Bulan Budaya / Minggu Biasa
Stola Hijau
Bacaan 1 : 1 Samuel 1:4-20
Bacaan 2 : Ibrani 10:11-14
Bacaan 3 : Markus 13:1-8
Tema Liturgis : Membudayakan perilaku yang benar dan baik
Tema Khotbah: Perilaku Waspada Dan Berserah Yang Perlu Dibudayakan
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
1 Samuel 1:4-20
Hana mendapatkan perlakuan yang berbeda dari suaminya oleh karena kondisinya yang tidak bisa mempunyai anak. Perlakuan berbeda dari suami ini masih ditambah lagi dengan sikap Penina yang selalu menyakiti hatinya. Dalam keadaan yang sangat bersusah hati, cemas dan sakit hati, Hana memilih untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh sampai disangka mabuk oleh Imam Eli. Hana menjelaskan kepada Imam Eli bahwa apa yang disangkakan kepadanya tidaklah benar, melainkan dia sedang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Hana tidak hanya memberikan penjelasan kepada Imam Eli melainkan juga memohon belas kasihan kepada Imam Eli. Alkitab memberitakan bahwa pada akhirnya Tuhan menjawab pergumulan Hana. Hana melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel sebab: “Aku telah memintanya dari pada Tuhan.”
Ibrani 10:11-14
Pada bagian ini surat Ibrani menegaskan bahwa tidak ada korban yang menguduskan manusia dari dosa-dosanya selain pengorbanan Kristus. Ditegaskan bahwa pengorbanan Kristus telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.
Markus 13:1-8
Pada jamannya, banyak orang yang mengagumi bangunan Bait Allah yang dianggap kokoh dan megah termasuk salah satu murid Yesus. Menarik untuk disimak bahwa Yesus justru menubuatkan bahwa semuanya itu akan runtuh. Tentu saja para murid penasaran tentang hal terbut, makanya mereka ingin menggali lebih dalam nubut Yesus tentang bangunan Bait Allah yang akan runtuh. Atas keingintahuan para murid itu Yesus memberikan perkataan bahwa akan ada penyesatan, deru dan kabar-kabar tentang perang; bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan; gempa bumi di berbagai tempat dan kelaparan. Perkataan Tuhan Yesus itu juga disertai dengan pesan-pesan agar para murid waspada dan jangan gelisah. Dikatakan oleh Yesus bahwa semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang jaman baru.
Benang Merah Ketiga Bacaan
Keadaan kehidupan yang kurang atau bahkan tidak menyenangkan oleh karena sikap hidup yang diwarnai keberdosaan manusia akan terus terjadi. Tetapi sebagai orang yang percaya berhadapan dengan situasi tersebut tidak perlu gelisah, sedih dan cemas. Tetap perlu waspada dan berserah penuh kepada Tuhan yang telah menebus dan menguduskan setiap orang percaya.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
Pendahuluan
Banyak yang berkata bahwa menjadi orang Kristen itu enak, terjamin semuanya bahkan sudah pasti selamat. Perkataan tersebut sejatinya tidaklah salah karena memang Tuhan telah menebus dosa kita dan menguduskan kehidupan kita. Akan tetapi karena tidak sungguh-sungguh mencerna dan menghayati perkataan tersebut maka banyak orang Kristen yang justru gugur imannya, karena pemahaman yang dangkal atas perkataan tersebut. Banyak orang yang menjadi tidak tahan menghadapi masalah, mengahadapi tantangan, penderitaan, dan kesulitan, padahal hidup didalam Kristus berarti hidup dalam suatu perjuangan, pengorbanan serta siap mengambil resiko yang harus dihadapi.Iman Kristen yang dilandasi hanya karena ingin mendapatkan berkat, bisa dipastikan tidak akan kuat atau tidak mampu bertahan apabila mendapat suatu ujian atau pergumulan.
