Iman Kepada Kristus Memampukan Kita Menjadi Saksi dan Pelayan-Nya Khotbah Minggu 11 Juni 2023

29 May 2023

Minggu Biasa | Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Hijau

Bacaan 1: Hosea 5 : 15 – 6: 6
Bacaan 2: Roma 4 : 13 – 25
Bacaan 3: Matius 9 : 9 – 13, 18 – 26

Tema Liturgis: GKJW Menjadi Saksi Dan Pelayan Kristus Di Tengah Perubahan
Tema Khotbah: Iman Kepada Kristus Memampukan Kita Menjadi Saksi dan Pelayan-Nya

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Hosea 5 : 15 – 6 : 6
Bagian perikop kita berbicara umat Israel yang telah melukai hati Tuhan, walaupun Tuhan sangat mengasihi mereka. Umat Israel telah menyimpang dari Tuhan Allah, mereka lebih memilih menyembah dan beribadah kepada illah lain dari pada menyembah kepada Tuhan Allah. Mereka hidup dalam kesesatan dan perbuatan dosa (Ay. 7, 10). Mereka hidup dalam kekerasan, kebencian bahkan sampai pada pertumpahan darah (Ay. 8, 9). Oleh karena dosa dan kejahatan mereka itulah, Tuhan menjauh dan menghukum umat Israel. Tuhan menghendaki supaya mereka sungguh-sungguh menyadari akan kesalahan mereka dan kembali kepada-Nya.

Melalui Hosea Tuhan mengingatkan umat Israel. Tuhan menolak ritual umat Israel yang sekedar rutinitas persembahan kurban saja. Lebih daripada itu, Tuhan Allah menghendaki agar umat-Nya mau bertobat kembali kepada-Nya. Harus ada pertobatan sejati yang ditunjukkan dengan perubahan sikap hidup mereka. Mereka harus mau berbalik dan hidup dalam pengenalan akan Allah secara sungguh-sungguh. Kata ‘berbalik’ berasal dari bahasa Ibrani ‘Syub’ yang berarti bertobat, berubah pikiran, pandangan, dan sikap hidup seturut kehendak Tuhan. Dengan bertobat kepada Allah, maka Tuhan Allah akan melepaskan mereka dari maut.

Roma 4 : 13 – 25
Paulus melalui suratnya kepada Jemaat Roma mengajarkan tentang iman. Ia memberikan contoh Abraham untuk menggambarkan tentang iman kepada orang Yahudi di Roma saat itu. Melalui kisah Abraham, Paulus menunjukkan bahwa Tuhan Allah menjanjikan keturunan kepada Abraham dan menjadikan Abraham sebagai bapak segala bangsa (Ay. 17). Abraham sendiri pada saat dia dipanggil oleh Tuhan, ia percaya kepada Tuhan. Ia pergi meninggalkan tanah kelahirannya Haran menuju tempat yang belum ia ketahui. Paulus menunjukkan bahwa Abraham mendapat keselamatan dan pembenaran dari Allah, itu bukan karena ia telah taat melakukan semua kehendak Allah saja, melainkan karena dia percaya akan setiap janji dan firman Allah (Ay. 2-3). Demikian saat Tuhan memberitahukan tentang keturunan/anak di saat usia Abraham dan Sara sudah berusia lanjut. Abraham percaya bahwa Allah yang Maha Kuasa mampu membuat sesuatu yang mustahil menjadi kenyataan. Ia percaya pada kuasa Allah, ia percaya pada janji Allah yang akan digenapi (Ay. 20-21). Iman Abraham seperti inilah yang diperhitungkan Allah sebagai kebenaran (Ay. 22).

Abraham dibenarkan karena iman, ia taat melakukan kehendak Allah dan percaya sepenuhnya akan janji Allah dalam hidupnya. Bertolak dari prinsip iman Abraham inilah, Paulus menjelaskan bahwa manusia yang berdosa telah dibenarkan dan dijadikan umat Allah karena percaya dan beriman kepada Yesus Kristus. Bagi Paulus, Yesus Kristus adalah pusat iman umat Allah. Di dalam Yesus Kristus ada keselamatan, itu bukan karena usaha manusia melainkan itu adalah anugerah Allah bagi manusia.

Matius 9 : 9 – 13, 18 – 26
Bagian bacaan Injil kita saat ini terdiri dari 2 perikop dengan 3 kisah. Perikop pertama, Matius 9:9-13 mengisahkan tentang Tuhan Yesus yang memanggil Matius seorang pemungut cukai menjadi murid-Nya. Sedangkan perikop kedua, Matius 9:18-26 mengisahkan tentang iman seorang kepala rumah ibadat yang anaknya meninggal dunia dan iman seorang perempuan yang sakit pendarahan.

Matius 9:9-13 : Matius adalah pemungut cukai, karena itu dia dapat dikatakan sebagai orang yang kaya, rumahnya besar, cukup untuk menampung banyak orang bertamu di rumahnya. Bagi masyarakat Yahudi, Matius dipandang sebagai seorang yang berdosa karena pekerjaannya sebagai seorang pemungut cukai. Oleh karena itu, orang Farisi tidak dapat menerima Yesus yang makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa lainnya. Bagi mereka seorang pemungut cukai dianggap sebagai pengkhianat bangsa, karena ia mau menjadi antek penjajah dengan memungut pajak atau cukai dari bangsanya sendiri demi kepentingan bangsa lain. Berbeda dengan orang Farisi, Tuhan Yesus datang kepada Matius, Dia memanggil orang berdosa untuk bertobat. Tuhan Yesus menerima Matius dan menjadikan dia sebagai murid-Nya, karena Tuhan Yesus sungguh mengasihi manusia yang berdosa.

Matius 9:18-19, 23-26 : Seorang Kepala Rumah Ibadat datang kepada Tuhan Yesus, sujud menyembah dan memohon kepada Tuhan Yesus untuk membangkitkan kembali anaknya yang telah mati. Kepala Rumah Ibadat ini memiliki iman yang hidup, karena dia meyakini Tuhan Yesus memiliki kuasa illahi yang mampu membangkitkan anaknya. Saat Tuhan Yesus tiba di rumah Kepala Rumah Ibadat itu, orang banyak menertawakan Dia. Mereka tertawa, karena berpikir bagaimana mungkin orang yang sudah mati akan hidup kembali. Nyatanya Tuhan Yesus dengan kuasa-Nya, Dia membangkitkan anak perempuan Kepala Rumah Ibadat itu. Iman Kepala Rumah Ibadat kepada Tuhan Yesus membuahkan hasil, anak yang dia kasihi hidup kembali.

Matius 9:20-22 : Kisah seorang perempuan yang telah lama sakit pendarahan. Alkitab mencatat 12 tahun lamanya ia mengalami penderitaan karena sakit pendarahan. Tentunya perempuan ini telah berupaya untuk berobat dan sembuh dari sakitnya, namun tidak menampakkan hasil yang memuaskan. Dia tentu juga telah mendengar dan menyaksikan mujizat – mujizat yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus, karenanya dia percaya hanya dengan menjamah jubah Tuhan Yesus dia akan sembuh. Iman yang dimilikinya telah menyelamatkan hidupnya. Oleh imannya, Tuhan Yesus berkenan menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan ini.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Mengikut Kristus harus disertai iman yang hidup. Iman yang sungguh-sungguh percaya dan mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Memang tidak serta merta hidup umat percaya akan baik-baik saja, selalu ada pergumulan, masalah, dan tantangan yang harus dihadapi dalam hidupnya. Dengan imanlah kita mampu menghadapi dan melewati setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Dan sebagai saksi Kristus, iman itu harus dinyatakan melalui tindakan pelayanan dan kesaksian, sehingga orang semakin mengenal Tuhan Yesus Kristus yang berkuasa atas hidup umat-Nya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada sebuah ilustrasi tentang iman dan ketaatan yang membuka khotbah saat ini. Dikisahkan pada suatu waktu, Tuhan memerintahkan seorang pemuda untuk mendorong sebuah batu yang sangat besar setiap hari. Pemuda tersebut melakukan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Setiap hari dia berusaha dengan keras mendorong batu itu. Namun usahanya itu tidak berhasil, batu besar itu tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Pemuda itu mulai ragu dan mengeluh, dia berpikir dirinya telah melakukan pekerjaan yang sia-sia. Maka bertanyalah dia kepada Tuhan, “Tuhan apakah aku telah gagal, berhari-hari aku sudah berusaha keras mendorong batu besar ini, tetapi tidak sedikitpun batu besar ini bergerak?” Tuhan pun menjawab, ”Lihatlah tanganmu menjadi berotot, punggungmu menjadi kekar, kakimu menjadi tegap. Melalui tugas ini engkau bertumbuh menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.” Bagi Tuhan, pemuda itu telah melakukan apa yang Ia diperintahkan dan itu tidak sia-sia.

Tuhan memang memerintahkan pemuda itu untuk mendorong batu besar itu dengan sekuat tenaga. Tuhan tidak memerintahkan untuk memindahkan atau menggeser batu besar tersebut sejauh mungkin. Tuhan hanya memintanya untuk taat mendorong batu besar itu setiap hari, walaupun tampak tidak berhasil, tetapi pemuda itu tetap berupaya keras mendorongnya. Pada waktunya Tuhanlah yang akan menggeser batu besar itu.

Dari ilustrasi ini kita dapat belajar, Tuhan meminta kita untuk taat dan setia melakukan perintah dan firman-Nya untuk melatih iman kita. Walaupun kita belum berhasil memiliki iman yang sanggup memindahkan gunung (Mat. 17:20), kita harus terus taat dan setia kepada Tuhan. Jika suatu waktu kita berhasil memindahkan “gunung”, maka kita menyadari bahwa itu bukan karena kita, tetapi Tuhanlah yang memindahkan gunung itu. Tugas kita hanyalah hidup dalam ketaatan dan beriman kepada-Nya.

Isi
Kisah tentang iman dikisahkan pada bagian bacaan kita saat ini, yaitu iman Kepala Rumah Ibadah, iman perempuan yang sakit pendarahan, dan iman Abraham.

  1. Iman Kepala Rumah Ibadat (Matius 9:18-19, 23-26)
    Seorang Kepala Rumah Ibadat datang kepada Tuhan Yesus, sujud menyembah dan memohon kepada Tuhan Yesus untuk membangkitkan kembali anaknya yang telah mati. Kepala Rumah Ibadat ini percaya bahwa Tuhan Yesus memiliki kuasa yang mampu membangkitkan anaknya. Setibanya Tuhan Yesus di rumah Kepala Rumah Ibadat itu, orang banyak menertawakan Dia. Mereka berpikir bagaimana mungkin orang yang sudah mati akan hidup kembali. Kemudian Tuhan Yesus dengan kuasa-Nya membangkitkan anak perempuan Kepala Rumah Ibadat itu. Iman Kepala Rumah Ibadat kepada Tuhan Yesus membuahkan hasil, anak yang dia kasihi hidup kembali.
  2. Iman Seorang Perempuan yang Sakit Pendarahan (Matius 9:20-22)
    Ada seorang perempuan yang telah lama sakit pendarahan. Alkitab mencatat 12 tahun lamanya ia mengalami penderitaan karena sakit pendarahan. Tentunya perempuan ini telah berupaya untuk berobat dan sembuh dari sakitnya, namun tidak menampakkan hasil yang memuaskan. Dia tentu juga telah mendengar dan menyaksikan mujizat – mujizat yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus, karenanya dia percaya hanya dengan menjamah jubah Tuhan Yesus dia akan sembuh. Iman yang dimilikinya telah menyelamatkan hidupnya. Oleh imannya, Tuhan Yesus berkenan menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan ini.
  3. Iman Abraham (Roma 4:13-25)
    Paulus mengajarkan tentang iman melalui teladan hidup Bapa Abraham. Oleh iman, Abraham taat pergi meninggalkan tanah kelahirannya Haran menuju tempat yang belum dia ketahui. Oleh iman, Abraham percaya bahwa Tuhan akan memberinya seorang anak di saat usianya dan Sara sudah lanjut. Abraham sungguh percaya pada kuasa Allah, Ia percaya pada janji Allah yang akan digenapi. Iman seperti inilah yang diperhitungkan Allah sebagai kebenaran (Ay. 22).

Kesaksian iman Kepala Rumah Ibadat, iman perempuan yang sakit pendarahan dan iman Bapa Abraham ini  membawa kita pada iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Pada dasarnya semua manusia telah berdosa dihadapan Tuhan. Manusia seringkali melanggar dan mengabaikan perintah Tuhan sebagaimana tercermin dari kehidupan umat Israel pada masa nabi Hosea. Namun demikian oleh karena kasih-Nya, Tuhan Allah berkenan mengampuni dan menyelamatkan umat-Nya yang mau bertobat. Hal ini tampak melalui kisah Tuhan Yesus yang menjadikan Matius sebagai murid-Nya. Tuhan Yesus memanggil Matius yang dipandang sebagai seorang yang berdosa sebagai murid-Nya. Bahkan diungkapkan oleh Tuhan Yesus, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” (Mat. 9:12). Oleh iman kepada Yesus Kristus maka kita dibenarkan dan dijadikan sebagai umat Allah. Yesus Kristus adalah pusat iman kita sebagai umat Allah. Di dalam Yesus Kristuslah ada pengampunan dosa dan keselamatan, itu bukan karena usaha kita manusia melainkan itu adalah anugerah Allah semata bagi kita manusia berdosa.

Penutup
Bulan Kesaksian dan Pelayanan ini mengajak kita untuk menyatakan iman kita melalui kesaksian hidup dan pelayanan kita kepada Tuhan dan sesama. Teladan iman para tokoh dalam bacaan kita menyadarkan kita bahwa iman kepada Tuhan Yesus adalah dasar bagi kita untuk bersaksi dan melayani Tuhan. Iman itu aktif, artinya kita mau percaya, taat melakukan perintah dan kehendak Tuhan dalam hidup kita sehari-hari sebagaimana diteladankan Bapa Abraham.

Memaknai perjalanan kita sebagai umat Allah setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menyatakan iman kita sebagai saksi dan pelayan Kristus, yaitu:

  1. Mau Mendengarkan dan Merespon Panggilan Tuhan
    Allah telah memanggil Abraham, Tuhan Yesus telah memanggil Matius menjadi murid-Nya. Abraham dan Matius mau mendengarkan panggilan Tuhan dan merespon panggilan Tuhan itu dengan kesediaan diri mengikut perintah dan kehendak Tuhan. Itu pula yang kita lakukan saat Tuhan memanggil kita untuk menjadi saksi dan pelayan bagi-Nya. Kita mau mendengarkan panggilan Tuhan dan merespon panggilan Tuhan itu dengan melakukan perintah dan kehendak-Nya. Dengan iman kita berani melangkah dan menjawab panggilan Tuhan itu. Dengan iman kita meyakini bahwa Tuhan pasti menolong dan memampukan kita menjalani setiap tugas perutusan kita sebagai saksi dan pelayan bagi-Nya.
  2. Mau Melangkah Bersama Tuhan
    Kesaksian iman Kepala Rumah Ibadat dan iman perempuan yang sakit pendarahan menunjukkan bahwa iman itu disertai dengan perbuatan. Kepala Rumah Ibadat, dia datang memohon dengan sangat kepada Tuhan Yesus untuk membangkitkan anaknya. Perempuan yang sakit pendarahan, dia menyentuh jubah Tuhan Yesus untuk mendapatkan kesembuhan. Maka bagi kita, kita dapat datang kepada Tuhan melalui doa permohonan dan pengharapan yang tiada putusnya kepada Tuhan. Kita juga melakukan sesuatu yang kita yakini benar sebagai jalan untuk melangkah bersama Tuhan. Oleh karena itu, menjadi saksi Kristus, kita senantiasa mewartakan kebenaran dan kasih Allah yang nyata dalam hidup kita. Kesaksian kita adalah menceritakan kasih, kuasa, kemurahan dan karya keselamatan Kristus dalam hidup kita. Kita melangkah bersama Tuhan di dalam setiap kehidupan kita. Pun demikian pelayanan kita adalah melakukan kebaikan, pertolongan, penghiburan, dan kasih kepada sesama kita, sebagai wujud pelayanan kita kepada Tuhan.

Mari bersama di bulan Kesaksian dan Pelayanan ini, kita melakukan kesaksian dan pelayanan kita dengan ketulusan. Iman kepada Kristus mendasari langkah kesaksian dan pelayanan kita. Kita percaya Tuhan Yesus senantiasa menguatkan dan memampukan kita menjadi saksi dan pelayan-Nya yang setia. Mari melangkah bersama Kristus melakukan yang terbaik, menjadi saksi dan pelayan Kristus yang membawa damai sejahtera dan kasih bagi sesama. Tuhan memberkati. Amin. [AR].

 

Pujian: KJ. 355: 1,3   Yesus Memanggil

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Miwiti khotbah punika, wonten ilustrasi bab iman lan manut dhateng Gusti. Kacarita ing sawijining dinten, Gusti Allah mrintahaken setunggal pemuda kangge nyurung sela ingkang ageng sanget saben dintenipun. Pemuda punika nindakaken punapa ingkang dados titahipun Gusti dhateng piyambakipun punika. Saben dinten piyambakipun ngupaya kanthi temen-temen kangge nyurung sela ageng punika. Kasunyatanipun sela ageng punika boten gerak senajan sampun dipun surung. Pemuda punika rumaos usahanipun punika muspra, boten wonten kasilipun, mila piyambakipun lajeng sesambat lan matur dhumateng Gusti Allah, “Dhuh Gusti, punapa kula punika sampun gagal nindakaken titah Paduka? Kula sampun ngupaya kanthi saestu kangge nyurung sela punika saben dinten nanging sela punika boten geser sekedik kemawon.” Lajeng Gusti Allah ngendikan, “Anakku, saiki coba delengen, tanganmu saiki sansaya kuat, gegermu sansaya rosa, sikilmu sansaya jejeg. Kowe saiki dadi wong sing luwih kuwat tinimbang sak durunge.” Kagem Gusti Allah, pemuda punika sampun ngayahi punapa ingkang dipun titahaken lan punika boten muspra.

Gusti Allah nitahaken pemuda punika kangge nyurung sela ageng punika sakiyat tenaganipun. Gusti Allah boten nitahaken supados pemuda punika mindah utawi geser sela ageng punika. Ingkang dados karsanipun Gusti Allah supados pemuda punika nindakaken titahipun: nyurung sela ageng punika saben dinten, sanajan kadosipun boten wonten kasilipun. Ing wekdalipun, Gusti Allah piyambak ingkang badhe mindah utawi geser sela ageng punika.

Saking ilustrasi punika kita saged sinau, Gusti Allah ngersaaken kita manut lan setya nindakaken titah lan sabda-Nipun kangge nglatih iman kita. Sanajan kita dereng kagungan iman ingkang saged mindahaken gunung (Mat. 17:20), kita kedah manut lan setya dhumateng Gusti. Bilih ing tembe dinten kita saged mindahaken “gunung”, kita sadar bilih punika sanes karana kakiyatan kita, nanging karana Gusti Allah ingkang mindahaken “gunung” punika. Ingkang dados tugas kita namung gesang kanthi manut setya lan pitados dhumateng Panjenenganipun.

Isi
Cariyos bab iman ugi kacariyosaken ing waosan kita dinten punika, inggih punika iman Kepala Griya Pamujan, iman tiyang estri ingkang sakit pendarahan, lan iman Rama Abraham.

  1. Iman Kepala Griya Pamujan (Matius 9:18-19, 23-26)
    Kacariyosaken wonten Kepala Griya Pamujan ingkang manggihi Gusti Yesus, nyembah lan nyenyuwun dhumateng Gusti Yesus supados anakipun ingkang sampun tilar donya kawunguaken. Tiyang punika pitados bilih Gusti Yesus kagungan kuwaos ingkang saged wunguaken anakipun ingkang pejah. Nalika Gusti Yesus dumugi griyanipun kepala griya pamujan punika, tiyang kathah sami gumujeng. Pemanggihipun tiyang-tiyang punika, tiyang ingkang sampun mati boten badhe gesang malih. Selajengipun Gusti Yesus sarana kuwaosipun wunguaken anak estri kepala griya pamujan punika. Iman Kepala Griya Pamujan dhumateng Gusti Yesus nuwuhaken kasil, anak ingkang dipun tresnani gesang malih.
  2. Iman Tiyang Estri ingkang Sakit Pendarahan (Matius 9:20-22)
    Wonten tiyang estri ingkang sampun lami sakit pendarahan, dangunipun 12 taun. Tampunipun tiyang estri punika sampun nguyapa pados obat lan dokter supados piyambakipun saged saras lan sehat, nanging maneka cara punika boten nuwuhaken kasil ingkang sae. Piyambakipun tamtu mireng lan nyekseni pakaryan lan mujizat-mujizatipun Gusti Yesus, karana punika piyambakipun pitados srana jamah jubahipun Gusti Yesus, piyambakipun badhe saras. Imanipun dhumateng Gusti Yesus nyelametaken piyambakipun. Karana iman pitadosipun punika, Gusti Yesus kersa nyarasaken tiyang estri ingkang sakit pendarahan punika.
  3. Iman Abraham (Roma 4:13-25)
    Rasul Paulus paring piwucal dhateng pasamuwan Roma bab Iman lumantar tuladha Rama Abraham. Sarana iman, Abraham nilar tanah kalairanipun Haran tumuju dhateng papan ingkang dereng dipun mangertosi piyambakipun. Sarana iman, Abrahan pitados bilih Gusti Allah badhe maringi putra sanajan yuswanipun lan yuswanipun ibu Sara sampun sepuh. Rama Abrahan saestu pitados dhumateng Gusti Allah, piyambakipun pitados bilih janji-Nipun Gusti badhe dipun tetepi. Iman ingkang kados mekaten punika ingkang dipun pandeng kaliyan Gusti Allah minangka kayekten (Ay. 22).

Kesaksian iman Kepala Griya Pamujan, iman tiyang estri ingkang sakit pendarahan, lan iman Rama Abraham mbeta kita dhateng iman pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus. Wonten ing ngarsanipun Gusti Allah saben manungsa punika sami, inggih punika manungsa dosa. Kita manungsa punika asring nglanggar lan nglirwaaken titahipun Gusti kados gesangipun umat Israel ing zamanipun nabi Hosea. Namung karana sih rahmat, Gusti Allah kersa ngapunten lan nyelametaken umatipun ingkang mratobat. Prekawis punika ketingal lumantar cariyos Gusti Yesus nimbali Matius dados sakabatipun. Matius dipun pandeng tiyang dosa karana pandamelanipun dados juru mupu bea, nanging Matius purun nilar pandalemanipun punika lan nderek Gusti dados sakabatipun. Kagem Gusti Yesus, “Sanes tiyang sehat ingkang betahaken tabib, nanging tiyang sakit.” (Mat. 9:12). Awit saking iman pitados dhumateng Gusti Yesus, kita kabeneraken lan kadadosaken umatipun Allah. Gusti Yesus piyambak ingkang dados pusat iman kita minangka umating Allah.  Ing Gusti Yesus Kristus wonten pangapuntening dosa lan kawilujengan. Sedaya punika sanes usaha kita piyambak, nanging punika namung sih rahmatipun Gusti Allah kemawon kanggenipun kita manungsa dosa.

Panutup
Wulan Kesaksian lan Pelayanan punika ngajak kita sedaya sami nyataaken iman kita lumantar kesaksian gesang lan peladosan kita dhumateng Gusti lan sesami. Tuladha iman para tokoh ing waosan kita punika nyadaraken kita bilih iman dhumateng Gusti Yesus punika dasar kangge kita dados saksi lan ngladosi Gusti. Iman punika kedah aktif, artosipun kita tansah pitados Gusti, nindakaken titah lan karsanipun Gusti salebeting gesang kita sadinten-dinten kados Rama Abraham.

Kangge maknani lampah gesang kita minangka umatipun Allah, wonten kalih prekawis ingkang kedah kita tindakaken kangge mujudaken iman kita dados saksi lan peldosipun Sang Kristus, inggih punika:

  1. Purun Mirengaken lan Nanggepi Timbalanipun Gusti
    Gusti Allah nimbali Rama Abraham, Gusti Yesus ugi nimbali Matius dados sakabat-Ipun. Sae Rama Abraham lan Matius purun mirengaken timbalanipun Gusti punika lajeng nanggepi timbalan punika sarana sumadya nindakaken titah lan karsanipun Gusti Allah. Mekatena ugi dhateng kita, kita purun mirengaken lan sumadya nindakaken titah lan karsanipun Gusti Allah dados saksi lan peladosipun. Srana iman kita pitados Gusti Allah tansah paring pitulungan lan kasagedan dhateng kita. Gusti Allah tansah ngiyatkaken kita nindakaken sedaya tugas timbalan kita minangka saksi lan peladosipun.
  2. Mlampah Sinarengan Gusti
    Kesaksian iman kepala griya pamujan dan tiyang estri ingkang sakit pendarahan punika nedahaken dhateng kita bilih iman kedah dipun sranani kaliyan tumindak. Kepala griya pamujan madosi Gusti Yesus, nyenyuwun kanthi sanget dhumateng Gusti Yesus supados wunguaken anakipun ingkang seda. Tiyang estri ingkang sakit pendarahan, piyambakipun nyentuh jubahipun Gusti Yesus amrih piyambakipun saged saras. Pramila kita saged pinanggih Gusti lumantar pandonga lan pangajeng-ajeng kita ingkang tanpa kendhat. Kita nindakaken prekawis ingkang kita pandeng bener miturut karsanipun Gusti. Kita mlampah sinarengan Gusti. Awit bilih kita dados saksinipun Sang Kristus, kita kedah martosaken sih katresnan lan pakaryaning Allah salebeting gesang kita. Wujud kesaksian kita punika nyariosaken katresnan, kuwaos, kamirahan, lan kawilujengan ingkang kita tampi saking Gusti. Kita mlampah sinarengan Gusti ing sauruting gesang kita. Mekatena wujud peladosan kita inggih punika nindakaken kasaenan, atur pitulungan dhateng sesami, nglipur sesami ingkang kasisahan, nresnani sesami. Sedaya punika kita tindakaken minangka peladosan kita dhumateng Gusti Allah piyambak.

Mangga ing wulan Kesaksian lan Pelayanan punika, sinarengan kita mujudaken kesaksian lan peladosan kita kanthi tulus. Iman dhumateng Gusti Yesus Kristus nglandesi kesaksian lan peladosan kita. Kita tansah pitados Gusti Yesus tansah ngiyataken lan nyagedaken kita dados saksi lan pelados ingkang setya. Sumangga kita mlampah sinarengan Sang Kristus, nindakaken peladosan ingkang sae sarta dados saksinipun Sang Kristus ingkang nuwuhaken tentrem rahayu lan katresnan dhateng sesami. Gusti mberkahi kita sami. Amin. [AR].

 

Pamuji: KPJ. 113 : 1, 3  Gusti Yesus Sang Pamarta

Renungan Harian

Renungan Harian Anak