Bulan Ekumene / Minggu Biasa
Stola Hijau
Bacaan 1 : Ayub 38 : 1 – 11
Bacaan 2 : Ibrani 5 : 1 – 10
Bacaan 3 : Markus 10 : 35 – 45
Tema liturgis : Dipersatukan Dalam Kuasa Kasih Kristus
Tema khotbah : Kekuatan Ambisi Manusia Versus Kuasa Kasih Kristus.
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Ayub 38 : 1 – 11
Ada pembicaran antara Allah dan Ayub. Di dalam menghadapi Ayub, Tuhan bertindak proforsional, tidak sembrono, melakukan sesuai dengan rencana yang tepat dan masuk akal. Tetapi respon Ayub termasuk ke empat sahabatnya telah membutakan sikap dan tindakan Allah ini.
Dalam percakapannya dengan Allah, Allah mengijinkan Ayub menempatkan dirinya sebagai laki-laki (Ibrani= eber), sebagai pejuang yang perkasa. Tetapi tak lama kemudian , setelah Allah menyatakan diriNya sebagai Pencipta dan Penguasa atas bumi, laut dan makhluk-makhluk yang lainnya, yang diadakan dan diawasi oleh Allah, Ayub sebagai manusia menempatkan diri sebagai makhluk yang lemah, bertekuk lutut menjadi penyembah.
Ibrani 5 : 1 – 10
Seorang Imam Besar harus dipilih diantara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hal yang ditujukan kepada Allah, terutama untuk mempersembahkan korban-korban kepada Allah yang bersangkutan dengan dosa. Seorang Imam Beaar dipilih dan dipanggil oleh Allah diantara manusia, sebagai seorang yang benar-benar manusia, harus dapat secara sempurna mengerti kelemahan-kelemahan manusia.
Kristus adalah Imam Besar, bahkan Imam yang kekal menurut peraturan Melkisedek dipandang dari sudut pengangkatan illahinya (ayat 6), kemanusiaanNya yang sempurna, dalam hal telah belajar sebagai manusia dalam pengalaman hidup duniawiNya tentang arti sepenuhnya dari ketaatan, pemasrahan kepada kehendak Allah di depan penderitaan manusia yang luar biasa dan kuasa maut ( ayat 7-8), kemampuanNya untuk mengerti kelemahan manusia, pelayanan dan pekerjaanNya. Karena sifat-sifat yang demikian itulah Allah dengan sungguh-sungguh memberikan kepada-Nya gelar yang patut bagi-Nya, yaitu gelar Imam Besar menurut peraturan baru yang kekal (10). Dan dengan demikian Ia sepenuhnya berwenang untuk bertindak sebagai satu-satunya Penyelamat yang memberikan keselamatan yang abadi bagi semua orang yang belajar percaya dan taat kepada kehendak dan jalan Allah bagi manusia (ayat 9).
Markus 10 : 35 – 45
Permintaan Yakobus dan Yohanes adalah permintaan yang didorong oleh ambisi pribadinya dan sekaligus permintaan yang tidak empan papan dan anggon mangsa. Permintaan yang timbul akibat dari ketidak mengertian mereka tentang siapa Yesus dan pekerjaanNya, termasuk jawaban mereka dalam ayat 39. Permintaan yang timbul akibat salah memahami atau salah paham tentang ke-Mesias-an Yesus. Pertanyaan yang timbul akibat persengkongkolan keluarga (Yakobus, Yohanes dan Ibunya Salome, saudara perempuan Maria ibunya Yesus).
Reaksi dari ke sepuluh murid yang lain, menampakan budi yang tidak lebih baik dari Yakobus dan Yohanes ( ayat 41), yang timbul akibat irihari karena merasa ditinggalkan, apalagi Petrus yang selalu bersama-sama dengan Yesus dan mereka.
Reaksi Yesus tetap memikirkan kesengsaraanNya dengan memakai ungkapan cawan dan baptisan (ayat 38 ), sebagai gambaran tentang penderitaan dan pencelupan pada kedudukan yang besar sekali. Yesus mencoba memimpin mereka hingga mengerti apa yang terletak di antara Dia dan kemuliaanNya, dan karena itu juga di antara mereka dan perealisasian keinginan mereka. Yesus kembali mengulangi pengajarannya perbedaan asasi antara kebesaran duniawi dan kebesaran rohani ( ayat 42 ). Dalam dunia orang suka memerintah dan menguasai orang lain, dengan memakai pengaruh pribadi untuk mebesarkan diri. Tetapi dalam kerajaan kebesaran yang sebenarnya mengalir dari pelayanan yang rendah dan dengan sukarela.
Yesus sendiri melaksanakan apa yang diajarkan, Ia adalah pengejawantahan etikaNya sendiri (ayat 45). Yesus menyatakan dengan tegas tujuan kedatangan dan pekerjaanNya yang terdiri dari dua bagian : pertama untuk melayani dan kedua untuk memberi. Memberikan nyawaNya untuk tebusan bagi banyak orang (Yunani : lytron anti pollon). Yesus datang untuk memberikan hidupNya sendiri sebagai suatu harga tebusan, bahwa mereka yang memiliki hidup yang hilang ini dapat menerima kembali. Bagi banyak orang, menunjukkan bagaimana banyak orang akan menerima berkat sebagai hasil korban dari orang yang yang SATU ini (Roma 5:19).
Benang Merah Tiga Bacaan
Ambisi manusia (yang negatif) bisa saja bertentangan bahkan meniadakan kuasa kasih Allah, yang mengakibatkan permusuhan baik secara vertikal (dengan Allah) maupun horisontal ( dengan sesama ). Sebaliknya, kasih Allah yang nyata dalam Yesus Kristus, yang datang ke dunia untuk melayani dan meberikan nyawaNya, sebagai tebusan bagi banyak orang, mengakibatkan pulihnya kembali hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya.. Dalam hal ini, Yesus menjadi Imam Besar yang mengorbankan diriNya sendiri supaya banyak orang menerima berkat sebagai hasil pengorbananNya. Banyak orang mengakui kuasa Allah, dipersekutukan kembali dengan Allah dan sesamanya, serta dapat menerima kembali hidupnya yang telah hilang.
RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)
Pembukaan
Sebagaimana kita ketahui tahun ini tahun 2018 (Pilkada serentak, yang sudah berlangsung)dan tahun depan tahun 2019 (Pileg dan Plpres) kita kenal dengan tahun politik. Pada umumnya, masa-masa seperti ini bermunculan berbagai macam ambisi manusia yang seringkali kurang mempertimbangkan kepentingan bangsa dan kepentingan bersama. Tidak heran bahwa masa-masa seperti sekarang ini rawan dengan berbagai kepentingan yang bisa menimbulkan perpecahan diantara kita warga Negara Indonesia. Bahkan dapat juga mengesampingkan/mengabaikan kuasa kasih Allah, yang melaksanakan rencana-Nya secara tepat dan masuk akal.
Isi
- Dari cerita tentang Yakobus dan Yohanes, kita mendapatkan pengajaran iman :
- Mereka adalah orang-orang yang ambisius. Ambisi mereka ini muncul bisa jadi karena Yesus sendiri lebih dari satu kali telah menjadikan mereka bagian dari kelompok terdekat, tiga orang pilihan. Bisa jadi keadaan mereka bertiga secara status social lebih baik dari murid-murid yang lain. Ayah mereka cukup berada sehingga mampu memperkerjakan orang-orang upahan (Markus 1:20). Barangkali mereka menyangka bahwa dengan keunggulan status sosial ini, mereka layak dan berhak menerima tempat pertama. Apapun alasan mereka, menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang di dalam hatinya ada ambisi untuk tempat pertama dalam kerajaan dunia. Dengan sikap yang tidak jauh berbeda, ambisi manusianya yang serupa dengan Yakobus dan Yohanes ini, juga dimiliki oleh Ayub dan ke empat sahabatnya; yang membutakan kuasa kasih Allah. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita pernah memiliki ambisi yang serupa dengan Yakobus dan Yohanes serta Ayub ?
- Mereka gagal sepenuhnya memahami Yesus. Ambisi mereka telah membutakan pikiran mereka tentang siapa Yesus. Permintaan mereka yang penuh dengan ambisi manusiawinya, penuh persekongkolan keluarga, menyebabkan mereka tidak lagi berttindak dan bersikap empan papan, angon mangsa dan anggon rasa. Yang mengherankan disini bukan kenyataan bahwa peristiwa ini terjadi, tetapi “ waktu” terjadinya peristiwa ini. Yaitu kedekatannya nubuat Yesus yang begitu pasti dan terinci mengenai kematian-Nya di satu pihak dan permintaan mereka untuk menduduki tempat pertama dan utama pada pihak lain. Ini sekali lagi menunjukkan salah pengertian mereka bahwa Mesias itu akan datang dengan kuasa dan kemuliaan duniawi. Hanya saliblah yang dapat menghapuskan gagasan mereka itu.
Ambisi manusiawi kita, dapat membutakan diri kita terhadap kebenaran, sehingga melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, bahkan menghalalkan segala cara. Atau maaf lebih kasar lagi bisa membuat kita menjadi “membabi buta”, tidak lagi memperhatikan tempat/dimana kita, waktu memungkinkan atau tidak, tidak mempedulikan perasaan orang lain, tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah yang penting ambisi kita kecapaian. Apakah memang harus demikian ? - Sekalipun mereka bingung, namun karena kuasa kasih Allah dalam Yesus, mereka tetap percaya kepada Yesus. Ada keyakinan yang menakjubkan dan kesetiaan yang mengagumkan. Bisa saja mereka salah arah. tetapi hati mereka tetap berada di tempat yang benar. Mereka tidak pernah meragukan kemenangan akhir Yesus.
Karena berbagai macam situasi dan kondisi yang menerpa kita, hidup kita seringkali seolah-oleh berada di persimpangan jalan, bingung dan buntu, salah arah. Apakah kita juga merasakan bahwa ditengah-tengah sikon seperti itu masih ada kuat kuasa kasih Allah ? Masih ada secercah titik terang yang menyinari perjalanan hidup kita ? Adakah kita masih memiliki keyakinan dan kesetiaan kepada Yesus ? sehingga kita tetap berada di tempat yang benar dan tidak pernah dan tidak akan pernah meragukan kuasa kemenangan Yesus.
- Selain itu, cerita kita ini juga memberikan pengajaran kepada kita:
- Mengenai standart “kebesaran” menurut Yesus, yang diperoleh karena kuat kuasa kasih Allah; yang sangat berbeda sekali dengan standart “kebesaran” menurut dunia, yang diperoleh karena ambisi manusia, yang mempengaruhi manusia dengan pengaruh pribadinya untuk membesarkan diri.
Ungkapan yang Yesus pergunakan, “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dipaptis dengan baptisan yang harus Kuterima ? Ada kebiasaan dalam pesta kerajaan waktu itu, raja menyerahkan cawan atau piala kepada para tamunya. Karena itu “cawan” atau “piala” menjadi matafora untuk kehidupan dan pengalaman yang akan Allah berikan kepada manusia. Yesus juga berbicara tentang baptisan yang akan Ia terima. Dalam bahasa Yunani kata kerja untuk baptisan adalah baptizein yang berarti “masuk ke dalam air”. Bantuk past participle-nya adalah bebaptismenos berarti “membenamkan” dan biasanya dipakai untuk keadaan “terbenam dalam suatu pengalaman” Yang Yesus mau katakana adalah “dapatkah kamu ikut bersama Aku mengalami semua hal yang mengerikan ? Maukah kamu mengalami semua kebencian dan derita serta kematian, seperti yang akan Aku jalani ? Yesus memberitahukan kepada ke dua murid-Nya (Yakobus dan Yohanes) bahwa tanpa salib tidak akan pernah ada mahkota. Standart untuk kebesaran atau kemulian dalam Kerajaan Akllah adalah standart salib.
Di atas kayu salib itu Yesus meyatakan kepada kita bahwa Dia adalah Imam Agung Yang Kekal, yang melayani dan memberi, mempersembahkn kehidupannya secara total untuk memberikan keselamatan manusia secara sempurna. - Yesus sebagai Allah yang sejati, Dia memiliki kekuasaan, tetapi Dia tidak pernah berambisi untuk memakai kekuasaanNya itu. Ini terbukti dari jawaban-Nya kepada Yakobus dan Yohanes (ayat 40), Yesus mengatakan bahwa semua itu hak Allah. Keadaan pada akhir zaman merupakan hak khusus Allah. Yesus tidak pernah merampas tempat Allah. Keseluruhan hidup-Nya adalah penyataan sikap takluk kepada kehendak Allah dan Yesus tahu bahwa pada akhirnya kehendak itulah yang akan unggul.
Manusia bisa saja dipinjami kekuasaan dari Allah, sehingga manusia bisa “memiliki kuasa dan berkuasa”. Adalah sangat baik kalau kita juga tidak berambisi untuk mepergunakan kekuasaan anugerahNya itu untuk kebesaran diri sendiri, tetapi selalu belajar terbuka terhadap pemberlakuan kuasa kasih Allah.
- Mengenai standart “kebesaran” menurut Yesus, yang diperoleh karena kuat kuasa kasih Allah; yang sangat berbeda sekali dengan standart “kebesaran” menurut dunia, yang diperoleh karena ambisi manusia, yang mempengaruhi manusia dengan pengaruh pribadinya untuk membesarkan diri.
Penutup
Tahun ini (2018) kita semua akan melakukan pemilihan penatua dan diaken, dauran PHMJ dan BPMJ; Tahun depan (2019) dauran MD, PHMD dan BP MD; MA,PHMA dan sebagian BP MA. Biarlah semuanya ini kita lakukan bersama, dengan permohonan kiranya hanya kuat kuasa kasih Allah yang bekerja dan bukan ambisi kita manusia untuk mengejar kebasaran dan kehormatan diri. Dijauhkan dari segala bentuk persekongkolan. Jangan kita menghalalkan segala cara. Jangan kita merampas hak, kebesaran dan kemuliaan Allah. Amin.
Nyanyian:KJ. 459 : 2,4
—
RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi
Pambuka
Kados kawuningan bilih tahun menika tahun 2018, sampun katindakaken Pilkada serentak lan tahun ngajeng 2019 (katindakaken PIleg lan Pilpres), tahun-tahun menika katelah tahun politik. Umumipun ing tahun-tahun ingkang mekaten menika saged tuwuh macem-macem ambisi saking manungsa ingkang kadang-kadang boten maelu lan boten menggalih keperluanipun ngasanes, bangsa dan negari; nglirwakaken pangwasaning katresnanipun Allah, ingkang nindakaken rancanganipun kanthi tepat lan tinemu nalar. Tumraping tiyang-tiyang kados mekaten menika Ingkang penting gegayuhanipun kadumugen. Pramila boten nggumunaken menawi ing mangsa-mangsa ingkang mekaten menika gampil sanget nuwuhaken memengsahan, dredah lan pasulayan, malah saged ugi perpecahan.
Isi
- Lumantar cariyosipun Yakobus lan Yokanan menika, kita angsal piwulang:
- Kekalihipun tiyang ingkang ambisius. Ambisi menika tuwuh saged ugi karana Gusti Yesus piyambak nate ndadosaken kekalihipun dados murid ingkang celak kaliyan Gusti Yesus, sesarengan kaliyan Petrus dados murid ingkang piniji. Saged ugi sacara status sosial kekalihipun langkung sae menawi katanding murid-murid sanesipun. Tiyang sepuhipun kapetang tiyang ingfkang cekap ngantos saged paring pituwas dateng para pembantunipun (Markus 1:20). Bokmenawi tiyang kekalih menika nggadahi panginten bilih srana nggadahi status social piyambakipun nggadahi wewenang lan wewengan nampi kelenggahan ingkang paling utami lan terhormat. Menapa kemawon ingkang dados alasanipun, bab menika nedahaken bilih kekalihipun menika tiyang ingkang ing salebeting manahipun nggadahi ambisi angsal/pikantuk kalenggahan ingkang utawi tata kraton kadonyan. Kanthi pratingkah ingkang meh sami, Ayub lan mitranipun sekawan, ugi nggadahi ambisi manusiawi kadosnene Yakobus lan Yokanan, ingkang boten maelu dateng pangwaning katresnanipun Allah. Kadospundi mengghahing kula lan panjenengan sami ? Menapa kita ugi nate nggadahi ambisi ingkang saemper kaliyan Yakobus lan Yokanan ?
- Yakobus lan Yokanan boten saged mangertos kanthi cetha sinten Yesus menika. Ambisi-nipun ingkang nglimputi manah lan pikiranipun matemah boten saged mangertos sinten sejatosipun Yesus menika. Menapa ingkang dados penyuwunanipun ingkang kebak ambisi manusiawi, dadosaken tiyang kekalih menika tumindak kanthi boten empan papan, anggon mangsa lan anggon rasa malih. Ingkang nggumunaken ing ngriki boten bab kedadosanipun, ananging bab wekdal ing pundi kedadosan menika kelampahan, inggih menika wekdal-wekdal ing pundi Gusti Yesus kanthi trawaca lan cetha dawuhaken bab kasangsaran ingkang bade kasanggi, ing sisih sanes panyuwunanipun Yakobus lan Yokanan bab kalenggahan ingkang utami. Bab menika nedahaken bilih tiyang kekalih menika dereng mangertos bilih Sang Mesih bade rawuh boten kanthi pangwasa lan kamulyan tata kadonyan.
Ambisi manusiawi kita saged kemawon nglimputi manah lan pikiran kita, matemah kita nindakaken bab-bab ingkang boten tinemu nalar, bab bab ingkang nerak wewaler, malah saged ugi menghalalkan segala cara. Bokmenawi saged ugi dadosaken kita tumindak membabibuta, boten nggatosaken malih papan ,mangsa lan penggalihipun ngasanes, boten sumerep malih pundi ingkang leres lan pundi ingkang lepat, ingkang penting ambisi kita keturutan. Menapa pancen mekaten ? - Senadyan Yakobus lan Yokanan bingung, ananging karana pangwasaning katresnanipun Allah ing Gusti Yesus, piyambakipun tetep pitados dateng Gusti Yesus. Wonten kapitadosan lan kasetyan ingkang estu-estu ngedhapi-edhapi. Saged ugi tiyang kekalih menika salah arah, ananging tetap wonten ing papan ingkang leres. Piyambakipun boten nate mamang tumraping kamimpanganipun Gusti Yesus ing tembenipun.
Karana macem-macem kawontenan ingkang tumempuh dateng gesang kita ing salah satunggaling wekdal, dadosaken gesang kita kados-kados wonten ing persimpangan jalan, bingung lan buntu. Menapa kita ugi nate ngraosaken bilih ing satengah-tengahing kawontenan ingkang mekaten menika taksih wonten pangwasaning katresnanipun Allah ? Menapa kita taksih nggadahi kapitadosan lan kasetyan dateng Gusti Yesus ? matemah kita tetep wonten ing papan ingkang leres, lan boten nate kecalan kapitadosan kita bilih dikadospundi kemawon kawonten kita pangwasaning katresnanipun Allah mesthi bade mimpang.
- Anjawi menika, cariyos menika ugi paring piwucal :
- Bab ukuranipun kaluhuran lan kahurmatan miturut Gusti Yesus, ingkang dipun nggadahi srana pangwasaning katresnanipun Allah, ingkang benten sanget kaliyan ukuranipun kaluhuran lan kahurmatan secara donya, ingkang dipun tampI srana ambisi manusiawi. Gusti Yesus dawuh : Apa kowe bisa ngombe ing tuwung kang bakal Dakunjuk lan dibaptis kalawan baptis kang bakal Daktampani ? Ingkang dipun kersakaken dening Gsuti Yesus : apa kowe bisa bebarengan karo Aku ngalami bab-bab kang nggegirisi ? Apa kowe gelem ngalami digething, ngalami sangsara lan mati, kaya sing Dakalami ? Gusti Yesus paring dawuh dateng Yakobus lan Yokanan, bilih tanpa salib boten bade wonten makutha. Ukuran kamulyan lan kaurmatan ing kratoning Allah inggih menika salib.
Wonten ing kajeng salib Gusti Yesus nedahaken dateng kita bilih Panjenenganipun Imam Agung ingkang Langgeng, ingkang ngladosi lan maringi, misungsungaken sawetahing gesangipun kangge maringi kawilujengan ingkang sampurna dateng kita. - Yesus Allah ingkang sejatos, Panjenenganipun nggadahi pangwasa, ananging Panjenenganipun boten nate nggadahi ambisi ngginakaken pangwasanipun. Bab menika kacihna saking dawuh wangsulanipun dateng Yakobus lan Yokanan (ayat 40), Gusti Yesus dawuh bilih menika sedaya hakipun Allah. Kawontenan ing pungkasaning zaman mujudaken hak khusus-pun Allah. Gusti Yesus boten nate ngrampas papan palenggahanipun Allah. Sawetahing gesangipun mujudaken kebabaring tumindak ingkang pasrah sumarah dateng karsanipun Allah, awit Gusti Yesus mangertos bilih karsanipun Allah menika ingkang wekasanipun mimpang.
- Manungsa saged kemawon ingampilan pangwasa dening Allah, matemah manungsa saged nggadahi “pangwasa lan ngwasani”. Saestu anama sae lan leres sanget menawi kita boten berambisi ngginakaken pangwasa peparingipun Gusti menika kangge kamulyan lan kaurmatan diri kita piyambak, ananging tansah sinau binuka kagem kebabaring pangwasaning katresnanipun Allah.
- Bab ukuranipun kaluhuran lan kahurmatan miturut Gusti Yesus, ingkang dipun nggadahi srana pangwasaning katresnanipun Allah, ingkang benten sanget kaliyan ukuranipun kaluhuran lan kahurmatan secara donya, ingkang dipun tampI srana ambisi manusiawi. Gusti Yesus dawuh : Apa kowe bisa ngombe ing tuwung kang bakal Dakunjuk lan dibaptis kalawan baptis kang bakal Daktampani ? Ingkang dipun kersakaken dening Gsuti Yesus : apa kowe bisa bebarengan karo Aku ngalami bab-bab kang nggegirisi ? Apa kowe gelem ngalami digething, ngalami sangsara lan mati, kaya sing Dakalami ? Gusti Yesus paring dawuh dateng Yakobus lan Yokanan, bilih tanpa salib boten bade wonten makutha. Ukuran kamulyan lan kaurmatan ing kratoning Allah inggih menika salib.
Panutup
Ing tahun 2018 menika kita bade nindakaken pilihan Pinituwa lan Jurupamulasara, dauran PHMJ lan BP Mj; tahun ngajeng tahun 2019 dauran MD, PHMD lan BP MD; MA, PHMA lan saperangan BP MA. Sumangga kita tindakaken sesarengan, kanthi panyuwun supados namung pangwasaning katresnanipun Allah ingkang makarya lan sanes ambisi manusiawi kita kangge bujeng kamulyan lan kaurmatan diri. Tinebihna saking tumindak menghalalkan segala cara. Tinebihna saking sedaya persekongkolan. Sampun ngantos kita pisan-pisan ngrampas hak, kaurmatan lan kamulyanipun Gusti Allah. Amin.
Pamuji : KPK 134 : 1,4