Eksistensi Allah Memerdekakan Manusia untuk Menjadi Berkat Khotbah HUT Kemerdekaan RI ke-74 (17 Agustus 2019)

HUT RI
Stola Putih

 

Bacaan 1         :  1 Samuel 6 : 1 – 16
Bacaan 2
        :  Matius 24 : 15 – 27
Bacaan 3         :  –

Tema Liturgis :  Membangun Diri Dalam Kasih Menuju Kemandirian dan Menjadi Berkat  
Tema Khotbah
:  Eksistensi Allah Memerdekakan Manusia untuk Menjadi Berkat

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

1 Samuel 6 : 1 – 16

Bacaan ini berkisah tentang Tabut Allah, yang merupakan symbol kehadiran Allah. Diawali dari kisah pada pasal sebelumnya, bahwa tentara Filistin merampas Tabut Allah dari bangsa Israel dan dibawa dari Eben-Haezer ke Asdod, di Kuil Dagon. Dagon adalah dewa yang berbentuk patung yang disembah oleh orang Filistin. Pada saat diletakkan di kuil Dagon, keesokkan harinya patung dagon itu terjatuh dengan mukanya sampai ke tanah di hadapan tabut Tuhan. Lalu dikembalikan seperti semula. Lalu,keesokkan harinya lagi terjadi hal yang sama, dengan kepala dan kedua tangannya terpenggal dan terpelanting di ambang pintu. Ditambah lagi, Allah menimpahkan borok di wilayah Asdod dan sekitarnya. Borok, sejenis penyakit kulit dan dianggap tulah. Maka, para Imam Dagon, Para Raja Filistin, dan orang-orang di Asdod sepakat memindahkan Tabut Allah ke Gad. Jika melihat peta kerajaan Israel dan Yehuda, Asdod dan Gad itu merupakan kota yang berbeda tapi masih dalam wilayah besar Negara Filistin. Namun, setelah Tabut Allah itu dipindahkan, maka Allah bertindak terhadap kota Gad dengan penyakit borok bagi anak-anak dan para orang dewasa. Lalu, Tabut Allah dipindahkan ke Kota Ekron, juga satu wilayah dalam Negara Filistin. Namun, penduduk Ekron menolak dan menyarankan para raja Filistin, untuk memindahkan Tabut Allah ke tempat asalnya supaya tidak dimatikan dan dihabiskan bangsa tersebut. Akhirnya, dalam teks hari ini dikisahkan tentang cara pengembalian Tabut Allah ke tempat asalnya, ke Bet Semes dengan berbagai-bagai ketentuan supaya tulah yang dialami orang Filistin, menjadi sembuh. Ini menunjukkan, bahwa eksistensi Allah tidak bisa dibatasi atau dipenjara oleh kepentingan manusia. Memang Tabut Allah, merupakan simbol kehadiran Allah. Tapi, Allah berdiam di tempat Maha Tinggi. Sehingga, walau Tabut Allah itu dirampas oleh bangsa Filistin, tidak berarti Allah dipenjara/terkungkung tapi Allah masih berkuasa. Di sisi lain, Tabut Allah sebagai simbol kehadiran Allah tidak bisa diperlakukan sembarangan. Sehingga, saat proses pengembaliannyapun harus penuh hormat dan tidak sembarangan.

Matius 24 : 15 – 27

Tanda-tanda jaman selalu ada dan mengingatkan diri kita untuk selalu waspada. Hal ini seperti khotbah Tuhan Yesus yang membahas tentang nubuatan Nabi Daniel, hendaknya waspada dengan persiapkan diri, dengan tetap mengusahakan diri sesuai keadaan yang sedang dialami. Namun, tanda-tanda jaman itu tidak otomatis memaksa atau mengharuskan kehadiran Mesias di akhir zaman. Walau banyak mesias palsu yang akan bernubuat dan mengerjakan mujizat-mujizat. Kedatangan Mesias dengan cara yang tiba-tiba dan terang-terangan, seperti kilat yang memancar. Hal ini menunjukkan otoritas Allah akan akhir zaman tidak ada yang tahu dan supaya kita selalu waspada dalam kehidupan ini.

Benang Merah Dua Bacaan :

Otoritas dan Eksistensi Allah yang Maha Kuasa, tidak mampu dibatasi oleh kekuatan manusia yang terbatas. Sehingga waktu dan hari Tuhan merupakan misteri Allah yang hendaknya selalu membuat manusia berjaga-jaga. Kemahakuasaan Allah itulah yang seharusnya membuat manusia senantiasa mengandalkan Allah, bukan mengandalkan diri sendiri atau bahkan mengandalkan “kekuatan” lain dalam hidup.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH  : BAHASA INDONESIA

Pendahuluan

Bapak, ibu, dan saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Yesus,

Sejarah perjalanan bangsa Indonesia, tidak lepas dari politik kekuasaan yang selalu muncul pada zaman dan masanya. Politik Kekuasaan (Jerman : Machtpolitik) adalah bentuk hubungan internasional ketika entitas berdaulat melindungi kepentingannya sendiri dengan mengancam entitas lain melalui agresi militer, ekonomi, atau politik. Atau dengan kata lain Politik kekuasaan adalah cara memahami negara-negara bersaing memperebutkan sumber daya dunia.

Merujuk dari pemahaman tersebut, maka mulai zaman Kerajaan Mojopahit, Penjajahan Belanda, dan Penjajahan Jepang terkait erat dengan politik kekuasaan untuk dapat menguasai wilayah dan mempunyai kekuasaan tertentu. Bahkan zaman kemerdekaan sampai reformasi, politik kekuasaan ini masih sering kita jumpai. Adanya kekuasaan memang bisa membuat manusia merasa punya kuasa dan bahkan bisa mengecilkan makna yang lain, bahkan Tuhan sekalipun. Pertanyaannya, apakah kekuasaan mampu membeli otoritas dan eksistensi Allah dalam hidup?

Isi

Fenomena di dalam hidup yang sering terjadi dan mampir selalu terulang adalah tentang nubutan-nubuatan tentang akhir zaman berdasar pada bisikan, penglihatan, buku, atau bahkan “dhawuh” dari seseorang yang diperTuhankan. Hal ini merupakan realitas yang terjadi di sekitar kita dengan berbagai macam dan gayanya masing-masing. Contoh : Nubuat Kiamat pada 1999, 2012,  beberapa warga desa di Ponorogo mengungsi ke Malang karena dipercaya akan kiamat di Ponorogo, dan pesan via SMS berantai atau WA berantai terkait kekacauan yang ada akan kiamat maka diminta menyebarkan, dls. Hal itu merupakan contoh kecil yang terjadi dalam kehidupan orang Kristen dan lingkungan yang ada. Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai orang Kristen?

Sebagai pengikut Kristus, tidak otomatis aman dan selamat dari jebakan batman seperti hal di atas. Hal itu karena pada dasarnya manusia mempunyai sisi gentar saat akan menghadapi sesuatu yang menakutkan dan mencemaskan. Namun, bagaimana teks hari ini membimbing kita bersama untuk menghayati kehendakNya :

  1. Tetap Bersandar Kepada Allah
    Kekuasaan yang dimiliki manusia memang seringkali membuat manusia menjadi lupa akan keberadaan dirinya yang terbatas. Para raja Firaun dengan bersandar pada Dewa Dagon, membawa (menyita) tabut Allah, dengan harapan Allah Israel terpenjara dan tidak berkuasa lagi. Tapi, ternyata para Raja Firaun mendapat malu karena borok yang di derita negerinya karena tangan Allah Israel teracung. Berangkat dari peristiwa itu, kita belajar untuk mempercayakan diri kita seutuhnya pada Allah. Bersandar kepada kekuatan Allah, bukan kepada kekuatan-kekuatan yang lain. Termasuk manusia yang dianggap terhormat dan kaya raya sekalipun. Hal itu jelas terjadi kepada para raja Firaun, yang penuh kuasa, harta berlimpah, dan kewenangan. Tapi itu semua tidak mampu menahan kuasa Allah yang besar. Oleh karena itu, di dalam hidup kita sebagai manusia, jangan pernah ingin menyamai Allah dengan memberontak kepadaNya. Mengandalkan kekuatan manusia adalah kesia-siaan.

    Hidup bersandar kepada Allah, artinya hidup dengan hormat seturut dengan perintahNya. Ingat, saat para raja Firaun harus mengembalikan Tabut Allah, maka segala korban persembahan dan cara mengembalikannya harus dengan penuh hormat. Maka, begitu juga di dalam hidup saat kita mengandalkan Allah dan bersandar kepadaNya. Berilah yang terbaik untuk Allah, Misal : tentang waktu untuk Tuhan, baik dalam berpelayanan atau berdoa. Ataukah seringkali kita masih ragu dalam memberikan persembahan hidup yang terbaik untuk Tuhan dengan tetap bersandar kepadaNya ? lalu, Bagaimana di dunia modern ini? Tantangan kita di era millennial era 4.0 adalah dengan adanya kecerdasan buatan dan mesin cerdas, seperti hand phone, dls. Semua itu, bisa makin membuat manusia merdeka atau terbelenggu karena teknologi. Saat manusia sudah sangat tergantung dengan teknologi dan tidak berani lepas atau mengambil jarak dengan itu semua maka kita sudah tidak mengandalkan Allah, tapi mengandalkan manusia. Kita sudah memberhalakan alat yang harusnya membuat kita merdeka, tapi malah membelenggu kita.

  2. Allah memiliki otoritas dalam hidup
    Otoritas dan kehendak bebas Allah tidak bisa dibatasi manusia. Oleh karena itu kita mengenal istilah waktu (Yun: Kairos) adalah waktunya Tuhan. Waktunya Tuhan, tidak bergantung kepada manusia sekalipun manusia itu mempunyai kuasa dan bahkan bisa bernubuat dan melakukan mujizat. Allah tidak bisa dikendalikan oleh kehendak dan keinginan manusia, yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Contoh : Saat manusia mengalami pergumulan dan sakit, manusia sering ingin secepat-cepatnya segera sehat dan kalau bisa tidak perlu melewati proses. Saat usaha mengalami penurunan, kita menuntut Tuhan untuk segera memulihkan usaha kita dengan apapun caranya termasuk manipulatif  atau koruptif. Hal tersebut, hanya contoh kecil yang terjadi di dalam hidup.

    Teks Injil hari ini juga mengigatkan tentang otoritas dan kehendak Allah, tentang datangnya akhir zaman. Manusia diingatkan untuk selalu waspada dan berjaga, karena banyak nabi-nabi palsu yang menyesatkan. Nabi-nabi Palsu artinya bukan utusan Allah dan menubuatkan ketidakbenaran atau Hoax. Berangkat dari hal tersebut, maka kehendak bebas Allah terhadap diri manusia membuat kita semakin menyadari tentang waktu Tuhan, di dalam kehidupan kita sehingga kita belajar menghayati setiap proses yang terjadi di dalam kehidupan, baik dalam keadaan sukacita ataupun dukacita, baik dalam kondisi senang ataupun susah. Contoh : Kemerdekaan Bangsa Indonesia telah berproses sekian puluh tahun, pasca penjajahan Belanda dan Jepang sampai akhirnya menjadi Negara Merdeka. Kita percaya bahwa dibalik usaha perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh para pejuang, ada karya Allah di dalamnya sehingga kemerdekaan itu bisa dicapai. Dengan demikian, maka manusia hendaknya selalu belajar memahami kehendak Allah di dalam hidup, sehingga kita tidak terlena dengan bujuk rayu dan janji-janji yang sifatnya hanya menyenangkan. Hal ini tentu sebaiknya membuat kita semakin kritis dan peka di dalam kehidupan seperti kisah Injil hari.

  3. Kemerdekaan dari Allah menjadikan berkat
    Kemerdekaan Bangsa Indonesia merupakan anugrah Allah bagi seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan yang telah kita terima dan kita isi dengan semangat pembangunan dan kesadaran ekologis tentu tidak bisa dilepaskan dari tugas agung dari Allah melalui sabda FirmanNya. Kemerdekaan yang kita terima, merupakan buah dari perjuangan anak bangsa dan juga otoritas Allah memberikan kemerdekaan itu bagi rakyat Indonesia. Dengan demikian, maka sebagai orang Kristen, kita diingatkan untuk tetap bersandar kepada Allah seperti halnya saat berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan bangsa dari penjajah. Hal tersebut, juga berlaku dalam membangun Negara demokrasi yang berlandaskan pada Pancasila. Kiranya juga berdasarkan pada nilai-nilai kebaikan akan hadirnya Kerajaan Allah di tengah-tengah kehidupan. Contoh : ditengah perilaku koruptif, hadirkan sikap jujur dan bertanggung jawab; ditengah sikap apatis, hadirkan sikap peduli; ditengah sikap permusuhan, hadirkan kasih dan persaudaraan, dls. Mari menghayati kemerdekaan Bangsa kita, dengan semangat dan komitmen untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah itu, supaya kita dimampukan memberi energi positif bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Supaya kita tidak seperti nabi-nabi palsu yang menyebarkan Hoax atau berita bohong dan nihil makna. Jadikan peringatan kemerdekaan ini, sebagai panggilan kita untuk menjadi berkat bagi sesama.

Penutup

Menjawab pertanyaan, apakah kekuasaan mampu membeli otoritas dan eksistensi Allah dalam hidup? Berangkat dari uraian di atas tentu sangat tidak mungkin, kekuasaan dapat membeli otoritas dan eksistensi Allah, karena kekuasaan itu sendiri berasal dari Allah. Allah mempunyai otoritas yang tidak bisa dibatasi oleh manusia, oleh karena itu, mari kita senantiasa mengandalkan Tuhan di dalam hidup pribadi dan hidup berbangsa bernegara. Kita telah dianugrahkan kemerdekaan untuk dijaga dan diisi dengan wujud cinta supaya menjadi berkat bagi sesama. Kiranya Tuhan Yesus memberkati. Amin.  (Kulz)

 

Pujian  :  KJ. 336 : 1 – 4 / NKB 218  / PKJ 109  

RANCANGAN KHOTBAH : BASA JAWI

Pambuka

Bapa, Ibu, lan para sederek ingkang kinasih dening Gusti Yesus,

Lampahing sejarah bangsa Indonesia, mboten saged uwal saking Politik Kekuasaan ingkang wonten ing zaman lan mangsanipun. Politik kekuasaan (Jerman : Machtpolitik) artosipun wujud hubungan internasional ingkang berdaulat paring perlindungan dumateng wilayahipun piyambak saking ancaman njawi, ingkang mbeta ancaman agresi militer, ekonomi, utawi politik. Bahasa sanesipun, Politik Kekuasaan punika cara kangge mangertosi persaingan bangsa-bangsa ingkang rebutan sumber daya ing ndonya. Saking pemangih punika, kita saget mangertos bilih wiwit saking jaman Krajan Mojopahit, Walanda, dan Jepang ngadah kaitan erat kaliyan Politik Kekuasaan punika, kangge nguasani wilayah lan ugi ngadah kekuasaan tertentu. Mboten mandeg ing mriku, wonten ing Jaman Kamardikan lan reformasi, Politik Kekuasaan punika taksih asring kita mangertosi. Wontenipun raos kuasa ing diri manungsa punika, asring dadoskaen manungsa dawah kanthi nyilikake makna ingkang sanes, saged ugi Gusti Allah. Pitakenanipun, punapa kuasa ingkang dipun ngadahi manungsa saged ngantosi utawi numbas otoritas lan kewenangan Gusti Allah ?

Isi

Fenomena utawi peristiwa wonten ing gesang, asring kadadosan lan asring kawangsulan malih inggih punika bab nubutan-nubuatan bab akhir jaman, kanthi dasar bisikan, buku, utawi “dhawuh” saking tiyang ingkang dipunwastani Gusti. Bab punika, inggih kasunyatan ingkang wonten ing satengah-tengahipun pigesangan kita kanthi macem lan gayanipun piyambak-piyambak. Contoh : Nubuat Kiamat kanthi angka tgl.9 wulan 9 tahun 99, tahun 2012, wonten para  warga desa ing Ponorogo ingkang ngungsi dateng Malang amargi pitados bilih kiamat bade kawiwitan ing Ponorogo, lan pesan berantai saking WA sesambetan kaliyan kekacauan ingkang dadosaken kiamat, lan nyuwun dipun sebaraken, lsp. Punika sedaya namung conto alit perkawis ingkang wonten ing satengah-tengahipun pigesangan tiyang Kristen. Lajeng, kadospundi sikap kita minangka tiyang Kristen?

Kita ingkang nderek tut wingking Gusti Yesus, temtu gesang kita mboten otomatis uwal saking jebakan Batman kados wonten ing inggil punika. Punika amargi dasaripun manungsa nggadah raos gentar/ajrih, wekdal badhe ngadepi perkawis ingkang dadosaken ajrih lan cemas. Nanging, kadospundi waosan kita dinten punika mbimbing kita sami mangertosi punapa ingkang dados karsanipun Gusti :

  1. Tetep Ngandelaken Gusti Allah
    Kuwaos ingkang dipun nggadhahi manungsa asring dadosaken manungsa kesupen bab dirinipun ingkang kawates. Para raja Firaun ingkang ngandelaken Dewa Dagon, ngrampas lan mbeta Tabuting Gusti Allah, kanthi pangajeng-ajeng bilih Gustinipun tiyang Israel sampun dipun kunjara lan mboten ngadhah kuwaos malih. Nanging, Para Raja Firaun nampi raos isin amargi nampi sakit borok ingkang dipun alami bangsanipun, amargi Astanipun Gusti Allah kaangkat dumateng bangsa Filistin. Saking cariyos punika, kita saged sinau supados kita tansah ngandelaken Gusti Allah wonten ing gesang. Ngandelaken Gusti Allah, artosipun mboten ngandelaken kakiyatan-kakiyatan ingkang sanes. Punapa malih sesambetan kaliyan tiyang ingkang dipun anggep kasuwur lan sugih ndoya brana. Punika jelas sanget, kados para Raja Firaun ingkang kebak kuasa, bandha, lan kawenangan. Nanging, sedaya punika mboten saged nahan kuwaosipun Gusti Allah ingkang ageng.

    Gesang kita dados manungsa limrah, mboten prelu nggadah kepinginan sami kaliyan Gusti Allah lan punapa malih kanthi mberontak wonten ing Panjenenganipun. Ngandelaken kakiyan manungsa punika dadosaken gelo. Gesang tansah ngandelaken Gusti Allah kanthi sumende artosipun, gesang kanthi raos urmat saturut kaliyan perintahipun Gusti Allah. Kita inget, wekdal para Raja Firaun mangsulaken Tabutipun Gusti Allah, dipun lampahi kanthi ngaturaken pisungsung korban lan ugi ngaturaken Tabutipun Gusti Allah punika kanthi kebak hormat. Srana tumindak ingkang mekaten, kita ugi sinau wonten ing pigesangan tansah ngandelaken Gusti Allah kanthi pasrah lan sumarah dumateng Gusti. Sumangga kita ngaturaken ingkang paling sae kagem Gusti Allah, conto : wekdal kagem Gusti Allah, purun leladosan lan dedonga. Punapa kita asring taksih ragu wujudaken pisungsung gesang wonten ing ngarsanipun Gusti Allah, kanthi sumarah dumateng Panjenenganipun? Lajeng, kadospundi wonten ing donya ingkang modern punika ? Tantangan kita, wonten ing era millennial 4.0, inggih punika wontenipun kecerdasan buatan lan mesin pinter, kados Handphone, lsp. Sedaya punika saged dadosaken manungsa merdika utawi ndadosaken manungsa terbelenggu kaliyan teknologi lan mboten saged ucul. Bilih manungsa sampun tergantung kaliyan teknologi lan mboten wantun uwal saking teknologi, utawi mboten ngadah jarak kaliyan sedaya punika, temtu kita sampun mboten ngandelaken Gusti Allah malih wonten ing gesang, nanging kamanungsanipun. Bilih kadadosanipun kados punika, kita sampun memberhalakan alat ingkang kedahipun mbantu kita supados mardika, nanging, malah mbelengu kita.

  2. Gusti Allah kagungan kawenangan wonten ing gesang
    Kawenanganipun Gusti Allah mboten saged dipun batesi kaliyan manungsa. Saking punika, kita saged mangertos istilah Wekdal  (Yun: Kairos) inggih punika wekdalipun Gusti Allah. Wekdalipun Gusti Allah, mboten gumantung kaliyan manungsa sanadyan manungsa ngadhah kuwaos lan ugi sandyan manungsa saged bernubuat lan nindakaken mujizat. Gusti Allah mboten saged dipun kendaleni  kaliyan kapinginanipun manungsa, ingkang asring kita mangertosi wonten ing padintenan. Conto : wekdal manungsa ngalami sakit, manungsa asring pengin enggal saras lan bilih saged mboten prelu proses. Wekdal usaha kita ngalami penurunan, kita nuntut dumateng Gusti supados usaha kita dipun lancaraken malih kanthi usaha punapa kemawon, sanadyan manipulasi lan korupsi. Bab punika, namung conto alit ingkang kadadosan wonten ing satengah-tengah gesang kita.

    Waosan kita ing Injil dinten punika ngengetaken kita bab kawenanganipun Gusti Allah, bab akhir zaman. Manungsa tansah dipun engetaken supados tansah waspada lan jumaga, amargi wontenipun Nabi Palsu ingkang nyesataken. Nabi-nabi Palsu artosipun sanes utusanipun Gusti Allah lan paring piwucal lan nubuatan ingkang mboten leres utawi Hoax. Saking pemahaman punika, tentu kawenanganipun Gusti Allah wonten ing diri manungsa tansah ndadosaken kita sadar bab wekdalipun Gusti Allah. Karana punika wonten ing pigesangan, kita kedah sinau ngraosaken proses ingkang kalampahan wonten ing gesang, sae wonten ing kabingahan utawi kasisahan. Contoh : kamardikan bangsa Indonesia sampun berproses pinten-pinten taun, sakcekapipun penjajahan Landa, lan Jepang ngantos pungkasipun dados negari mardika. Kita pitados bilih ing sedaya usaha perjuangan kamardikan ingkang sampun dipun lampahi para pejuang, wonten pakaryanipun Gusti Allah ingkang dadosaken kamardikan punika saged dipun tampi. Saking punika, kita  mangertos lan paham ingkang dados karsanipun Gusti Allah wonten ing  gesang, supados kita mboten terlena lan kabujuk kaliyan janji-janji ingkang sifatipun namung mbingahaken. Sedaya punika, mugi dadosaken kita sangsaya kritis lan peka wonten ing pigesangan kados waosan Injil dinten punika.

  3. Kamardikan saking Gusti Allah dadosaken Berkah
    Kamardikan Bangsa Indonesia punika sih rahmat saking Gusti Allah dumateng sedaya rakyat Indonesia. Kamardikan ingkang sampun kita tampi, kita isi kanthi semangat pembangunan lan kesadaran ekologis, temtu mboten saged uwal saking timbalan ageng saking Gusti Allah kanthi Sabda pangandikanipun. Kamardikan ingkang sampun kita tampi punika woh saking perjuangan anak bangsa lan ugi sih rahmatipun Gusti Allah ingkang maringi kamardikan punika kangge rakyat Indonesia.  Mekaten ugi kangge kita tiyang Kristen, tansah dipun ingetaken supados tansah sumende dumateng Gusti Allah, kados wekdal perjuangan wonten ing kamardikan ngelawan penjajah. Punika berlaku kangge mbangun Negara Demokrasi ingkang adedasar ing Pancasila ingkang wujudaken kasaenan lan wujudaken rawuhipun Keratoning Gusti Allah wonten ing satengah-tengahipun pigesangan. Conto : wonten ing satengah-tengah gesang korupsi, kita kedah jujur lan kebak tanggel jawab; wonten ing satengah gesang apatis, kita saged wujudaken sikap perduli; wonten ing sikap permusuhan, kita saget wujudaken sikap sih katresnan lan paseduluran, lsp. Sumangga kita wujudaken kamardikan bangsa kita, kanthi semangat lan komitmen kangge rawuhipun Keratoning Gusti Allah, supados kita dipun paringi kasagedan wujudaken energi ingkang positif kangge gesang bermasyarakat lan berbangsa. Supados kita mboten kados nabi-nabi palsu ingkang nyebaraken Hoax utawi berita ingkang mboten leres lan nihil makna. Sumangga, dadosaken kamardikan punika, dados timbalan kita  dados berkah kangge sesami.

Panutup

Njawab pitakenan, punapa kuwaos saged numbas utawi ngantosi kawenanganipun Gusti Allah wonten ing gesang? Saking uraian wonten ing inggil punika temtu mboten mungkin, kuwaos saged ngantosi kawenanganing Gusti Allah, amargi kuwaos punika asalipun saking Gusti Allah piyambak. Gusti Allah kagungan otoritas ingkang mboten saged dipun watesi kaliyan manungsa. Awit saking punika sumangga kita tansah ngandelken Gusti Allah wonten ing gesang lan pigesangan, wonten ing gesang berbangsa lan bernegara. Kita sampun dipun paring sih rahmat kamardikan kangge dipun jagi lan dipun isi kanthi wujud sih katresnan supados saged ndadosaken berkat kangge sesami. Mugi Gusti Yesus mbekahi kita sami. Amin (Kulz)

Pamuji  :  KPK  315 /  KPJ 360

 

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •