Pembukaan Bulan Budaya / Minggu Biasa
Stola Hijau
Bacaan 1 : Rut 1:1-18
Bacaan 2 : Ibrani 9:11-14
Bacaan 3 : Markus 12:28-34
Tema Liturgis: Membudayakan perilaku yang benar dan baik
Tema Khotbah: Mengembangkan Budaya Kasih.
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Rut 1:1-18
Rut dan Orpa adalah orang Moab. Mereka diperisteri oleh Mahlon dan Kilyon, anak Naomi. Naomi dan Elimelekh sera anak-anak mereka adalah orang Efrata dari Betlehem-Yehuda. Karena ada bencana kelaparan, mereka mengungsi ke Moab.
Setelah sepuluh tahun tinggal di Moab, suami dan anak-anak Naomi meninggal. Ia berinisiatif untuk pulang kembali ke tanah Yehuda. Di tengah jalan Naomi ingin bahwa kedua menantunya kembali ke keluarga masing-masing. Tetapi salah satu dari mereka, yakni Rut, memaksa untuk tetap ikut Naomi. Sedang Orpa menuruti nasehat Naomi.
Tekad Rut untuk diperbolehkan tetap ikut Naomi sangat luar biasa. Karena kasihnya yang besar terhadap mertuanya, ia gigih meyakinkan Naomi bahwa ia bersedia menerima semua hal tentang Naomi bahkan bersedia mengidentifikasi diri dengan kebangsaan maupun keyakinan Naomi. Akhirnya Naomi membolehkan ia terus mengikut Naomi.
Ibrani 9:11-14
Penulis kitab Ibrani ingin menekankan bahwa dengan kematian dan kebangkitanNya, Tuhan Yesus menjalankan tugas Imam Besar yang istimewa. Imam Besar dalam keyakinan Yahudi adalah satu-satunya yang bisa memasuki ruang Maha Kudus, untuk mempersembahkan ritus kurban, sebagai mediator antara Allah dan umat.
Yesus Kristus adalah Imam Besar istimewa yang melakukan ritus itu sekali untuk selamanya dengan membawa darahNya sendiri, bukan darah binatang seperti yang dilakukan Imam Besar yang biasa. Sebuah wujud kasih yang tidak terkira.
Markus 12:28-34
Kasih merupakan kunci segala macam hukum yang diberikan Tuhan kepada umat. Tuhan Yesus menyampaikan dua hukum terutama yakni yang dikenal sebagai hukum kasih. Kedua hukum tersebut disampaikannya ketika bersoal jawab dengan orang-orang saduki. Jawaban Tuhan Yesus soal hukum terutama yang intinya soal kasih tersebut dirasa sebagi jawaban yang tepat oleh seorang ahli Taurat.
Benang Merah Tiga Bacaaan
Cinta kasih mendorong Tuhan dan manusia melakukan tindakan-tindakan luar biasa. Allah berkenan menjadi manusia dalam Yesus Kristus yang mengorbankan diriNya karena kasih. Rut bersedia meninggalkan identitasnya dan lebur menjadi orang asing juga karena kasih.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silakan dikembangkan sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Apa arti cinta? Salah satu jawaban mengatakan bahwa cinta berarti memberikan yang terbaik bagi yang dicintainya. Yang dicintai itu bisa dalam bentuk orang, pekerjaan, hobby, dll. Bagi mereka yang mempunyai pendapat demikian, cinta berarti memberi dengan sepenuh hati. Cinta sepenuh hati mampu menggerakkan manusia membuat hal-hal yang luar biasa, bahkan yang dirasa mustahil sekalipun. Cinta juga memiliki daya yang menjadi inspirasi banyak produk kebudayaan manusia, misalnya lagu, puisi, novel, film, opera, bangunan, dll.
Isi
Dalam pemahaman Kristen, cinta (biasanya disebut juga kasih atau digabung menjadi cinta kasih) adalah hal yang menggambarkan essensi iman Kristen. Karena cinta, Allah berkenan menjadi manusia dalam Yesus Kristus. Karena cinta, Yesus Kristus berkenan menderita bahkan mati di kayu salib. Karena cinta Ia berkenan membawa darahNya sendiri sebagai korban penyucian, sekali untuk selamanya, seperti yang dituliskan dalam kitab Ibrani 9: 11-14. Jika kita cermati, dalam keseluruhan kesaksian Alkitab, inti pemberitaannya adalah cinta kasih Allah kepada manusia dan semesta.
Berita cinta kasih Allah itulah yang digunakan Tuhan Yesus Kristus untuk menjawab pertanyaan soal hukum yang terutama. MenurutNya, cinta kasih adalah kesimpulan seluruh hukum dan kitab para nabi. Dalam pandangan Tuhan Yesus Kristus, semua aturan keagamaan yang dikerjakan oleh umat adalah ekspresi cinta kasih yang memiliki 2 dimensi yakni dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Dimensi vertikal berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Maka Ia mengatakan: ,”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dan dengan segenap kekuatanmu.” Dimensi horizontal berkaitan dengan hubungan antara manusia dan sesamanya. Maka Tuhan Yesus mengatakan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Dua dimensi tidak terpisah ini bahkan dianggap melebihi semua bentuk ritus keagamaan termasuk korban bakaran dan korban sembelihan.
Dua dimensi tersebut ringkasan dari sepuluh Hukum Taurat yang diberikan TUHAN melalui Musa. Hukum ke-1 sampai ke- 4 berdimensi vertikal, sedang hukum ke-5 hingga 10 berdimensi horizontal. Maka orang Kristen menafsirkan dimensi vertikal dan horizontal tersebut dalam sebuah bentuk yang sangat kita kenal yakni salib. Salib yang berbentuk silang garis tegak lurus (dimensi vertikal) dan garis mendatar (dimensi horizontal) menjadi simbol cinta kasih.
Dalam pemahaman Kristen, cinta kasih haruslah menjadi dasar dari semua tindakan manusia. Tindakan itu dicontohkan dalam kisah yang dibawa kepada kita hari ini yaitu kisah Naomi dan Ruth. Dua orang yang sebelumnya asing satu sama lain, tetapi karena digerakkan cinta kasih, merasa menjadi ibu dan anak. Naomi dan Rut bukan gambaran negatif hubungan mertua dan menantu. Dalam kisah ini ditunjukkan bahwa dua orang asing pun bisa memiliki hubungan selayaknya ibu dan anak kandung karena mereka mengedepankan cinta kasih. Sang menantu (Rut) yang ingin terus mendampingi mertuanya (Naomi) bahkan mengatakan kalimat yang sangat dalam maknanya: “ .. ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situlah juga aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.” (ay. 16) Sebuah ungkapan cinta di mana diri sendiri tidak dipentingkan, tetapi bersedia lebur dengan yang dicintainya.
Penutup
Di sekitar kita, banyak orang mengumandangkan kebencian, amarah, ancaman-ancaman. Bagi mereka ini kasih hanyalah ungkapan klise yang tidak bermakna. Padahal dengan selalu mengedepankan kasih, manusia pasti akan pro-kehidupan. Kasih bisa mengubahkan banyak hal yang buruk menjadi baik, yang menyedihkan menjadi menggembirakan, yang lemah menjadi kuat.
Umat yang percaya kepada Sang Sumber Kasih kiranya selalu membudayakan tindakan-tindakan kasih dalam hidup sehari-hari. Amin.
Nyanyian: KJ. 434
—
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Menapa artosipun tresna? Salah satunggaling wangsulan kangge pitakenan menika, dene tresna artosipun maringi ingkang paling sae dhumateng ingkang dipuntresnani. Ingkang dipuntresnani menika saged tiyang, padamelan, hobby, lsp. Kangge tiyang ingkang nggadhahi pamanggih makaten, tresna tegesipun paring sedaya kanthi tulusing manah. Tresna kanthi tulusing manah saged nggobahaken tiyang sedya nindakaken perkawis ingkang ngedab-edabi, sanadyanta perkawis ingkang mokal. Katresnan ugi ngemu daya ingkang dados sumbering inspirasi produk kabudayaning manungsa kados ta tembang, geguritan, novel, film, opera, bangunan, lsp.
Isi
Ing pamanggih Kristen, tresna/katresnan menika inti kapitadosan Kristen. Karana tresna, Gusti Allah kersa dados manungsa ing Gusti Yesus Kristus. Karana tresna, Gusti Yesus Kristus sumadya sangsara ing kajeng salib. Karana tresna, Gusti Yesus kersa ngasta getihipun piyambak dados korban pasucen, sepisan kagem salaminipun, kados ingkang kaserat ing Kitab Ibrani 9: 11-14. Menawi kita jlimeti, ing saranduning paseksi ing Kitab Suci, punjer kabaripun inggih katresnanipun Allah dhumateng manungsa lan alam ndonya.
Kabar katresnanipun Allah menika ingkang dipunginakaken dening Gusti Yesus kangge paring wangsulan dhumateng pitakenan bab pepaken ingkang utami. Miturut Gusti Yesus Kristus, katresnan menika dados kesimpulan sedaya pepaken lan kitab para nabi. Ing pamanggihipun Gusti Yesus Kristus, sedaya pepaken ingkang dipuntindakakaken dening umat menika ekspresi katresnan ingkang nggadahahi 2 dimensi, dimensi vertical lan dimensi horizontal. Dimensi vertical menika magepokan kaliyan sesambetan antawisipun manungsa kaliyan Gusti Allah. Mila Gusti Yesus dhawuh: ,” Sira tresnaa marang Allahira kalawan gumolonging atinira, lan kalawan gumolonging nyawanira, sarta kalawan gumolonging budinira apadene kalawan sakabehing kakuwatanira.” Dimensi Horizontal magepokan kaliyan sesambetan antawisipun manungsa. Mila Gusti dhawuh: “Sira tresnaa marang ing sapepadhanira kaya marang awakira dhewe.” Kalih dimensi kalawau boten kapisahaken malah kaanggep ngluwihi sedaya ritus agami kalebet kurban obaran lan kurban sembelehan.
Kalih dimensi kalawau ringkesan saking pepaken sadasa ingkang dipunparingaken Gusti ALLAH lumantar nabi Musa. Pepaken sepisan ngantos sekawan nggadhahi dimensi vertical, dene pepaken gangsal ngantos sedasa nggadhahi dimensi horizontal. Mila tiyang Kristen nggadhahi tafsiran bab dimensi vertical lan dimensi horizontal katresnan menika ing symbol salib. Salib ingkang kapilah saking garis tegak lurus (dimensi vertical) lan garis mendatar (dimensi horizontal) ingkang nyilang dados symbol katresnan.
Ing pamanggih Kristen, katresnan menika kedah dados dasaring sedaya tumindaking manungsa. Tumindak tresna menika contonipun menapa ingkang dipuncariyosaken lumantar Rut lan Naomi. Kekalihipun menika tiyang sanes, nanging krana katresnan sami dados ibu lan anak. Naomi lan Rut sanes gegambaran negative sesambetan antawisipun marasepuh lan mantu. Ing cariyos menika katedahaken bilih tiyang sanes saged dados ibu lan anak amargi sami nengenaken katresnan. Mantu (Rut) ingkang sedya terus ndherekaken mara sepuh (Naomi) malah ngaturaken bab ingkang lebet sanget ing manah: “…awit dhatenga pundi kemawon purug panjenengan, kula inggih badhe ndherekaken, sarta wontena ing pundi kemawon anggen panjenengan nyare, kula inggih badhe ndherek sipeng. Bangsa panjenengan inggih bangsa kula, sarta Gusti Allah panjenengan inggih Gusti Allah kula.” (ayat 16). Menika wujuding katresnan ingkang kalairaken, dene boten mentingaken dhiri pribadi, nanging purun lebur kaliyan ingkang dipuntresnani.
Panutup
Ing sakiwa tengen kita kathah tiyang sami nglairaken raos drengki, nepsu, ancaman. Kangge tiyang-tiyang ingkang nindakaken perkawis menika, katresnan namung kados denen barang ingkang boten nggadhahi regi. Kamangka kanthi negenaken katresnan, manungsa badhe saged pro-gesang. Katresnan saged nuntun dhumateng perubahan sae, ingkang ala dados sae, ingkang sedih dados gumbira, ingkang nglokro dados kiyat semangat.
Tiyang ingkang pitados dhumateng Sang Sumber Katresnan kedah tansah mbudayakaken katresnan ing gesangipun padintenan. Amin.
Pamuji: KPJ. 370