Hidup Dalam Cinta-Nya Khotbah Minggu 19 Mei 2019

Minggu Paskah V / Masa Raya Undhuh – Undhuh
Stola Putih

Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 11:1-18
Bacaan 2  : Wahyu 21:1-8
Bacaan 3  : Yohanes  13:31-35

Tema Liturgis : Pemeliharaan Allah bagi Orang Percaya Tiada Habisnya

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 11:1-18

Petrus besar dan bertumbuh di dalam tradisi Yahudi yang memegang secara ketat hukum halal-haram. Hukum tersebut bertujuan menjaga supaya kesucian diri tidak tercemar dengan pelbagai hal najis (bdk. kitab Imamat). Dalam pemahaman hukum kesucian, seorang Yahudi secara ekstrem bahkan tidak diperbolehkan untuk bergaul dengan goyim atau orang-orang yang bukan berasal dari suku bangsa Yahudi. Latar belakang tersebut mempengaruhi Petrus. Di dalam penglihatan yang dialami Petrus(Kis. 10:1-48), ia dikisahkan tetap memisahkan antara yang hal layak dan hal yang cemar; antara hewan yang halal dan hewan yang haram. Petrus merasa segan mengonsumsi hewan yang dianggapnya haram. Tetapi, setelah Tuhan Allah menjelaskan hingga tiga kali bahwa diri-Nya tak pernah memisah-misahkan (Kis. 11:9-10), Petrus akhirnya mengerti bahwa keselamatan yang dianugerahkan oleh Tuhan Allah di dalam Kristus Yesus berlaku universal, untuk semua bangsa, “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya” (Kis 10:34-35).

Melalui pemahaman baru yang diterimanya, Petrus pun berani mengabarkan kabar sukacita, bergaul, dan melayani Kornelius yang bukan berasal dari suku bangsa Yahudi, serta mempertanggung-jawabkan baptisannya kepada Kornelius di hadapan para rasul dan saudara-saudaranya Yahudi di Yerusalem. Petrus berkata, “Jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?”(Kis. 11:17). Melalui penjelasan Petrus, para rasul dan saudara-saudaranya yang berada di Yerusalem menjadi tenang, dapat mengerti, dan memuliakan Allah karena kepada bangsa-bangsa lain, Allah juga mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.

Wahyu 21:1-8

Pemahaman tradisional menggambarkan bahwa orang percayaakan naik ke surga. Namun gambaran Wahyu berbeda. Di dalam kitab Wahyu 21:1-8 tidak terdapat kisah kiamat, rupture atau keterpisahan orang percaya dari sesamanya akibat diangkat ke surga secara tiba-tiba oleh kuasa ilahi. Wahyu tidak menguraikan kisah hukuman ilahi, tidak memprediksi kehancuran dunia, dan tidak mengulas cerita akhir jaman, namun sebaliknya, menegaskan kisah Tuhan Allah yang tinggal dan membangun kediaman-Nya di tengah kerentanan kemanusiawian kita di dunia. Wahyu menegaskan,bukan kita yang naik ke surga melainkan justruAllah yang turun dari surga dan berdiam di dunia bersama dengan umat-Nya. Ayat dua dan tiga menyatakan dengan jelas, ”Kota Yerusalem yang baru (merupakan simbol identitas iman, dan pengharapan Yahudi serta keterpilihan umat perjanjian) turun dari sorga… Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.”

Di dalam ayat lima dan enam Tuhan berkata, “Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru.” Tuhan Allah adalah Sang Pencipta (bdk. Kejadian) atau Alfa (abjad pertama dalam huruf Yunani), atau Sang Sumber kehidupan, sekaligus sebagai Sang Omega (abjad terakhir dalam huruf Yunani), atau Sang Akhir, atau Sang Tujuan (ayat 6). Sebagai Sang Awal dan Sang Akhir, Tuhan Allah turun ke dunia dengan tujuan memperbarui kerusakan, menghapuskan semua ratapan, menghilangkan air mata, yang disebabkan oleh kematian, penderitaan, kekerasan, ketidakadilan dan semua hal buruk lain yang berasal dari dunia yang rusak.

Konsekuensinya, gereja dan umat percaya diundang untuk berpihak kepada Tuhan Allah sebagai sumber mata air kehidupan, danmemilih menjadi bagian dari ciptaan baru.Memihak Tuhan Allah, berarti siap menjadi rowanggawe/rekan kerja-Nya yangmengupayakan newworld order atau aturan baru dunia yang kualitas dan kelakuannyaberkebalikandengan apa yang diuraikan di dalam ayat ke delapan. Demikianlah langit dan bumi baru adalah kondisi yang dapat diwujudkan kini dan di sini dan bukan sekadar kondisi yang diharapkan terjadi nanti-di sana.

Yohanes 13:31-35

            Sebagai Tuhan yang Mahakuasa, Gusti Yesus mengetahui segala hal yang akan terjadi. Gusti Yesus tahu bahwa Petrus akan menyangkal diri-Nya, dan Yudas Iskariot akan menghianati-Nya. Akan tetapi pengetahuan-Nya tentang kelemahan dan kesalahan para murid-Nya, tidak menghalangi Gusti Yesus untuk tetap mencintai murid-Nya. Cinta-Nya yang tanpa syarat mewujud melalui kesediaan Gusti Yesus untuk membasuh kaki para murid (Yoh. 13:1-20).

Sesudah Gusti Yesus memperingatkan Yudas (ayat 21-30), malam itu Yudas pun pergi. Menariknya, selepas kepergian Yudas, Gusti Yesus tidak menggunjingkan atau memberitahukan betapa jahatnya rencana Yudas kepada murid-murid-Nya yang lain.Gusti Yesus justru mengajarkan para murid untuk memuliakan Allah di dalam Dia (ayat 31-32)dandilanjutkan dengan memberikan informasi awal yang tersamar perihal peristiwa penyaliban yang akan dijalani-Nya (ayat 33). Setelah itu, Gusti Yesus memberikan perintah baru untuk saling mengasihi (ayat 34) yang di dasarkan pada teladan cinta dan kerelaan Gusti Yesus untuk memberikan nyawa-Nya bagi para sahabat-Nya. Namun bagian ini tidak boleh dimengerti sebagai ajakan untuk hanya mengasihi anggota persekutuan secara internal saja, mengingat dalam Yohanes 3:16, cinta kasih Tuhan juga diperuntukkan bagi dunia yang bersifat ekstenal.Akhirnya, dunia (baca: semua orang) diharapkan dapat mengenal dan mengetahui murid-murid Kristus bukan karena kepandaian yang mengesankan, pengetahuan teologi yang benar, juga bukan pula karena kemurnian moralitas, melainkan semata-mata karena cinta kasih yang senantiasa terpancar satu sama lain, “Kamu adalah murid-murid-Ku jikalau kamu saling mengasihi!”

Benang Merah Tiga Bacaan

Cinta Tuhan berlaku universal, bagi semua orang. Dunia dapat mengenal kesejatian pengikut Kristus melalui cinta kasih yang selalu memancar. Tuhan Allah yang berdiam di tengah dunia di dalam Kristus Yesus,melalui penyertaan Roh Kudus, mengundang kita untuk masuk ke dalam hati-Nya untuk kemudian memperbaharui dan memulihkan ciptaan bersama-Nya.


 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Sejarah manusia kuyup dengan kisah pilu penjajahan, kekerasan, perbudakan, dan penaklukan yangberujung pada perang dunia. Dalam konteks Indonesia, kontestasi dan perebutan kuasaterkadang dilakukan dengan cara menunggangi dan memperalat agama. Salah satu dampaknya ialah, penurunan indeks kerukunan beragama Indonesia. Menurut survei Kementerian agama (kemenag), pada tahun 2015 indeks kerukunan beragama di Indonesia tercatat 75,36 persen, lalu sempat meningkat sedikit menjadi 75,47% pada tahun 2016, namun kemudian turun menjadi 72,2% pada 2017. Di lapangan, realitas penurunan kerukunan tampak melalui renggangnya hubungan antar sesama anak bangsa. Yang semula sobat karib, sangat mungkin tiba-tiba berubah membenci dan menjadi musuh hanya karena perbedaan pilihan atau perbedaan iman. Hal semacam ini menyedihkan.

Dalam tradisi gereja,gerakan reformasi gereja yang ditandaipenempelan 95 tesis atau dalil berisi protes keras kepada otoritas gereja di pintu gereja Wittenberg-Jerman oleh Martin Luther,menggulirkan pertikaian besar. Alhasil, umat kristiani terpecah menjadi dua agama yang berbeda, yakni Katolik dan Protestan. Baru di era kekinian, keduanya menggagas dialog dan membangun kesepakatan untukberjalan bersama di dalam perbedaan.Pun halnya dengan tubuh GKJW.Perpecahan menjadi keniscayaan, ketika pada kisaran tahun 1942-1945,Kastiyan mendirikan RaadPasamuwan Kristen (RPK) di bawah Kenpetai-Jepang dalam rangka menandingi Majelis Agung.Menanggapi semua itu, secara lugas Gusti Yesus di dalam Injil Yohanes mengingatkan bahwa, “Kamu adalah murid-murid-Ku jikalau kamu saling mengasihi!.”

Isi

Di dalam Injil Yohanes, Gusti Yesus menjelaskan bahwa seorang murid Kristus dapat dikenali identitasnya oleh dunia bukan sekadar karena kuasa dan kepandaiannya yang mengesankan.Dunia mengenali seorang murid Kristus bukan karena pengetahuan teologinya yang benar dan mendalam, juga bukan karena kemurnian moralitasnya, ataupun kesuksesan material yang diperolehnya, melainkan semata-mata karena cinta kasih yang senantiasa memancar untuk sesama. Gusti Yesus memberikan teladan, meskipun Ia tahu bahwa Petrus akan menyangkal diri-Nya dan Yudas Iskariot akan menghianati-Nya, namun pengetahuan-Nya tentang kelemahan dan kesalahan para murid-Nya, tidak menghalangi-Nya untuk tetap mencintai murid-Nya. Cinta Gusti Yesus yang tanpa syarat mewujud melalui kesediaan-Nya membasuh kaki para murid (Yoh. 13:1-20). Bahkan ketika Yudas pergi meninggalkan-Nya, Gusti Yesus sama sekali tidak menggunjingkan atau memberitahukan betapa jahatnya rencana Yudas kepada murid-murid-Nya, melainkan justru mengajarkan para murid untuk saling mengasihi satu sama lain melalui dasar teladan kerelaan pemberian nyawa-Nya untuk sahabat-Nya (Yoh. 13:34).

Konsekuensinya, jika ditarik dalam konteks gereja, maka sejatinya gereja dapat dikenali keberadaannya oleh dunia, bukan karena kemegahan gedungnya dan bukan disebabkan oleh banyak-sedikitnya jumlah warga jemaat, atau pun besarnya jumlah persembahan serta anggaran program kegiatan tahunannya.Melainkan karena cinta kasih yang menerangi dan secara nyata dapatdirasakan oleh sekitar. Mendiang Pdt. Dr. Eka Dharmaputra pernah berujar:

“Jika gedung gereja Anda tiba-tiba tutup dan tidak lagi beroperasi, apakah masyarakat sekitar bingung dan merasa kehilangan? Jika iya, maka gereja Anda telah menjadi berkat dan membawa dampak positif. Namun jika masyarakat sekitar sama sekali merasa tidak kehilangan dan malah mensyukuri tutupnya gereja Anda, artinya gereja gagal menjadi terang dan garam bagi sekitar.”

Sehingga kata kuncinya adalah, sudahkah gereja menyalurkan kasih Allah bagi sekitar? Sudahkah Anda dan saya menghadirkan kasih secara nyata? Sudahkah kita saling mengasihi?

Ketika saudaramu terluka, maka hadirlah dan bebatlah lukanya dengan penuh perhatian. Saat kerabatmu dibekap kepedihan, peluklah dengan kehangatan cinta-Nya dan dengarlah tuturan lukanya. Tatkala sesamamu merintih karena mengalami kesengsaraan, maka genggam dan rengkuhlah iadengan kehangatan kasih-Nya. Hanya dengan cara itu, kita dapat disebut sebagai pengikut Kristus yang sesungguhnya.

Kini mari memeriksa diri. Menyoal persembahan dan ketentuan pengumpulan dana persekutuan di GKJW; apakah sebagai gereja, hubungan yang terjalin antara Majelis Jemaat dengan Majelis Daerah dan Majelis Agung telah diwarnai oleh kesediaan untuk saling mengasihi? Ataukah masih disandarkan pada pola transaksi untung-rugi?

Apakah relasi antara penatua, diaken, pendeta, dan warga jemaat telah dilingkupi oleh niatan untuk saling mengasihi dalam perbedaan? Ataukah kita masih menghidupi pola Petrus sebelum mendapatkan penglihatan—yanggemar membangun tembok pemisah dan menganggap najis liyan atau mereka yang berbeda dengan kita?

Di dalam kitab Wahyu, Tuhan Allah dikisahkan turun dari surga untuk tinggal dan membangun kediaman-Nya di tengah kerentanan kemanusiawian kita di dunia. Bukan kita yang naik ke surga melainkan Allah yang turun dari surga dan berdiam di dunia bersama umat-Nya. Dengan demikian, gereja dan umat percaya diundang untuk berpihak kepada Tuhan Allah sebagai Sang sumber mata air kehidupan, dan memilih untuk menjadi bagian dari ciptaan baru. Memihak Tuhan Allah, berarti siap menjadi rowanggawe/rekan kerja-Nya yang mengupayakan pembaruan dan pemulihan dunia melalui kerja keras menghadirkan aturan baru dunia (newworld order) yang nilai, kualitas,serta kelakuannya harus berkebalikan dengan Wahyu 21:8,yang tidak setia dan tak beriman pada Allah (penakut, tidak percaya), menjadi hamba kekerasan dan tega menyakiti sesama(keji), tak bermoral secara seksual (pelaku persundalan), percaya kepada kekuatan sihir, menyembah selain Allah; uang, harta, ketenaran, kesuksesan, popularitas, kesenangan (idolatrous, menyembah berhala), dan berdusta (korupsi, manipulasi). Pengikut Kristus yang memihak Tuhan Allah harus menghidupkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang lekat dengan iman, kesetiaan, berlimpah cinta dan perhatian, menjunjung tinggi moralitas, menjauhi kuasa gelap/sihir, menolak penyembahan berhala, dan hidup dalam kebenaran dan kejujuran.

Penutup

Benar bahwa kita tidak hidup di dunia yang sempurna. Kita tidak pernah steril dari masalah. Memuji Gusti dan membangun keintiman relasi dengan-Nya melalui nyanyian dan persekutuan memang penting, sebab dapat menghibur dan membuat nyaman keberadaan kita ketika beragam persoalan datang mendera. Namun kenyamanan rohani tidak boleh dijadikan dalih untuk melarikan diri dari dunia.Tuhan yang berdiam di tengah kita adalahSang Sumber Cinta, yang berjanji menguatkan perjuangan kita dalam memperbaharui dan memulihkan ciptaan, serta selalu rindu untuk mengajak kita untuk kembali ke dalam hati-Nya yang berlimpah cinta. Amin.

Nyanyian: KJ. 393.


RANCANGAN KOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Lelampahan (sejarah) manungsa kebak cariyos sedhih awit penjajahan, laku bengis, pangawulan lan paneluk ingkang nuwuhaken prang donya. Ing kawontenan Indonesia, pangupadi lan rerebutaning pangreh (kekuasaan) kadhang kala dipun lampahi kanthi ngagem lan ancik-ancik agami. Tundhonipun, karukunaning agami ing Indonesia dados saya susut. Miturut panaliti saking Kementrian Agama, ing taun 2015 indeks (ukuran) karukunan agami Indonesia kasebat 75,36 persen, lajeng ningkat sekedhik dados 75,47 ing taun 2016, nanging susut malih ing taun 2017 dados 72,2%. Susuting karukunan agami menika kasunyatan ing saya bengganging sesambetan sesaminipun putra bangsa. Ingkang sakawit raket, dumadakan ewah dados sengit lan dados mengsah namung karana benten pilihan utawi benten iman. Kawontenan menika saestu mrihatosaken.

Ing lelampahaning greja, pambudidaya reformasi (ngenggalaken) greja srana tumempeling 95 dalil (pamawas) ingkang isi panutuh dhateng pimpinaning greja ing korining greja Wittenberg-Jerman dening Martin Luther, nuwuhaken cecongkrahan ageng. Wusana, umat Kristen pecah dados kalih, anenggih Katolik lan Protestan. Nembe ing jaman samangke, kekalihipun mbudidaya pirembagan lan sarujuk lumampah sesarengan ing kawontenan ingkang benten. Mekaten ugi ing GKJW. Watawis taun 1942-1945 GKJW pecah nalika Kastiyan ngadegaken RAAD PASAMUWAN KRISTEN (RPK) ing bawahanipun Kenpetai-Jepang nandhingi Majelis Agung.

Nanggapi sedaya menika, kanthi cetha Gusti Yesus ing Injil Yokanan ngengetaken bilih “Titikané enggonmu padha dadi murid-Ku, yakuwi menawa wong kabèh padha neksèni enggonmu tresna-tinresnan.”

Isi

Ing Injil Yokanan, Gusti Yesus nerangaken bilih pendherekipun Sang Kristus saged dipun titeni jati dhirinipun dening jagad boten namung saking panguwaos lan kapinteranipun ingkang nengsemaken. Jagad nitik pendherekipun Sang Kristus sanes saking pamawas teologinipun ingkang leres lan lebet, ugi sanes saking murnining kasusilanipun, utawi saking raja brana ingkang mbrewu, kajawi namung saking sih katresnanipun ingkang tumanduk dhateng sesami. Gusti Yesus paring patuladhan, nadyan Panjenenganipun pirsa bilih Petrus badhe nyelaki Panjenenganipun lan Yudas Iskariot badhe tumindak cidra ngulungaken Panjenenganipun, nanging pamawasipun Gusti Yesus bab karingkihan lan kalepatanipun para murid, boten ngalang-alangi Panjenenganipun anggenipun tetep nresnani sekabatipun. Sih katresnanipun Gusti Yesus ingkang tanpa sarat maujud ing keparengipun mijiki sukunipun para murid (Yok. 13:1-20).  Malah nalika Yudas nilaraken Panjenenganipun, Gusti Yesus boten ngrasani kami teganipun rancanganing Yudas ing ngajenganipun para sekabat, nanging malah memulang para murid kinen sami tresna-tinresnan kanthi patuladhan anggenipun lila masrahaken nyawanipun kagem para sakabatipun (Yok. 13:34).

Menawi kacundhukaken dhateng kawontenaning greja, menika ateges bilih greja saged dipun titeni jati dhirinipun dening jagad sanes saking magrong-magronging wewangnanipun lan sanes saking kathahing warganing pasamuwan, utawi kathahing pisungsungipun sarta anggaran PKTnipun saben tahun. Nanging ketitik saking sih katresnan ingkang sacara nyata saged dipun raosaken dening tetangginipun. Pdt. Dr. Eka Dharmaputra swargi dhawuh:

“Jika gedung gereja Anda tiba-tiba tutup dan tidak lagi beroperasi, apakah masyarakat sekitar bingung dan merasa kehilangan? Jika iya, maka gereja Anda telah menjadi berkat dan membawa dampak positif. Namun jika masyarakat sekitar sama sekali merasa tidak kehilangan dan malah mensyukuri tutupnya gereja Anda, artinya gereja gagal menjadi terang dan garam bagi sekitar.”

Dados cekakipun, menapa greja sampun nandukaken sih katresnanipun Gusti Allah tumrap tetangginipun? Menapa panjenengan lan kula sampun mujudaken katresnan sacara nyata? Menapa kita sampun sami tresna-tinresnan?

Menawi sadherek kita tatu, swawi kita bebet tatunipun kanthi gemati. Samangsa sadherek kita kabithung ing sedhih, swawi karangkula kanthi agenging sih katresnanipun Allah lan kapirengna lairing batosipun ingkang tatu. Sawanci-wanci sesami kita anglintrih ngalami kasangsaran, swawi kagandhenga lan karengkuha kanthi sih katresnanipun Allah. Namung srana mekaten, kita saged dipun sebut minangka pendherekipun Sang Kristus ingkang sejatos.

Samangke sumangga sami niti priksa dhiri. Ngengingi pisungsung lan katemtuan Dana Patunggilan ing GKJW: minangka greja, sesambetan antawisipun Majelis Pasamuwan kaliyan Majelis Daerah lan Majelis Agung menapa kadhasaran sedya tresna-tinresnan? Utawi menapa kadhasaran tetimbangan bathi-rugi? Menapa sesambetan antawisipun Pinisepuh, Diaken, Pendhita lan Warga pasamuwan sampun dipun suhi dening niyat sami tresna-tinresnan ing kawontenan ingkang benten-benten? Utawi kita taksih nyonto patrapipun Petrus saderengipun pikantuk sesawangan/ wangsit -ingkang remen ngadegaken tembok pepisahan lan nganggep najis dhateng liyan utawi sintena kemawon ingkang benten kaliyan kita?

Ing Kitab Wahyu kacariyosaken bilih Gusti Allah tumedhak saking swarga yasa lan dedalem ing padununganipun ing tengahing karingkihaning kamanungsan kita ing donya. Sanes kita ingkang minggah dhateng swarga, nanging Gusti Allah ingkang tumedhak saking swarga lan mapan ing donya tetunggilan kaliyan umatipun. Kanthi mekaten, greja lan umat pitados tinimbalan miji (berpihak kepada) Gusti Allah minangka tuking gesang, lan milih dados peranganing titah enggal. Berpihak dhumateng Gusti Allah ateges sumadya dados rowang damelipun Gusti Allah ingkang ngupayakaken ewah-ewahan lan pulihing jagad srana sengkut makarya mujudaken tatanan enggal ingkang aji, lan patrapipun kedah lelawanan kaliyan Wahyu 21:8 ingkang boten setya/ ajrih lan boten pitados dhumateng Allah, abdi ingkang kejem, boten gadhah kasusilan, tukang tenung, nyembah brahala, edan dhateng arta, bandha donya, kesuksesan, kondhanging asma, kesenengan, remen dora/ ngapusi (korupsi, manipulasi). Pendherekipun Sang Kristus ingkang tetunggilan kaliyan Gusti Allah kedah gesang ing tatananing Kratoning Allah ingkang gandheng raket kaliyan iman, kasetyan, kebak sih katresnan lan gemati, ngudi kasusilan, nyingkiri sihir lan jimat, nampik brahala, lan gesang ing kayekten lan kajujuran.

Panutup

Pancen yektos bilih kita boten gesang ing donya ingkang sampurna. Kita boten nate uwal saking pakewed (masalah). Memuji Gusti lan mbangun sesambetan ingkang raket kaliyan Panjenenganipun srana kekidungan lan patunggilan pancen penting, awit saged nglipur lan damel manah lega samangsa prahara nempuh gesang kita. Nanging sekecaning karohanen boten pareng kadadosaken alesan mlajeng saking kasunyataning donya. Gusti ingkang dedalem ing satengah kita menika tuking sih katresnan, ingkang prasetya/ janji nyantosakaken pambudidaya (perjuangan) kita ngenggalaken lan mulihaken titahipun Allah, sarta ngrengkuh kita dhateng manahipun Gusti ingkang kebak sih katresnan. Amin. [terjemahan st]

Pamuji: KPJ. 431.

 

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •