Setia Mengusahakan yang Terbaik Khotbah Minggu 16 Januari 2022

3 January 2022

Minggu Biasa – Pembukaan Bulan Penciptaan
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 62: 1 5
Bacaan 2: 1 Korintus 12: 1 11
Bacaan 3: Yohanes 2: 1 11

Tema Liturgis: Allah Memulihkan dan Memperbarui Ciptaan-Nya
Tema Khotbah: Setia Mengusahakan yang Terbaik

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

 Yesaya 62 : 1 – 5
Naskah asli Yesaya 62 ditulis dalam bahasa Ibrani. Secara khusus Yesaya 62:1-5 adalah bagian dari pasal 56-66 (Trito Yesaya), dimana pasal ini sebagian besar berbentuk syair dan ditujukan kepada bangsa Israel yang sudah kembali di Yerusalem. Mereka perlu diyakinkan lagi, bahwa Allah akan memenuhi janji-janji-Nya kepada bangsa itu. Nabi Yesaya yang diutus membawa kabar baik kepada Sion diperhadapkan dengan suatu kota yang tidak aman dan umat yang telah jemu menantikan penggenapan keselamatan yang dijanjikan. Keadaan Sion, seperti seseorang yang ditinggalkan suami (gaya bahasa metaforis), merasakan kesendirian dan kesunyian dalam menghadapi pergumulan hidup. Kehadiran suami adalah seperti terbitnya sinar kebenaran. Namun, saat Allah belum bertindak, nabi akan terus-menerus berkarya, ”sampai kebenarannya bersinar, seperti cahaya dan keselamatannya menyala, seperti suluh.

Apa yang disampaikan oleh nabi Yesaya digerakkan oleh cintanya kepada Yerusalem, dan iapun senantiasa menantikan saat Allah membenarkan dan memuliakan Sion. Allah tidak akan terhalang dalam mewujudkan rencana-Nya membentuk satu bangsa kudus, kendatipun Israel memiliki catatan yang menyedihkan tentang kegagalan dan kemurtadan. Kehendak Allah melibatkan para nabi utusan-Nya yang terus-menerus menyuarakan suara kenabiannya.

1 Korintus 12 : 1 – 11
Istilah yang dipakai oleh 1 Korintus 12:1-11 mengenai karunia rohani menyatakan sifatnya.

  • “Karunia-karunia rohani” (Yun: ‘pneumatika’, berasal dari kata ‘pneuma’, artinya “Roh”) menunjuk kepada manifestasi adikodrati yang datang sebagai karunia dari Roh Kudus yang bekerja melalui orang percaya demi kebaikan bersama (1 Kor. 12:1,7; 14:1).
  • “Karunia-karunia” (Yun: ‘charismata’, berasal dari kata ‘charis’, artinya “kasih karunia”) menunjukkan bahwa karunia rohani mencakup baik motivasi batin dan kuasa untuk menyelenggarakan pelayanan (yaitu pemberian kesanggupan), yang diterima dari Roh Kudus; karunia semacam itu memberi kekuatan rohani kepada tubuh Kristus dan mereka yang memerlukan pertolongan rohani (1 Kor. 12:4Ef. 4:111 Pet 4:10).
  • “Pelayanan” atau “pelayanan-pelayanan” (Yun: ‘diakoniai’ berasal dari kata ‘diakonia’ artinya “pelayanan”) menekankan bahwa ada berbagai cara pelayanan dan bahwa karunia tertentu meliputi penerimaan kesanggupan dan kuasa untuk menolong orang lain (1 Kor. 12:4-5, 27-31Ef. 4:7, 11-13). Paulus menunjukkan bahwa segi pelayanan karunia itu mencerminkan pelayanan yang bersifat “hamba” dari kehidupan Tuhan Yesus. Demikianlah, pekerjaan karunia-karunia didefinisikan berkenaan dengan kehadiran dan pekerjaan Kristus di antara kita (bd. ayat 1 Kor. 12:3; 1:4).
  • “Pekerjaan” atau “pengaruh-pengaruh” (Yun. ‘energemata’ berasal dari kata ‘energes’ artinya “aktif atau penuh tenaga”) menandakan bahwa karunia rohani itu adalah pekerjaan langsung dari kuasa Allah Bapa dan membuahkan hasil-hasil tertentu (1 Kor. 12:6,10).
  • “Manifestasi Roh” (Yun: ‘phanerosis’, berasal dari kata ‘phaneros’, artinya “terwujud”) menekankan bahwa karunia rohani itu menjadi manifestasi langsung dari pekerjaan dan kehadiran Roh Kudus di dalam perhimpunan jemaat (1 Kor. 12:7-11).

Yohanes 2 : 1 – 11
Mujizat Yesus pada pernikahan di Kana (Yoh. 2:1-11) merupakan peristiwa yang sangat fenomenal. Umumnya pesta pernikahan telah dipersiapkan dan direncanakan dengan matang. Mereka telah menghitung jumlah konsumsi dan menyediakan cadangan apabila jumlah tamu yang datang melebihi perkiraan. Tetapi perhitungan tersebut meleset. Seluruh perencanaan yang dibuat pada hari H ternyata gagal mengantisipasi hal-hal yang di luar dugaan. Krisis terjadi. Mereka tidak dapat menemukan jalan keluar di saat yang krusial itu. Mereka tidak dapat membeli makanan dan minuman ekstra walau memiliki banyak uang. Sebab untuk membeli dalam jumlah banyak di waktu yang sangat sempit tidaklah mungkin. Dalam kondisi itu kehormatan dan nama baik keluarga sedang dipertaruhkan. Dalam kondisi yang sulit itu, hadirlah diri Yesus yang mampu menyelesaikan permasalahan yang krusial tersebut. Melalui kehadiran Kristus, tersedia ‘anggur terbaik’ dan melimpah, sehingga jamuan pesta pernikahan dapat berjalan dengan semarak. Para tamu dan undangan merasa puas dalam sukacita.

Anggur yang dibuat oleh Yesus untuk menyatakan kemuliaan-Nya adalah anggur terbaik yang tidak memabukkan, yaitu sari anggur murni. Sama dengan anggur yang disediakan oleh pengatur pesta pernikahan, juga merupakan anggur yang tidak difermentasi. Menurut beberapa penulis kuno, yang dimaksudkan “anggur yang baik” (Yoh. 2:10) adalah anggur termanis yang dapat diminum dalam jumlah besar tanpa membahayakan (yaitu, anggur yang kadar gulanya tidak dihancurkan oleh peragian). Anggur yang “kurang baik” adalah anggur yang telah dicampur dengan air terlalu banyak.

Penulis Romawi bernama Plinius mengakui hal ini. Dia dengan jelas menyatakan bahwa “anggur yang baik” yang disebut ‘sapa’, adalah sari anggur yang tidak beragi. ‘Sapa’ adalah sari buah anggur yang dididihkan hingga tinggal sepertiga dari jumlah semula untuk meningkatkan rasa manisnya (IV.13). Dia menulis dalam karya-karyanya yang lain bahwa “anggur yang paling bermanfaat adalah anggur yang kehilangan kadar potensinya ketika disaring” (Plinius, Natural History, XIV. 23-24). Plinius, Plutarchus, dan Horatius semuanya mengemukakan bahwa anggur terbaik adalah anggur yang “tak berbahaya dan tak memabukkan.

Kesaksian para rabi menegaskan bahwa beberapa rabi mengusul penggunaan anggur yang dididihkan. Kitab Mishna mengatakan, “Rabi Yehuda mengizinkannya (anggur yang dididihkan sebagai persembahan unjukan) karena itu memperbaikinya.”

Pentinglah bahwa kata sifat Yunani yang diterjemahkan “baik” bukanlah ‘agathos’ tetapi ‘kalos’ yang berarti “baik secara moral dan cocok”. Sehingga jelas, bahwa mujizat yang dilakukan oleh Yesus bersifat memenuhi harapan semua orang pada saat itu.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Dari ketiga bacaan di atas dapat ditarik benang merah bahwa suatu gambaran situasi atau keadaan yang diharapkan oleh manusia: sempurna, damai, indah, adil, tentram, bahagia, dapat terwujud suatu saat jika manusia mengandalkan janji Allah. Allah mengetahui persis apa yang menjadi kekurangan dan kebutuhan manusia, namun Allah tetap menunggu waktu yang tepat untuk memenuhi janjiNya, seperti pemulihan Sion dan peristiwa mujizat di Kana. Untuk menantikan janji Allah atas umatnya tergenapi, maka umat harus tetap berusaha dan berkarya sesuai dengan talenta dan berbagai karunia Ilahi yang diberikan oleh Allah.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Akhir-akhir ini kita diajak merubah pola kehidupan kita ke arah gaya hidup yang lebih sehat dengan mempertimbangkan kelestarian alam. Ada hadiah jika ditemukan seseorang menjalani gaya hidup yang peduli lingkungan dan meminimalisir pemanasan global (green lifestyle). Sebaliknya, sudah ada seperangkat aturan yang berkonsekuensi hukum dan denda jikalau ditemukan aktifitas seseorang atau kelompok yang ditengarai merusak alam. Hal ini dikarenakan manusia ingin memastikan kehidupan ke depannya terjaga dengan baik sejak saat ini. Barang-barang yang diproduksi untuk kepentingan manusia diupayakan barang yang bahannya ramah lingkungan dan barang yang dapat di daur ulang.

Kaitannya dengan relasi manusia, alam, dan agama, seorang sosiolog Perancis berdarah Yahudi, Prof. Emile Durkheim, menyatakan bahwa sebenarnya yang mengalami daur ulang (recycle) itu tidak hanya barang saja, akan tetapi juga eksistensi manusia di masyarakat. Di masyarakat, manusia juga melakukan daur hidup (life cycle) secara terus-menerus melalui ‘ritual’ tertentu sebagai wujud mengatasi ketakutan dan ketergantungan manusia terhadap alam dan kekuatan di luar dirinya. Perubahan manusia dari satu fase ke fase selanjutnya, dari satu status menuju status baru, atau perubahan dari satu kondisi menuju kondisi berikutnya yang lebih baik dan modern, merupakan potret daur hidup (life cycle) manusia. Bila disimpulkan, sifat manusia sebenarnya sangat rentan-rapuh, sehingga proses daur hidupnya (life cycle) dan ritual itu akan berlangsung terus-menerus. Melalui ritual, seorang individu atau kelompok masyarakat mementaskan apa yang menjadi kepercayaan, ide, cita-cita, harapan, dan nilai-nilai positif yang menjadi tujuan hidupnya (Durkheim, Emile. 1992. History of Religion; The Elementary Forms of The Religious Life). Apa yang disampaikan oleh Durkheim tersebut jikalau diterapkan dalam kehidupan masyarakat Kristen, maka bisa disebut dengan kebudayaan atau cara hidup Kristiani.

Bagaimana kita sebagai gereja merespon kelestarian alam yang terancam rusak, serta kontribusi apa yang bisa gereja berikan supaya lingkungan menjadi lebih baik? Tentu kita bisa melihat orang-orang Kristen saat ini dari esensi ajaran pada saat melakukan ritual ibadahnya dan gaya hidupnya sehari-hari.

Isi
Bacaan kita pada saat ini, memang tidak menyebut secara langsung petunjuk praktis cara merawat dan melestarikan alam. Akan tetapi lebih kepada memperbaiki sisi perilaku dan cara pandang manusia, serta dasar kepercayaan iman orang Kristen sebagai pengelola alam. Persekutuan umat percaya diajak untuk berproses meneladani apa yang dilakukan oleh Allah, mujizat Yesus, yang selanjutnya juga mengutus kita untuk melakukan pelayanan untuk pemulihan ciptaan. Hal tersebut dapat kita lihat dari ketiga bacaan di atas.

Pertama, percaya dan berpegang teguh pada janji Allah. Manakala situasi krisis datang dalam sebuah komunitas ataupun secara khusus hidup seseorang, maka satu hal prinsip yang perlu dimiliki sebuah komunitas atau seseorang adalah menyiapkan mental spiritualnya, supaya diberi kekuatan menjalaninya. Kekuatan mental seseorang ini hanya bisa diperoleh jikalau seseorang memiliki iman yang teguh kepada Kristus dan percaya bahwa janjiNya akan digenapi. Iman yang kokoh akan penggenapan janji Allah inilah yang disuarakan oleh nabi Yesaya kepada bangsa Israel. Dalam Yes. 62:2 disebutkan bagaimana janji Allah untuk Yerusalem akan digenapi pada saatnya nanti, bangsa-bangsa akan melihat kebenaran dan kemuliaan Allah melalui umatNya di Yerusalem. Allah tidak akan meninggalkan Zion dan Allah akan melakukan kehendakNya atas Zion. Tentu apa yang disampaikan oleh Nabi Yesaya ini adalah semacam nubuatan atau pengharapan bagi bangsa Israel. Kekuatan iman bangsa Israel terhadap janji Tuhan diuji, ketika mereka melihat dengan mata mereka, Yerusalem sebagai kota yang sepi penghuninya. Bagaimana mungkin Zion menjadi kota tempat kediaman Allah, jikalau penghuninya kosong?

Saat-saat krisis adalah saat yang penting untuk mendaur ulang keimanan seseorang. Banyak orang yang diteguhkan imannya seusai masa krisis. Tetapi tidak jarang pula yang imannya terjatuh pada saat krisis melanda kehidupan seseorang. Pada saat-saat krisis seperti itulah, kapasitas seseorang diuji untuk meningkat ke fase selanjutnya. Kuncinya adalah ia harus tetap setia di dalam iman dan berpegang teguh pada janji Tuhan yang sudah dinyatakan melalui FirmanNya.

Kedua, giat bekerja dan berusaha melayani Tuhan sesuai dengan talenta yang dikaruniakan Tuhan. Pada saat menunggu penggenapan janji Allah, umat Allah diharapkan tidak berpangku tangan pasif. Masing-masing orang sudah dikaruniai berbagai macam karunia oleh Allah. Karunia inilah yang harus digunakan dan dikembangkan dalam pelayanan kepada jemaat Tuhan (1 Kor. 12:7). Mengapa? Karena berbagai rupa karunia dan berbagai rupa pelayanan tersebut pada dasarnya dikerjakan oleh satu Roh Allah saja (1 Kor. 12:56). Dan karunia yang berasal dari Allah tersebut kembali hanya untuk kemuliaan nama Allah. Memang ada kalanya, ada seseorang tidak memahami asal dari karunia, talenta atau kemampuan yang dimilikinya. Digunakan untuk apa? Hanya untuk dirinya sendiri saja atau apakah digunakan untuk sesamanya yang lain?

Proses perkembangan dalam diri seseorang tidak hanya terkait dengan penghayatan iman semata, tetapi juga proses aktualisasi atau implementasi iman kepada perbuatan nyata di gereja atau di masyarakat. Jikalau kita prihatin melihat kerusakan alam dan kemiskinan di sekitar kita, maka berdoa saja tidak cukup. Kita butuh melakukan aksi nyata. Misalnya dengan melakukan penghijauan, menghindari penggunaan pestisida, pemisahan sampah plastik, dst. Kita juga harus introspeksi atas perilaku kita selama ini, sehingga dapat mendukung upaya pelestarian alam. Hal-hal sederhana yang kita lakukan antara lain, mengarahkan kepada gaya hidup minimalis: memakai listrik secukupnya, menggunakan air seperlunya, menghindari penggunaan kantong plastik, dst. Hal-hal tersebut di atas adalah bagian dari kita menjalani proses kehidupan dimana kita sebagai manusia juga turut memiliki andil dalam pemulihan alam sekitar kita. Tidak hanya alam dan sesama ciptaan yang terlayani oleh tindakan kita, akan tetapi pemahaman dan cara hidup kita bisa semakin lebih baik.

Ketiga, percaya bahwa Allah sungguh peduli dan akan bertindak. Mujizat Yesus pada pernikahan di Kana (Yoh. 2:1-11) mengubah air menjadi anggur yang baik, merupakan wujud dari kehadiran nyata Allah pada saat-saat krisis. Kondisi yang menakutkan banyak orang adalah saat ia mengalami kekurangan. “Kekurangan” dapat dimaknai situasi tidak tersedianya sesuatu di saat sangat diperlukan. Keluarga mempelai di Kana yang kekurangan anggur saat pesta pernikahan akan panik dan bingung. Air anggur dalam tradisi umat Israel merupakan lambang sukacita, kehangatan, dan penghormatan kepada para tamu yang hadir dalam pesta pernikahan. Karena itu, kekurangan air anggur saat pesta berlangsung bisa dianggap tidak mampu menjamu dan menghormati para tamu yang datang. Sebagaimana halnya dalam adat-istiadat dan budaya di dunia ini pada umumnya, anggota keluarga akan panik dan bingung, apabila di saat tamu hadir, mereka kekurangan jamuan makan atau minum. Dengan demikian makna “kekurangan” dalam konteks ini bukan dalam pengertian hidup dalam kemiskinan, tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhan di saat dibutuhkan.

Pengalaman akan “kekurangan” seperti yang terjadi di kota Kana juga dapat terjadi dalam kehidupan kita. Misalnya kita telah mempersiapkan segala sesuatu dan mengantisipasi hal-hal yang terburuk, tetapi pada saat pelaksanaan ternyata seluruh perhitungan kita meleset. Pemikiran yang matang dan perencanaan yang terbaik ternyata gagal mengantisipasi beberapa hal, sehingga menimbulkan gangguan sangat serius. Kita tidak tahu bagaimana harus mengatasi permasalahan tersebut. Seluruh sumber daya dan kemampuan (skill) yang kita miliki tidak berdaya menghadapi situasi itu. Namun di saat yang genting itulah ternyata Allah peduli dan bertindak, menyediakan pertolongan yang tidak pernah kita duga. Allah memberikan solusi nyata di luar perencanaan dan perkiraan manusia. Bahkan solusi yang diberikan Allah tersebut lebih daripada yang kita harapkan. Pada saat itulah, kita akan menyadari bahwa manusia itu sangat rapuh-rentan. Manusia harus mengakui perlu mengajak Allah untuk terus turut campur tangan dalam segala aspek kehidupannya bersama dengan umat ciptaan Tuhan yang lain. Manakala menjumpai alam yang rusak, mungkin kita berpikir bahwa itu adalah hal yang sangat mustahil untuk dilakukan manusia. Percayalah, dengan meminta Allah campur tangan, Ia akan bertindak menurut cara dan waktuNya.

Penutup
Mengawali bulan penciptaan, saat ini adalah saat yang tepat untuk kita menyadari bahwa kita adalah subyek yang sangat menentukan kelestarian alam di sekitar kita. Jikalau kita pernah berpikir bahwa situasi di sekitar kita bisa berubah lebih baik, maka kita bisa memulai dari diri sendiri dan melalui hal-hal kecil yang sederhana. Sembari mengimani bahwa Tuhan akan menolong setiap usaha kita. Amin. [BK].

 

Pujian: KJ. 385 : 1, 2, 3 Burung Pipit yang Kecil


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Ing wanci sakpunika, kita asring dipun suwun ndherek gesang ingkang langkung sehat kanthi mratelakake lestarinipun alam sekitar. Menawi wonten tiyang ingkang nglampahi gesang peduli kaliyan lingkungan lan saged ‘meminimalisir pemanasan global’ (green life style) tiyang kalawau saged pikantuk hadiah. Kosokwangsulipun, wonten piranti ingkang nggadahi kekiyatan hukum lan denda, menawi wonten tiyang ingkang nglampahi aktivitas ngrisak alam. Wusananipun prekawis punika kalampahan amargi manungsa kepengin gesangipun lestantun wiwit sakpunika. Barang-barang ingkang dipun produksi kangge kapentinganipun manungsa dipun upayaaken barang ingkang ramah lingkungan lan barang ingkang saged dipun daur ulang.

Kaitanipun kalian manungsa, alam, lan agama, sosiolog Perancis keturunan Yahudi, Profesor Emile Durkheim, gagas bilih sejatosipun ingkang ngalami daur ulang (recycle) punika boten namung barang kemawon, ananging ugi manungsa ing masyarakat. Ing masyarakat, manungsa punika ugi ngalami daur gesang (life cycle) ingkang kalampahan sacara terus, lumantar saperangan ritual supados saged ngatasi raos ajrih lan ketergantungan dhateng alam lan kekiyatan wonten njawi dhirinipun. Ewah-ewahan manungsa saking fase setunggal dhateng fase selajengipun, saking setunggal status dhateng status enggal, utawi ewah-ewahan saking kondisi setunggal dhateng kondisi selajengipun ingkang langkung sae lan modern, punika sejatosipun ‘potret’ daur ulang gesangipun manungsa. Menawi dipun simpulaken, sifatipun manungsa punika sejatosipun ringkih, pramila proses daur gesang (life cycle) lan ritual punika badhe kalampahan terus. Lumantar ritual, manungsa utawi masyarakat ngetingalaken punapa kapitadosanipun, cita-citanipun, pangajeng-ejengipun, lan nilai positif ingkang dados tujuan gesangipun (Durkheim, Emile. 1992. History of Religion; The Elementary Forms of The Religious Life). Punapa ingkang dipun terangaken Durkheim punika, wontening gesangipun pasamuwan Kristen saged dipun wastani budaya utawi cara gesang Kristiani.

Kadospundi tumindaking greja nalika manggihaken alam ingkang risak, sarta punapa sumbangsihipun greja supados lingkungan punika saged pulih lan langkung sae? Tamtu kita saged mirsani saking gesangipun tiyang-tiyang Kristen nalika nglampahi ritual pangabektinipun, punapa ingkang dipun wucalaken lan punapa ingkang dados tumindak gesangipun sakdinten-dinten?

Isi
Waosan kita sakpunika, mboten nyebutaken sacara langsung pitedah praktis cara kangge ngrimati lan nglesatantunaken alam. Ananging ndandosi tumindak, pemanggih, lan dasar kapitadosan iman Kristen anggenipun ngolah alam. Pasamuwan dipun ajak ‘berproses’ nuladhani punapa ingkang dipun tindakaken Gusti Allah. Mujizatipun Gusti Yesus ingkang ngutus kita lelados mulihaken sesami titah. Bab punika saged kita telusuri saking waosan kita sakpunika.

Sepindah, kita saestu pitados dhateng janjinipun Gusti Allah. Nalika kita ngadepi situasi krisis, ingkang saestu penting kangge kita inggih punika nyawisaken mental spiritual kita supados nggadahi kekiyatan kangge nglampahi gesang. Kekiyatan mental punika namung saged kasembadan nalika kita pitados dhumateng Sang Kristus lan pitados bilih Sang Kristus tansah netepi prasetyanipun dhateng kita. Kapitadosan ingkang saestu kiyat dhumateng Gusti Allah punika ingkang dipun wucalaken nabi Yesaya dhateng bangsa Israel. Wonten Yesaya 62:2, kita saged maos bilih Gusti Allah badhe netepi janji-Nipun dhateng Yerusalem, bangsa-bangsa badhe mirsani punapa ingkang leres, becik, lan Gusti Allah badhe dipun mulyaaken ing Yerusalem. Gusti Allah mboten badhe nilar Yerusalem. Punapa ingkang dipun aturaken nabi Yesaya punika saged dipun wastani nubuatan utawi pengajengajeng dhumateng bangsa Israel. Kekiyatan iman bangsa Israel dhumateng Gusti Allah dipun uji nalika bangsa Israel pirsa kutha Yerusalem punika sepi mboten wonten tiyangipun. Bangsa Israel nggadahi pitakenan, punapa saged Zion punika dados padalemanipun Gusti Allah, bilih kondisinipun sepi mboten wonten tiyang?

Wekdal nglampahi krisis punika, wekdal ingkang penting kagem ndaur ulang iman kapitadosan dhumateng Gusti. Kathah tiyang ingkang dipun kiyataken imanipun saksampunipun nglampahi krisis. Ananging, ugi kathah tiyang ingkang imanipun dhawah nalika nglampahi krisis. Nalika ngadepi krisis punika, sejatosipun kapasitasipun tiyang punika dipun uji, supados saged langkung sae dhateng fase utawi tahapan salajengipun. Kuncinipun inggih punika, tiyang kalawau kedah setya lan nyepeng kiyat janji-Nipun Gusti Allah ingkang sampun dipun nyataaken lumantar pangandikanipun Gusti Yesus Kristus.

Kaping kalih, sregep makarya lan leladi dhumateng Gusti miturut talenta ingkang sampun kaparingaken. Nalika umat kagunganipun Gusti ngrantos Gusti Allah netepi janjinipun, umat kagunganipun Gusti Allah mboten angsal mendel-Pasif. Saben tiyang sampun dipun berkahi sawernining kasagedan saking Gusti Allah. Kasagedan punika ingkang kedhah dipun agem lan dipun kembangaken wontening peladosan ing pasamuwanipun Gusti (1 Kor 12:7). Kinten-kinten punapa sebabipun? Amargi sawernining kasagedan, sawernining peladosan kalawau sejatosipun dipun tindakaken kaliyan satunggal roh inggih punika Roh Allah kemawon (1 Kor. 12:56). Kasagedan ingkang asalipun saking Gusti Allah punika wangsul malih kagem kamulyaning asmanipun Allah. Kadang-kadang wonten tiyang ingkang mboten mangertosi ginanipun kasagedan, talenta ingkang sampun dipun tampeni. Dipun agem kangge punapa? Kagem dhirinipun piyambak, punapa dipun agem leladi dhateng sesami?

Proses perkembangan wonten salebeting pribadi punika mboten namung bab ‘penghayatan’ iman kemawon, ananging ugi proses tumindak utawi impelementasi iman wonten ing greja utawi masyarakat. Menawi kita prihatos mirsani alam ingkang risak lan kasekengan wonten sakiwa tengen kita, asung pandonga kemawon mboten cekap. Kita kedah nindakaken pakaryan nyata, contonipun: nindakaken penghijauan, mboten damel produk pestisida, misahaken sampah plastik, lsp. Kita ugi saged introspeksi tumrap tumindak kita supados saged ndukung sedaya upaya nglestantunaken alam. Bab sederhana ingkang saged kita tindakaken nggih punika: migunaaken listrik sakcekapipun, migunaaken toya sakcekapipun, blanja mboten ngangge tas kresek, lsp. Bab punika bagian proses gesang, awit kita nggadahi andil mulihaken alam sakiwatengen kita. Mboten anamung alam lan sesami titah ingkang nampi berkah saking tumindak kita, pemanggih lan cara gesang kita ugi langkung prayogi.

Kaping tiga, pitados Gusti Allah punika peduli lan saestu makarya. Mujizatipun Gusti Yesus ing pesta nenikahan ing kutha Kana (Yoh 2:1-11) ngubah toya dados anggur, punika bukti nyata bilih Gusti Allah makarya ing wekdal krisis. Sedaya tiyang punika sejatosipun ajrih kaliyan kondisi ‘kekirangan’. Kekirangan punika tegesipun kondisi nalika saestu mboten wonten barang malih nalika dipun betahaken sanget. Manten lan brayat ingkang kagungan damel ing Kana sami bingung amargi kekirangan anggur. Anggur wonten tradisi umat Israel punika lambang sukabingah lan urmat dhateng para tamu ingkang sami rawuh ing pesta nenikahan punika. Pramila, menawi wonten satengahing pesta lajeng kekirangan anggur, saged dipun anggep mboten mampu njamu lan mboten ngurmati para tamu. Mekaten ugi adat-istiadat lan budaya ing jagad punika secara umum, anggotaning brayat mesthi bingung lan ajrih nalika tamu punika rawuh lan dhahar, nanging kekirangan jamuan tetedan lan omben. Pramila kekirangan punika sanes ateges gesang kecingkrangan, ananging mboten saged nyekapi kabetahan nalika sanget dipun betahaken.

Pengalaman bab ‘kekirangan’ kadosdene ingkang kedadosan ing kutha Kana saged ugi kedadosan ing gesang kita. Contonipun, kita sampun nyawisaken bab-bab ingkang paling wigati ngantos paling awon, ananging nalika kalampahan sedaya itungan kita punika mbleset. Pamikiran ingkang mateng lan rancangan ingkang paling sae mboten saged ngantisipasi masalah ingkang serius sanget. Kita mboten ngertos malih kadospundi solusi saking prekawis punika. Sedaya sumber daya lan kasagedan (skill) ingkang kita gadhahi mboten wonten ginanipun ngadhepi situasi punika. Ananging, ing situasi ‘genting’ punika Gusti Allah peduli. Gusti Allah kersa paring pitulungan ingkang nyata ingkang mboten nate kita nyana-nyana. Gusti Allah paring solusi nyata ingkang mboten nate dipun penggalih manungsa. Solusi saking Gusti punika malah langkung ageng saking pemanggihipun manungsa. Nalika nampi pitulunganipun Gusti Allah, manungsa saged ngrumaosi bilih sejatosipun kahananipun manungsa punika ringkih sanget. Manungsa kedah ngakeni bilih manungsa kedah ngundang Gusti Allah campur asta wonten ing sedaya prekawis gesangipun. Nalika manungsa manggihi alam titahipun Gusti punika risak, mbok menawi kita lajeng nggalih bilih bab punika mustahil dipun tindakaken dening manungsa. Nanging, kita kedah pitados, nalika kita nyenyuwun dhumateng Gusti Allah, saestu Gusti Allah badhe campur asta, Gusti Allah badhe nindakaken miturut karsa-Nipun lan wekdal-ipun.

Panutup
Miwiti wulan penciptaan, sakpunika wekdal ingkang prayogi supados kita sadar bilih manungsa punika subyek ingkang perananipun ageng sanget kangge nemtukaken lestantunipun alam. Menawi kita nggadahi penggalih situasi alam punika saged langkung sae, kita saged milai sakpunika, wiwit saking dhiri kita piyambak lumantar bab-bab ingkang sepele lan sederhana. Kita ugi ngimani bilih Gusti Allah mesti paring pitulungan dhateng sedaya pambudidaya ingkang kita lampahi. Amin. [BK].

 

PAMUJI: KPJ. 364 : 1, 2 Kaya Manuk Agirang

Renungan Harian

Renungan Harian Anak