Gereja Sebagai Agen Pemulihan Khotbah Minggu 13 Agustus 2023

Minggu Biasa | Bulan Pembangunan GKJW
Stola Hijau

Bacaan 1:  1 Raja-raja 19 : 9 – 18
Bacaan 2: 
Roma 10 : 4 – 15
Bacaan 3:  Matius 14 : 22 – 33

Tema Liturgis:  Kesatuan sebagai Modal Keterlibatan GKJW dalam Pemulihan Masyarakat
Tema Khotbah:  Gereja sebagai Agen Pemulihan

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

 1 Raja-raja 19 : 9 – 18
Kitab Raja-raja secara umum dikenal sebagai Kitab Sejarah Israel yang di mulai dari masa Salomo sampai kepada pembuangan ke Babylon. Sekalipun merupakan Kitab Sejarah, namun maksud utama dari kitab Raja-raja bukan saja memaparkan tentang sejarah. Melainkan sebaliknya, bahwa dari sejarah itu didapatkan bukti nyata bahwa Tuhan Allah Sang Pemelihara sedang bekerja dalam kehidupan umat-Nya. Dengan demikian, pembaca Kitab Raja-raja pada saat itu diharapkan dapat merasakan kehadiran Tuhan Allah sebagai Raja yang sesungguhnya atas Israel, sekalipun Dia tidak kelihatan.[1]

1 Raja-raja 19:9-18 berkisah tentang pelarian Elia dari upaya jahat ratu Izebel yang akan membunuhnya karena keberhasilannya mengalahkan nabi-nabi Baal (bdg. 1 Raja-raja 18:20-46, 19:1-2). Pelarian itu membawanya tiba dalam sebuah gua di gunung Horeb untuk berlindung dalam keadaan putus asa. Di tempat itulah Elia mendengar dua kali suara Tuhan Allah berfirman kepadanya: “Apa kerjamu disini, hai Elia?” (Ay. 9, 13). Elia menceritakan keluh kesahnya kepada Allah tentang kejahatan orang Israel dihadapan Tuhan, serta kekejian yang mereka lakukan terhadap nabi-nabi Allah (Ay. 10, 14).

Dua kali Allah menanyakan hal yang sama kepada Elia, “Apa kerjamu disini, Hai Elia?” tentu bukan tanpa sebab Allah menanyakannya kepada Elia. Sebagai seorang Nabi Allah, Elia diutus untuk bekerja segiat-giatnya menyatakan firman Allah di tengah-tengah bangsanya yang meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala. Maka tidak semestinya Elia bersembunyi di dalam gua dan melarikan diri dari tantangan panggilan pengutusannya sebagai nabi Allah.

Perjumpaannya dengan Allah di gunung Horeb meneguhkan Nabi Elia akan tugas dan panggilannya sebagai seorang nabi Allah. Ia diutus untuk “kembali ke jalanmu” melalui padang gurun ke Damsyik mengurapi Hazael dan Yehu menjadi raja, dan Elisa menjadi nabi menggantikannya. Di sini Allah mengingatkan Elia untuk kembali melaksanakan tugas kenabiannya. Melalui petunjuk-Nya kepada Elia, Allah telah mempersiapkan penghukuman bagi para penyembah berhala dan mereka yang menganiaya nabi-nabi Allah. Memang banyak orang telah meninggalkan Jalan Tuhan oleh karena penderitaan dan penganiayaan, namun jalan itu tidak pernah kehabisan orang yang setia kepada Allah, buktinya masih ada 7.000 orang yang setia pada jalan Tuhan.

Roma 10 : 4 – 15
Surat Roma ditulis oleh rasul Paulus dan ditujukan bagi Jemaat yang berada di Roma (Roma 1:15). Jemaat itu sedang mengalami banyak tekanan, baik dari orang Yahudi maupun bangsa Roma sendiri. Pada sisi lainnya di dalam tubuh jemaat Roma sendiri juga sedang terjadi konflik antara umat yang berasal dari latar belakang Yahudi dengan mereka yang berasal dari bangsa Yunani dan bangsa-bangsa lain. Oleh sebab itulah, rasul Paulus menasihati umat tentang bagaimana bersikap terhadap keadaan mereka, baik dengan sesama orang percaya yang berbeda latar belakang, dengan masyarakat sekitar, dan juga dengan penguasa “pemerintah”. Rasul Paulus menekanan tentang hakekat pengikut Kristus dan tuntutan-tuntutan praktis dalam kehidupan orang-orang Kristen sehari-hari dalam konteksnya masing-masing.

Di dalam teks Surat Roma 10:4-15, rasul Paulus menjelaskan pandangannya tentang konsep keselamatan “soteriology” yang bersifat universal. Bahwa keselamatan itu bukan hanya untuk satu bangsa tertentu, sebagaimana pandangan eksklusive bangsa Yahudi, melainkan “… Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya” (Ay. 12). Berdasarkan informasi dari Roma 1:18-32, untuk mewartakan berita Injil di Roma terkendala dengan sikap dan perilaku umat yang tidak mencerminkan kehidupan Kristiani yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, bagaimana orang lain dapat percaya kepada Kristus, jika para pengikut Kristus sendiri tidak mampu menjadi utusan yang baik. Kabar baik yang seharusnya menjadi jalan keselamatan, dinistakan oleh sikap hidup umat yang tidak mencerminkan kehidupan Kristiani yang sungguh-sungguh.

Maka dalam bagian teks surat Roma muncul sebuah harapan dari rasul Paulus yang tersurat dalam ungkapan “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Ay. 15). Konsep keselamatan dalam iman kepada Yesus Kristus, akan membawa keselamatan dan pendamaian bagi semua orang, apabila keyakinan dan iman itu juga mewujud dalam tata cara hidup menurut moral dan etika yang berlaku dalam tatanan bermasyarakat. Sehingga iman tidak hanya sebatas urusan kultus, tetapi juga menjadi sebuah tindakan praktis yang mengena dalam kehidupan sosial masyarakat.

Matius 14 : 22 – 33
Pokok pewartaan Injil Matius menitik-beratkan pada pewartaan tentang hakekat Yesus sebagai Mesias, Anak Allah sebagaimana dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama. Dengan sekuat tenaga penulis Injil Matius mewartakan bahwa Yesuslah pemenuhan harapan umat Israel, sebagai Mesias, Anak Allah, melalui kutipan-kutipan Alkitab Perjanjian Lama yang mudah dan sangat dipahami oleh umat pada saat itu. Pewartaan itu tidak ditujukan kepada “dunia secara umum”, tetapi secara khusus ditujukan kepada umat percaya yang menghadapi beberapa kesulitan dan masalah. Penulis Injil Matius memandang orang-orang percaya sebagai “Israel Sejati”, mengingat sebagian besar dari mereka berlatarbelakang Yahudi. Namun pandangan tentang “Israel Sejati” ditolak oleh para pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang tampil sebagai lawan Yesus Kristus dalam pewartaan Injil Matius. Penolakan itu menyebabkan terjadinya bentrokan antara umat percaya dengan orang-orang Yahudi. Tidak jarang orang-orang percaya juga mengalami penindasan dan penganiayaan dari pemerintah oleh hasutan dan fitnah dari pemimpin agama Yahudi.

Melalui pewartaannya, penulis Injil Matius ingin memperteguh, memperdalam iman jemaat kepada Yesus. Dengan memberikan penguatan-penguatan yang tersirat dalam narasi-narasi Injil Matius, seperti pernyataan Yesus Kristus bahwa Ia akan menyertai sampai akhir zaman (Mat. 28:20), dan Ia tetap hadir di tengah-tengah umat (Mat. 18:20). Dengan pewartaan semacam itu, umat menghayati bahwa Mesias telah datang dalam diri Yesus Kristus, dan dengan hangat menantikan kedatanggan-Nya kembali. Dan dalam pergumulan di tengah penantiannya, umat dikuatkan untuk terus mewartakan tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah.

Dengan melihat konteks Injil Matius ini, kita akan melihat pesan-pesan teks dari bacaan Injil Matius 14:22-33. Teks ini berkisah tentang mujizat Tuhan Yesus berjalan diatas air. Nada-nada ketakutan dan kekhawatiran nampaknya menghantui kehidupan para murid Tuhan Yesus. Tentu bukan hanya soal angin sakal dan asumsi mereka tentang “hantu”. Ketakutan dan kekhawatiran itu tidak lepas dari ancaman pembunuhan sebagaimana yang dialami oleh Yohanes Pembaptis. Oleh sebab itu, mereka menyingkir dari daerah itu (Mat. 14:13), dan pergi menggunakan perahu ke seberang. Kehadiran Yesus dengan berjalan di atas air meneguhkan iman para murid, yang sebelumnya mengalami kebimbangan dan ketakutan. Hingga pada akhirnya mereka semua mengakui dan menyembah, katanya:  “Sesungguhnya Engkau Anak Allah”.

Dalam konteks semacam itu, maka penting untuk digarisbawahi dialog antara Tuhan Yesus dengan Petrus yang hendak memastikan kebenaran bahwa yang berjalan di atas air adalah Sang Guru. Keinginan Petrus keluar dari perahu dan berjalan menuju Tuhan Yesus, dapat kita pahami sebagai sebuah analogi bagi kehidupan umat. Pengutusan untuk keluar dari perahu adalah pengutusan untuk keluar dari zona nyaman menuju perjalanan yang penuh dengan tantangan yang sewaktu-waktu membuat hidup dilimputi ketakutan, kekhawatiran, bahkan mencoba lari dan mengingkari panggilan-Nya. Maka dengan fokus kepada Tuhan Yesus, dan beriman sepenuhnya kepada pertolongan-Nya berbagai tantangan dapat dilalui dengan penuh keberanian.

Benang Merah Tiga Bacaan
GKJW menghayati bahwa kehadirannya di dunia adalah ikut serta dalam mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah bagi dunia. Oleh sebab itu, setiap warga GKJW khususnya dan orang Kristen pada umumnya, dipanggil untuk mewujudkan visi tersebut. Tidak mudah memang, seringkali upaya untuk mewujudkannya diperhadapkan dengan konsekuensi-konsekuensi yang membahayakan hidup. Yang tidak jarang orang percaya memilih meninggalkan “jalan Tuhan” untuk terhindar dari konsekuensi-konsekuensi tersebut dan mencari aman. “Kembali ke jalanmu” mengingatkan panggilan kita untuk terlibat karya Tuhan Allah di dunia. Itu berarti bahwa orang Kristen di Jawa Timur, di Indonesia juga bertanggungjawab untuk terlibat dalam upaya perwujudan visi Tuhan Allah, bukan mencari aman dan lari dari tanggungjawab dan membiarkan persoalan di dunia tidak terselesaikan. Melainkan gereja harus hadir berkiprah secara penuh, memberi teladan iman yang nyata.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebauh rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Bapak, Ibu, dan saudara yang kekasih, jika Panjenengan ditanya, “Apa beda agen dengan calo?” Kira-kira apa jawab panjenengan? Sekilas memang tidak ada perbedaan antara agen dan calo, kalaupun ada itu tipis sekali. Baik agen maupun calo, keduanya memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menjadi perantara, sama-sama memudahkan orang, sama-sama memungut uang jasa untuk keuntungan dari jasa mereka. Sebaliknya, yang membedakan antara agen dan calo adalah agen biasanya merupaan bentuk usaha yang legal. Sementara calo, biasanya mereka bekerja atas diri mereka sendiri, tidak jarang mengambil keuntungan lebih dari pada umumnya dan tidak jarang jika terjadi persoalan mereka pergi dan menghindar dari tanggung jawab.

