Khotbah Hari Kenaikan Yesus Kristus 25 Mei 2017

KAMIS, 25 Mei 2017
Pembukaan Bulan Kesaksian & Pelayanan-ASENSI
Stola Merah

 

Bacaan 1         : Kisah Rasul 1:1-11
Bacaan 2         : Efesus 1:15-23
Bacaan 3         : Lukas 24:44-53

Tema Liturgis  : “Kuasa Kristus Memandirikan Umat-Nya”
Tema Khotbah : “Berdikari: Berdiri Di Kaki Sendiri?”

 

Keterangan Bacaan

Kisah Rasul 1:1-11

Para murid, seakan tidak rela ketika Tuhan Yesus meninggalkan mereka naik ke Sorga. Mereka enggan untuk berdiri sendiri. Mereka masih saja mengharapkan Tuhan Yesus “menemani”, untuk menggapai harapan mereka. Mereka menanyakan kepada Tuhan Yesus terkait kesediaanNya memulihkan kerajaan bagi Israel. Nampak bahwa mereka belum memahami jati diri Tuhan Yesus. Mereka masih saja memahami Yesus sebagai mesias, dalam arti politis, yang dapat menggembalikan kerajaan Israel seperti zaman Daud. Kerajaan yang dibicarakan Tuhan Yesus selama ia menampakkan diri, menunjuk pada Kerajaan Allah yang ditegakkan melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Dengan penggunaan kata “tetapi” (ayat 8), Tuhan Yesus menghendaki para murid fokus pada hal yang lain, yakni tugas menjadi “saksi Tuhan Yesus” di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Para murid akan memberi kesaksian tentang Tuhah Yesus yang sudah menegakkan Keraaan Allah, melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Untuk dapat menjalani tugas itu, mereka akan dibekali dengan Roh Kudus. Meski begitu, mereka tetap terpana ketika Yesus naik ke Sorga. Sampai dua orang yang berpakaian putih “memperingatkan” mereka (ayat 11). Pertanyaan yang mereka sampaikan, seakan menegaskan agar para murid bersiap untuk menjalankan tugas menjadi saksiNya.

 

Efesus 1:15-23

Kebanggaan dan sukacita nampak pada diri Rasul Paulus, ketika ia mendengar iman jemaat Efesus dan kasih mereka terhadap semua orang kudus. Ia tidak berhenti mengucap syukur dan selalu mengikat mereka dalam doanya. Dalam doanya Rasul Paulus meminta agar jemaat Efesus dikaruniai Roh Hikmat atau sophia. Shofia adalah hikmat mengenai perkara-perkara yang dalam dan mulia dari Allah. Ia berdoa agar jemaat Efesus dapat dibimbing semakin dalam dalam menuju kepada kebenaran abadi. Selain memohon agar dikaruniai sophia, Rasul Paulus juga meminta agar jemaat diberi wahyu mengenal Dia. Bagi orang percaya, pertumbuhan dalam pengenalan akan Allah menjadi sangat penting. Kehidupan kristiani adalah kehidupan yang selalu berusaha mengenal Allah lebih baik setiap hari.  Tujuan dari itu semua adalah agar menjadikan mata hati jemaat Efesus terang, agar mereka mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi yang percaya kepadaNya.

 

Lukas 24:44-53

Tuhan Yesus membuka pikiran para murid agar mereka mengerti Kitab Suci. Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Oleh karena itu para murid mempunyai tugas menjadi saksi atas semuanya itu. Untuk melakukan tugas ini Tuhan Yesus memberikan “bekal” kepada mereka, yaitu memperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi. Tuhan Yesus juga memberkati mereka. Sehingga mereka kembali dengan sangat bersukacita.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Para murid mendapatkan tugas untuk menjadi saksi tentang penderitaan dan kebangkitannya dari antara orang mati pada hari yang ketiga, serta  dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa. Mereka melakukan tugas panggilan ini secara mandiri. Yesus tidak bersama-sama lagi, karena Ia sudah naik ke Sorga. Untuk menjalankan tugas itu, mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi, yakni Roh Kudus.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Tentulah kita sering mendengar kata “mandiri”. Kata ini dipakai menjadi nama salah satu bank di Indonesia. Kata ini juga dibahas secara khusus dalam katekisasi perkawinan, untuk mengingatkan calon mempelai, bahwa ketika menjalani kehidupan keluarga mereka tidak lagi bergantung pada orang tua. Sudah lama gereja kita, GKJW juga menggumuli kata ini untuk menekankan kemandirian dalam bidang teologi, daya dan dana (sejak tahun 1986). Di era PPJP (Program Pembangunan Jangka Panjang) 2017-2034 saat ini, kata ini juga dipakai menjadi bagian dari tema “Mandiri dan Menjadi Berkat”. Apa yang menarik dari kata ini? Menurut kamus bahasa Indonesia, kata mandiri mempunyai arti “keadaan dapat berdiri sendiri; tidak tergantung pada orang lain”.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita sudah mempraktekkannya. Hal ini kita lakukan ketika mendidik anak-anak kita. Kita mengajari mereka berjalan, makan, berangkat sekolah, belajar dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. Semua itu kita lakukan dengan tujuan supaya anak-anak kita dapat melakukan kegiatan-kegiatan itu secara mandiri, dan tidak lagi bergantung pada orang tua. Bukan hal yang mudah untuk membuat mereka bisa mandiri. Perjuangan dan semangat diperlukan agar anak-anak benar-benar dapat mandiri. (Pelayan dapat menceritakan pengalaman pribadi bagaimana menjadi mandiri atau dalam mendampingi anak-anak agar mandiri).

 

Isi

Tuhan Yesus menghendaki para muridNya untuk mandiri. Setelah Ia bangkit dan selama 40 hari Tuhan Yesus menampakkan diri kapada para muridNya, tiba saatnya Ia naik ke sorga. Namun untuk para murid seakan tidak rela ketika Tuhan Yesus meninggalkan mereka naik ke sorga. Mereka enggan untuk berdiri sendiri. Mereka masih saja mengharapkan Tuhan Yesus menemani”, untuk menggapai harapan mereka. Mereka menanyakan kepada Tuhan Yesus terkait kesediaanNya memulihkan kerajaan bagi Israel. Nampak bahwa mereka belum memahami dan mengenal jati diri Tuhan Yesus. Mereka masih saja memahami Yesus sebagai Mesias, dalam arti politis, yang dapat menggembalikan kerajaan Israel seperti zaman Daud.

Tuhan Yesus menghendaki para muridNya untuk mandiri. Oleh karena itu para murid diberi tugas oleh Tuhan Yesus, yaitu  menjadi saksi Tuhan Yesus di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Para murid akan memberi kesaksian tentang Tuhan Yesus yang sudah menegakkan Kerajaan Allah, melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Untuk dapat menjalani tugas itu, pikiran mereka juga dibuka oleh Tuhan Yesus supaya mengerti kitab suci yang berbicara tentang Mesias. Sehingga mereka mengerti bahwa Yesus adalah Mesias itu. Seperti ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

Tuhan Yesus menghendaki para muridNya untuk mandiri, bukan berarti tanpa bekal. Mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi, yakni  Roh Kudus. Dengan Roh Kudus, para murid dan umatNya mendapatkan hikmat untuk mengetahui perkara-perkara yang dalam dan mulia dari Allah. Hal ini seperti isi doa Rasul Paulus untuk jemaat Efesus. Dalam doanya Rasul Paulus meminta agar jemaat Efesus dikaruniai Roh Hikmat atau sophia. Shofia adalah hikmat mengenai perkara-perkara yang dalam dan mulia dari Allah. Ia berdoa agar jemaat Efesus dapat dibimbing semakin dalam menuju kepada kebenaran abadi. Dengan Roh Kudus, para muridNya juga akan lebih mengenal Dia. Seperti permohonan Rasul Paulus untuk jemaat Efesus. Rasul Paulus meminta agar jemaat diberi wahyu untuk mengenal Dia. Bagi orang percaya, pertumbuhan dalam pengenalan akan Allah menjadi sangat penting. Kehidupan Kristiani adalah kehidupan yang selalu berusaha mengenal Allah lebih baik setiap hari. Tujuan dari itu semua adalah agar menjadikan mata hatinya terang dan mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi yang percaya kepadaNya.

 

Penutup

Tuhan Yesus juga menghendaki kita untuk mandiri. Mandiri untuk menjadi saksiNya. Mandiri berarti berani untuk bersaksi. Dalam pembukaan bulan kesaksian dan pelayanan ini kita diingatkan kembali, bahwa kita juga diberi tugas untuk menjadi saksi Tuhan Yesus di manapun kita berada.  Roh kudus juga sudah diberikan kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Roh yang dapat memberikan hikmat bagi kita untuk bersaksi tentang Kristus yang menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan tentang pertobatan dan pengampunan dosa.  Untuk menjadi saksi kita harus mengenal Dia dengan sungguh-sungguh setiap hari. Pengenalan akan Tuhan Yesus tidak hanya sekedar fasih dalam membaca Alkitab, berdiskusi dalam PA, tetapi lebih pada penghayatan akan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang belum mengenal Kristus, akan lebih mudah mengenal Dia dengan cara melihat apa yang kita tampilkan setiap hari, yakni prilaku dan perbuatan kita yang meneladani Tuhan Yesus. Mandirikah kita? Selamat bersaksi. Amin. [SWT]

 

Nyanyian: KJ 426

 —

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pembuka

Tamtu kita asring mireng tembung “mandiri”. Tembung punika dados tetenger/ nami salah satunggaling bank ing Indonesia. Tembung punika ugi dipun rembag ing kataksasi manten, kangge ngengetaken calan manten, bilih sasampunipun nglampahi gesang bebrayatan, piyambakipun mboten gumantung malih dhateng tiyang sepuh. Sampun dangu greja kita, GKJW ugi nggegilut tembung punika, kangge nandhesaken kemandirian  ing babagan teologi, daya lan dana. Ing era PPJP (Program Pembangunan Jangka Panjang) 2017-2034 sapunika, tembung mandiri ugi kaagem kangge peranganing tema “Mandiri dan Menjadi Berkat”. Punapa ingkang nengsemaken saking tembung punika? Miturut kamus basa Indonesia, tembung mandiri nggadhahi teges, kawontenan saged ngadeg piyambakan; mboten gumantung dhateng tiyang sanes.

Wonten ing pigesangan kita sadinten-dinten, sejatosipun kita sampun mbudidaya wujuding kemandirian. Perkawis punika kita lampahi ing salebeting panggulawenthah kita dhateng para putra. Kita mulang mlampah, nedha, mangkat sekolah, sinau lan taksih kathah malih bab sanesipun. Sedaya kita tindakaken kanthi tujuan supados anak-anak kita saged nglampahi perkawis punika sacara mandiri lan mboten gumantung malih dhateng tiyang sepuh. Sanes perkawis ingkang gampil kangge ngajak anak-anak kita mandiri. Kita mbetahaken pambudidaya lan semangat supados anak-anak seged mandiri saestu. (pelados saged nyariyosaken pengalaman pribadi, kados pundi saged mandiri, utawi anggenipun nggulawenthah anak-anak supados mandiri).

 

Isi

Gusti Yesus ngersakaken para sakabat saged mandiri. Sasampunipun wungu saking antawisipun tiyang pejah lan sadangunipun 40 dinten ngatingal dhateng para sakabat, sampun dumugi wegdalipun Panjenenganipun sumengka dhateng swarga. Nanging para sakabat kados-kados mboten lila menawi Gusti Yesus nilarakan, lan sumengka dhateng swarga. Para sakabat mboten kersa “ngadeg piyambakan”. Para sakabat taksih kemawon kagungan pengajeng-ajeng Gusti Yesus nenggani kangge mujudaken pengajeng-ajengipun. Para sakabat pitaken dhateng Gusti Yesus gandheng kaliyan bangsa Israel ingkang kedah dipun pulihaken. Ketingal sanget bilih para sakabat dereng mangertos lan tepang saestu sinten Gusti Yesus punika. Para sakabat taksih kemawon nganggep bilih Gusti Yesus punika Sang Mesias secara politis, ingkang saged mulihaken kraton tumrap Israel.

Gusti Yesus ngersakaken para sakabat saged mandiri. Mila saking punika, para sakabat kaparingan  ayahan saking Gusti Yesus, inggih punika dados seksinipun Gusti Yesus ing Yerusalem lan sedaya Yudea lan Samaria ngantos dumugi pungkasaning bumi. Para sakabat badhe paring paseksi ngingingi Gusti Yesus  ingkang sampun ngedegaken Kratoning Allah lumantar kasangsaran, seda lan wungunipun. Kangge nglampahi ayahan punika, pikiranipun kabikak dening Gusti Yesus supados mengertos isining Kitab Suci ingkang nyariyosaken bab Sang Mesias. Matemah para sakabat mangertos bilih Gusti Yesus punika Sang Mesias. Kados pangandikanipun: “Ana ing Kitab Suci ana tulisan, yèn Sang Kristus kuwi pinesthi nandhang sangsara, lan wungu menèh ing telung dinané. Uga wis ditulis, yèn atas Asmané Sang Kristus, bakal diwartakaké marang para bangsa kabèh, yèn Gusti Allah maringi pangapuraning dosa marang wong sing padha mratobat saka dosa-dosané. Pawarta kuwi bakal diwartakaké wiwit saka kutha Yérusalèm.”

Gusti Yesus ngersakaken para sakabat saged mandiri, punika mboten ateges tanpa sangu. Para sakabat kaparingan uborampe saking ngaluhur, inggih punika Roh Suci. Lantaran Sang Roh Suci, para sakabat lan umat kagunganipun pikantuk kawicaksanan kangge mangertosi perkawis-perkawis ingkang lebet lan mulya saking Allah. Perkawis punika kados pandonganipun Rasul Paulus kagem pasamuwan Efesus. Ing pandonganipun Rasul Paulus nyuwun supados pasamuwan Efesus kanugrahan Roh Kawicaksnan utawi sophia. Shofia ateges kawicaksanan ngingingi perkawis-perkawis ingkang lebet lan mulya saking Allah. Rasul Paulus ndedonga supados pasamuwan Efesus saged dipun kanthi sangsaya lebet tumuju kayekten  ingkang langgeng. Lantaran Sang Roh Suci, para sakabat langkung lebet tepang kaliyan Gusti. Kados panyuwunipun Rasul Paulus kagem pasamuwan ing Efesus. Rasul Paulus nyuwun supados pasamuwan kaparingan wahyu wanuh kaliyan Panjenenganipun. Kangge tiyang pitados, tuwuh ing pitepangan kaliyan Gusti wigatos sanget. Gesang minangka tiyang Kristen ateges gesang ingkang tansah mbudidaya gesang supados sangsaya sae anggenipun wanuh dhateng Gusti ing gesang sadinten-dinten. Punika kanthi tujuan supados batos kita pikantuk pepadhang lan mangertos pengajeng-ajeng, punapa ingkang wonten ing salebeting timbalanipun: sepinten agengipun berkah-berkah ingkang kaprasetyakaken dening Gusti Allah dhateng kita, lan sepinten agengipun panguwaosipun ingkang makarya ing kita, ingkang sami pitados.

 

Panutup

Gusti Yesus ugi ngersakaken kita mandiri. Mandiri dados seksinipun. Mandiri ateges kagungan raos kendel dados seksi. Ing pambukaning wulan Kesaksian lan Pelayanan punika kita dipun engetaken, bilih kita pikantuk tugas dados seksinipun Gusti Yesus ing pundi kemawon papan dunung kita. Sang Roh Suci sampun dipun paringkanen dhateng sedaya tiyang pitados. Roh ingkang paring kawicaksanan dhateng kita kangge dados seksinipun Sang Kristus ingkang nandhang kasangsaran, seda lan wungu ing dinten ingkang kaping tiga, lan ngingingi pamratobat sarta pangapuntening dosa. Supados saged dados seksi, kita kedah wanuh dhateng Panjenenganipun kanthi saestu. Wanuh kaliyan Gusti Yesus mboten namung fasih anggenipun maos Kitab Suci, ngrembag bab pangandikanipun Gusti ing PA (Pemahaman Alkitab), nanging langkung saking punika. Inggih punika saged dipun lampahi ing pigesangan sadinten-dinten. Tiyang ingkang dereng tepang kaliyan Gusti, langkung saged tepang kaliyan Gusti Yesus lumantar tindak-tanduk ingkang kita lampahi ing pigesangan sadinten-dinten, inggih punika nuladhani punapa ingkang dipun tindakaken Gusti Yesus. Punapa kita sampun mandiri? Sugeng dados saksi. Amin. [SWT]

 

Pamuji: KPK 282

 

Bagikan Entri Ini: