Kamis Putih – Pekan Suci
Stola Putih
Bacaan 1: Keluaran 12 : 1 – 4, 11 – 14
Bacaan 2: 1 Korintus 11 : 23 – 26
Bacaan 3: Yohanes 13 : 1 – 17, 31b – 35
Tema Liturgi: Setialah dalam Kasih hingga Paripurna
Tema Kotbah: Rendah Hati dan Melayani Sikap Hidup Baru Mengikut Yesus
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Keluaran 12 : 1 – 4, 11 – 14
Kata Pasah atau Paskah diambil dari kata Ibrani “Pasach” yang berarti berlalu, tidak diganggu. Allah yang membunuh anak-anak sulung bangsa Mesir dan melewati rumah-rumah bangsa Israel. Permulaan segala bulan atau bulan pertama di ayat 2 ”bulan inilah”. Di dalam kalender Ibrani bulan ini adalah bulan Abib, yang artinya “telinga-telinga hijau”. Waktunya antara Maret-April dalam kalender kita. Pada masa pembuangan nama bulan ini diganti dengan Nisan, yang artinya “permulaan, pembukaan”. Permulaan segala bulan. Awal Israel sebagai umat Tuhan yang ditandai pada penanggalan mereka.
Allah memberikan pesan kepada jemaat Israel, ayat 3 kata Jemaah, dalam bahasa Ibrani “edah”. Kata ini sering dipakai untuk menggambarkan umat Israel sebagai masyarakat keagamaan, terutama di padang gurun pada zaman Musa. Kaum keluarga, secara harfiah “rumah bapa-bapa”. Ungkapan ini bukan menunjuk kepada kaum keluarga yang besar, tetapi menunjuk pada rumah tangga atau keluarga inti. Agar bangsa Israel terhindar dari tulah kematian, seekor anak domba yang tak bercacat harus dibunuh, anak domba itu adalah kurban suatu pengganti dari orang yang seharusnya mati kena tulah. Dari sini umat Israel mengerti agar mereka selamat dari kematian, satu nyawa yang tanpa dosa harus dikurbankan menggantikan mereka.
Pada ayat 3-11, Allah memberikan aturan Paskah. Pada tiap-tiap tanggal sepuluh bulan Abib, maka tiap-tiap kepala keluarga harus memilih seekor anak domba atau anak kambing, berumur setahun, tidak bercela, lalu mengurungnya sampai tanggal empat belas di rumahnya. Jika keluarganya terlalu kecil untuk menghabiskan satu anak domba, maka ia boleh makan bersama tetangganya. Upacara ini harus dilaksanakan oleh seluruh keluarga. Menurut eksegese para rabi maka keluarga yang terlalu kecil artinya anggotanya kurang dari sepuluh orang (Targum Yonatan). Menurut keperluan tiap-tiap orang. Mereka harus menghitung berapa banyak makanan yang dapat dihabiskan tiap-tiap orang, sehingga dapat menentukan apakah akan bergabung dengan keluarga yang lain.
Ayat 11 kata “buru-buru” adalah sikap was-was yang bercampur dengan ketergesa-gesaan dan kepanikan. “Pinggangmu berikat” bahwa jubah mereka yang panjang itu harus diikatkan ke tubuh mereka sehingga tidak mengganggu gerakan. Paskah bagi Tuhan, sebuah perayaan yang diperintahkan oleh dan dilestarikan untuk Dia.
Dalam ayat 12-14. Allah akan “melewatkan” hukuman-Nya dari orang-orang yang menunjukkan iman mereka kepada-Nya dan mencari perlindungan di dalam darah anak domba. Dan kepada semua allah di Mesir, semua dewa di Mesir harus ditampilkan sebagai tidak mampu untuk membela orang yang menyembahnya, sehingga tidak layak untuk disembah. Makna Paskah dalam kitab Keluaran dalam perayaan paskah serta Hari Raya Roti Tidak Beragi, orang-orang Yahudi mengingat peristiwa yang terpenting dalam sejarah mereka. Sebab ketika Musa membawa leluhur mereka keluar dari perbudakan di Mesir, mereka menjadi umat baru.
1 Korintus 11 : 23 – 26
Paulus perlu mengingatkan kembali akan makna perjamuan kudus kepada jemaat di Korintus, karena ada praktik yang salah dalam perjamuan bersama di antara umat di Korintus yang tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan (Ay. 17). Idealnya, perjamuan Tuhan semakin menyatukan dan mengakrabkan, menjadi momen perjumpaan dalam persaudaraan dimana jemaat hidup saling berbagi dan saling meneguhkan, menumbuhkan solidaritas dan kasih sayang di antara anggota jemaat. Tetapi yang terjadi malah perpecahan di dalan jemaat, karena hanya mementingkan diri sendiri dan menganggap rendah yang lain. Hakikat kesatuan yang dibangun dalam perjamuan Tuhan, di mana setiap orang mengambil bagian dalam tubuh dan darah Yesus yang satu dan sama, menjadi hilang ketika setiap orang berlomba untuk menyantap persediaan makanan mereka sendiri tanpa peduli terhadap sesamanya yang kekurangan. Untuk itulah, Paulus mengingatkan kembali jemaat Korintus tentang arti perjamuan Tuhan, yakni bahwa di dalam perjamuan itu setiap kali memakan roti dan meminum anggur, jemaat mengenang pengorbanan Tuhan Yesus yang memberikan tubuh dan darah-Nya untuk menyelamatkan manusia.
Yohanes 13 : 1 – 17, 31b – 35
Kisah tentang pembasuhan kaki ada dalam bagian yang dikenal dengan sebagai pidato atau percakapan perpisahan. Percakapan ini diawali dengan penegasan sudah saatnya Tuhan Yesus meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa (Ay. 1). Tuhan Yesus sungguh-sungguh mengasihi murid-murid-Nya dengan kasih yang penuh dan mengasihi sampai akhir. Kontras dengan kasih Yesus yang sangat dalam kepada para murid-Nya, pada ayat 2 disebutkan: saat mereka sedang makan bersama, Iblis telah membisikkan ke dalam hati Yudas untuk mengkhianati Yesus. Di ayat 3 disebutkan Tuhan Yesus tahu dan sadar telah tiba saatnya bagi Dia kembali kepada Bapa. Hal ini ditegaskan dengan pernyataan bahwa Ia sadar, Dia datang dari Allah. Dia bahkan diutus dan diberi otoritas oleh Allah menggenapi kehendak Allah, menyelamatkan manusia yang berdosa.
Tuhan Yesus sadar akan Keilahian-Nya dan bahwa Dia adalah “ Guru dan Tuhan” (Yoh. 13:13). Dia rela melakukan pekerjaan yang rendah dengan membasuh kaki para murid-Nya yang seharusnya dilakukan oleh seorang hamba. Pada jaman Tuhan Yesus, pembasuhan kaki dilakukan karena dua alasan. Pertama untuk menghilangkan kotoran di kaki para tamu yang pada jaman itu memakai kasut atau sepatu terbuka. Kedua, pembasuhan kaki dilakukan sebagai penyambutan atau penerimaan untuk tamu dalam sebuah perjamuan. Pembasuhan kaki biasanya dilakukan sebelum orang memasuki ruang perjamuan, sedangkan Tuhan Yesus melakukannya di dalam ruang perjamuan atau pada saat perjamuan. Hal ini menunjukkan Tuhan Yesus sengaja melakukan hal ini dan hendak memakai budaya pembasuhan kaki sebagai media pengajaran kepada para murid-Nya.
Dalam perjamuan tersebut, tuan rumah yang diyakini adalah Tuhan Yesus, tidak menyiapkan seorang budak untuk membasuh kaki para murid yang saat itu menjadi tamu yang diundang. Dalam situasi seperti itu, sebenarnya salah seorang murid dapat berinisiatif melakukan pembasuhan tersebut, tetapi para murid merasa bahwa mereka tidak layak melakukan pekerjaan yang rendah tersebut. Apalagi sebelumnya para murid bertengkar perihal siapa yang terbesar di antara mereka dalam Kerajaan Surga (Luk. 22:24). Tampaknya para murid merasa tinggi untuk melakukan pekerjaan pembasuhan kaki yang rendah tersebut.
Lewat pembasuhan kaki ini, Tuhan Yesus ingin memberikan perumpamaan. Melalui tindakannya tersebut, Tuhan Yesus meletakkan prinsip-prinsip agung berkenaan dengan pelayanan yang merendahkan diri, yang mencapai puncaknya di kayu salib. Tindakan Tuhan Yesus dalam membasuh kaki para murid-Nya adalah tindakan simbolis untuk menggambarkan pembasuhan atau penyucian diperlukan untuk keselamatan (Ay. 6-9). Dan model untuk sikap hidup murid Kristus (Ay. 12-17) yang mengikuti teladan-Nya yang rela merendahkan diri, serta saling melayani. Bagi para murid yang melakukan perintah Tuhan Yesus atau yang meneladani-Nya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia atau diberkati (Ay. 17). Tidaklah cukup hanya mendengar, memahami, dan menerima apa yang benar, tetapi yang terpenting adalah seseorang harus melakukannya. Melakukan perintah baru yang sudah Tuhan Yesus ajarkan, yakni saling mengasihi (Ay. 34-35).
Benang Merah Tiga Bacaan
Pembasuhan kaki yang dilakukan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya adalah tindakan simbolis untuk menggambarkan pembasuhan atau penyucian diperlukan untuk keselamatan. Jika selama ini umat Israel harus mengorbankan anak domba untuk keselamatan yang diberikan Allah, maka di saat Perjamuan Paskah ini, Tuhan Yesus sendirilah yang menjadi domba Paskah, yang mati untuk memberikan keselamatan kepada manusia. Dan siapa yang percaya kepada-Nya ada di dalam kehidupan yang baru. Model untuk sikap hidup baru murid Kristus yaitu dengan mengikuti teladan-Nya dan rela merendahkan diri serta saling melayani. Sikap inilah yang dilupakan oleh jemaat di Korintus, sehingga Paulus harus mengingatkan mereka kembali akan makna Perjamuan Tuhan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Ada kalimat dalam bahasa Jawa “Rumangsa Sarwa Duwe” dan “Sarwa Duwe Rumangsa.” Dua kalimat ini dibolak-balik saja penulisannya, akan tetapi memiliki makna sangat jauh berbeda. Pertama kalimat “Rumangsa Sarwa Duwe” atau “Merasa Serba Punya” menunjukkan watak suka pamer, bengis perilakunya dan kalau mengejar angan-angan tidak mempedulikan orang lain. Kesukaannya hanya menyombongkan diri karena merasa mempunyai kepintaran, kelebihan, pangkat, dan derajat. Kelebihan yang dimiliki sering tidak digunakan untuk perbuatan baik, tetapi hanya untuk merendahkan orang lain. Lalu kalimat kedua “Sarwa Duwe Rumangsa” atau “Serba Punya Rasa” menunjukkan perilaku yang penuh dengan belas kasih, bijaksana dalam semua hal, dan merasa bersalah atau berdosa, jika membuat susah orang lain.
Isi
Tindakan yang penuh dengan belas kasih juga ditunjukkan oleh Tuhan Yesus kepada para murid. Saat itu, Tuhan Yesus sudah mengetahui bahwa Dirinya sudah waktunya meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa. Sungguh kasih Tuhan Yesus sangat besar kepada umat kepunyaan-Nya, meskipun Dia mengetahui salah satu di antara para murid yaitu Yudah Iskariot akan menghianati dan membunuh-Nya, justru Dia yang adalah “Guru dan Tuhan” mau untuk merendahkan diri membasuh kaki para murid-Nya. Membasuh kaki adalah kebiasaan yang umum dilakukan oleh hamba kepada majikannya. Jadi dengan membasuh kaki para murid, Tuhan Yesus ingin memberikan pengajaran tentang:
Pertama, tindakan membasuh kaki adalah simbol untuk kematian Tuhan Yesus yang akan membersihkan dosa manusia. Dan sudah benar jika para murid percaya kepada Tuhan Yesus sebagai “Guru dan Tuhan” yang akan memberikan keselamatan. Ketika Tuhan Yesus bersama para murid di dalam perjamuan memperingati hari raya Paskah Yahudi, dalam tradisinya akan selalu ada hidangan atau olahan daging anak domba jantan. Hal ini sebagai pengingat ketika Allah akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (Kel. 12:14). Allah memberikan perintah, supaya bangsa Israel menyembelih anak domba jantan dan darahnya harus dibubuhkan pada ke dua tiang pintu dan ambang atas rumah-rumah orang Israel (Kel. 12:7). Dengan begitu umat Israel terhindar dari hukuman Allah dan mendapatkan keselamatan serta bisa keluar dari tanah Mesir. Dan sekarang Tuhan Yesus sendiri yang akan menjadi domba Paskah, yang mengeluarkan manusia dari hukuman dosa dan memberikan keselamatan untuk umat kepunyaan-Nya.
Kedua, tindakan membasuh kaki mengingatkan dan memberikan teladan kepada para murid. Bahwa setelah menerima Tuhan Yesus sebagai “Guru dan Tuhan”, para murid harus masuk di dalam sikap hidup yang baru yaitu meneladani Tuhan Yesus yang mau merendahkan diri dan melayani. Pada umumnya di jaman Tuhan Yesus, pembasuhan kaki dilakukan karena dua alasan. Pertama, untuk menghilangkan kotoran di kaki para tamu yang pada jaman itu memakai kasut atau sepatu terbuka. Kedua, pembasuhan kaki dilakukan sebagai penyambutan atau penerimaan tamu dalam sebuah perjamuan. Pada waktu itu tidak ada hamba yang membersihkan kaki para murid. Seharusnya bisa salah satu di antara para murid berinisiatif mengambil tugas ini. Akan tetapi terlaksana karena para murid merasa tinggi dan tidak layak untuk melakukannya, mereka menganggap itu sebagai pekerjaan yang rendah.
Dengan membasuh kaki para murid, Tuhan Yesus ingin memberikan keteladanan bahwa kasih itu harus ditunjukkan dengan merendahkan diri dan mau melayani sesama. Banyak orang tidak bisa mengasihi dan melayani sesama, karena lebih suka menyombongkan diri, merasa lebih unggul dan hebat dibandingkan dengan yang lain, lebih suka menunjukkan sikap “Rumangsa Sarwa Duwe” atau “ Merasa Serba Punya”. Lalu tidak mau perduli dengan keadaan yang lain. Yang dia pikir hanya kebutuhan dan kesenangannya sendiri. Sama seperti sikap jemaat Korintus, yang harus diingatkan oleh Rasul Paulus, karena banyak orang Korintus yang hanya memikirkan dirinya sendiri dalam Perjamuan Kudus waktu itu. Banyak dari mereka yang tidak peduli dengan keadaan jemaat yang lain. Padahal dengan Perjamuan Kudus, umat kepunyaan Tuhan diajak untuk mengingat kasih Tuhan Yesus kepada manusia yang sudah merendahkan diri dan mati di kayu salib (1 Kor. 11:23-26).