Isi
Dalam bacaan kita kali ini kita diingatkan bahwa kehidupan yang dijalani manusia tidaklah senantiasa menyenangkan. Tengoklah Hana yang mendapatkan perlakuan berbeda dari suaminya oleh karena kondisinya yang tidak bisa mempunyai anak. Perlakuan berbeda dari suami ini masih ditambah lagi dengan sikap Penina yang selalu menyakiti hatinya. Demikian pula saat seorang murid Yesus mengagumi kekokohan dan kemegahan bangunan Bait Allah Yesus justru megingatkan bahwa tidak selamanya bangunan tersebut akan seperti itu bahkan bangunan tersebut akan runtuh.
Lebih lanjut dalam bacaan ketiga, Tuhan Yesus memerinci beragam situasi yang tidak menyenangkan itu. Akan ada penyesatan, deru dan kabar-kabar tentang perang; bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan; gempa bumi di berbagai tempat dan kelaparan. Siapa yang senang dengan situasi seperti itu?
Pasti tidak ada yang senang. Oleh karena itu Tuhan Yesus mengingatkan agar para muridnya waspada dan jangan gelisah. Kegelisahan dapat menjatuhkan orang pada sikap yang gegabah karena ingin segera terlepas dari kondisi yang tidak menyenangkan itu. Yang dikehendaki oleh Yesus adalah sikap waspada. Inilah sikap yang baik dan harus diambil oleh para murid dan kita semua dalam menghadapi berbagai situasi yang memprihatinkan dalam kehidupan.
Kamus besar bahasa Indonesia memberikan arti waspada adalah berhati-hati dan berjaga-jaga; bersiap siaga. Lantas apakah wujud kewaspadaan umat percaya dalam menghadapi beragam situasi kehidupan tersebut? Pertama-tama umat percaya harus menyadari bahwa kehidupannya adalah kehidupan di dalam Tuhan oleh karena telah ditebus dan dikuduskan olehNya. Kesadaran ini akan membawa sikap dan cara hidup yang senantiasa menundukkan diri di hadapan Tuhan dan senantiasa bersandar kepadaNya. Dengan sikap yang demikian, umat percaya juga akan dijauhkan dari sikap mengandalkan diri secara berlebihan dalam menghadapi persoalan hidup yang seringkali justru membuat seseorang jatuh terperosok lebih dalam lagi dalam permasalahan yang dihadapinya dan tidak jarang justru menimbulkan permasalahan yang baru.
Sebaliknya, dengan sikap menundukkan diri di hadapan Tuhan dan senantiasa bersandar kepadaNya akan membawa umat percaya untuk memberikan ruang bagi kuasa Tuhan mengisi dan memampukan umat teguh menjalani kehidupan dengan berbagai dinamikanya. Dan dengan keteguhan itu umat dapat berpikir dengan tenang dan berhati-hati dalam upaya menemukan jalan keluar atas setiap persoalan hidupnya dengan tetap mengandalkan pimpinan, penyertaan dan berkat Tuhan.
Penutup
Demikianlahmemang keadaan kehidupan yang kurang atau bahkan tidak menyenangkan oleh karena sikap hidup yang diwarnai keberdosaan manusia akan selalu terjadi. Tetapi sebagai orang yang percaya dalam berhadapan dengan situasi tersebut kita tidak perlu gelisah, sedih dan cemas. Kita dipanggil untuk membudayakan sikap waspada dan berserah penuh kepada Tuhan yang telah menebus dan menguduskan setiap orang percaya.
Nyanyian: KJ 439:1,4
—
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Kathah ingkang nggadhahi pamanggih bilih dados tiyang Kristen menika sakeca, sedaya sampun kajamin malah mesthi bakal slamet. Pamanggih kalawau boten klentu awit Gusti sampun nebus dosa kita lan nyucekaken gesang kita. Ananging menawi boten temen-temen mangertosi dan ngayati pamanggih kalawau, tiyang Kristen saged gugur iman kapitadosanipun awit cethek anggenipun mangertosi. Kathah tiyang lajeng boten tahan ngadhepi perkawis gesang, pakewed, kasangsaran, lan werni-werni pambengan awit gesang ing Sang Krsitus menika gesang ing perjuangan, pangorbanan sarta sumadya ngadhepi sedaya resiko. Iman kapitadosan Kristen ingkang linambaran namung krana kepengen nampi berkah, saged dipunpasthekaken boten badhe kiyat menawi nandhang kasisahan, ujian utawi pambengan.
Isi
Ing waosan dinten menika, kita dipunengetaken bilih gesang ingkang dipunlampahi manungsa isinipun boten namung perkawis ingkang ngremenaken. Cobi kita pirsani Hana ingkang boten gadhah momongan. Piyambakipun rumaos dipunlarani dening Penina, marunipun, lan dipunperlakokaken benten dening semahipun. Makaten ugi nalika salah satunggaling sakabat saweg ngungun awit Padaleman Suci ingkang ageng lan elok, Gusti Yesus dhawuh bilih Padaleman Suci ingkang ageng lan elok menika bakal runtuh.
Salajengipun ing waosan ketiga, Gusti Yesus paring rincian bab perkawis-perkawis ingkang boten ngremenaken. Badhe wonten ingkang nasaraken tiyang kathah, perang lan kabar-kabar perang; bangsa badhe merangi bangsa lan kraton nglawan kraton; lindhu ing pundi-pundi lan pailan. Sinten ingkang remen kaliyan sedaya menika?
Tamtu boten wonten ingkang remen. Mila Gusti Yesus paring dhawuh supados para murid sami waspada lan boten sumelang. Raos sumelang badhe saged ndadosaken tiyang mundhut tumindak ingkang grusa-grusu amargi kepengen cepet uwal saking kondisi ingkang boten ngremenaken. Ingkang dipunkersakaken Gusti Yesus denen para murid waspada. Menika patrap ingkang sae lan kedah dipunpundhut dening para murid lan kita sedaya nalika ngadhepi situasi ingkang mrihatinaken ing gesang menika.
Kamus Ageng Basa Indonesia paring arti tembung waspada menika ati-ati lan jagi-jagi; tansah sumadya. Menapa wujud kawaspadan tiyang pitados nalika ngadhepi gesang? Sepisan, tiyang pitados kedah nyadhari bilih gesang menika gesang ing Gusti amargi kita sampun dipuntebus lan dipunsucekaken dening Gusti. Menika saged mbeta tumindak lan cara gesang ingkang andhap asor ing ngarsanipun Gusti lan badhe tansah sumendhe dhumateng Gusti. Kanthi makaten, tiyang pitados badhe dipuntebihaken saking raos ngendelaken dhiri ing ngadhepi perkawis gesang ingkang badhe ndadosaken kita tumiba langkung lebet ing perkawis ingkang dipunadhepi lan malah badhe nuwuhaken perkawis lintunipun.
Kosokwangsulipun, kanthi raos andhap asor ing ngarsanipun Gusti menika lan tansah sumendhe dhumateng Gusti badhe mbeta umat pitados saged ngaturaken ruang kagem kwasanipun Gusti supados ngisi dan ngiyataken umat pitados saged nglampahi gesang ingkang kebak dinamika. Karana kakiyatan menika, umat pitados saged sareh lan ngati-ati supados saged nemokaken margi kangge sedaya perkawis gesang lan tetep ngendelaken panuntun lan berkahipun Gusti.
Panutup
Makaten, gesang ingkang kirang utawi boten ngremenaken badhe tansah kita alami karana sikap gesang kita ingkang dipunwernani dosa. Nanging amargi kita tiyang pitados, mesthinipun ngadhepi perkawis-perkawis awrat boten ndadosaken kita was-was, sedih, lan sumelang. Kita dipuntimbali mbudayakaken tumindak waspada lan pasrah sumarah dhumateng Gusti ingkang sampun nebus lan nyucekaken tiyang pitados. Amin.
Pamuji: KPJ. 334.