Sebagai gereja kita senantiasa berharap bisa menjadi agen, tetapi tidak jarang kita memposisikan diri sebagai seorang calo. Ibarat calo di terminal atau pelabuhan yang ramai-ramai membawa orang masuk bus atau kapal, tetapi saat bus atau kapal berangkat mereka tertinggal di terminal dan pelabuhan. Jangan sampai gereja juga mengalami hal yang sama, ramai-ramai orang masuk surga, dan hanya calo mereka tertinggal di dunia.

Isi
Ketiga bacaan kita hari ini menuntun kita selaku gereja untuk dapat menjadi agen-agen pemulihan dalam kehidupan bersama. Paling kurang ada tiga hal yang menjadi syarat menjadi agen-agen pemulihan.

  1. Sebagai Agen, Gereja harus Memiliki Tanggung Jawab dan Tidak Lari dari Panggilan dan Pengutusannya
    Kitab 1 Raja-raja 19:9-18 menunjukkan kepada kita dinamika kehidupan nabi Elia dalam mewujudkan panggilan dan pengutusan Tuhan Allah. Cerita itu memuat kisah pelarian nabi Elia dari upaya jahat ratu Izebel yang hendak membunuhnya karena keberhasilannya mengalahkan nabi-nabi Baal (bdg. 1 Raja-raja 18:20-46, 19:1-2). Pelarian itu membawa nabi Elia tiba dalam sebuah gua di gunung Horeb untuk berlindung dalam keadaan putus asa. Di tempat itulah Elia mendengar dua kali suara Tuhan Allah berfirman kepadanya: “Apa kerjamu di sini, hai Elia?” (Ay. 9, 13). Elia menceritakan keluh kesahnya kepada Allah tentang kejahatan orang Israel dihadapan Tuhan, serta kekejian yang mereka lakukan terhadap nabi-nabi Allah (Ay. 10, 14).

    Dua kali Allah menanyakan hal yang sama kepada Elia, “Apa kerjamu di sini, Hai Elia?” Tentu merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, sebagai seorang Nabi Allah, Elia diutus untuk bekerja segiat-giatnya menyatakan firman Allah di tengah-tengah bangsanya yang meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala. Maka tidak semestinya Elia bersembunyi di dalam gua dan melarikan diri dari tantangan panggilan pengutusannya sebagai nabi Allah. Maka perjumpaannya dengan Allah di gunung Horeb meneguhkan nabi Elia akan tugas dan panggilannya sebagai seorang nabi Allah. Ia diutus untuk “kembali ke jalanmu” melalui padang gurun ke Damsyik mengurapi Hazael dan Yehu menjadi raja, dan Elisa menjadi nabi menggantikannya. Di sini Allah mengingatkan nabi Elia untuk kembali melaksanakan tugas kenabiannya. Melalui petunjuk-Nya kepada nabi Elia, Allah telah mempersiapkan penghukuman bagi para penyembah berhala dan mereka yang menganiaya nabi-nabi Allah.

  2. Sebagai Agen, Gereja harus Mampu menjadi Teladan Iman bagi Masyarakat
    Sejalan dengan itu, rasul Paulus dalam suratanya kepada jemaat di Roma yang tercatat dalam Roma 10:4-15, juga menyiratkan pesan yang sama, yakni tentang panggilan dan pengutusan untuk memberitakan kabar baik, yaitu kabar keselamatan bagi semua orang melalui iman dalam Yesus Kristus. Di dalam teks surat Roma, rasul Paulus menjelaskan pandangannya tentang konsep keselamatan “soteriology” yang bersifat universal. Bahwa keselamatan itu bukan hanya untuk satu bangsa tertentu, sebagaimana pandangan eksklusive bangsa Yahudi, melainkan “… Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya (Ay. 12).” Namun sayangnya, pewartaan itu terkendala oleh sikap dan perilaku umat yang tidak mencerminkan kehidupan Kristiani yang sungguh-sungguh (band. Pasal 1:18-32). Karena itu bagaimana mungkin orang lain dapat percaya kepada Kristus, jika para pengikut Kristus sendiri tidak mampu menjadi utusan yang baik. Kabar baik yang seharusnya menjadi jalan keselamatan, dinistakan oleh sikap hidup umat yang tidak mencerminkan kehidupan Kristiani yang sungguh-sungguh.

    Maka dalam suratnya kepada jemaat di Roma, rasul Paulus menasehati umat “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Ay. 15). Konsep keselamatan dalam iman kepada Yesus Kristus, akan membawa keselamatan dan pendamaian bagi semua orang, apabila keyakinan dan iman itu juga mewujud dalam tata cara hidup menurut moral dan etika yang berlaku dalam tatanan bermasyarakat. Sehingga iman tidak hanya sebatas urusan kultus, tetapi juga menjadi sebuah tindakan praktis yang mengena dalam kehidupan sosial masyarakat.

  3. Sebagai Agen, Fokus Gereja Bukan bagi Diri Sendiri, tetapi pada Kristus
    Sejarah mencatat bahwa perjuangan mewujudnyatakan panggilan dan pengutusannya, Gereja senantiasa diwarnai dengan dinamika yang terus mengalami pasang surut. Ada kalanya Gereja bersemangat dalam mewujudkan tugas dan panggilannya, sehingga kehadiran gereja benar-benar mampu membawa dampak dan perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat. Tetapi ada kalanya kiprah gereja mengalami kemerosotan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kegagalan dan kemerosotan kiprahnya adalah gereja telah kehilangan fokus panggilan dan pengutusannya. Terlalu sering gereja berfokus pada masalah, tantangan dan ancaman yang di alami, hingga lupa bahwa Gereja memiliki Allah yang lebih hebat dan berkuasa mengatasi segala persoalan dan pergumulan yang dialami. Terlalu sering gereja berfokus untuk kemegahan dan kemuliaannya sendiri, bukan untuk kemuliaan Tuhan Allah. Realita ini tergambar dari kisah Petrus yang kehilangan fokus pada Kristus oleh karena tiupan angin saat berupaya untuk menjumpai Tuhan Yesus dengan berjalan di atas air (Ay. 30).

Penutup
Dalam kiprahnya di dunia, GKJW menghayati bahwa kehadirannya di dunia mengemban tugas dan panggilan mewujudkan visi Tuhan Allah untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di dunia, dimana kasih, sukacita, keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera berlaku dalam kehidupan. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa upaya untuk mewujudnyatakan panggilan dan pengutusan Tuhan Allah bukanlah perkara yang mudah bagi gereja. Oleh karena itu, agar gereja tetap mampu menjadi agen pemulihan bagi masyarakat, gereja harus mampu bertanggung jawab dengan panggilan pengutusannya, menjadi teladan iman yang baik, serta berfokus pada Kristus. Dengan cara itulah gereja dimampukan untuk berkiprah mewujudkan pemulihan bagi masyarakat. Selamat menjadi agen pemulihan bagi masyarakat. Amin. [SKR].

 

Pujian: KJ. 440 : 1 – 4    DI Badai Topan Dunia

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Bapak, Ibu, dalah para sadherek ingkang kinasih, bilih wonten pitakenan mekaten, “Punapa bentenipun agen kaliyan calo?” Kinten-kinten punapa wangsulan panjenengan? Pancen kados-kadose boten wonten bentenipun antawis agen kaliyan calo, bilih wonten bentenipun tipis sanget. Kekalihipun sami-sami dados pengantara, sami-sami mbantu tiyang, sami-sami nyuwun bayaran saking jasa ingkang sampun dipun tindakaken. Nanging estunipun agen kaliyan calo punika wonten bentenipun. Agen punika wujud usaha ingkang legal, kados dene anak perusahaan. Calo biasanipun makarya kangge dhiri pribadi, asring ugi mendet untung langkung kathah, lan asring bilih wonten masalah, para calo punika mlajeng saking tanggeljawabipun.

Minangka Greja kita nggadhahi pangajeng-ajeng saged dados agen, nanging asring ingkang kalampahan kita namung dados calo. Sami kaliyan calo-calo ing terminal ugi ing pelabuhan, kanthi sanget anggenipun pados penumpang supados saged tumut kendaraan ingkang badhe dipun tuju, nanging wekdal kendaraan utawi kapal punika mlampah, para calo punika kentun ing terminal lan pelabuhan. Sampun ngantos kawontenanipun greja kados mekaten, rame-rame mbeta tiyang dhayeng swarga, nanging piyambakipun malah boten katut ing swarga.

Isi
Tetiga waosan kita dinten punika paring panuntun dhateng kita minangka greja supados saged dados agen-agen pemulihan wonten ing pigesangan kita. Kirang langkung wonten tiga prekawis minangka syarat supados saged dados agen-agen pemulihan:

  1. Minangka Agen, Greja kedah Nggadhahi Tanggeljawab saha Boten Nyingkur Timbalan lan Pangutusanipun Gusti
    Kitab 1 Para-Raja 19:8-18 mratelakaken dhateng kita dinamika pigesangan nabi Elia mujudaken timbalan saha pangutusan saking Gusti Allah. Carios punika nyariosaken nabi Elia ingkng mlajeng saking ratu Izebel ingkang badhe mejahi piyambakipun karana sampun ngalahaken nabi-nabi Baal (bdg, 1 Para-Raja 18:20-46, 19:1-2). Prekawis punika nuntun nabi Elia dumugi guwa ing Gunung Horeb, nalika semanten nabi Elia ing kahanan semplah. Ing papan punika nabi Elia mireng dawuh pangandikanipun Gusti, “Ana apa sira ana ing kene iki, Elia?” (Ay. 9, 13). Nabi Elia banjur carios bab kamomotanipun dhumateng Gusti Allah, prekawis tumindakipun bangsa Israel ingkang jahat ing ngarsanipun Gusti, sarta kanisthan ingkang dipun tindhakaken tumrap para nabining Allah (Ay. 10, 14).

    Kaping kalih anggenipun Gusti Allah tanglet prekawis ingkang sami dhateng nabi Elia, “Ana apa sira ana ing kene iki, Elia?” tamtu punika prekawis ingkang adi. Minangka nabinipun Allah, Elia katimbalan lan kautus kangge mratelakaken pangandikanipun Gusti Allah kanthi satuhu ing satengah-tengahing bangsa Israel ingkang nyingkur Gusti Allah lan nyembah Brahala. Pramila boten samestinipun nabi Elia ndelik wonten ing guwa lan nyingkur timbalanipun lan pangutusanipun Gusti. Pramila pepanggihanipun kaliyan Gusti Allah ing gunung Horeb punika, mantebaken nabi Elia tumrap timbalan saha pangutusanipun minangka nabinipun Allah. Nabi Elia dipun utus “Sira mangkata, metua ing dalanira, kang wus sira liwati ngliwati pasamunan menyanga ing Damsyik, sira jebati Hazael lan Yehu dadi raja, dan Elisa jebatana dadi Nabi, ngganteni sira”. Ing mriki Gusti Allah paring pepenget dhumateng Nabi Elia kangge nindakaken timbalanipun minangka nabining Allah. Lumantar pitedahipun dhumateng nabi Elia, Gusti Allah piyambak sampun nyawisaken paukuman kangge para tiyang ingkang nyembah brahala lan sadaya tiyang ingkang sampun nganiaya para nabining Allah.

  2. Minangka Agen Greja Kedah Saged dados Tuladha Iman kangge Masyarakat
    Gandeng kaliyan serat rasul Paulus dhateng pasamuwan ing Roma (Rum. 10:4-15), ingkang nyerat pesan ingkang sami, inggih punika bab timbalan lan pangutusan mratelakaken kabar bingah bab kaslametan kangge sadaya tiyang lumantar iman ing Gusti Yesus Kristus. Wonten ing teks serat Rum, rasul Paulus mratelakaken pamanggihipun prekawis konsep kaslametan “soteriology” ingkang asipat universal. Bilih kaslametan punika boten namung kangge setunggal bangsa, kadosdene pamanggih eksklusif bangsa Yahudi, ananging “… Ujer Gusti Allah mung siji, kang dadi Gustine wong kabeh, sarta luber kadarmane marang sadhengah wong kang nyebut marang Panjenengane (Ay. 12). Pawartos punika kaaling-alingan dening sikap lan tumindakipun umat ingkang boten saged mratelakaken gesang tiyang Kristen ingkang satuhu (band. Bab 1:18-32). Pramila kados pundi, tiyang sanes saged pitados dhumateng Sang Kristus, bilih para panderekipun piyambak boten saged dados utusan ingkang paring tuladha ingkang sae. Pawartos rahayu punika sejatosipun saged dados margining kaslametan, dipun nista tumrap sikap lan tumindhakipun umat ingkang boten saged mratelakakan pigesangan tiyang Kristen ingkang satuhu.

    Pramila wonten ing seratipun dhumateng pasamuwan ing Roma, rasul Paulus paring pepenget lan pitutur, wiraose: “Iba anggone nyenengake tekane wong kang padha nggawa pawarta becik.” Konsep kaslametan ing dalem Sang Kristus, estu dados kaslametan lan katentreman kangge sadaya tiyang, bilih keyektosan saha iman punika ugi mawujud ing tata cara gesang miturut moral lan etika ingkang kalampahan ing tatanan masyarakat. Matemah iman boten namung urusan kultus, ananging ugi dados satunggaling tumindak praktis ingkang gegayutan kaliyan pigesangan sosial masyarakat.

  3. Minangka Agen Fokus Greja Sanes kangge Dhiri Pribadi Ananging Dhumateng Sang Kristus
    Miturut catatan sejarah anggenipun mujudaken timbalan saha pangutusanipun, greja tansah ngadepi dinamika lan ngalami pasang surut. Kadangkala greja tansah semangat anggenipun mujudaken tugas lan timbalanipun, matemah kawontenanipun greja estu-estu saged jalari ewah-ewahan ingkang maedahi kangge masyarakat. Nanging kadangkala greja ugi mundur. Salah satunggaling ingkang jalari inggih punika greja sampun kecalan fokus tumrap timbalan lan pangutusanipun. Asring  greja namung fokus dhateng masalah, tantangan, ugi ancaman ingkang dipun alami, lajeng kesupen bilih greja kagungan Gusti Allah ingkang maha kuwaos ngatasi sadaya prekawis lan momotaning gesang. Asring greja namung fokus kangge kaluhuran lan kamulyaning dhiri, sanes kagem kamulyaning Gusti Allah. Carios bab rasul Petrus ingkang kecalan fokus dhumateng Sang Kristus karana angin ingkang ageng, punika dados gambaran ingkang nyata kawontenan umat lan greja ingkang kecalan fokus dhumateng Sang Kristus.

Panutup
Wonten ing kiprahipun, GKJW nggadhahi kayektosan bilih kawontenanipun gesang ing alam donya punika ngemban timbalan lan pangutusan mujudaken visinipun Gusti Allah, mujudaken tanda-tanda kratoning Allah, inggih punika katresnan, sukabingah, keadilan, kabeneran, dan tentrem rahayu ing pigesangan. Pancen, ngupadi kangge mujudaken timbalan saha pangutusan saking Gusti Allah sanes prekawis ingkang gampil kangge greja. Pramila, supados greja saged dados agen pemulihan kangge masyarakat, greja kedah nggadhahi tanggel-jawab tumrap timbalannipun, dados patuladhan iman ingkang temen, sarta kedah madhep dhumateng Sang Kristus. Lumantar prekawis-prekawis punika, greja kasagedna ndherek mujudaken pemulihan kangge masyarakat. Wilujeng dados agen pemulihan kangge masyarakat. Amin. [SKR].

 

Pamuji: KPJ.  338 : 1 – 2   Greja Prasasat Baita


 

[1] L.T. Holdcroft, Kitab-Kitab Sejarah, (Terj. PT Gandum Mas, 2018), Hal-112

 

Bagikan Entri Ini: