Hari Natal
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 62 : 6 – 12
Bacaan 2: Titus 3 : 4 – 7
Bacaan 3: Lukas 2 : 8 – 20
Tema Liturgis: Kelahiran Kristus menjadi Terang dan Sukacita bagi Semua
Tema khotbah: Mewujudkan Syukur dan Sukacita sebagai Kesaksian atas Kebaikan Tuhan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 62 : 6 – 12
Begitu pastinya penggenapan janji keselamatan itu bagi bangsa Israel, sehingga mereka menanti-nantikannya dengan sedemikian rupa, bak pengintai yang berjaga-jaga. Walau mereka belum tahu kapan Tuhan akan menyelamatkan, tetapi mereka tidak kehilangan kepercayaan dan pengharapan akan janji tersebut. Mereka percaya jika Tuhan sendiri yang telah bersumpah, maka tidak akan ada yang perlu diragukan lagi. Sepanjang hari, sepanjang malam mereka tidak berdiam diri. Mereka “mengingatkan Tuhan kepada Sion” adalah gambaran kerinduan mereka yang begitu mendalam dan diwujudkan dalam permohonan doa siang dan malam. Melalui doa dan permohonan yang tak henti itulah mereka berharap Tuhan segera menggenapi janji-Nya (ay. 6-7). Dan bukan hanya itu, mereka juga ‘berjalan melalui pintu gerbang’, berjalan menurut ketentuan Allah sehingga kelak pada saat keselamatan itu datang, orang akan menyebutkan mereka bangsa yang kudus, umat tebusan Tuhan, yang dicari oleh Tuhan, dan tidak ditinggalkan-Nya. Bangsa Israel telah menunjukkan sikap yang tepat dalam menyambut datangnya keselamatan yang dijanjikan.
Titus 3 : 4 – 7
Ayat 4-5 menjadi kunci penting bagian ini, dimana kita mendapati kata-kata: kemurahan, kasih, dan rahmat. Kapankah kita diselamatkan? Yaitu ketika “nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia” (3:4). Hal tersebut mengarah pada karya inkarnasi dan penebusan Yesus Kristus. Tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya dari hukuman Allah melalui perbuatan baik. Hanya rahmat-Nya yang menjadi pangkal selamat. Kebaikan Allah bukan sekadar konsep yang abstrak. Kebaikan ini juga bersifat praktis. Allah ingin agar manusia bukan hanya mengerti, tetapi juga mengalami kebaikan ilahi. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Melalui karya Roh Kudus. Roh melahirbarukan dan memperbarui kita (ayat 5c). Ide tentang pemandian (lit. “pembasuhan”), kelahiran baru, dan pembaruan menyiratkan keadaan lama yang kotor dan mengandung kematian. Itulah keadaan manusia sebelumnya. Karya Roh Kudus ini tidak didasarkan pada perbuatan manusia. Pelimpahan Roh kepada manusia dilakukan oleh Yesus Kristus, Juruselamat manusia (ayat 6b). Manusia menerima pelimpahan Roh Kudus dari Allah (Bapa) melalui karya Yesus Kristus. Karya Kristus yang rela menjadi manusia bahkan sampai mati di kayu salib bagi orang-orang pilihan adalah dasar dari pelimpahan Roh Kudus. Allah memastikan bahwa orang-orang pilihan yang baginya Kristus mati akan menerima manfaat penebusan itu. Hal ini dilakukan oleh Allah melalui karya Roh Kudus.
Lukas 2 : 8 – 20
Kita dapat segera menemukan keunikan kisah Natal di Lukas 2:8-20. Para gembala adalah orang pertama yang mendengar berita Natal sesudah bayi Yesus lahir. Mereka juga menjadi orang pertama yang melihat bayi Yesus. Berdasarkan konteks Lukas 1-2, para gembala seharusnya dipandang sebagai perwakilan dari mereka yang hina atau rendah, tanpa mengaitkannya secara khusus dengan keberdosaan mereka. Dalam pujiannya, Maria berujar: “TUHAN memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (1:48). Tuhan juga meninggikan orang-orang yang rendah (1:52). Elizabet yang menanggung aib kemandulan dilawat oleh Allah (1:25). Pada awal pelayanan-Nya, Yesus Kristus mengutip Yesaya 61:1-2 dan menandaskan bahwa Ia datang untuk memberitakan kabar baik kepada mereka yang kurang beruntung: orang miskin, para tawanan, orang buta, dan orang yang tertindas (4:18-19).
Mengapa kelahiran Yesus Kristus merupakan berita yang menghiburkan? Ada tiga alasan yang saling berkaitan.
Pertama, berita ini berisi kabar baik tentang sebuah kesukaan besar (2:10). Kata “memberitakan” (LAI:TB, euangelizomai) sebaiknya diterjemahkan “memberitakan kabar baik” (lit. “memberitakan sesuatu yang baik”). Kesukaan yang dibicarakan bukan sukacita yang biasa, melainkan sukacita besar (charan megalēn). Jika kelahiran Yohanes Pembaptis saja sudah memberikan sukacita (1:14), apalagi kelahiran Yesus Kristus. Sejalan dengan hal ini, para malaikat pun bersukacita dan memuji Allah (2:13-14). Para gembala juga memuji dan memuliakan Allah (2:20).
Kedua, berita ini berisi keselamatan yang besar dan luas (2:11). Hal yang menarik dari ayat ini adalah pemunculan beragam gelar untuk Yesus (Juruselamat, Kristus, Tuhan, keturunan Daud) dalam satu ayat yang sama. Dalam narasi Natal di Lukas 1-2 gelar-gelar ini beberapa kali muncul, tetapi tidak pernah bersamaan. Misalnya, keselamatan dari Allah dihubungkan dengan keturunan Daud (1:69). Di 2:26 Simeon diberitahu Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Kristus Tuhan. Penggabungan empat gelar sekaligus di 2:11 menyiratkan sebuah penegasan: bayi yang dilahirkan benar-benar luar biasa. Ini adalah berita keselamatan yang besar!
Fokus terletak pada sebutan “Juruselamat” (sōtēr). Gelar-gelar lain merupakan penjelasan terhadap gelar tersebut. Keselamatan yang dibicarakan di sini berhubungan dengan kelepasan dari musuh dan dosa-dosa (1:69, 71, 77). Konsep keselamatan yang terkesan luas ini merupakan hal yang biasa dalam tradisi Yahudi. Mereka memandang keutuhan hidup secara lebih komprehensif, mencakup jasmani dan rohani. Fakta bahwa berita Natal ditujukan pada para gembala yang dipandang hina secara sosial menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya tentang hal-hal rohani yang mistis bersama dengan Allah. Yesus Kristus pun memperhatikan orang miskin, sakit, dan tertindas (4:18-19).
Ketiga, berita ini berisi damai sejahtera yang kosmik (2:14), dalam arti merujuk pada keseluruhan alam semesta. Jadi, kata ini mengandung cakupan yang begitu luas. Gambaran kosmik itulah yang ada di Lukas 2:14. Kita melihat beberapa kontras yang indah di ayat ini: kemuliaan-damai sejahtera, surga-bumi, Allah-manusia. Kelahiran Yesus membawa pujian bagi Allah di surga sekaligus damai sejahtera di bumi bagi orang-orang yang diperkenan Allah. Lukas 2:14 sekaligus mengajarkan beberapa hal penting tentang damai sejahtera (eirēnē) yang dianugerahkan melalui kelahiran Yesus. Damai ini berkaitan dengan relasi yang harmonis antara surga dan bumi, antara Allah dan manusia. Damai ini diberikan kepada mereka yang berkenan kepada Allah. Ungkapan anthrōpoi eudokias (LAI:TB “manusia yang berkenan kepada-Nya”) merupakan sebuah sebutan umum dalam keagamaan Yahudi yang merujuk pada umat pilihan Allah yang kepadanya Allah berkenan memberikan rahmat-Nya. Dalam konteks Lukas 1-2 kita melihat bahwa Allah memperhatikan orang-orang yang menyadari kehinaan dirinya (1:46-48) dan yang takut kepada Dia (1:50). Sebaliknya, Allah menentang orang-orang yang congkak (1:51-52).
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Selamat Hari Natal Jemaat yang dikasihi dan yang mengasihi Tuhan. Peristiwa Natal merupakan peristiwa yang besar. Yang membuat peristiwa itu menjadi besar karena yang datang adalah Allah sendiri untuk melawat umat-Nya. Perjumpaan yang menyelamatkan itu terjadi atas inisiatif Allah karena kasih-Nya yang besar kepada manusia. Pada bacaan kedua (Titus), besarnya kasih Allah kepada manusia dijabarkan dengan begitu luar biasa dengan penekanan perihal kemurahan, kasih, dan rahmat Allah. Nubuatan dalam kitab Yesaya sebagaimana bacaan yang pertama, tentang hadirnya Sang Penyelamat kini digenapi.
Isi
Dampak kedatangan-Nya bukan hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya saja, tetapi seluruh bangsa akan turut menikmati tujuan kedatangan-Nya. Berkat dari kemurahan Allah menjadi dirasakan oleh semua, bahkan oleh segenap ciptaan tanpa terkecuali. Hal ini terjadi sebagaimana tujuan dari kedatangan-Nya yakni untuk kesukaan, damai sejahtera, dan keselamatan. Lantas apa yang harus kita perhatikan sebagai orang-orang yang percaya pada kelahiran-Nya?
Bagi kita yang percaya dan berkenan kepada-Nya, kita dipanggil-Nya untuk menjadi saksi kelahiran-Nya sebagaimana para gembala. Menjadi saksi-Nya dalam setiap dimensi kehidupan kita dengan meninggalkan kefasikan dan fokus pada kehendak dan kemuliaan-Nya. Nilai kesaksian dari setiap orang tergantung keeratan relasi dengan Tuhan. Ilustrasi yang sering dipergunakan di dalam dunia Kekristenan adalah carang anggur akan berbuah jika ia menempel pada pokok anggur.
Menarik untuk kita perhatikan pada ayat 20 dari bacaan yang ketiga dimana dikatakan: “Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah…” Setelah mereka berjumpa dan menyaksikan sendiri Kristus lahir, pulanglah mereka dengan memuji dan memuliakan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Allah selalu membuahkan pujian dan pemuliaan akan Allah, karena pada Allah, manusia menyaksikan kebesaran dan kemuliaan yang luar biasa serta merasakan kemurahan, kasih, dan rahmat yang besar. Sepatutnya kitapun demikian, senantiasa menaikkan pujian dan pemuliaan akan Allah yang dinyatakan dalam setiap situasi dan kondisi kehidupan, saat susah, saat senang, saat tegang, saat santai melalui segenap kehidupan kita. Karena bayi Yesus yang hadir dalam palungan Betlehem menjadi terang dan sukacita bagi semua.
Memang Natal selalu menghadirkan tanya bagi kita: “Mengapa Tuhan mau melakukan itu semua demi kita?” Tuhan datang ke dunia yang rusak ini dengan tujuan: pemulihan, penebusan. Untuk siapa? Untuk kita. Padahal kalau dipikir-pikir, memangnya siapa sih kita ini? Ibarat jika kita punya HP, lalu HP itu rusak. Akan diperbaiki tapi harga perbaikannya tidak jauh beda jika dibandingkan dengan kita membeli HP yang baru. Apa yang akan kita lakukan? Mungkin sebagian besar di antara kita akan memilih me-“lem biru” HP tersebut (lempar lalu beli baru). Gak pakai ribet, gak pakai lama. Tuhan, seharusnya bisa melakukan hal yang sama persis seperti itu terhadap kita. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan baik adanya, tetapi manusia merusaknya sedemikian rupa hingga parah. Seharusnya Tuhan tinggal me-“lem biru”, namun ternyata hal itu tidak dilakukan-Nya. Yang Tuhan lakukan itu aneh dari kacamata atau sudut pandang manusia. Tuhan memilih untuk berjuang sekuat tenaga-Nya bagi kita yang sudah rusak parah ini supaya kita ini menjadi pulih dan baik Kembali supaya ‘suatu saat nanti keadaan akan membaik dan sempurna kembali’. Demikianlah besarnya kasih Allah pada ciptaan-Nya. Maka patutlah kita bersyukur dan bersukacita senantiasa serta menjadi saksi atas segala kebaikan-Nya.
Penutup
Selamat Natal! Selamat menikmati hidup dalam kebersamaan dengan Allah, membangun kehidupan, mengupayakan kehidupan seturut rencana keselamatan-Nya! Amin. (AA).
Pujian: KJ. 99 Gita Sorga bergema
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Kinen hangaturaken Sugeng Natal dhumateng sedaya warganing pasamuwan. Natal punika prastawa ingkang agung. Kaagunganipun mboten sanes karana ingkang rawuh punika Gusti Allah piyambak saperlu nglawat umatipun. Pepanggihan ingkang mbekta kawilujengan sejatos punika saged kelaksanan amargi inisiatif saking Gusti Allah piyambak karana katresnanipun ingkang agung dhateng manungsa. Ing waosan kita ingkang kaping kalih (Titus), katresnanipun Gusti Allah ingkang ngedab-edabi punika kagambaraken kanthi trewaca lan kaantebaken ing bab kamirahan, tresna, lan sih rahmat Allah. Punapa ingkang sampun kawangsitaken ing kitab Yesaya, kados wonten ing waosan kita ingkang kaping pisan, bab rawuhipun Sang Juru Wilujeng sampun kawujud.
Isi
Pengaruh rawuhipun mboten namung badhe dipun raosaken dening para pitados kemawon, nanging ugi dening sedaya bangsa. Berkah awit kamirahanipun Gusti karaosaken dening sedaya titah tanpa kecuali. Punika cundhuk kaliyan punapa ingkang dados tujuan rawuhipun, inggih punika kabingahan, tentrem rahayu, ugi kawilujengan. Lajeng, punapa ingkang kedah kita gatosaken minangka para pitados ing prastwa wiyosipun Gusti punika?
Kangge kita para pitados lan minangka manungsa ingkang dados renaning penggalihipun Gusti, kita dipun timbali dados para seksi wiyosipun kados dene para pangon. Dados seksinipun ing sadhengah perkawis gesang kita srana nilar perkawis-perkawis ingkang ala lan fokus dhumateng karsanipun lan kamulyanipun Gusti. Paseksi kita minangka para kagunganipun Gusti gumantung rumaketing hubungan kita kaliyan Gusti kados ingkang asring kagambaraken minangka pang ingkang dumunung ing wit anggur.
Wonten perkawis ingkang endah menawi kita gatosaken seratan ing ayat 20 saking Injil Lukas bab 2 punika, ing pundi kasebataken bilih: “Para pangon tumuli padha bali kalawan memuji lan ngluhurake Allah…” Sasampunipun para pangon pinanggih lan ningali piyambak wiyosipun Sang Kristus, sedaya sami wangsul kanthi memuji lan ngluhuraken Gusti. Perkawis punika nedahaken bilih pepanggihan kaliyan Gusti mesthi nuwuhaken pamuji dhumateng Gusti amargi ing Sang Kristus Gusti, manungsa saged ningali kaagungan saha kamulyan ingkang ngedab-edabi ugi ngraosaken kamirahan, katresnan saha sih rahmat. Ugi mekaten kedahipun kita, tansah ngunjukaken pamuji saha sokur dhumateng Gusti ing sadhengah kahanan utawi kawontenan gesang kita, sae nalika sisah utawi bingah lan tegang utawi tenang lumantar sedaya perkawis ing gesang kita. Amargi bayi Yesus ingkang wiyos ing pamakanan Betlehem dados terang lan kabingahan kangge sedaya titah.
Natal tansah nglairaken pitakenan tumrap kita: “Kenging punapa Gusti kersa nindakaken punika sedaya kangge kita?” Gusti kersa rawuh ing jagad ingkang risak kanthi tujuan: pemulihan lan panebusan. Kangge sinten? Kangge kita sami. Kamangka menawi dipun raos-raosaken, kita punika sinten ta? Kados saumpami kita sami kagungan HP, lajeng HP kita risak. Badhe dipun dandosaken nanging ongkos kangge ndandosaken HP punika mboten beda tebih kaliyan reginipun HP enggal. Kinten-kinten punapa ingkang badhe kita tindakaken? Kula wastani kathah ing antawising kita ingkang badhe me-“lem biru” HP punika. Lempar.. lajeng beli baru.. Mboten ribet, mboten kedangon. Mekaten prinsip sawetawis tiyang. Gusti ugi saged kemawon ngetrapaken pamanggih kados mekaten. Nanging menawi kita tingali sesarengan saking waosan kita wau, nyata sanget bilih Gusti milih tetep memperjuangkan kita ingkang sampun risak punika supados saged pulih lan sae malih. Mekaten agengipun sih katresnanipun Gusti dhumateng para titahipun. Pramila kita kedah tansah muji sokur lan kebak bingah ugi dados paseksi tumrap sedaya kasaenanipun Gusti.
Panutup
Sugeng mahargya Natal. Sugeng tansah ngraosaken gesang sejatos ing pasrawungan kaliyan Gusti, mangun lan ngupadi pigesangan ingkang tansah cundhuk kaliyan rancangan kawilujenganipun Gusti. Amin. (AA).
Pamuji: KPJ. 229 Kabingahan Kang Sejati