karena Allah Mahakuasa. Bukan hanya Mahakuasa, Allah itu juga Mahakasih, dan itu nampak dalam karya keselamatanNYA untuk manusia. Hidup sejati bersama Allah itu abadi, tanpa batas-batas.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia
[Kembangkan rancangan khotbah ini sesuai konteks jemaat] 

Pendahuluan

Dalam suatu Sidang Majelis Agung GKJW, hadir seorang tamu undangan dari Universitas Airlangga Surabaya. Dalam ceramahnya, diterangkan apa yang disebut dengan negarawan. Beliau memberikan gambar siapa yang layak disebut seorang negarawan. Undangan tersebut bercerita:

Ada seorang kakek tua yang mempunyai kesenangan menanam. Suatu hari kakek itu menanam pohon yang diperkirakan hasilnya lama baru bisa dipetik. Seseorang datang dan menyapa, mengapa kakek menanam pohon yang hasilnya lama baru bisa dipetik. Maksud orang tersebut, sang kakek hampir pasti tidak akan dapat menikmati hasil tanamannya. Apa jawab sang kakek? Kakek itu mengatakan, bahwa dia menanam pohon itu bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk anak cucunya.

Tamu undangan Sidang tersebut ingin memberikan gambaran bahwa seorang negarawan itu berjuang untuk bangsanya, dan bukan pertama-tama untuk dirinya sendiri. Para pahlawan bangsa Indonesia juga berjuang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk keluarganya, kampungnya, negara dan bangsanya.

Isi

Ayub dan Paulus memberikan gambaran kepada kita bahwa masa depan itu tidak terbatas pada kematian. Masa depan umat yang dikasihi Allah itu adalah anugerah, yang diberikan semata karena kuasa kasih Allah. Keyakinan ini memberikan kepastian kepada kita bahwa keabadian itu mungkin dan disediakan Allah bagi umatNYA. Akibat dari keyakinan ini, maka hidup ini bukan hanya untuk hari ini saja. Hidup ini untuk selamanya. Tidak ada tempat bagi orang untuk kuatir tentang dirinya. Tidak ada tempat bagi orang untuk memikirkan dirinya sendiri. Kematian bukan akhir dari hidup manusia. Sifat Tuhan yang sungguh-sungguh memikirkan manusia sampai kekekalannya, meneladani kita untuk hidup bukan untuk diri sendiri.

Hal ini bertentangan dengan cara hidup orang Saduki, yang tidak percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Pertanyaan mereka kepada Yesus menggambarkan bahwa pusat pikiran mereka ada pada diri sendiri, kepemilikan dan sama sekali bukan pada orang lain. Yesus berbeda dengan orang Saduki. Yesus hidup untuk orang lain. Pusat pikiran Yesus adalah manusia yang dikasihiNYA. Seluruh hidup Yesus adalah untuk manusia, bahkan nyawaNYApun untuk manusia. Pikiran (dan hati) Yesus tidak dibatasi oleh apapun.

Penutup

Di Hari Pahlawan ini ini kita diajar untuk belajar menjadi Negarawan. Berpikir bukan mulai dari diri sendiri. Dari Sabang sampai Merauke ada pahlawan-pahlawan yang memberi teladan kepada keluarganya, kampungnya dan bangsanya untuk hidup demi sesama.

Cara hidup yang demikian bisa terjadi kalau orang tidak segan untuk repot, tidak putus asa, punya harapan besar dan keyakinan kuat seperti Ayub dan Paulus, Silas atau Timotius.

Dalam arti tertentu, Tuhan kita itu unik. Dia senang dengan kerepotan mengurusi manusia, bahkan sampai mati ngurusi manusia. Bukan hanya berbuat dan bertindak, Dia juga repot menjelaskan bagaimana Dia itu cinta luar biasa kepada manusia. Saya pikir, itulah contoh bahagia yang sejati dan abadi. (DLS)

Pujian  :  KJ.  19

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Sawatawis taun kepengker, ing nalika Sidang Majelis Agung GKJW, wonten pirembagan bab punapa ingkang dipun wastani “Negarawan” punika. Tamu undangan saking Universitas Airlangga ingkang sesorah, paring gegambaran makaten:

Wonten setunggaling priyantun sepuh ingkang remenipun tandur-tinandur. Satunggaling dinten priyantun sepuh kalawau nanem tanduran langka ingkang mesthinipun kedah dangu ngrantosipun mangke sakderengipun saged ngunduh asilipun. Ningali kawontenan ingkang makaten, satunggaling tangginipun matur pitaken, kenging punapa simbah punika nanem tanduran ingkang asilipin dangu nembe saged dipun undhuh. Menawi makaten,  mesthi simbah kalawau mboten saged ngraosaken asillipun, awit yuswanipun sampun sepuh sanget. Nampi pitakenan ingkang makaten, kadospundi paring wangsulanipun simbah? Priyantun sepuh kalawau paring keterangan, bilih anggenipun nanem wit langka kalawau mboten kangge sariranipun pribadi, nanging kangge anak putunipun.

Cariyos saking undangan sidang kalawau nggambaraken punapa ingkang dipun maksud tembung Negarawan punika. Negarawan mboten sanes inggih punika tiyang ingkang leladi dhumateng bangsa lan negarinipun kanthi ikhlas, tanpa pamrih. Keleresan dinten punika dinten Pahlawan kangge kita ing Indonesia. Inggih kados para pahlawan punika anggenipun berjuang toh pati nglabuhi kamardikanipun bangsa, tanpa pamrih. Ingkang dipun maksud negarawan punika inggih kados para pahlawan kalawau.

Isi

Ayub lan Paulus nyariosaken bab kapitadosanipun, bilih gesang punika pungkasanipun mboten namung ing wekdal manungsa pejah kemawon. Gesang sesarengan Gusti punika langgeng sipatipun, lan punika pancen wujuding katresnanipun Allah kangge para pitados. Kapitadosan kados Ayub lan Paulus dalasan Silas lan Timotius punika ndadosaken tiyang mangertos estu bilih gesang punika mboten namung dinten punika, awit taksih wonten dinten benjing lan salajengipun ngantos langgeng salaminipun. Mboten sakmesthinipun tiyang kuwatos ngengingi diri pribadinipun. Mboten sakmesthinipun tiyang namung nggatosaken diri pribadinipun kemawon. Pati punika sanes pungkasaning gesang ingkang dipun rancang dening Allah. Katresnanipn Gusti ingkang nyawisaken gesang langgeng kangge manungsa titahipun, paring tuladha dhumateng kita sami supados mboten gesang namung migatosaken badan kita piyambak.

Gesang kanthi migatosaken tiyang sanes punika benten kaliyan cara gesangipun tiyang Saduki, awit piyambakipun mboten nggadhahi pangajeng-ngajeng bab gesang langgeng. Anggenipun ngaturaken pitakenan dhateng Gusti mratelakaken bilih punjering pikiranipun punika inggih badanipun piyambak, gadhahanipun piyambak utawi punapa ingkang dados milikipun. Gusti Yesus benten kaliyan tiyang Saduki. Gusti tansah paring kawigatosan kangge tiyang sanes. Gesangipun kangge tiyang sanes. Punjering penggalihipun inggih namung manungsa, titah ingkang sanget dipun tresnani. Gesang dalah nyawanipun sakwetah inggih namung kangge manungsa. Katresnanipun Gusti punika tanpa wates, suci lan sampurna.

Panutup

Ing dinten pahlawan, dinten punika, kita dipun wucal kados pundi kita saged dados tiyang ingkang dipun sebut negarawan. Gesang kanthi migatosaken tiyang sanes. Kathah pahlawan ing Indonesia punika ingkang gesang lan perjuanganipun saged dados tuladha kangge kita sami.

Kita saged gesang kados makaten menawi kita mboten alergi repot, purun rekaos (awit remen lan tresna medamel), nggadhah pangejeng-ngajeng ageng lan kiyat ing pangandel kados Ayub, Paulus, Silas lan Timotius.

Gusti Allah kita punika Gusti ingkang remen repot nggatosaken manungsa, nresnani manungsa ngantos masrahaken sariraNIPUN ing Gusti Yesus Kristus. Miwiti rumiyin, ngantos samangke lan terus ing kalanggenganing zaman, Panjenenganpun tetep makarya tresna kangge manungsa. Tiyang ingkang nulad Gusti ing salebeting makarya tresna, tamtu saged ngraosaken kados pundi bingahipun gesang kanthi cara ingkang makaten.  (DLS)

 

 Kidung Pamuji :  KPJ.  68

Renungan Harian

Renungan Harian Anak