Saat ini dalam Kamis Putih, banyak gereja yang mengadakan simbol pembasuhan kaki di dalam peribadatan. Bisa pendeta kepada penatua diaken, pendeta kepada warga jemaat, penatua diaken kepada warga jemaat, atau orang tua kepada anak. Semuanya adalah wujud meneladani Sang Guru, Tuhan Yesus yang mau merendahkan diri dan mau melayani. Karena pembasuhan kaki ini adalah simbol kasih, tentu tindakan untuk mau merendahkan diri dan melayani tidak hanya ditunjukkan pada saat peribadatan ritual saja, tetapi juga ditunjukkan melalui sikap rendah hati dan mau melayani dalam sikap hidup sehari-hari.
Penutup
Memiliki sikap “Sarwa Duwe Rasa” atau “Serba Punya Rasa” sungguh diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi bagi para umat kepunyaan Tuhan, karena kita adalah manusia yang penuh dengan dosa, yang sudah menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Dia sudah mau menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Maka mari kita selalu menunjukkan sikap rendah hati dan mau melayani dengan rasa hormat dan penuh kasih kepada sesama. Amin. [UM].
Pujian: KJ. 424 Yesus Menginginkan Daku
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Wonten tembung “Rumangsa Sarwa Duwe” lan “Sarwa Duwe Rumangsa”. Kalih tembung punika namung diwolak-walik kemawon anggenipun nyerat, nanging surasanipun benten sanget. Ingkang sepisan tembung “Rumangsa Sarwa Duwe” nedahaken watak remen pamer, bengis satindak lakunipun, lan anggenipun nggayuh pepinginan boten preduli kaliyan liyan. Tiyang punika remenipun namung ngengungaken diri awit rumaos gadhah kapinteran, kaluwihan, pangkat, lan derajat. Kaluwihan ingkang dipun gadhahi asring boten kangge tumindak becik nanging kangge ngasoraken liyan. Dene ingkang kaping kalih tembung “Sarwa Duwe Rumangsa” nedahaken pakarti tansah kebak welas asih, wicaksana ing saben laku, rumaos lepat utawi dosa menawi damel kasisahanipun liyan.
Isi
Tumindak kebak welas asih punika ingkang dipun ketingalaken dening Gusti Yesus dhateng para sakabatipun. Nalika semanten, Gusti Yesus pirsa bilih sampun wancinipun Panjenenganipun mengkeraken jagad punika. Saestu katresnanipun Gusti Yesus punika ageng sanget dhateng para umat kagunganipun, senaosa Gusti Yesus pirsa menawi salah satunggil saking para sakabatipun inggih punika Yudas Iskariot badhe ngiyanati lan mejahi Panjenenganipun. Gusti Yesus ngrumaosi bilih Panjenenganipun pinangkanipun saking Gusti Allah lan kagungan panguwaos. Gusti Yesus minangka “Guru lan Gusti” kersa ngasoraken Sariranipun sarana mijiki sukunipun para sakabat. Mijiki suku punika padatan ingkang limrahipun dipun tindhakaken batur dhateng bandharanipun. Dados saking tumindhak mijiki suku punika, Gusti Yesus paring piwucal dhateng para sakabat bab:
Sepisan, tumindak mijiki suku punika pralambang kangge nggambaraken sedanipun Gusti Yesus kangge ngresiki dosanipun manungsa. Lan saestu leres menawi para sakabat sami pidatos dhateng Gusti Yesus minangka “Guru lan Gusti” ingkang paring kawilujengan. Nalika Gusti Yesus kaliyan para sakabat wonten ing salebeting bujana mengeti Riyadin Paskah Yahudi, padatanipun wonten dedhaharan daging cempe. Punika kangge ngemutaken para sakabat nalika Gusti Allah ngluwari bangsa Israel saking bangsa Mesir (Pangentasan 12:4), Gusti Allah paring dhawuh supados bangsa Israel mendet cempe lanang kangge korban lan gethihipun dipun usapaken ing dhempele kori lan sakiwa tengenipun kori griyanipun tiyang Israel (Pangentasan 12:7). Kanthi mekaten bangsa Israel saged kalis saking paukumanipun Gusti Allah lan nampi kawilujengan, luwar saking bangsa Mesir. Lan samangke Gusti Yesus piyambak ingkang dados menda Paskah, ingkang ngluwaraken manungsa saking bebenduning dosa lan paring kawilujengan kangge para umat kagunganipun.
Kaping kalih, tumindak mijiki suku punika, ngemutaken lan paring tuladha dhateng para sakabat. Bilih sak sampunipun nampi Gusti Yesus minangka “Guru lan Gusti”, para sakabat kedah lumebet wonten sikep gesang ingkang enggal, nggih punika nuladha Gusti Yesus ingkang purun leladi lan andhap asor. Padatanipun, mijiki suku punika dipun tindhakaken batur dhateng bandharanipun utawi dhateng para tamu sak derengipun mlebet ngriya, lan wujud panampi ingkang kagungan dalem dhateng para tamu ing bujana. Nanging nalika semanten, boten wonten batur ingkang mijiki suku para sakabat. Kedhahipun salah satunggil para sakabat punika saged mendet ayahan punika, nanging para sakabat boten nindakaken karana rumaos inggil lan boten layak nindakaken pandamelan ingkang asor punika.
Kanthi mijiki suku para sakabat, Gusti Yesus paring piwucal bilih katresnan punika kedah purun ngasoraken diri lan purun leladi. Kathah tiyang ingkang boten saged nresnani lan leladi dhateng sesami awit kagungan raos ngegungaken diri, langkung pinunjul, “rumangsa sarwa duwe”, lajeng boten purun peduli kaliyan kawontenan liyan. Tiyang punika ingkang dipun pikir namung kabetahan lan karemenanipun piyambak. Sami kados pasamuwan wonten ing Korinta, ingkang kedah dipun emutaken Rasul Paulus awit kathah tiyang Korinta ingkang namung mikir dirinipun piyambak wonten ing salebeting bujono suci. Para tiyang punika boten peduli kaliyan kawontenan sederek tunggil pasamuwan. Kamangka lumantar pratanda Bujana Suci, umat kagungaipun Gusti kaajak ngenget-enget katrenanipun Gusti Yesus dhateng manungsa ingkang sampun purun ngasoraken dhiri lan seda sinalib (1 Kor. 11:23-26).
Samangke wonten ing Kamis Putih, kathah pasamuwan ngawontenaken tumindak mijiki suku ing salebeting pangabekti. Prekawis punika saged katindakaken pandhita dhateng para pinisepuh diaken utawi warga pasamuwan, saged pinisepuh diaken dhateng warga pasamuwan, saged tiyang sepuh dhateng para putra. Sedaya wujud nuladha Sang Guru, Gusti Yesus ingkang purun ngasoraken Sariranipun lan kersa leladi. Awit mijiki suku punika namung pralambang, tamtu tumindhak katresnan kanthi ngasoraken diri lan leladi punika boten namung dipun ketingalaken ing salebeting pangabekti lan mandeg sak rampungipun pangabekti. Nanging sikep andhap asor lan leladi punika kedhah tansah ketingal wonten ing laku gesang kita saben dinten.
Panutup
Kagungan sikep “Sarwa Duwe Rumangsa” saestu prelu wonten ing gesang saben dinten. Punapa maleh kangge para umat kagunganipun Gusti, awit kita ngrumaosi bilih kita punika manungsa ingkang kebak dosa, ingkang sampun nampi kawilujengan saking Gusti Yesus. Gusti Yesus sampun purun ngetingalaken katrenan dhateng kita, mila samangke, sumangga kita tansah ngetingalaken sikep adhap asor lan purun leladi kanthi raos hormat lan kebak katresnan dhateng sesami. Amin. [UM].
Pamuji: KPJ. 351 Samangkya Kita Mardika