Menjadi Murid Kristus yang Setia Khotbah Minggu 4 September 2022

Minggu Biasa | Pembukaan Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

Bacaan 1: Ulangan 30 : 15 – 20
Bacaan 2:
Filemon 1 : 1 – 22
Bacaan 3:
Lukas 14 : 25 – 33

Tema Liturgis: Jalanilah Kehidupan di dalam Terang Firman Allah!
Tema Khotbah: Menjadi Murid Kristus yang Setia

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ulangan 30 : 15 – 20
Bagian bacaan kita hari ini adalah klimaks dari Kitab Ulangan yang mengandung penekanan tentang pokok berita Deuteronomis mengenai pengharapan akan pemulihan. Psl. 30 memuat saat-saat terakhir Musa yang selama ini telah mengabdikan hidupnya untuk memimpin Israel. Sebelum ajalnya datang, Musa membahas kembali tema mengenai berkat dan kutuk yang akan dialami oleh Israel dan keturunan mereka. Ia menekankan konsekuensi atas setiap pilihan yang diambil. Jika pilihan Israel adalah “berbalik pada TUHAN Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya (Ay. 2), hasilnya adalah kondisi yang penuh dengan berkat-berkat yang didaftarkan dalam ayat 3-10. Berkat-berkat ini adalah berkat yang holistik meliputi berkat pemulihan secara nasional (Ay.3: “Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu telah menyerakkan engkau” dan Ay. 5: “akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu.”), berkat berupa kasih kepada TUHAN (Ay. 6: “Akan menyunat hatimu dan hati keturunannmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN”) dan berkat dalam kehidupan sesehari (Ay. 9: “TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam segala pekerjaanmu, dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu …”). Namun sebaliknya, kutuk dan kebinasaan akan diterima Israel dan anak-cucunya jika “hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya.” (Ay. 17). Pola Deuteronomisnya menjadi jelas: ketaatan berbuah berkat dan ketidaktaatan berbuah kutuk.

Kedua pilihan dalam pola ini disebut sebagai perintah yang “tidak terlalu sukar” (Ay. 11), karena tempatnya tidak di langit (Ay. 12) atau di seberang laut (Ay. 13) yang sulit untuk digapai. Melainkan “sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu” (Ay. 14). Pilihan kembali ditawarkan bagi Israel: yang pertama adalah kehidupan dan keberuntungan, sedang pilihan kedua adalah kematian dan kecelakaan (Ay. 15). Tentu dua opsi yang diberikan ini jelas bedanya, jelaslah bangsa Israel saat itu ingin memilih opsi yang pertama: kehidupan dan keberuntungan. Namun opsi ini mengandung konsekuensi yang membutuhkan komitmen, yakni untuk hidup menurut jalan TUHAN dan berpegang pada perintah, ketetapan, dan peraturan-Nya (Ay. 16). Jadi, ketaatan berarti penyerahan diri yang utuh pada TUHAN. Sebaliknya, jika Israel memilih untuk tidak taat dengan cara “berpaling dan tidak mau mendengar, bahkan sujud menyembah kepada allah lain” (Ay. 17), konsekuensinya adalah “…kamu akan binasa, tidak akan lanjut umurmu” (Ay. 18). Karena opsi dan konsekuensi yang sedemikian jelas, Musa mengingatkan Israel untuk “pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ay. 19). Karena TUHAN sendiri sudah memberikan jaminan bagi tiap orang yang taat, bahwa mereka akan “berarti hidupnya dan lanjut umurnya” (Ay. 20). Demikianlah, di akhir masa hidupnya, Musa berusaha membuat Israel yang akan segera masuk ke tanah perjanjian itu untuk setia pada TUHAN dan beroleh kehidupan.

Filemeon 1 : 1 – 22
Paulus mengawali suratnya kepada Filemon dengan salam dan ungkapan syukur (Flm. 1:1-7). Bagi Paulus, Filemon adalah rekan kerjanya. Surat ini adalah surat Paulus pribadi kepada Filemon yang dia tulis pada saat Paulus berada pada masa penahanan (dipenjara) di Roma (Kis. 28:16-31). Nama-nama orang yang sama yang disebutkan Paulus dalam Filemon 1:1-2, 10, 23-24: (Filemon, Apfia, Arkhipus, Onesimus, Epafras, Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas) dan dalam Kolese 4:9-10, 12, 14, 17: (Onesimus, Aristarkhus, Markus, Epafras, Lukas, Demas Arkhipus) menunjukkan bahwa Filemon tinggal di Kolose, dan kedua surat ini ditulis dan diantarkan pada waktu yang sama.

Filemon menjadi pemilik hamba (Ay. 16) dan anggota gereja di Kolose (Flm 1:1-2; Kol. 4:17). Dia bertobat dan percaya kepada Kristus dibawah pelayanan Paulus (Ay. 19). Onesimus menjadi hamba Filemon yang telah melarikan diri ke Roma. Saat di Roma itulah Onesimus bertemu dengan Paulus. Paulus mengenalkan Onesimus kepada Kristus dan membawanya percaya kepada Kristus. Ada ikatan persahabatan di antara mereka (Ay. 9-13). Tujuan surat ini ditulis dengan maksud Paulus mengirimkan Onesimus kembali kepada Filemon ditemani oleh Tikhikus. Paulus menyurati Filemon untuk mengurus persoalan khusus tentang hambanya Onesimus yang telah melarikan diri darinya. Menurut hukum Romawi, hamba yang melarikan diri dapat dihukum mati. Di sinilah Paulus menjadi perantara untuk Onesimus dengan Filemon. Paulus memohon kepada Filemon supaya Onesimus diterima kembali secara ramah sebagai orang percaya dan sahabat Paulus, dengan kasih yang sama sebagaimana dia menerima Paulus sendiri.

Lukas 14 : 25 – 33
Lukas mengubah latar belakang tempat dalam narasinya, Yesus yang sejak ayat 1–24 digambarkan makan bersama orang Farisi tiba-tiba dihubungkan kembali dengan “banyak orang” dan sedang ada dalam sebuah perjalanan (Ay. 25). Tampaknya Lukas ingin mengembalikan perhatian pembacanya pada perjalanan Yesus menuju Yerusalem, yang merupakan perjalanan menuju karya penyelamatan-Nya. Di perikop khas Lukas ini, Yesus sedang memberikan pengajaran tentang bagaimana menjadi murid-Nya (discipleship). Bagi Yesus, menjadi murid-Nya bukan sekedar tentang identitas, melainkan totalitas. Dia menekankan pentingnya transformasi kehidupan, seperti yang telah disinggung di ayat 7 – 14. Bahwa menjadi seorang murid berarti menunjukkan kualitas kemuridannya dalam pikiran, perkataan, dan tindakan.

Perikop ini sering dianggap sebagai bacaan yang sulit karena Yesus meminta kita yang mau jadi murid-Nya untuk “membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya…bahkan nyawanya sendiri.” (Ay. 26). Bagaimana mungkin Yesus yang terkenal karena pengajaran-Nya soal kasih justru meminta para murid-Nya untuk membenci orang-orang terdekatnya sendiri? Ayat 26 – 27 ditulis dengan menggunakan pola parallel: “barangsiapa tidak… ia tidak dapat…”. Pola ini bermuara di ayat 33 sebagai kesimpulannya. Jadi sebenarnya pesan utama dari perintah “membenci” bukan perkara perasaan, melainkan kesediaan untuk menyangkal dirinya sendiri dan menyangkal keterikatannya pada relasi sosial. Seperti yang sudah pernah disampaikan di Lukas 9:23, penekanan ajaran Yesus tentang pemuridan, terletak pada transformasi dan rekonstruksi diri. Bahwa hidup sebagai murid Yesus berarti mentransformasi hidup dan merekonstruksi identitasnya, bukan lagi hidup demi memenuhi kehendak pribadi, namun hidup yang berpusat pada kehendak Tuhan saja.

Yesus lalu melanjutkan pengajaran-Nya dengan dua perumpamaan yang diceritakan dalam ayat 28-32. Perumpamaan itu tentang pemilik tanah yang ingin membangun sebuah menara dan seorang raja yang akan berperang, kedua karakter ini sama-sama sedang memperhitungkan sumber daya yang mereka miliki. Jika salah perhitungan, mereka berdua memiliki resiko yang sama besarnya, yang pertama akan menerima ejekan karena dianggap tidak becus menyelesaikan pekerjaannya dan yang kedua harus menyerah dan kehilangan harga dirinya. Tapi dua karakter ini sama-sama menggambarkan betapa ketergantungan dan keterikatan pada sumber daya (kekayaaan, kekuatan, dan kebanggaan pada diri sendiri) tidak berhubungan dengan posisi seseorang di hadapan Tuhan. Lukas lalu menyimpulkan dengan segera bahwa arti dari pengajaran dan perumpamaan yang disampaikan Yesus sebelumnya adalah tiap orang yang ingin menjadi murid Kristus harus “melepaskan dirinya dari segala miliknya” (Ay. 33). Mengingat bahwa ini disampaikan Yesus dalam sebuah perjalanan (menuju Yerusalem), pengajaran ini menjadi semakin jernih. Bahwa tiap orang yang mau menjadi murid Kristus, berarti dia harus bersedia mengikuti jalan yang dilalui Yesus dan mau tidak mau meninggalkan segala sesuatunya di belakang. Seperti garam akan kehilangan segala fungsinya jika ia kehilangan asinnya, seorang murid juga tidak akan pernah bisa benar-benar menjalani pemuridannya jika tidak melepaskan segala sesuatu yang mengikatnya (Ay. 34-35).

Benang Merah Tiga Bacaan:
Berkali-kali Israel telah gagal untuk setia pada TUHAN, padahal mereka telah melihat dan merasakan sendiri bagaimana keajaiban karya TUHAN dalam membebaskan dan mengkhususkan mereka. Karena itu, sebelum melangkah masuk ke tanah perjanjian, Israel diingatkan kembali tentang konsekuensi dari ketidaksetiaan. Jelas, bahwa kesetiaan harus diusahakan, seperti Paulus yang mengusahakan kesetiaannya sampai akhir. Demikian pula keputusan untuk menjadi murid Kristus senantiasa harus disertai dengan kesediaan untuk mentransformasi dan merekonstruksi diri secara keseluruhan. Murid Kristus tidak dinilai dari masa lalunya, namun dari keputusannya untuk setia pada Sang Guru Agung.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan

I am Thine. O Lord, I have heard Thy voice,
And it told Thy love to me;
But I long to rise in the arms of faith,
And be closer drawn to Thee.
Draw me nearer, nearer, blessed The Lord
To the cross where Thou hast died;
Draw me nearer, nearer, nearer blessed Lord,
To Thy precious, bleeding side.

Lagu himne yang diciptakan di abad 19 ini diabadikan di Indonesia dalam Kidung Jemaat 362 Aku MilikMu, Yesus Tuhanku, dan masih kita nyanyikan sampai sekarang di berbagai ibadah dan kesempatan. Liriknya memiliki pesan teologis untuk menguatkan iman, melodi serta temponya mengalun lembut memberikan ketentraman sekaligus membangkitkan keberanian.

Tahukah saudara, bahwa lagu rohani yang sering kita nyanyikan ini sebenarnya hanyalah salah satu dari 8.000 lagu himne yang pernah diciptakan oleh seseorang. Frances Jane van Alystyne atau yang lebih dikenal dengan nama Fany Crosby adalah penyair yang menciptakan lagu Himne Kristiani terbanyak dalam sejarah. Tak heran ia disebut sebagai The Queen of Gospel Songwiters, karena lagu-lagu ciptaannya telah memberkati banyak sekali orang. Lagu-lagu ciptaannya berasal dari kisah hidup yang tidak selalu baik. Fany Crosby dikenal sebagai pencipta lagu yang menyandang disabilitas netra, ia kehilangan penglihatannya sejak berusia 6 minggu. Di tahun yang sama ayahnya meninggal, kondisi ini membuat ibunya harus bekerja keras dan menitipkan pengasuhan Fany Crosby kecil ke neneknya. Hidup sebagai anak buta tidaklah mudah, Fany harus menerima berbagai ejekan dan hinaan sejak ia masih sangat muda. Namun, bakatnya dalam menulis syair dan puisi terlihat sejak dini. Di masa dewasanya, ia juga pernah kehilangan putri satu-satunya yang meninggal tidak lama setelah dilahirkan. Dari sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya, Fany Crosby punya banyak alasan untuk menyalahkan Tuhan dan menjauh dari-Nya. Tapi peristiwa-peristiwa pahit itu tidak pernah membuatnya menyerah, ia tetap setia. Fany Crosby terus berusaha semampu yang ia bisa, ia terus menghasilkan 5-7 lagu per hari secara konsisten seumur hidupnya. Demikianlah melalui kisah hidup Fany Crosby kita bisa melihat sebuah realita bahwa kesetiaan pada Tuhan harus diusahakan.

Isi
Bahwa kesetiaan itu harus diusahakan adalah pelajaran yang sedang didapat oleh Israel dalam bacaan pertama kita tadi. Israel baru saja sampai ke dataran Moab, tanah perjanjian yang didambakan sudah di depan mata. Namun, sebelum mereka melangkah masuk, kembali Israel diingatkan mengenai kekhususan mereka di antara bangsa-bangsa yang lainnya. Oleh sebab itu, Israel harus membuat pilihan atas opsi dan konsekuensinya: taat berbuah kehidupan dan keberuntungan atau tidak taat yang berujung pada kebinasaan. Musa yang sudah berpuluh tahun memimpin Israel sadar betul, bahwa meski mereka sudah melihat dan mengalami peristiwa ajaib yang dikerjakan TUHAN atas hidup mereka, Israel masih bisa berpaling dan mengkhianati-Nya. Karena itu sekali lagi Musa mengingatkan Israel untuk “pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ay. 19). Jelas, kesetiaan bukan tergantung pemberian atau kepuasan tapi keputusan.

Karena itulah Tuhan Yesus menetapkan standar yang amat tinggi untuk menjadi murid-Nya. Apa yang dimaksudkan-Nya sebagai murid adalah tiap orang yang bersedia mengambil jalan yang sama dengan-Nya, jalan menuju Yerusalem. Saat Yesus meminta agar murid-murid-Nya “membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya… bahkan nyawanya sendiri.” (Ay. 26), ini menunjukkan bagi-Nya menjadi seorang murid berarti memberikan diri secara total, tidak setengah-setengah. Kesetiaan sebagai murid ditunjukkan bukan dari sekedar dengan kata-kata melainkan dari transformasi dan rekonstruksi diri. Ini bukanlah pra-syarat untuk menjadi murid Yesus, namun konsekuensi logis dari sebuah keputusan. Tuhan Yesus memberikan dua perumpamaan mengenai seorang yang membangun menara dan seorang raja yang sama-sama menghitung kekuatannya sendiri. Dua perumpamaan ini menunjukkan bahwa seberapapun kekuatan, kekayaan, dan kepandaian yang kita miliki, itu tidak akan menentukan posisi kita sebagai murid-Nya. Satu-satunya yang menentukannya adalah bagaimana kita terus mengusahakan dan mengerjakan kesetiaan kita pada Sang Guru Agung.

Rasul Paulus, salah seorang murid Yesus yang menginspirasi iman kita sedang ada dalam penjara. Ia tahu benar bahwa hidupnya sedang terancam karena pekerjaan pemberitaan Injilnya dianggap aktivitas yang membahayakan. Namun, di tengah ketidakpastian dan ancaman itu, justru Paulus menuliskan surat penggembalaan kepada Filemon anak rohaninya. Dalam suratnya itu Paulus menjadi perantara untuk Onesimus dengan Filemon. Paulus memohon kepada Filemon supaya Onesimus diterima kembali secara ramah sebagai orang percaya dan sahabat Paulus, dengan kasih yang sama sebagaimana dia menerima Paulus sendiri. Di sini Paulus hendaki agar Filemon menunjukkan kesetiaan kepada Kristus dengan menerima kembali Onesimus dalam kasih, sebagaimana Kristus yang juga menerima kembali orang berdosa yang bertobat.

Penutup
Menjadi orang yang setia memang tak mudah. Karena kesetiaan bukan sesuatu yang otomatis diaktivasi, tapi harus selalu dikerjakan dan diusahakan. Sebagai manusia, pastilah kita punya narasi hidup kita masing-masing. Kita memiliki peristiwa yang kita kenang sebagai peristiwa menyenangkan, atau juga sebaliknya. Namun peristiwa-peristiwa dalam hidup kita itu hendaknya tidak menjadi dasar bagi kesetiaan kita. Lihat saja Israel yang sudah mengalami peristiwa-peristiwa ajaib dalam hidupnya namun tetap kesulitan untuk setia. Atau Fany Crosby yang terus berusaha menghasilkan lagu-lagu pujian yang manis, meskipun peristiwa hidupnya sangat pahit dan menyakitkan.

Bagaimana dengan kita, bersediakah untuk menyerahkan diri sebagai milik Kristus, menjadi murid-Nya dan terus mengerjakan kesetiaan kita? Memang hidup tidak selalu dipenuhi dengan peristiwa manis, ada pula narasi tentang kesakitan, kegagalan, kekecewaan dan kemalangan. Namun, saat hidup makin berat dan salib terasa menekan hebat, ingatlah seorang gadis buta yang menderita, namun tetap bernyanyi ….

(Pelayan bisa menyanyikannya dengan diiringi musik yang lembut)

Aku milikMu Yesus Tuhanku, ku dengar suaraMu
Ku merindukan datang mendekat dan diraih olehMu

Reff:

Raih daku dan dekatkanlah, pada kaki salibMu
Raih daku, raih dan dekatkanlah ke sisiMu Tuhanku.

Akhirnya, selamat menjadi murid Kristus yang mengerjakan kesetiaannya hari lepas hari. Amin. (Rhe)

 

Pujian: KJ. 362 Aku Milik-Mu, Yesus Tuhanku


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka

I am Thine. O Lord, I have heard Thy voice,
And it told Thy love to me;
But I long to rise in the arms of faith,
And be closer drawn to Thee.
Draw me nearer, nearer, blessed The Lord
To the cross where Thou hast died;
Draw me nearer, nearer, nearer blessed Lord,
To Thy precious, bleeding side.
 

Pamuji punika dipun serat ing abad 19, wonten Indonesia, pamuji punika dipun serat wonten ing Kidung Jemaat 362 Aku Milik-Mu, Yesus Tuhanku. Pamuji punika taksih asring dipun pujiaken ing pangibadah-pangibadah ing pasamuwan. Lirikipun nggadahi pesen teologis kangge ngiyataken iman. Melodi lan temponipun ingkang alus saged maring katentreman lan nuwuhaken sikep wantun.

Punapa panjenengan sumerep bilih lagu rohani ingkang asring kita pujiaken punika namung salah setunggal pepujen saking 8.000 lagu himme ingkang nate dipun serat kaliyan Frances Jane van Alystyne utawi Fany Crosby. Piyambakipun punika setunggaling penyair ingkang nyerat lagu Himne Kristiani ingkang paling kathah salebeting sejarah. Pramila piyambakipun kasebat The Queen of Gospel Songwiters, karana lagu-lagunipun punika saged dados berkah kangge tiyang kathah. Fany Crosby punika dipun tepang minangka juru serat lagu ingkang wuta, piyambakipun wuta wiwit umur 6 minggu. Lajeng ing taun ingkang sami punika, bapakipun katimbalan. Kawontenan ingkang mekaten punika dadosaken ibunipun kedah nyambut damel kanthi temen. Wiwit alit Fany Crosby sampun dipun titipaken dhateng mbah putrinipun. Gesang minangka anak ingkang wuta punika boten gampang. Fany asring nampi olok-olok lan dipun asoraken wiwit taksih enem. Nanging bakatipun nyerat syair lan puisi sampun ketingal wiwit alit. Ing mangsa dewasanipun, piyambakipun nate kecalan putrinipun ingkang tilar donya sak sampunipun lair. Saking ngriki kita saged ningali bilih Fany Crosby punika nggadah kathah alesan kangge nyalahaken Gusti Allah lan nebih saking Panjenenganipun. Nanging nyatanipun kedadosan ingkang pait punika boten dadosaken piyambakipun nyerah, piyambakipun tansah setya dhumeteng Gusti Allah. Fany Crosby tansah nyupaya miturut kasagedanipun nyerat lagu, saben dinten boten kirang 5 – 7 lagu ingkang dipun serat salebeting gesangipun. Lumantar cariyos Fany Crosby punika, kita saged mangertos bilih kasetyan dhumateng Gusti Allah punika kedah dipun upaya kanthi temen.

Isi
Kasetyan ingkang kedah dipun upaya punika dados piwucal kangge bangsa Israel ing waosan sepisan. Bangsa Israel sampun dumugi ing Moab lan tanah prajanji sampun ketingal ing ngajeng. Nanging saderengipun bangsa Israel lumebet ing Kanaan, Musa ngengetaken malih bab kawontenanipun bangsa Israel. Karana punika Israel kedah milih : setya tuhu nuwuhaken gesang lan kasaenan utawi boten setya nuwuhaken pati. Musa ingkang sampun puluhan taun mimpin bangsa Israel, piyambakipun sadar, sanajan bangsa Israel sampun ningali lan ngalami pakaryaning Gusti Allah tumrap gesangipun, bangsa Israel taksih saged nilar lan nglawan Gusti Allah. Karana punika, sepisan malih Musa ngengetaken bangsa Israel supados milih pigesangan supados Israel saged gesang (Ay. 19). Jelas, kasetyan punika boten gumantung peparing nanging keputusan.

Karana punika, Gusti Yesus netepaken standar ingkang inggil minangka sakabatIpun. Minangka sakabatipun saben tiyang kedah sumadya mlampah ing margi ingkang sami kados Gusti Yesus, margi ingkang tumuju dhateng Yerusalem. Nalika Gusti Yesus nyuwun supados para sakabatipun “sengit dhateng bapakipun, ibunipun, anak-anakipun, sederek-sederekipun … ngantos nyawanipun piyambak. (Ay. 26), punika nedahaken kagem Gusti Yesus, dados sakabat punika ateges masrahaken gesangipun sawetahipun dhumateng Gusti, boten setengah-setengah. Kasetyan minangka sakabat punika boten namung saking arupi pitembungan kemawon nanging kedah saking transformasi lan rekonstruksi diri. Punika sanes pra sarat kangge dados sakabatipun Gusti Yesus, nanging dados keputusan kita. Gusti Yesus paring kalih pasemon bab tiyang mbangun Menara lan Prabu ingkang ngetang kakiyatanipun piyambak. Kalih pasemon punika nedahaken bilih sepinten kakiyatan, kasugihan, lan kapinteran kita, boten nentuaken papan kita minangka sakabatipun Gusti. Ingkang nentuaken inggih punika kados pundi kita ngupaya lan nindakaken kasetyan kita dhumateng Gusti Sang Guru Agung.

Rasul Paulus, ingkang nalika semanten dipun kunjara saged dados tuladhan iman kangge kita. Piyambakipun mengertos bilih gesangipun wonten ing ancaman karana nindakaken pawartosan Injil. Nanging ing satengahing ancaman punika, Rasul Paulus malah saged nulis serat ingkang kebak kabingahan minangka bukti piyambakipun tetep setya. Paulus nyerat serat dhateng Filemon anak rohaninipun. Wonten seratipun punika, Paulus dados juru pantara antawisipun Onesimus kaliyan Filemon. Paulus nyuwun dhateng Filemon supados purun nampi malih Onesimus kanthi bingah minangka tiyang pitados lan sadherekipun Paulus, kados anggenipun piyambakipun nampi Paulus piyambak ing katresnan. Ing ngriki Paulus kagungan pangajeng-ajeng dhateng Filemon supados piyambakipun saged nedahaken kasetyanipun dhumateng Sang Kristus sarana purun nampi malih Onesimus kebak ing katresnan, kados dene Sang Kristus ingkang kersa nampi tiyang dosa ingkang mratobat.

Panutup
Dados tiyang ingkang setya punika boten gampang, karana kasetyan punika sanes perangan ingkang otomatis dados, nanging kedah dipun upaya lan dipun tindakaken. Kita punika nggadahi narasi gesang kita piyambak-piyambak. Kita ugi gadhah kenangan sae punika bab ingkang bingahaken utawi kosokwangsulipun. Nanging bab-bab punika boten saged dados landesan kasetyan kita. Cobi kita tingali, Israel ingkang ngalami maneka werni prekawis ingkang ngedap-edapi ing gesangipun kemawon kewetan tumindak setya. Utawi Fany Crosby ingkang tansah ngupaya damel lagu-lagu pepujian ingkang manis sanadyan gesangipun pait lan nyedihaken.

 Kados pundi kaliyan kita, punapa kita sumadya masrahaken gesang kita minangka kagunganipun Sang Kristus, dados sakabatIpun lan tansah nindakaken kasetyan kita? Pancen gesang punika boten selaminipun kebak bab-bab ingkang sae kemawon, wonten ugi bab sakit, gagal, getun, lan sisah. Nanging nalika gesang kita kraos awrat lan salib punika ugi awrat, mangga ngenget gadis wuta ingkang nandhang sangsara, ning taksih tetep nyanyi :

(Pelados Pangabekti saged nyanyi kairing musik ingkang lembut)

Aku milikMu Yesus Tuhanku, ku dengar suaraMu
Ku merindukan datang mendekat dan diraih olehMu

Reff:

Raih daku dan dekatkanlah, pada kaki salibMu
Raih daku, raih dan dekatkanlah ke sisiMu Tuhanku.

Pungkasanipun, sugeng dados sakabatipun Sang Kristus ingkang nindakaken kasetyanipun saben dinten. Amin. [terj. AR].

 

Pamuji: KPJ. 191 : 1, 2, 3 Gusti Yesus Pangen Setya

 

Bagikan Entri Ini: