Hidup Bermakna Bagi Orang Percaya dan Mempercayakan Hidup Hanya Kepada Tuhan Khotbah Minggu 14 Oktober 2018

3 October 2018

Bulan Ekumene / Minggu Biasa
Stola Hijau

 

Bacaan 1       : Ayub 23 : 1 – 17.
Bacaan 2       : Ibrani 4 : 12 – 14.
Bacaan 3       : Markus 10 : 17 – 31.

Tema Liturgis  :Dipersekutukan dalam Kuasa Nama Kristus
Tema Khotbah: Hidup Bermakna Bagi Orang Percaya Dan Mempercayakan Hidup Hanya Kepada Tuhan.

KETERANGAN BACAAN

Ayub 23 : 1 – 17.

Di pasal 23 ini Ayub masih mempertanyakan tentang penderitaan dan penyakit yang dia alami kepada Tuhan. Penderitaannya akan terasa lebih ringan jika dia tahu apa sebabnya. Karena dia yakin tidak berbuat kesalahan / dosa tertentu kepada Tuhan, tetapi mengapa dia harus menderita sebagaimana orang menanggung penghukuman dari Tuhan. Dalam hal ini Ayub juga berusaha membuat sahabat-sahabatnya mengerti bahwa memahami tentang Tuhan, tentang hidup dan penghakiman itu tidak sesederhana yang dipahami orang banyak pada saat itu. Dalam penderitaan yang dialaminya, Ayub tidak mengungkit tentang kehilangan semua harta dan anak-anaknya, sebaliknya lebih menunjukkan kerinduannya pada Allah dan perjumpaan dengan Dia (ayat 3). Secara tidak langsung, bagi Ayub kebersamaan dengan Allah merupakan hal yang utama, melebihi kebersamaannya dengan harta dan keluarganya.

Allah itu tidak terjangkau oleh manusia. Ketika manusia mencari ke berbagai penjuru dunia, seolah-olah tidak berjumpa dengan Dia (ayat 8,9). Tetapi sesungguhnya Allah sangat mengetahui apapun yang dialami manusia (ayat 10), termasuk Ayub. Allah  itu lebih besar dari akal manusia. Di ayat 10 ini juga muncul pemikiran Ayub bahwa dirinya berada dalam ujian. Sebelumnya,sahabat-sahabatnya meyakinkan dia bahwa penderitaan yang dia alami pasti karena dosa yang telah diperbuat, sehingga Ayub harus bertobat. Tetapi di ayat 10 itu terungkap sebuah keyakinan Ayub jika penderitaannya merupakan sebuah ujian, maka dia akan kedapatan tak bercela (seperti emas).

Di ayat 14 Ayub mengakui bahwa apapun yang terjadi dalam hidupnya, tidaklah terlepas dari rencana Allah. Itulah yang menjadikan Ayub akhirnya menyadari dan meletakkan hidupnya dibawah rencana Allah. Pemahaman seperti ini menjadikan Ayub semakin merasa tidak berarti di hadapan Allah. Ayub semakin hormat dan takut akan Allah (“…hatiku gemetar menghadapi Dia…” , ayat 15). Ayub merasa tidak mungkin “berhadapan” dengan Allah menuntut keadilan versi manusia. Namun, disisi lain, Ayub tetap berkeyakinan bahwa penderitaan yang dia alami bukan karena dosa-dosanya / penghukuman (kegelapan, ayat 17).

 

Ibrani 4 : 12 – 14.

Kata “hidup” di ayat 12 menunjukkan bahwa sesuatu itu dinamis, memiliki kekuatan, energi. Jika firman Allah itu dikatakan “hidup”, maka firman Allah  berarti juga dinamis, memiliki kekuatan dan energi untuk berpengaruh bahkan mengubah hidup manusia. Kekuatan firman itu bahkan dikatakan bagaikan pedang bermata dua (memiliki dua sisi yang tajam). Pedang jelas bisa membinasakan, tetapi juga bisa berfungsi bagaikan pisau oprasi bagi manusia. Artinya bisa mencelakai dan juga bisa memberikan manfaat bagi manusia. Kemampuan seperti itulah yang  menjadikan firman itu sesuatu yang “hidup”.

Kekuatan pedang bermata dua ini jelas bisa menunjukkan kekuatannya keluar (kepada orang lain), tetapi juga kedalam (pada diri sendiri). Artinya, ketika seseorang menggunakan firman itu bagaikan pedang untuk “menyerang” ataupun menasehati orang lain, maka terlebih dahulu orang tersebut juga “diserang” atau dinasehati juga oleh firman yang sama. Itulah “kekuatan” firman yang disebut “hidup”. Kekuatan firman itu sampai bisa memisahkan antara jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum, sanggup membedakan pertimbangan dan pemikiran hati kita. Artinya, menjadikan seseorang mampu membedakan hal-hal yang duniawi dan yang rohani. Kekuatan firman yang demikian dahsyat inilah yang akan menjadi penuntun hidup manusia menuju “hari perhentian” yang disediakan Allah (lih. ayat 1). Allah maha mengetahui apapun perbuatan dan perilaku manusia, dan mereka harus mempertanggung-jawabkannya masing-masing (ayat 13).

Ayat 14 menyatakan keberadaan Yesus sebagai Imam Besar Agung dan Anak Allah. Dalam pemahaman orang Yahudi, Imam Besar dianggap memiliki kwalitas kerohanian yang terbaik di antara mereka. Jadi bukan sekedar sebuah “kedudukan”, tetapi juga dianggap menyatakan kerohanian yang “terbaik” di hadapan Allah. Hanya Imam Besar inilah yang diperkenan masuk di ruang maha kudus Bait Allah setahun sekali untuk meminta pengampunan dosa bagi seluruh umat. Ini adalah aturan hukum Taurat dan sudah dilakukan  sejak zaman Perjanjian Lama. Jika Yesus bukan saja dikatakan sebagai Imam Besar, tetapi juga Anak Allah, maka hal ini menyatakan kuasa Yesus yang lebih tinggi dari Imam Besar. Imam Besar hanya bisa memintakan pengampunan, tetapi Yesus yang Anak Allah itu bukan sekedar menjadi perantara antara manusia dengan Allah, tetapi juga Dialah yang mengampuni dosa itu. Karena memang Dia Allah. Hal ini bukan saja dipegang teguh sebagai sebuah pengakuan saja, tetapi juga telah dinyatakan dalam firman Allah yang “hidup” itu.

 

Markus 10 : 17 – 31.

Orang muda kaya yang menemui Yesus jelas menunjukkan keinginannya untuk memastikan bagaimana cara mendapatkan hidup kekal. Pemahamannya selama ini hanya sebatas dia menaati semua peraturan hukum Taurat, dan dia sudah melaksanakan semua itu. Dia menyebut Yesus sebagai Guru yang baik, artinya, pemuda kaya ini begitu yakin bahwa Yesus sebagai seorang guru tentu akan memberitahukan kebenaran dan menjawab dengan benar pula atas  pertanyaannya. Dan Yesus mengungkapkan pada pemuda kaya itu bahwa segala yang baik hanya datang dari Allah. Jika pemuda itu mengakui Yesus itu baik, maka artinya dia juga mengakui bahwa Dia datang dari Allah.

Ayat 21 menyatakan bahwa belas kasih Yesus mengawali pemberian petunjuk dan nasehat kepada pemuda kaya itu. Rupanya pemuda kaya itu sangat memisahkan antara menaati peraturan hukum Taurat dengan praktek kehidupan sehari-hari. Yesus mengetahui hal ini. Yesuspun tahu kalau pemuda ini sangat terikat dengan harta kekayaannya. Harta kekayaannya dianggap tidak ada hubungannya sama sekali dengan melaksanakan peraturan hukum Taurat. Hal ini jelas terlihat dari kekecewaan pemuda kaya itu ketika Yesus mengatakan dia harus menjual hartanya dan membagikan pada orang miskin (ayat 22). Rupanya kecintaan pemuda itu pada kekayaan melebihi kecintaannya pada hukum Taurat bahkan kepada Allah. Allah, maupun aplikasi pelaksanaan hukum Taurat  bukan menjadi hal utama dalam hidupnya. Kebergantungannya pada harta menjadi lebih besar dari pada kepada Allah. Karenanya dia kecewa dan memilih untuk pergi ketika dia harus berpisah dengan hartanya yang banyak itu. Hal seperti itu banyak dialami oleh orang kaya. Karenanya dikatakan sulit bagi orang kaya masuk dalam kerajaan Allah. Jika dia masih terikat pada hartanya, maka dia tidak akan bisa mengandalkan Tuhan. Seperti seekor unta yang hendak masuk pintu gerbang kota di sore / malam hari (biasanya hanya tersisa lobang pintu yang sedikit lebih besar dari tubuh manusia untuk masuk karena pintu yang besar sudah ditutup), unta itu harus dilepaskan dulu dari beban yang dibawanya, supaya muat masuk di pintu yang kecil itu. Pintu kecil itulah yang disebut “lubang jarum” di ayat 23. Kalau unta itu memaksa masuk dengan semua muatannya, tidak akan cukup.

Bagi para murid tampaknya mustahil bagi orang kaya untuk masuk sorga. Tetapi tidak demikian halnya bagi Allah. Sebab tidak mustahil orang kaya itu mengalami pembaharuan, sehingga dia sadar bahwa kebergantungan hidupnya hanya kepada Allah dan bukan pada hartanya. Orang yang mau mengikut Yesus dalam arti yang sesungguhnya memang harus berani mengesampingkan kenyamanannya, hartanya, bahkan keinginan pribadinya, supaya dia bisa fokus mengandalkan Tuhan dan kehendak Tuhan menjadi kehendaknya untuk dilakukan (ayat 29). Namun demikian Yesus juga memberitahukan upahnya jika berani melakukan hal di atas. Upah yang akan diterima jauh melebihi apa yang pernah ditinggalkannya (ayat 30). Karena itu orang Yahudi tidak bisa bermegah karena lebih dahulu mengganggap diri menjadi umat Allah / keturunan bangsa Israel dan menganggap pasti masuk sorga. Ada banyak umat Allah yang lebih kemudian mengenal Allah, tetapi mereka justru memiliki kwalitas iman dan perbuatan yang jauh lebih baik dan berkenan di hadapan Allah.

 Benang Merah Ketiga Bacaan

Siapapun yang mengandalkan Firman Tuhan yang hidup itu akan merasakan dikuatkan, dinasehati bahkan diubahkan hidupnya menjadi semakin berkenan di hadapan Tuhan.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia.
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

 

HIDUP ITU SEGALANYA.
(Nats : Markus 10 : 17b)

 

Pendahuluan

Tidaklah salah jika banyak orang berpendapat bahwa hal terpenting bagi manusia adalah hidup / kehidupan. Terbukti bahwa manusia rela melakukan apapun demi untuk hidup atau mempertahankan hidup. Kehidupan tidak bisa ditukar dengan apapun, termasuk dengan harta sekalipun. Kehidupan memang tidak tergantikan. Maka tidaklah heran jika dalam perikop bacaan 3 seorang pemuda kaya itu juga bertanya kepada Yesus tentang apa yang harus dia lakukan supaya mendapatkan hidup kekal. Ternyata banyaknya harta belum menjadi jaminan dan kepuasan bagi seseorang untuk meraih hidup dalam arti yang sesungguhnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, salah satu pengertian dari hidup adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya. Adapaun menurut Kamus Alkitab, yang dimaksud dengan hidup kekal adalah hidup (=sepenuh-penuhnya) diberi kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus (Yoh. 3 : 16, 36).

Isi

Secara tidak langsung, pemuda kaya yang datang kepada Yesus itu berpendapat bahwa harta kekayaan ternyata tidak bisa menjamin pemiliknya untuk mengalami hidup kekal. Itulah sebabnya dia bertanya kepada Yesus tentang apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Demikian juga ketaatannya memberlakukan peraturan hukum Taurat juga tidak bisa menjamin dia untuk memperoleh hidup kekal. Hidup, terutama hidup kekal memang menjadi kebutuhan semua orang. Apapun yang telah dimiliki dan diraih, kenyataannya manusia masih merasa ada yang “kurang” dalam hidupnya, yaitu jaminan hidup kekal.

Tuhan Yesus mengerti bahwa pemuda kaya yang sedang mencari hidup kekal itu sesungguhnya adalah orang yang sangat terikat dengan hartanya. Kekayaannya yang banyak menjadikannya tidak mudah untuk melepaskannya, walaupun itu demi hidup kekal. Oleh karena itu ketika Tuhan Yesus meminta pemuda kaya itu untuk pergi menjual hartanya, lalu membagikannya kepada orang miskin, pemuda kaya itu keberatan. Dia memilih untuk pergi meninggalkan Yesus. Dia kecewa. Ternyata kekayaannya tidak bisa menjadikannya bahagia. Tentunya dia berharap mendapatkan hidup kekal, tetapi juga tetap memiliki seluruh hartanya. Sebenarnya yang menjadi persoalan bukan pada kepemilikan harta itu, tetapi lebih pada keterikatannya pada hartanya. Rupanya kesadaran bahwa dia harus berbagi dengan sesama, khususnya yang membutuhkan (miskin) belum ada pada pemuda kaya itu. Dia memang melaksanakan aturan-aturan hukum Taurat, tetapi  dia memahaminya sebagai sesuatu yang terpisah sama sekali dengan praktek hidup sehari-hari yang juga harus mewujudkan mengasihi sesama. Apa yang dia miliki bukan digunakan sebagai sarana untuk mewujudkan ketaatannya pada peraturan hukum Taurat, tetapi dia anggap sebagai milik pribadi yang tidak ada hubungannya dengan orang lain. Jika hal ini terus terjadi, maka tidak mungkin ada kesadaran untuk memperhatikan hidup orang lain. Firman Tuhan yang telah dia “lakukan” ternyata belum mampu mengubah orientasi hidupnya.

Kwalitas hidup yang bagaimanakah yang dikehendaki Tuhan Yesus ?

  1. Mengutamakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam melaksanakan firmanNya.
  2. Meyakini kuasa firman Tuhan yang hidup, artinya firman Tuhan itu punya kuasa untuk menasehati, menegor dan membawa perubahan dalamhidup manusia.
  3. Tidak terikat pada apa yang dimiliki (keluarga, harta, kedudukan, dll), tetapi pada Tuhan. Dalam hal ini bisa meneladani Ayub (lih. bacaan 1). Dalam penderitaan hidupnya Ayub tidak meratapi hilangnya harta dan keluarganya, tetapi justru lebih menunjukkan kerinduannya untuk selalu dekat dengan Allah (Ayub 23 : 3). Dalam kehilangan harta dan keluarga yang dia miliki, Ayub justru terus mencari hadirat Tuhan.
  4. Menyadari bahwa apapun yang dimiliki, maka itu bukan untuk dinikmati sendiri. Jika seseorang memiliki sesuatu, maka dia juga harus rela berbagi dengan sesamanya, atau bahkan merelakan jika Tuhan berkehendak untuk mengambilnya. Karena sesungguhnya Tuhanlah pemilik dan pemberi berkat.
  5. Dalam hidupnya manusia hendaknya menyadari bahwa apapun yang ada di dunia ini bersifat sementara. Tidak semestinya manusia mempertahankan yang sementara itu. Sebaliknya, manusia harus mengupayakan kehidupan yang tidak sementara, yaitu hidup kekal. Dan hidup kekal hanya akan diterima oleh orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat dan terikat hanya kepada Dia. Menyadari bahwa terlepas dari Yesus Kristus berarti terlepas pula dari kehidupan kekal.
  6. Hidup yang sesungguhnya adalah memberlakukan kehendak Allah. Menjadikan kehendak Allah menjadi kehendakku, termasuk dalam hal mengasihi sesama.

Memiliki kehidupan kekal menjadi dambaan semua orang. Hidup kekal itu tak tergantikan oleh kepemilikan apapun. Hidup kekal itu diberikan oleh Tuhan Yesus Sang Imam Besar, tetapi juga harus tetap diperjuangkan. Manusia harus tetap berjuang untuk mempertahankannya. Salah satu wujud perjuangan itu adalah melepaskan diri dari berbagai keterikatan terhadap apapun, supaya diri manusia tetap terikat kepada Allah dan menganggap kehendak Allah (yang telah tertulis dalam firmanNya) adalah yang utama dalam hidupnya.

Melalui percakapan dengan pemuda kaya itu sesungguhnya Tuhan Yesus menghendaki ketika kita hidup, seharusnya jangan sekedar menjalani kehidupan ini. Tetapi apakah kehidupan yang kita jalani ini sudah bermakna atau belum. Seorang pemuda kaya itu tentunya belum menunjukkan makna hidupnya yang kaya bagi sesama jika dia ternyata tidak bersedia berbagi harta dengan sesamanya yang menderita. Dia belum bisa menyangkal diri dalam arti tidak menuruti apa yang menjadi kehendak nafsunya. Bagaimana mungkin dia akan bersedia meninggalkan keluarganya atau kenyamanannya, bahkan harta miliknya demi mengikut Yesus atau demi menaati firman Tuhan. Padahal semua itu merupakan “syarat” bagi orang yang hendak mengikut Yesus. Mengikut Yesus berarti memperoleh hidup kekal.

Bagi pemuda kaya itu akhirnya belum bisa menghayati bahwa hidup (kekal) adalah segalanya. Apa yang dimiliki masih menjadi segalanya. Sulit berpisah dari apa yang dimiliki ternyata menjadi penghambat bagi pemuda kaya itu untuk menerima hidup kekal. Dia memang hidup, tetapi belum bermakna bagi sesama. Keegoisan masih mendominasi hidupnya. Dia belum merelakan untuk melakukan segalanya demi hidup kekal. Percakapannya dengan Tuhan Yesus sesungguh bisa menjadi sebuah proses penyadaran. Tetapi pada akhirnya segala keputusan ada di tangannya. Sebagaimana yang dialami Ayub (lih. bacaan 1). Penderitaan hidupnya dia lihat sebagai sebuah proses ujian, pemurnian diri seperti emas (Ayub 23 : 10). Ayubpun akhirnya mengambil keputusan untuk berserah dalam rencana Tuhan kerena dia menyadari bahwa Tuhan pasti akan menyelesaikan rencanaNya dan itu yang terbaik bagi hidup Ayub (Ayub 23 : 13, 14). Ayub rela menempatkan kehendaknya (untuk sembuh dari penyakit) dibawah kehendak Tuhan (untuk memproses Ayub tunduk pada rencana Tuhan). Hidup Ayub menjadi tidak sia-sia meski menghadapi penderitaan sebab akhirnya dia memahami dan menjalani kehendak Tuhan dalam hidupnya.

Jika orang berpendapat bahwa hidup itu penting, maka orang tersebut pasti akan menghargai hidup dan kehidupan. Menghargai hidup berarti berjuang untuk mempertahankan hidup, bermakna bagi diri sendiri, sesama dan untuk kemuliaan nama Tuhan. Hidupnya tidak untuk dinikmati sendiri.

Penutup

Hidup yang seperti apakah yang kita kehendaki untuk kita jalani ? Apakah kita juga menganggap bahwa hidup kekal itu merupakan hal yang terpenting dalam hidup kita ? Sekaranglah saatnya kita belajar untuk menjadikan hidup kita berkwalitas sesuai dengan kehendak Tuhan. Hidup memang hal terpenting bagi manusia. Tetapi apa artinya jika hidup manusia itu tidak bermakna bagi sesama, apalagi di hadapan Tuhan. Tidaklah salah jika orang kristen menjadi kaya atau memiliki segalanya, termasuk keluarga dan kedudukan. Tetapi haruslah tetap disadari bahwa apa yang dimiliki itu bukanlah segalanya. Masih ada satu hal yang terpenting dan harus terus diperjuangakan, yaitu mempertahankan hidup kekal yang telah Tuhan Yesus anugerahkan kepada orang yang percaya kepadaNya. Oleh karena itu jangan ragu untuk merelakan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita bagi dengan sesama atau untuk memenuhi kehendak Tuhan. Seringkali hal itu untuk menjadikan kita tidak terikat pada apa yang kita miliki, tetapi tetap terikat kepada Tuhan, Sang Pemberi hidup kekal.  Amin.

 

Nyanyian  : KJ. 365b : 1, 2, 4.

RANCANGAN KHOTBAH :Basa Jawi.

GESANG PUNIKA PREKAWIS KANG UTAMI
(Jejer : Markus 10 : 17b)

 

Pambuka

Boten lepat menawi wonten tiyang ingkang gadhah pamanggih bilih prekawis ingkang paling wigati punika gesang / pigesangan. Buktinipun manungsa sagah nindakaken punapa kemawon kangge saged gesang utawi tansah gesang. Gesang boten saged dipun lintoni kaliyan punapa kemawon, kalebet bandha ndonya. Pigesangan pancen boten saged kagantos punapa kemawon.  Pramila kita boten eram menawi ing perikop waosan 3 wonten tiyang enem ingkang sugih lajeng pitaken dhumateng Gusti Yesus ing bab punapa ingkang kedah dipun lampahi supados saged nampeni gesang langgeng. Nyatanipun bandha/kasugihan ingkang kathah punika dereng saged dados jaminan lan kepuasan tumrap manungsa kangge nggayuh gesang ingkang sak leresipun.

Miturut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, salah satunggaling pangertosan bab gesang inggih punika taksih tansah wonten, obah, lan nyambut damel kados sakmesthinipun. Menawi miturut Kamus Alkitab, ingkang dipun wastani gesang langgeng punika gesang (=ingkang sawetah) ingkang kaparingaken dhateng saben tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus (Yok. 3 : 16, 36).

Isi

Senadyan kanthi boten terang-terangan, estunipun tiyang sugih ingkang sowan ing ngarsanipun Gusti Yesus punika gadhah pamanggih bilih kasugihan boten paring jaminan dhateng ingkang gadhah kangge nampi gesang langgeng. Pramila piyambakipun atur pitakenan dhateng Gusti Yesus ing bab punapa ingkang kedah katindakaken supados saged nampi gesang langgeng. Mekaten ugi ing bab kasetyanipun nindakaken aturan Toret ugi boten paring jaminan nampeni gesang langgeng. Bab gesang, utaminipun gesang langgeng saestu dados kabetahaning saben tiyang. Punapa kemawon ingkang sampun dipun gadhahi lan dipun tindakaken, nyatanipun manungsa taksih rumaos “kirang” ing gesangipun, inggih punika wontenipun jaminan gesang langgeng.

Gusti Yesus pirsa bilih tiyang sugih ingkang saweg ngupadi gesang langgeng punika estunipun tiyang ingkang kabanda ing kasugihanipun. Bandha ndonya ingkang kathah ndadosaken piyambakipun boten gampil pisah, senadyan punika kangge gesang langgeng. Pramila nalika Gusti Yesus ngandika supados tiyang sugih punika kesah nyade bandhanipun, kaparingaken dhateng para tiyang miskin, tiyang sugih kalawau rumaos kawratan. Tiyang sugih punika milih mundur lan nilar Gusti Yesus. Piyambakipun kuciwa. Nyatanipun kasugihan boten saged ndadosaken bingah/rahayu. Tamtunipun tiyang sugih punika ngajeng-ajeng nampi gesang langgeng, ananging ugi taksih saged ngukuhi kasugihanipun. Estunipun ingkang wigati punika sanes ing bab kasugihanipun, ananging ing bab anggenipun tiyang punika kabanda ing kasugihanipun.Rupinipun tiyang sugih kalawau dereng gadhah kesadharan bilih piyambakipun ugi kedah purun weweh dhateng sesami ingkang mbetahaken (miskin). Tiyang sugih punika pancen sampun nindakaken angger-anggering Toret, ananging piyambakipun gadhah pemanggih  bilih nindakaken angger-anggering Toret punika boten wonten sambetipun kaliyan tumindaking gesang sadinten-dinten ingkang ugi kedah nresnani sesami. Kasugihanipun boten kangge sarana mujudaken kasetyanipun nindakaken aturan Toret, ananging dipun anggep dados gadhahanipun piyambak ingkang boten wonten sesambetanipun kaliyan tiyang sanes. Menawi prekawis punika terus katindakaken, tamtu boten badhe wonten kesadharan kangge migatosaken gesangipun tiyang sanes. Sabda pangandikanipun Gusti ingkang sampun katindakaken nyatanipun dereng saged paring ewah-ewahan ing pangertosanipun bab gesang.

Kwalitas gesang ingkang kados pundi ingkang kakersakaken dening Gusti Yesus ?

  1. Nganggep bilih Gusti punika ingkang utami ing pigesangan sadinten-dinten, mekaten ugi nindakaken dhawuh pangandikanipun.
  2. Saestu pitados ing bab panguwaosipun pangandika ingkang gesang, tegesipun sabda pangandikanipun Gusti punika gadhah panguwaos kangge paring pitutur, ngengetaken lan ugi mbekta ewah-ewahan ing gesanging manungsa.
  3. Boten kabanda ing barang darbe (brayat, bandha, kalenggahan, lsp), ananging namung gumantung ing Gusti. Ing prekawis punika swawi nuladha Ayub (waosan 1). Wonten ing salebeting panandhang ing gesangipun Ayub boten nlangsani kasugihan lan brayatipun ingkang sampun tumpes, ananging langkung nedahaken pepinginanipun sowan lan pinanggih kaliyan Gusti (Ayub 23:3). Ing kawontenan kecalan bandha lan brayat, Ayub tansah madosi Gustinipun.
  4. Wonten kesadharan bilih punapa kemawon ingkang dipun gadhahi, estunipun boten namung dipun nikmati piyambak. Menawi wonten tiyang ingkang gadhah punapa kemawon estunipun kedah purun wewehdhateng sesaminipun, kepara iklas menawi Gusti ngersakaken mundhut. Awit, estunipun inggih Gusti piyambak ingkang kagungan lan ingkang paring berkah.
  5. Ing gesangipun manungsa kedah mangertos bilih punapa kemawon ingkang wonten ing alam donya punika namung kangge sawetawis wekdal kemawon. Boten sakmesthenipun menawi manungsa lajeng ngugemi ingkang sawetawis punika. Kosok wangsulipun, manungsa kedah ngupadi ingkang boten namung kangge sawetawis, inggih punika gesang langgeng. Dene gesang langgeng punika namung badhe katampi dening tiyang ingkang nampeni Gusti Yesus minangka Juruwilujeng lan inggih namung gumantung ing Panjenenganipun. Manungsa kedah mangertos bilih uwal saking Gusti Yesus Kristus ateges ugi uwal saking pigesangan langgeng.
  6. Gesang ingkang saestu inggih punika nindakaken karsanipun Gusti. Karsanipun Gusti ugi dados pepinginan kita, kalebet ing bab nresnani sesami.

Gadhah pigesangan langgeng dados pangajeng-ajeng tumrap sedaya manungsa. Gesang langgeng punika boten  saged kagantos bandha punapa kemawon. Gesang langgeng punika kaparingaken dening Gusti Yesus, Sang Imam Agung, ananging ugi kedah tansah kaupadi. Manungsa kedah tansah ngupadi kangge ngugemi. Salah satunggaling wujud ngugemi gesang langgeng punika kanthi ngupadi supados kita boten kabanda ing bab punapa kemawon, supados kita namung gumantung ing Gusti lan gadhah pamanggih bilih karsanipun Gusti (ingkang sampun kaserat ing sabdanipun) punika ingkang utami ing gesangipun.

Kanthi pangandikanipun Gusti dhateng tiyang sugih punika estunipun Gusti Yesus ngersakaken nalika kita gesang, kedahipun boten namung nglampahi gesang kemawon. Ananging punapa gesang kita punika sampun wonten maknanipun utawi dereng. Tiyang sugih kalawau tamtunipun dereng saged nedahaken maknanipun gesang ingkang sugih tumrap sesami menawi piyambakipun dereng purun weweh dhateng sesaminipun ingkang kecingkrangan. Piyambakipun dereng saged selak dhateng napsunipun. Kados pundi anggenipun kedah nilar brayatipun utawi kenyamananipun, punapa malih kasugihanipun   kangge ndherek Gusti Yesus utawi kangge nindakaken sabdanipun Gusti.Lha sedaya kalawau estunipun dados “syarat” tumrap tiyang ingkang badhe ndherek Gusti. Ndherek Gusti Yesus ateges nampi gesang langgeng.

Tumrap tiyang sugih kalawau wusananipun dereng saged ngayati bilih gesang langgeng punika saestu ingkang utami. Tumrap tiyang sugih punika, kasugihan ingkang utami. Menawi manungsa ewet uwal saking punapa ingkang dipun gadhahi nyatanipun dados pepalang tumrap tiyang sugih punika kangge nampeni gesang langgeng. Piyambakipun pancen gesang, ananging dereng saged wonten maknanipun tumrap sesami. Taksih nengenaken kabetahanipun piyambak. Piyambakipun ugi dereng iklas nindakaken punapa kemawon kangge gesang langgeng. Pirembaganipun kaliyan Gusti Yesus estunipun saged dados proses penyadaran. Ananging wusananipun sedaya keputusan inggih wonten ing tanganipun piyambak. Kados dene ingkang dipun alami dening Ayub (waosan 1). Kasangsaran ing gesangipun dipun ayati dados proses ujian, pemurnian diri kados dene  emas (Ayub 23 : 10). Wusananipun Ayub inggih mutusaken kangge pasrah   ing rancanganipun Gusti awit Ayub mangertos bilih Gusti tamtu badhe ngrampungaken sedaya rancanganipun lan punika ingkang paling sae tumrap gesangipun Ayub (Ayub 23 : 13, 14). Ayub rila pangajeng-ajengipun (supados saras saking penyakitipun) kapapanaken ing sangadhapipun karsanipun Gusti (kangge mroses Ayub supados tundhuk ing rancanganipun Gusti). Gesangipun Ayub dados boten nglaha senadyan ngadhepi kasangsaran awit wusananipun Ayub saged mangertos lan nindakaken karsanipun Gusti ing gesangipun.

Menawi wonten tiyang ingkang gadhah pamanggih bilih gesang punika wigati, tamtunipun tiyang kalawau badhe tansah ngajeni dhateng  pigesangan. Ngajeni pigesangan ateges ngupadi supados saged gesang, maedahi tumrap dhiri pribadi, sesami, lan kagem kamulyaning Gusti. Gesangipun boten namung dipun nikmati piyambak.

Panutup

Gesang ingkang kados pundi ingkang kepengin kita lampahi ? Punapa kita ugi gadhah pamanggih bilih gesang langgeng punika prekawis ingkang utami ing gesang kita ? Lah samangke wekdalipun kita sami sinau supados gesang kita gadhah kwalitas ingkang cunduk kaliyan karsanipun Gusti. Gesang punika pancen prekawis ingkang utami tumrap manungsa. Ananging, punapa paedahipun menawi gesangipun manungsa punika boten maedahi tumrap sesami, punapa malih ing ngarsanipun Gusti. Estunipun boten wonten ingkang lepat menawi wonten tiyang kristen ingkang sugih utawi gadhah samudayanipun, kalebet brayat lan kalenggahan. Ananging kedah tansah enget bilih punapa ingkang dipun gadhahi punika sanes ingkang utami. Taksih wonten setunggal prekawis ingkang utami lan kedahtansah kaupadi, inggih punika ngukuhi gesang langgeng ingkang sampun kaparingaken dening Gusti Yesus dhateng saben tiyang ingkang pitados dhateng Panjenenganipun. Pramila sampun mangu-mangu kangge andum berkah kaliyan sesami menawi punika ingkang kakersakaken dening Gusti. Punika asring kangge ndadosaken kita boten kabanda ing barang darbe kita, ananging tansah gumantung ing Gusti, ingkang paring gesang langgeng.  Amin.

Nyanyian : KPK. 96 : 2, 3.

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak