Bulan Budaya / Minggu Biasa
Stola Hijau
Bacaan 1 : Rut 4:13-17
Bacaan 2 : Ibrani 9:24-28
Bacaan 3 : Markus 12:38-44
Tema Liturgis : Membudayakan perilaku yang benar dan baik
Tema Khotbah: Membiasakan Dan Menyukai Perbuatan Baik.
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Rut 4:13-17
Boas melakukan perbuatan yang baik yang orang lain tidak mau melakukannya. Yang dilakukan oleh Boas adalah membeli semua harta (termasuk tanah) milik mendiang suami Naomi dan mengambil Rut (isteri mendiang anak Naomi), tetapi Boas tidak berhak atas harta milik itu. Harta milik mendiang suami Naomi itu tetap menjadi hak milik keluarga dan keturunan Naomi dan Rut.
Naomi dan Rut adalah 2 orang wanita yang juga melakukan perbuatan baik. Naomi mau menampung Rut -isteri mendiang anaknya- dan memperlakukannya sebagai anaknya sendiri. Naomi sangat mengasihinya. Rut juga menyatakan kasihnya kepada Naomi -ibu dari mendiang suaminya- dan menganggapnya sebagai ibunya sendiri.
Perbuatan baik 3 orang ini mendatangkan berkat Tuhan bagi mereka. Boas menjadi terkenal di Betlehem. Naomi mendapatkan anak dari Rut, “anak” yang disayanginya. Rut mendapatkan anak llaki yang kemudian menurunkan raja besar Israel, yakni Daud.
Ibrani 9:24-28
Bagian ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Kristus adalah sempurna. Dia bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan manusia, melainkan langsung di hadirat Allah di sorga. Dia bukan berkali-kali masuk ke tempat kudus untuk mempersembahkan korban, melainkan satu kali saja dan selesai. Sebab, korban yang dipersembahkan bukan darah binatang, melainkan darahNya sendiri yang suci. Dia menyatakan diriNya sekali untuk menanggung dosa banyak orang. Sekali lagi Dia akan menyatakan diriNya pada zaman akhir, tetapi tanpa mananggung dosa, melainkan untuk menganugerahkan keselamatan kepada semua tebusanNya.
Markus 12:38-44
Dalam bacaan ini Yesus mengkritik dengan cukup keras sikap dan perilaku para ahli Taurat yang menurutNya munafik. Mereka berlagak suci dengan pakaian dan doa-doa mereka yang panjang. Mereka berlagak penting dengan duduk di tempat terdepan dalam ibadah dan di tempat terhormat dalam pesta-pesta perjamuan. Tetapi mereka menelantarkan dan bahkan menyengsarakan orang sengsara, yaitu menipu janda-janda dan merampas rumah mereka. Janda itu adalah orang yang sengsara, tetapi para ahli Taurat, tokoh agama itu tega menyengsarakan mereka. Tentu perbuatan para ahli Taurat itu adalah sangat buruk.
Sebaliknya, janda yang disengsarakan oleh tokoh agama itu, tetap menunjukkan perbuatan agama yang baik. Sekalipun hidupnya susah, tetapi tetap menyerahkan persembahan agama. Janda yang disengsarakan itu tidak membalas perilaku para guru agama itu dengan perbuatan buruk. Tentunya janda itu melakukan perbuatan baik itu bukan karena di situ ada Tuhan Yesus, bukan hanya pada saat itu saja. Tentunya perbuatan baik -di tengah perlakuan buruk para ahli Taurat- itu sudah biasa dilakukannya. Karena itu, Tuhan Yesus sangat menghargainya; penghargaanNya itu disampaikan kepada para muridNya.
Tuhan Yesus menghendaki para muridNya waspada terhadap para ahli Taurat itu. Dengan menyampaikan penghargaanNya atas perbuatan baik janda itu, Tuhan Yesus menghendaki para muridNya juga selalu melakukan perbuatan baik, bahkan sekalipun mendapat perlakuan buruk dari pihak lain.
Benang Merah Ketiga Bacaan
Ketiga bacaan di atas menyatakan perbuatan yang baik. Di bacaan 3 juga terdapat bahasan tentang perbuatan buruk. Di bacaan 2 terdapat berita tentang perbuatan baik yang sempurna.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Pada era yang lalu, perbuatan mencari kesenangan dan kekayaan pribadi tanpa peduli kepada pihak lain sudah menjadi budaya di negeri kita ini. Orang dengan tanpa segan tega “mencuri” bantuan untuk para korban bencana. Mereka tidak peduli orang menderita tetap menderita atau bahkan lebih menderita. Yang penting bagi mereka adalah mendapat kesenangan dan kekayaan yang lebih besar. Pada era itu, korupsi meraja lela merambah di segala lini dan level pemerintahan, perusahaan dan bahkan lembaga keagamaan. Korupsi sudah menjadi budaya. Semua orang tahu praktek dan perilaku umum seperti itu.
Di era sekarang pun masih ada perbuatan buruk yang sudah menjadi budaya. Adakah yang mau menyebut perbuatan buruk yang sudah umum itu? (Berikan kesempatan kepada umat untuk mengungkapkan pendapatnya!) Ya, ada penyalahgunaan narkoba, pelecehan dan kekerasan seksual, penyebaran berita bohong (hoax), ujaran kebencian, dll.
Isi
Di era Tuhan Yesus pun juga ada perbuatan yang buruk yang membudaya pada para pemimpin agama Yahudi. Bahkan mungkin budaya buruk itu sudah berlangsung lumayan lama sejak sebelum era Tuhan Yesus. Para ahli Taurat berlagak suci dengan pakaian dan doa-doa mereka yang panjang. Mereka berlagak penting dengan duduk di tempat terdepan dalam ibadah dan di tempat terhormat dalam pesta-pesta perjamuan. Namun dalam ibadah kali ini mereka yang duduk terdepan itu jangan disamakan dengan para ahli Taurat itu. Para ahli Taurat itu menelantarkan dan bahkan menyengsarakan orang sengsara, yaitu menipu janda-janda dan merampas rumah mereka. Janda itu adalah orang yang sengsara, tetapi para ahli Taurat, tokoh agama itu tega menyengsarakan mereka. Tentu perbuatan para ahli Taurat itu adalah sangat buruk.
Karena itu, Tuhan Yesus mengkritik mereka dalam bacaan Markus 12:39-44 hari ini. Tuhan Yesus bahkan mengecam mereka dengan sangat keras dalam Matius 23. Tuhan Yesus menasehati para muridNya untuk hati-hati terhadap para ahli Taurat itu. Tuhan Yesus menghendaki mereka tidak tertular oleh budaya mereka. Tuhan Yesus tidak menghendaki perbuatan buruk mereka mempengaruhi kehidupan para muridNya, walaupun perbuatan buruk itu sudah membudaya, sudah biasa terjadi.
Sebaliknya, Tuhan Yesus memberikan apresiasi dan memuji perbuatan baik seorang janda dalam ibadah itu. Sekalipun hidupnya disengsarakan oleh para ahli Taurat, janda ini tetap melakukan perbuatan baik dalam agama mereka, yakni menyerahkan persembahan. Bahkan dengan usaha maksimal dia menyerahkan persembahannya. Janda yang disengsarakan para tokoh/ guru agama (ahli Taurat) itu tidak membalas perilaku para guru agama itu dengan perbuatan buruk. Janda itu bukan tidak peduli terhadap agama yang diajarkan oleh para guru yang berperilaku buruk itu. Tentunya janda itu melakukan perbuatan baik itu bukan karena di situ ada Tuhan Yesus, bukan hanya pada saat itu saja. Tentunya perbuatan baik -di tengah perlakuan buruk para ahli Taurat- itu sudah biasa dilakukannya; itu sudah menjadi budayanya.
Tuhan Yesus menunjukkan apresiasiNya terhadap perbuatan baik persembahan janda itu kepada para muridNya. Itu artinya Tuhan Yesus menghendaki setiap pengikutNya selalu melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik itu hendaknya menjadi persembahan kepada Tuhan. Persembahan perbuatan baik itu sangat dihargai oleh Tuhan. Persembahan berupa uang, harta atau pujian adalah baik, apalagi kalau yang dipersembahkan itu banyak dan indah. Namun, persembahan berupa uang, harta atau pujian itu tidaklah cukup. Karena, tidak semua orang bisa mempersembahkan uang atau harta yang banyak dan pujian yang indah bagi Tuhan. Tetapi semua orang pasti bisa -jika mau dan berusaha- mempersembahkan perbuatan baik bagi Tuhan. Kejujuran, kebenaran, keadilan dan kesetiaan adalah persembahan yang harum di hadirat Tuhan. Kepedulian, kemurahan, pertolongan dan pengorbanan adalah persembahan yang disukai oleh Tuhan. Itulah korban persembahan Tuhan Yesus bagi Allah di sorga. Korban persembahanNya sempurna.
Perbuatan baik itu harusnya tetap dilakukan sekalipun dalam keadaan sulit dan tertekan. Walau pun yang dialami tidak selalu menyenangkan, perbuatan baik itu harusnya tetap dilakukan. Harusnya tetap rajin beribadah di gereja dan tetap menyerahkan persembahan sesuai dengan kemampuan dan berkat Tuhan sekalipun mengalami hidup yang susah, sekalipun yang melayani ibadah tidak selalu kreatif atau menarik.
Biasanya orang yang sedang dalam keadaan sulit dan tertekan tidak punya semangat cukup untuk melakukan perbuatan baik, kecenderungannya adalah justru melakukan perbuatan buruk. Karena merasa miskin dan ingin merasa enak dan kaya lalu mencuri, korupsi. Karena sumpek tidak punya pekerjaan dan penghasilan tetap, malah menggunakan narkoba. Karena kecewa dengan gereja dan pengurus/ pelayannya, lantas enggan beribadah atau pergi beribadah di gereja lain yang bukan miliknya dan persembahannya diserahkan di sana. Walau pun sikap dan perilaku seperti manusiawi dan sudah membudaya, tetapi budaya seperti itu jangan ditiru.
Penutup
Mari kita membudayakan perbuatan baik. Budaya itu sesuatu yang terus-menerus dan biasa dilakukan serta menjadi kesukaan. Membudayakan perbuatan baik berarti menjadikan perbuatan baik itu kebiasaan dan kesukaan kita. Jika sudah menjadi kebiasaan dan kesukaan, perbuatan baik itu bukanlah sesuatu yang berat untuk dilakukan; perbuatan baik itu menyenangkan. Jika dengan senang hati melakukannya mestinya perbuatan baik kita itu tulus. Perbuatan baik yang tulus akan berbuahkan kebahagiaan, kebahagiaan yang sejati. Itulah yang dilakukan dan dialami oleh Boas, Rut dan Naomi. Amin.
Nyanyian: KJ 437:6,7,8/ 450:1,2,4/ 400:3.
—
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Rumiyin, patrap ngupadi kasenengan lan kasugihan pribadi tanpa preduli dhateng pihak sanes sampun dados kabudayan ing negari kita menika. Tiyang tanpa isin tega “ngrampas” utawi “ngenthit” sumbangan kagem para kurban bencana. Tiyang-tiyang menika boten preduli menapa tiyang sangsara menika tetep sangsara utawi malah dados saya sangsara. Ingkang wigatos menggahing tiyang-tiyang menika inggih pikantuk kasenengan lan kasugihan ingkang langkung ageng. Pramila, korupsi ngambra wara dhateng pundi-pundi lan wonten ing sadaya tataraning pamarentahan, perusahaan lan malah ing lembaga keagamaan. Korupsi sampun dados kabudayan. Sadaya tiyang sami pirsa tumindak lan pratingkah awon menika.
Ing wegdal samangke ugi taksih kathah patrap awon ingkang sampun dados kabudayan. Menapa wonten ingkang karsa nyebataken pratingkah awon ingkang sampun umum menika? (Kaaturana wegdal kagem warga kangge nglairaken pamanggihipun!) Pranyata, kathah sanget: penyalahgunaan narkoba, pelecehan lan kekerasan seksual, penyebaran berita bohong (hoax), ujaran kebencian, lsp.
Isi
Ing jamanipun Gusti Yesus ugi wonten patrap awon ingkang dados kabudayan ing antawisipun para pimpinaning agami Yahudi. Malah mbokmenawi kabudayan awon menika sampun dangu kelampahan wiwit saderenging wancinipun Gusti Yesus. Para ahli Toret rumaos sok suci kanthi pangagem lan donga-donganipun ingkang panjang. Para ahli Toret rumaos sok kajen kanthi remen lenggah ing ngajeng ing salebeting pangibadah lan ing papan kinurmatan ing salebeting pesta-pesta bujana. Nanging ing pangibadah kita samangke para sedherek ingkang saweg lenggah ing ngajeng piyambak, sampun dipun anggep sami kaliyan para ahli Toret. Para ahli Toret ingkang sok suci lan sok kajen kalawau patrapipun malah nyengsarakaken tiyang sangsara, nggih menika srana mblithuk (ngapusi) para randha saha ngrampas griyanipun. Randha menika rak tiyang ingkang rekaos gesangipun, nanging para ahli Toret, inggih tokoh agama, menika tega nyangsarakaken para randha. Tamtu patrapipun para ahli Toret menika patrap ingkang nistha sanget.
Awit saking menika, ing waosan Markus 12:39-44 dinten menika Gusti Yesus mengkritik tiyang-tiyang menika. Malah ing Mateus 23 Gusti Yesus ngantos nylathoni para ahli Toret menika kanthi sanget. Gusti Yesus nuturi para muridipun supados ngati-ati dhateng para ahli Toret menika. Gusti Yesus ngersakaken para murid menika sampun ngantos ketularan budayanipun ahli Toret menika. Panjenenganipun boten ngersakaken patrap awonipun ahli Toret menika ngewahi dados awon (mempengaruhi) pigesanganipun para murid, nadyan tumindak menika sampun dados kabudayan, sampun biasa.
Kowosokwangsulipun, Gusti Yesus maringi pangaji (apresiasi) lan pangalembana tumindak utami (sae) saking satunggaling randha ing salebeting pangibadah. Sanadyan gesangipun dipun sangsarakaken dening para ahli Toret menika, nanging randha menika tetep nindakaken patrap utami ing agaminipun tiyang-tiyang menika, nggih menika nyaosaken pisungsung. Malah kanthi katoging kasagedanipun randha menika nyaosaken pisungsungipun. Randha ingkang dipun sengsarakaken dening tokoh/ guru agami (ahli Toret) menika, boten males awon dhateng para guru agami menika. Randha menika boten nglirwakaken agami ingkang dipun wulangaken dening guru ingkang apepatrap nistha menika. Tamtunipun randha menika nindakaken tumindak utami menika boten karana Gusti Yesus rawuh ing ngriku, boten namung ing pangibadah menika kemawon. Tamtu tumindak utami -ing satengahing patrap awonipun ahli Toret- menika sampun kulina dipun tindakaken; menika sampun dados kabudayanipun.
Gusti Yesus nedahaken pangajinipun tumrap tumindak utami pisungsungipun randha menika dhateng para muridipun. Menika ateges Gusti Yesus ngersakaken sadaya pendherekipun tansah nindakaken lampah utami. Tumindak utami menika kedahipun dados pisungsung konjuk Gusti Allah. Pisungsung tumindak utami menika dipun ajeni sanget dening Gusti. Pisungsung arupi arta, bandha lan pepujian menika sae, menapa malih yen pisungsungipun menika kathah lan endah. Ewa samanten, pisungsung arupi arta, bandha lan pepujian menika dereng cekap. Amargi, boten sadaya tiyang saged misungsungaken arta utawi bandha ingkang kathah lan pepujian endah kagem Gusti. Naging sadaya tiyang mesthi saged -angger purun lan mbudidaya- misungsungaken tumindak utami kagem Gusti. Kajujuran, kaleresan, kaadilan lan kasetyan dados pisungsung ingkang arum ing ngarsanipun Gusti. Kawigatosan, kamirahan, pitulungan lan pangurbanan dados pisungsung ingkang dipun remeni dening Allah. Lha inggih menika pisungsungipun Gusti Yesus konjuk Allah ing swarga. Kurban pisungsungipun Gusti Yesus menika sampurna.
Patrap sae (utami) menika kedahipun tetep dipun lampahi nadyan kawontenanipun boten sae. Sanadyan ingkang dipun alami sanes prekawis ingkang tansah ngremenaken, tumindak utami menika kedahipun tetep dipun lampahi. Conto, kedahipun inggih sregep ngabekti ing greja lan tetep nyaosaken pisungsung selaras kaliyan kasagedan lan berkahipun Gusti, sanadyan ngalami gesang ingkang rekaos, sanadyan ingkang lelados ing pangibadah menika boten mesthi sae utawi kreatif.
Adatipun tiyang ingkang saweg ngalami rakaosing gesang boten nggadhahi greget ingkang cekap kangge nindakaken kasaenan, umumipun malah pijer tumindak awon. Karana rumaos miskin lan kepengin rumaos sekeca lajeng nyolong, korupsi. Karana rumaos sumpek boten gadhah padamelan lan pametu ajeg, malah ngginakaken narkoba. Karana kuciwa dhateng greja lan pengurus/ paladosipun, lajeng aras-arasen ngibadah utawi kesah dhateng greja sanes lan nyaosaken pisungsung ing ngrika. Nadyan patrap menika limrah lan sampun dados kabudayan, nanging kabudayan mekaten menika sampun dipun tiru.
Panutup
Sumangga mbudidaya tumindak utami menika dados kabudayan kita! Kabudayan menika satunggaling prekawis ingkang terus-terusan lan kulina dipun tindakaken sarta dados karemenan. Membudayakan tumindak utami ateges ndamel tumindak utami menika dados pakulinan lan karemenan kita. Menawi sampun kulina lan remen, patrap utami menika sanes prekawis ingkang awrat dipun lampahi; tumindak utami menika ngremenaken. Menawi sampun remen nindakaken patrap utami, mesthi tumindak utami menika kelampahan kanthi tulus. Menawi patrap utami kita menika tulus, menika mesthi nuwuhaken kabingahan ingkang sejatos. Lah menika ingkang dipun tindakaken lan dipun alami dening Boas, Rut lan Anomi. Amin.
Pamuji: KPK 172:1,2