Memberikan Persembahan sebagai Wujud Perbuatan Baik bagi Tuhan Khotbah Minggu 8 Mei 2022

25 April 2022

Minggu Paskah 4 | Unduh-unduh
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 9 : 36 – 43
Bacaan 2: Wahyu 7 : 9 – 17
Bacaan 3: Yohanes 10 : 22 – 30

Tema Liturgis: Mensyukuri Berkat Tuhan dalam Segala Keadaan
Tema Khotbah: Memberikan Persembahan sebagai Wujud Perbuatan Baik bagi Tuhan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 9 : 36 – 43
Tabita (nama Ibrani) atau Dorkas (bahasa Yunani) memiliki arti kijang atau rusa betina, dikenal sebagai makhluk yang menyenangkan. Tabita adalah sosok umat Tuhan yang menyenangkan. Imannya kepada Tuhan Yesus Kristus diwujudkan dengan berbuat baik dan memberi sedekah terhadap orang-orang di sekitarnya. Dengan talenta atau kemampuan yang dimilkinya, Tabita banyak membuat baju dan pakaian untuk diberikan kepada para janda. Tampaknya, Tabita memiliki kasih dan perhatian secara khusus terhadap para janda yang pada kehidupan masyarakat saat itu memerlukan kasih dan perhatian. Seperti arti namanya, yakni kijang atau rusa betina, dikenal sebagai makhluk yang menyenangkan, Tabita telah menjadikan banyak orang, khususnya para janda merasa senang. Oleh karena itu
, banyak orang yang merasa kehilangan ketika Tabita dinyatakan telah meninggal, terlebih para janda yang merasakan kebaikan Tabita. Mereka berpikir tidak ada lagi orang yang baik seperti Tabita. Namun, kesedihan mereka segera sirna karena melalui Petrus, Tuhan menghidupkan Tabita kembali. Ini berarti Tabita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk terus berbuat baik sesuai dengan kemampuan yang ia bisa lakukan. Di sisi lain kebaikan Tabita masih akan dialami oleh orang-orang yang mengharapkan kebaikannya.

Wahyu 7 : 9 – 17
Melalui penglihatannya Yohanes bermaksud menyampaikan pesan, bahwa orang-orang yang setia menyatakan pengharapannya kepada Kristus dan melayani Kristus akan mengalami kebahagiaan meskipun pada awalnya mengalami penderitaan. Oleh karena kebahagiaan itu bersama dengan semua malaikat
, orang-orang setia berharap dan melayani Kristus memuji-muji Allah dan Yesus Kristus, Anak Domba (Ay. 10, 12). Mereka yang setia melakukan pekerjaan baik sebagai wujud pelayanannya kepada Kristus akan senantiasa merasakan kasih Allah. Kasih Allah menyelamatkan mereka dari berbagai bentuk ketidaknyamanan. Oleh karena itu, mereka yang setia melayani Kristus dibebaskan dari penderitaan. Yesus Kristus, Anak Domba akan menggembalakan dan menuntun mereka (Ay. 14). Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka. Allah sendiri dengan tanganNya yang lembut dan penuh rahmat akan menghapus air mata itu. Mengibur mereka seperti seorang bapa menghibur anaknya. Mengubah kesedihan menjadi sukacita (Ay. 17).

Yohanes 10 : 22 – 30
Orang-orang Yahudi yang selalu bergaul dengan Yesus, mendengarkan pengajaranNya dan menyaksikan mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus tidak segera mengerti tentang siapa Yesus sebenarnya. Mereka meragukan Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan oleh orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka memberanikan diri untuk bertanya kepada Yesus dengan cara mengelilingi Yesus: “Berapa lama lagi engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jika engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami! (Ay. 24). Mendengar pertanyaan yang demikian ini, Yesus mengingatkan mereka, bahwa sesungguhnya apa yang diajarkan Yesus dan mujizat yang dilakukanNya itu dilakukan dalam nama Bapa (Ay. 25). Namun, mereka tidak mau mempercayai Yesus sebagai Mesias yang datang dari Allah. Orang-orang Yahudi itu justru mengandalkan pengertiannya sendiri dan menganggap Yesus bukan Mesias. Padahal Yesus telah mengajarkan kepada mereka tentang siapa sesungguhnya diriNya. Hal inilah yang menjadikan mereka dikuasai oleh keraguan. Keraguan inilah yang menghambat mereka mengakui Yesus sebagai Mesias, padahal mereka telah mendengar sendiri ajaran Yesus dan mujizatNya yang penuh kuasa dan menakjubkan. Memang keraguan itu harus dijawab dengan berusaha untuk mengerti bahwa Yesus benar-benar Mesias yang datang dari Allah. Namun, sayangnya meskipun mereka mendapatkan penjelasan tentang diri Yesus sebagai Mesias, mereka tetap saja dikuasai oleh keraguan yang tidak bisa mereka tinggalkan. Inilah yang menjadikan mereka merasa berat mengakui Yesus sebagai Mesias.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Dalam menjalani hidup bersama di tengah masyarakat, umat Tuhan dipanggil agar selalu mewujudkan kebaikan yang dikehendaki Allah. Meskipun melakukan perbuatan baik tidaklah mudah, karena banyaknya tantangan yang dihadapi. Namun, Tuhan Allah selalu memperhatikan, menolong, dan memberikan semangat bagi umatNya, yang dengan ketulusan hati selalu berusaha melakukan perbuatan baik. Untuk melakukan suatu perbuatan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan, diperlukan keyakinan. Oleh karena itu, umat Tuhan janganlah ragu berbuat baik.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Suatu perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang biasanya selalu disambut dengan sukacita oleh setiap orang yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan setiap orang akan merasa kehilangan dan bersedih jika orang yang biasa berbuat baik itu, tidak lagi bersama mereka. Sebab itu bisa berarti kebaikan itu tidak akan ada lagi dan hanya menjadi suatu kenangan. Sekalipun demikian, mengenang perbuatan seseorang perlu juga dilakukan agar memotivasi setiap orang untuk melakukan perbuatan baik bagi sesamanya.

Isi
Bacaan Alkitab kita pada hari ini mengajak kita untuk memperhatikan seorang perempuan yang terkenal sebagai orang yang “… banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah” (Kis. 9:36). Perempuan itu bernama Tabita — dalam bahasa Yunani disebut dengan Dorkas. Ia tinggal di kota kecil yang tidak tidak terkenal dan terletak di tepi laut. Karena sakit yang dialaminya, Dorkas akhirnya meninggal. Pada saat kematiannya banyak orang yang merasa kehilangan dan mengalami kesedihan. Bacaan Alkitab kita memberikan informasi: pada saat kematiannya para janda berkumpul sambil menangis. Para janda itu merasa sangat sedih atas kematian Dorkas. Dalam kesedihan itu mereka mengingat akan segala kebaikan Dorkas: “… semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup” (Ay. 39). Hal ini membuktikan, bahwa baju dan pakaian inilah yang diberikan sebagai sedekah kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini membuktikan bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Dorkas semasa hidupnya sungguh-sungguh telah menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya, khususnya para janda.

Semasa hidupnya Dorkas dikenal sebagai orang yang senantiasa membahagiakan orang lain, yang berada di sekitarnya. Ia melakukan apa yang bisa ia lakukan sesuai dengan talenta dan kemampuan yang ia miliki, yakni menjahit pakaian. Alkitab memang tidak mencatat apakah Dorkas termasuk orang kaya atau tidak, tetapi itu bukanlah hal yang penting. Sebab hal penting yang perlu disampaikan adalah bagaimana ia bertindak secara nyata untuk mengalirkan kasih Tuhan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, membagi berkat kepada orang-orang di sekitarnya dengan apa yang ia miliki dan apa yang mampu ia perbuat. Itulah sebabnya banyak orang yang terkesan dengan apa yang telah ia lakukan. Hal ini menjadikan banyak orang berharap agar kasih dan perbuatan baik yang dilakukan Dorkas tidak berakhir. Itulah sebabnya orang-orang yang telah merasakan kasih dan perbuatan baik Dorkas berharap agar Dorkas tetap hidup, sehingga kasih dan perbuatannya yang membahagiakan banyak orang itu tetap ada dalam kehidupan ini.

 Dorkas selalu dikenang atas kebaikannya kepada orang lain. Bahkan, Dorkas dibangkitkan kembali oleh Tuhan melalui Petrus, agar terus melakukan kebaikan. Demikian juga yang akan dialami setiap orang yang dalam hidupnya selalu berbuat baik terhadap orang lain dengan berlandasan kasih. Segala talenta dan kemampuan yang dimiliki setiap orang akan semakin berarti jika dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Itulah salah satu wujud pelayanannya kepada Tuhan dan sesama. Dalam menjalankan tugas pelayanan dibutuhkan kemantapan hati bahwa apa yang dilakukannya berdasarkan pada apa yang diajarkan dan diteladankan Yesus Kristus, tidak seperti orang-orang Yahudi yang meragukan kemahakuasaan Yesus (Yoh. 10:24). Jika perbuatan baik yang dilakukan sebagai wujud pelayanan kepada Tuhan itu dilakukan dengan setia tidak akan menjadikan umat Tuhan mengalami kekecewaan, melainkan kebahagiaan yang mendatangkan pujian bagi Tuhan (Wahyu 7:10,12).

Penutup
Memberikan persembahan di Hari Raya Undhuh-undhuh atau Hari Raya Persembahan merupakan salah satu perbuatan baik yang bisa dilakukan oleh setiap orang sebagai umat Allah. Oleh karena itu
, selama masih ada kesempatan untuk memberikan persembahan kepada Tuhan, hendaknya kesempatan ini tidak disia-siakan. Melalui Hari Raya Undhuh-undhuh setiap umat Tuhan diingatkan dan diajak untuk berbuat baik seperti Dorkas, yakni melakukan apa yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Kita juga bisa melakukan seperti apa yang dilakukan Dorkas, sebab Tuhan juga memberikan kepada kita kemampuan yang bisa kita lakukan bagi-Nya. Itulah pelayanan sekaligus persembahan kita bagi Tuhan. Amin. [hsw].

 

Pujian: KJ. 450 : 1, 2 Hidup Kita yang Benar

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pendahuluan
Tumindak sae ingkang katindakaken dening satunggiling tiyang, limrahipun dipun tampi kanti suka bingah dening saben tiyang ing sakiwa tengenipun. Pramila, boten nggumunaken menawi saben tiyang rumaos kecalan lan sisah manahipun menawi tiyang ingkang nindakaken tumindak sae punika tilar donya, awit punika ateges bilih kasaeanipun punika boten wonten malih lan inggih namung dados kenangan. Nadyan mekaten ngengeti tumindak sae satunggiling tiyang punika ugi perlu katindakaken supados dados semangat saben tiyang nindakaken tumindak sae kagem sesaminipun.

Isi
Waosan kitab suci dinten punika ngajak kita sadaya supados migatosaken satunggiling tiyang estri ingkang kasuwur minangka tiyang ingkang kathah sanget nindakaken tumindak becik lan dedana (PR 9:36). Tiyang estri punika paring nami Tabita – ing basa Yunani: Dorkas. Piyambakipun punika manggen wonten ing kitha alit, boten kasuwur lan wonten ing pinggir segara. Karana sakit ingkang dipun alami, Dorkas tilar donya. Nalika sedanipun, kathah tiyang ingkang rumaos kecalan lan ngalami kasisahan. Ing waosan kita kasebataken, bilih para waranda sami ngempal lan muwun. Para warandha rumaos sisah sanget manahipun. Ing kasisahanipun para warandha punika ngenget-enget bab kasaenanipun Dorkas nalika sugengipun: “… kabeh warandha padha ngadeg ing sacedhake apadene kalawan nangis padha nuduhake kabeh klambi lan sandhangan, gaweane Dorkas nalika isih urip” (Ay. 39). Punika mbuktekaken bilih ageman lan sandhangan punika ingkang dipun paringaken Dorkas dhumateng tiyang-tiyang ing sakiwa tengenipun. Prekawis punika mbuktekaken bilih punapa ingkang katindakaken dening Dorkas samangsa sugengipun saestu dados berkah tumrap saben tiyang ing sakiwa tengenipun, mliginipun para warandha.

Samangsa sugengipun Dorkas kasuwur minangka tiyang ingkang tansah mbingahaken tiyang sanes ing sakiwatengenipun. Piyambakipun nindakaken punapa ingkang saged katindakaken cundhuk kaliyan talenta utawi kasagedan ingkang dipun gadhahi, inggih punika njahit ageman. Kitab Suci pancen boten nyebataken punapa Dorkas punika kalebet tiyang sugih utawi boten, nanging punika sanes prekawis ingkang utami. Ingkang utami inggih punika Dorkas nindakaken tumindak nyata mujudaken katresnanipun Gusti dhumateng saben tiyang ing sakiwatengenipun. Dorkas andum berkah dhumateng saben tiyang ing sakiwa tengenipun cundhuk kaliyan punapa ingkang dipun gadhahi lan saged katindakaken. Prekawis punika dadosaken kathah tiyang ingkang sami ngajeng-ajeng supados katresnan lan tumindakipun Dorkas punika boten kendhel. Pramila, tiyang-tiyang ingkang ngraosaken katresnan lan kasaenanipun Dorkas tansah ngajeng-ajeng supados Dorkas boten tilar, satemah katresnan lan kasaenanipun ingkang dadosaken tiyang sanes ngalami kabingahan tansah wonten ing pigesangan punika.

Kasaenanipun Dorkas tansah dipun enget dening kathah tiyang. Malah, Dorkas dipun wungukaken saking tilaripun dening Gusti lantaran Petrus supados saged tansah nindakaken kasanenan. Mekaten ugi ingkang dipun alami dening saben tiyang ingkang tansah nindakaken kasaenan sanes ing gesangipun adedasar katresnan. Talenta lan kasagedan ingkang dipun gadhahi saben tiyang sansaya migunani menawi saged dipun raosaken dening tiyang sanes. Punika salah satunggiling paladosan kagem Gusti lan sesami. Ing ayahan paladosan mbetahaken manah ingkang mathep, bilih punapa ingkang katindakaken adedasar piwucal lan tuladhanipun Gusti Yesus. Boten kados tiyang-tiyang Yahudi ingkang mangu-mangu anggenipun migatosaken kwasanipun Gusti Yesus (Yok. 10:24). Menawi tumindak sae ingkang katindakaken minangka wujud paladosan dhumateng Gusti katindhakaken kanthi setya, boten dadosaken umat kagunganipun Gusti ngalami kuciwa ing manah, ananging malah dadosaken ngalami kabingahan, satemah dadosaken pepujian kagem Gusti (Wahyu 7:10,12).

Panutup
Ngaturaken pisungsung ing Riyadin Undhuh-undhuh punika salah satunggiling kasaeanan ingkang saged katindakaken dening para umat kagunganipun Allah. Pramila, menawi nggadhahi wekdal ngaturaken pisungsung kagem Gusti, wekdal utawi kesempatan punika kedah saged kaginakaken kanthi tumemen. Lumantar Riyadin Undhu-undhuh punika para umat kagunganipun Gusti kaengetaken lan dipun kersakaken supados nindakaken kasaenan kados dene Dorkas, inggih punika nindakaken punapa ingkang saged katindakaken cundhuk kaliyan kasagedan ingkang dipun gadhahi. Kita ugi saged nindakaken kados dene ingkang katindakaken dening Dorkas, awit Gusti Allah maringi kita kasagedan ingkang saged kita tindakaken kegem kaluhuranipun Gusti. Punika wujuding paladosan lan pisungsung kita kagem Gusti. Amin. (hsw)

 

Pujian: KPJ. 186 : 1, 2 Urip kang Samesthine

Renungan Harian

Renungan Harian Anak