Bacaan: Mazmur 116 : 1 – 4, 12 – 19 | Pujian: KJ. 439
Nats: “Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku.” (Ayat 1)
Bahagia rasanya ketika kita tahu bahwa kita dicintai, apalagi dicintai oleh Tuhan sendiri. Pemazmur memulai dengan kata yang penuh kehangatan, “Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengar suaraku.” Ini bukan sekadar pengakuan iman, tetapi luapan hati dari seseorang yang benar-benar merasakan kasih Tuhan secara pribadi. Daud pernah berada di titik terendah hidupnya. Ia pernah diambang maut dan keputusasaan, penderitaan, dan pergumulan yang sangat berat. Namun di sanalah ia menyadari bahwa Tuhan tetap mendengarkan dan tidak meninggalkannya. Dari pengalaman itu tumbuh kesadaran mendalam bahwa: “Aku dicintai oleh Tuhan.” Lebih dalam lagi, Pemazmur menyadari bahwa cintanya Tuhan bagi manusia ciptaan-Nya tidak terbatas pada ruang dan waktu. Itu berarti cinta Tuhan bagi manusia sungguh besar sehingga manusia sungguh berharga di hadapan-Nya, bukan hanya ketika manusia hidup, melainkan juga ketika manusia yang dikasihi-Nya mengalami kematian. Maka, betapa bahagianya dicintai sedemikian rupa oleh Sang Pencipta.
Sayangnya, tidak semua orang menyadari betapa dalamnya cinta Tuhan itu kepada mereka. Ada orang yang merasa sendirian, terbuang, atau tak layak dikasihi. Namun Mazmur hari ini mengingatkan kita bahwa kasih Tuhan tidak tergantung pada keadaan kita, melainkan pada kesetiaan-Nya. Saat kita sadar bahwa kita dicintai Tuhan, maka kita menemukan kekuatan baru untuk hidup. Cinta Tuhan bukan hanya membuat hati kita tenang, tetapi juga menyembuhkan luka, menegakkan langkah, dan menumbuhkan harapan baru bagi kita yang lemah dan mudah goyah.
Cinta Tuhan itulah yang mengangkat kita dari kejatuhan dan menuntun kita untuk menata kembali kehidupan. Kita bisa memulai lagi, bukan karena kuat atau hebat, tetapi karena ada kasih Tuhan yang menopang dan menghidupkan kita. Maka marilah kita hidup dengan hati yang penuh syukur, menanggapi cinta Tuhan itu dengan kesetiaan dan kasih yang nyata kepada sesama. Amin. [fani].
“Tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada cinta Tuhan: setiap luka menjadi pelajaran, setiap kegagalan menjadi awal baru, dan setiap hari menjadi kesempatan untuk bangkit dan menata hidup bersama-Nya.”