Menjadi Saksi dan Pelayan yang Penuh Sukacita Khotbah Kenaikan Yesus Kristus 21 Mei 2020

Kenaikan Yesus Kristus – Pembukaan Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Putih

Bacaan 1         : Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11
Bacaan 2         :
Efesus 1 : 15 – 23
Bacaan 3         :
Lukas 24 : 44 – 53

Tema Liturgis  : Roh Kudus Menjadikan Kita Saksi dan Pelayan Kristus
Tema Khotbah:
Menjadi Saksi dan Pelayan yang Penuh Sukacita

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11

Kesaksian Lukas dalam teks hari ini merupakan semangat dan harapan yang disampaikan Lukas kepada para pengikut Tuhan Yesus, yang pada saat itu tentu mengalami diskriminasi dan pembatasan dari kalangan Yahudi. Mulai disadarinya perbedaan Yudaisme – penghayatan iman Yahudi dan pengikut Kristus, maka para pengikut Yesus tidak beribadah lagi di Sinagoge tapi beribadah di rumah-rumah atau sering disebut Jemaat Perdana. Ungkapan ayat 8 memang sering menjadi titik tolak terhadap penugasan sebagai saksi Allah, pertanyaannya siapa yang diutus? Pada ayat 1, ungkapan “Hai Teofilus,….” Siapa Teofilus? Teofilus adalah nama seseorang/gelar kehormatan. Kebanyakan ahli sepakat bahwa Teofilus (Yunani), berarti sahabat Allah, dicintai oleh Allah atau mencintai Allah. Jadi, mandat sebagai saksi Yesus ditujukan kepada semua orang yang merasa dirinya menjadi sahabat Allah, dicintai oleh Allah dan mencintai Allah.

Efesus 1 : 15 – 23

Pada bagian pembuka surat Paulus selalu diawali dengan salam yang di dalamnya terdapat doa dan harapan Rasul Paulus. Surat ini ditulis Paulus untuk Komunitas Kristen dengan tujuan memberi penekanan bahwa mereka adalah “Gereja”- persekutuan orang-orang percaya, yang dipanggil keluar untuk bersaksi dan melayani. Oleh karena itu, untuk bisa melakukan hal tersebut diperlukan kesatuan orang percaya yang telah mendapat anugrah dan pengorbanan Sang Kristus. Pertanyaan mendasar, bagaimana kita sebagai “Gereja” hidup ? Dalam teks hari ini, Paulus yang telah mendengar kesaksian iman jemaat tentang Tuhan Yesus dan kasih Jemaat kepada semua orang, membuat Paulus selalu bersyukur dan berdoa untuk Jemaat supaya mengenal Allah dengan benar (ay. 15-17). Ungkapan syukur Paulus ini merupakan wujud dari sukacita atas sikap hidup komunitas iman yang seturut dengan kehendak Allah.

Lukas 24 : 44 – 53

Kesaksian Lukas pada bagian akhir mengkisahkan Yesus menampakkan diri kepada para murid dan naik ke sorga. Dalam teks dijelaskan setelah pikiran para murid dibuka mengerti tentang Kitab Suci, maka para murid mengerti akan tugasnya seperti di ayat 47, yaitu berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan. Tanggung jawab besar yang diemban para murid itu mendapat pertolongan dari Tuhan Yesus dengan berkatNya (ayat 50). Berkat (Ibr) Berakha merupakan salah satu di antara kata-kata pujian bagi Allah atau kata-kata yang digunakan untuk membuat seseorang atau sesuatu menjadi kudus. Dampak dari berkat itu membuat para murid yang diutus itu mengalami sukacita (ayat 52). Kesukacitaan yang dirasakan para murid itulah menjadi modal dalam mewujudkan kesaksian iman tentang karya Tuhan Yesus.

Benang Merah Tiga Bacaan:

Panggilan menjadi saksi Tuhan Yesus bukan hanya kepada para murid, tapi kepada semua orang sebagai sahabat Allah yang mencintai dan dicintai oleh Allah. “Gereja” sebagai komunitas Iman juga dipanggil untuk mewujudkan kesaksian imannya dengan sukacita, bukan dengan kekerasan yang menakutkan atau bahkan dengan keluh kesah. Sukacita itu wujud dari berkat yang telah dicurahkan Allah.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan

Bapak, ibu, dan saudara/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus,

Paduan suara seringkali dipahami kaku dan terpancang dengan partitur lagu yang detail. Sehingga, konotasi paduan suara merupakan hal yang susah untuk dilakukan, tidak menyenangkan atau membosankan dan terkesan kaku. Hal itu berbeda dengan yang ada di Film Sister Act (1990-an), dalam salah satu adegannya, paduan suara yang terdiri dari para suster Katolik yang menyanyi Paduan Suara bisa berubah dengan konsep yang cair dan menyenangkan. Dampaknya, gereja yang jarang peminat khususnya bagi para pemuda/i akhirnya menarik meeka untuk datang. Hal ini menjadikan komunitas mereka solid, hidup dan tidak membosankan. Sudut pandang dan pemaknaan yang berbeda inilah yang menggelitik untuk kita analogikan dalam hidup kesaksian iman kita. Bagaimanakah wujudnya?

Isi

Kesaksian iman dalam hidup kekristenan dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu kesaksian yang bersifat ke luar dan ke dalam. Kesaksian bersifat keluar, seringkali dimaknai dengan pola Kristenisasi atau menjadikan orang yang belum percaya supaya menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Latar belakang pemikirannya, karena orang diluar Kristen adalah berdosa dan patut diselamatkan. Hal ini, berbeda dengan kesaksian bersifat ke dalam yaitu hidup kesaksian iman berangkat dari pola hidup pribadi dan komunitas iman, yang mempunyai dampak bagi kehidupan di sekitar. Sehingga, kesaksian imannya tidak pada mempertobatkan orang lain, tetapi teladan sikap hidup yang sesuai dengan nilai-nilai Kasih Allah yang membuat orang lain tertarik untuk mengenal iman Kristen. Kedua pendekatan tersebut tentu sangat berbeda, jika dikaitkan dengan pertimbangan sosiologis dan nilai keharmonisan sosial. Sebagai “gereja” kita semua dipanggil untuk menjadi bagian dalam karya Allah menghadirkan nilai-nilai kebenaran. Kita dipanggil karena menjadi sahabat Allah, yang mencintai dan dicintai Allah. Kita telah merasakan bahwa Allah, benar-benar mencintai kita melalui pengorbanan kasihNya dan panggilan bersaksi merupakan wujud kita mencintai Allah dalam kehidupan.

Bentuk kesaksian iman tentulah mempunyai bentuk dan corak yang beragam sesuai dengan konteks dimana gereja itu berada dan tumbuh. Dalam kesaksian Lukas dalam Kisah Para Rasul 1:8, dinyatakan bahwa setelah kita menerima Roh Kudus hendaknya kita menjadi saksi Tuhan Yesus di Yerusalem dan seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Artinya, hendaknya kita menjadi saksi Yesus melalui lingkungan kita yang paling dekat dan semakin berdampak ke tempat lain, sampai kepada yang lebih luas. Tidak disebutkan bentuk dan cara bersaksinya, tetapi jika atas pimpinan Roh Kudus tentu bentuk dan cara bersaksi yang dikehendaki oleh Allah adalah yang mendatangkan damai sejahtera dan sukacita bagi semua orang. Contoh : Menjadi Panitia di Gereja bukan beban tapi menyenangkan, menjadi pamong sekolah minggu atau komisi/Pokja menjadi hal yang mensukacitakan, ikut kerja bakti di lingkungan tempat tinggal, ikut kenduri dan musyawarah lingkungan menjadi hal yang menyenangkan, dls.

Kesaksian iman jemaat di Efesus juga membuat sukacita bagi Paulus (Efesus 1:15-16), karena iman jemaat di Efesus yang baik sehingga menjadi kesaksian yang baik pula bagi kehidupan orang Kristen. Pengucapan syukur dan sukacita Paulus berangkat dari kehidupan yang nyata dalam menyaksikan kehidupan orang Kristen ditengah kehidupan yang berdampingan dengan sesama yang lain.

Sukacita dalam bersaksi adalah bagian dari wujud gereja yang cair. Menurut Pdt. Handi Hadiwitanto (Dosen UKDW-Yogyakarta), Menggereja yang cair (liquid church) adalah gereja yang bersedia menghadapi perbedaan dan tantangan dengan cinta dan kegembiraan. Artinya, gereja sebagai persekutuan orang percaya selalu berdialog dengan perubahan dan tantangan zaman yang ada sehingga gereja mampu bersaksi dengan penuh sukacita dan gembira. Dalam teks Injil Lukas 24: 52, Kata “Bersukacita” (Yun.khara), artinya bergembira, bersukaria, berteriak karena sukacita, melompat karena sukacita. Setelah kenaikan Tuhan Yesus ke Surga dan para murid menerima berkat, maka mereka sangat bersukacita. Artinya ada ungkapan yang meluap-luap untuk disaksikan.

Bulan kesaksian dan pelayanan tahun 2020 ini merupakan momentum yang mengingatkan kembali akan panggilan gereja-persekutuan orang percaya untuk tetap memiliki semangat dalam melayani dan bersaksi dengan sukacita. MengGereja yang cair sebagai wujud kesaksian iman dalam menanggapi tantangan jaman yang semakin mengglobal mengingatkan kita untuk mentransformasi diri dalam bersaksi, antara lain : (Pdt. Handi Hadiwitanto, Dosen UKDW-Yogyakarta):

  1. Konsepsi identitas dari Akademik-Formal, menjadi Keluarga
  2. Kepemimpinan di dalam gereja dari yang bersifat lembaga-lembaga tinggi, menjadi manusia di lapangan
  3. Iklim di dalam bergereja dari yang bersifat formal anonim, menjadi bersifat intim
  4. Pemimpin – struktur dalam gereja dari yang bersifat ditahbis-hierarki-sentralistis, menjadi berpusat pada warga gereja atau desentralisasi
  5. Visi ibadah dan menggereja dari yang hadir dibuat tertarik, menjadi spiritualitas digerakkan.

Semua itu berangkat dari perubahan jaman/konteks global yang di dukung oleh kemajuan pengetahuan, budaya, dan teknologi. Maka, gereja hendaknya mampu bersaksi dan melayani.

Penutup

Kenaikan Tuhan Yesus mengingatkan kita kembali tentang panggilan kita sebagai pengikut Tuhan Yesus untuk bersaksi dan melayani. Melayani dan bersaksi seperti apa? Tentu melayani dan bersaksi dengan sukacita dan gembira seperti para murid. Sebagai wujud menggereja yang cair mari kita membuka diri untuk mengalami transformasi pelayanan dan menjawab kebutuhan jaman. Mari bersaksi dan melayani dengan sukacita dan gembira. Tuhan Yesus memberkati. (KIK).

Pujian :

  • KJ. 432      “Jika Padaku Ditanyakan”
  • NKB. 132  “Bersukacitalah, Yang Khalis Hatinya”
  • PKJ. 216   “Berlimpah Sukacita di Hatiku”

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Bapak, Ibu, lan sederek ingkang kinasih wonten ing ngarsanipun Gusti Yesus,

Bilih Paduan suara punika asring dipun mangertosi kaku lan terpancang kaliyan partitur lagu ingkang tata sanget. Kados punika, ndadosaken kesan bilih Paduan Suara punika bab ingkang ewet dipun tindakaken, mboten mbingahaken utawi mbosenaken, lan terkesan kaku. Cariyos punika benten kaliyan ingkang wonten ing Film Sister Act (1990-an), wonten ing salah satunggal adeganipun, Paduan Suara ingkang saking para Suster Katolik ingkang nyanyi punika saged gantos kanthi konsep ingkang cair lan mbingahaken. Dampakipun, greja ingkang suwaunipun jarang peminatipun mliginipun para piyantun ingkang timur, lajeng tertarik tindak dateng greja. Saking punika, dadosaken komunitas iman punika kompak, gesang, lan mboten mbosenaken. Sudut pandang lan pemaknaan ingkang benten punika ingkang dadosaken menarik kangge kita trepaken wonten ing gesang kesaksian iman kita. Kadospundi wujudipun?

Isi

Kesaksian iman wonten ing gesang Kristen saged dipun bagi dados kalih, inggih punika paseksi ingkang sifatipun dateng njawi lan dateng lebet. Paseksi ingkang bersifat dateng njawi, asring dipun maknai kanthi Pola Kristenisasi utawi dadosaken tiyang ingkang dereng pitados supados saged pitados dumateng Gusti Yesus. Latar belakang pamikiranipun, amargi tiyang sanes ingkang mboten Kristen punika tiyang ingkang kebak dosa lan kedah dipun selametaken. Punika benten, kaliyan paseksi ingkang dateng lebet inggih punika gesang kanthi paseksi iman ingkang dipun wiwiti saking pola gesang pribadi lan komunitas iman, ingkang saged ngadahi dampak kangge gesang ing sekitar. Saking punika, paseksi imanipun mboten mratobataken tiyang sanes, nanging paring tuladha sikap gesang ingkang saturut kaliyan sih katresnanipun Gusti Allah lan supados tiyang sanes saged tertarik, tepang lan mangertos iman Kristen. Kekalihipun pendekatan punika nggadah perbedaan, bilih sesambetan kaliyan pertimbangan sosiologis lan nilai keharmonisan sosial. Kita ingkang kasebat “gereja” punika sampun dipun timbali supados saged wujudaken pakaryanipun Gusti Allah kanthi nilai-nilai kaleresan. Kita dipun timbali dados para sekabatipun Gusti Allah ingkang nresnani lan dipun tresnani Gusti Allah. Kita sampun nampi lan ngraosaken sih katresnanipun Gusti Allah dumateng kita kanthi pangurbananipun lan timbalan paring paseksi punika wujud kita tresna lan nresnani Gusti Allah wonten ing gesang.

Wujud paseksi iman temtu nggadah corak lan bentuk ingkang maneka warni sesuai kaliyan konteks wonten ing pundi gereja punika wonten lan tuwuh. Wonten paseksinipun Lukas ing Kisah Para Rasul 1:8, dipun serat bilih kita ingkang sampun nampi Roh Suci kapure kita saged ta dados seksinipun Gusti Yesus wonten ing Yerusalem lan Yudea, lan Samaria, lan ngantos ing ndonya. Artosipun, supados kita saged dados seksinipun Gusti Yesus wiwit lingkungan kita ingkang paling celak lan ugi berdampak dumateng papan sanesipun, ngantos dumateng papan ingkang langkung ageng. Mboten kasebat kadospundi wujud lan caranipun bersaksi punika, nanging bilih wonten ing pimpinanipun Roh Suci temtu cara ingkang dipun kersaaken Gusti Allah punika kebak kaliyan katresnan dumateng sedaya tiyang. Conto : Dados Panitia wonten ing gereja mboten dados beban tapi mbingahaken, dados pamong sekolah minggu utawi komisi/pokja dados bab ingkang mbingahaen, nderek kerja bakti ing lingkungan, nderek kenduri lan ugi nderek musyawarah lingkungan dados bab ingkang mbingahaken,lsp.

Paseksi iman pasamuwan wonten ing Efesus ugi mbingahaken Rasul Paulus (Efesus 1:15-16). Amargi Iman pasamuwan ing Efesus sae sanget lajeng saged dados paseksi ingkang nyata wonten ing gesang tiyang Kristen. Raos syukur lan bingah ingkang dipun raosaken Paulus punika kawujud saking gesang nyata tiyang Kristen ingkang gesang berdampingan kaliyan tiyang sanes.

Kabingahan wujudaken paseksi punika wujud saking greja ingkang cair. Miturut Pdt. Handi Hadiwitanto (Dosen UKDW-Yogyakarta), menggereja ingkang cair (liquid church) inggih punika gereja ingkang saget nampi perbedaan lan tantangan kanthi kebak sih katresnan lan kabingahan. Artosipun, “gereja” punika patunggilan tiyang pitados ingkang kedah kersa berdialog kaliyan perubahan lan tantangan zaman supados saged paring paseksi kanthi kebak kabingahan lan raos syukur. Wonten ing teks Inil Lukas 24:52, seratan “Bingah” (Yun.Khara), artosipun bingah, syukur, mungel karana bingah, njingkat amargi bingah. Sakcekapipun mekratipun Gsti Yesus dateng Swarga lan para sekabat nampi berkat, lajeng sedaya ngraosaken kabingahan. Artosipun wonten raos ingkang meluap-luap kangge dipun wartosaken.

Wonten ing wulan Kesaksian lan Pelayanan tahun 2020 punika dados momentum kangge ngengetaken kita sedaya bab timbalanipun Gusti dados “Gereja”- nggih punika timbalanipun tiyang pitados supados tetep nggadhah semangat wonten ing peladosan lan paseksi kanthi kebak kabingahan. Menggereja ingkang cair punika wujudipun paseksi iman ingkang nrespon tantangan jaman ingkang tansah mengglobal, tansah ngengetaken kita supados saged mentransformasi diri wonten ing lampah, nggih punika : (Pdt. Handi Hadiwitanto, Dosen UKDW-Yogyakarta):

  1. Konsepsi identitas saking Akademik-Formal dados bebrayatan
  2. Kepemimpinan di dalam gereja dari yang bersifat lembaga-lembaga tinggi, menjadi manusia di lapangan
  3. Iklim di dalam bergereja dari yang bersifat formal anonim, menjadi bersifat intim
  4. Pemimpin – struktur dalam gereja dari yang bersifat ditahbis-hierarki-sentralistis, menjadi berpusat pada warga gereja atau desentralisasi
  5. Visi ibadah dan menggereja dari yang hadir dibuat tertarik, menjadi spiritualitas digerakkan.

Sedaya punika adedasar saking perubahan jaman lan konteks global ing ndonya lan ugi dipun dukung saking pengetahuan, budaya lan teknologi. Saking punika, supados gereja tansah saget lelados lan paring paseksi ingkang nyata.

Panutup

Mekratipun Gusti Yesus punika ngengetaken kita malih bab timbalan kita ingkang sampun nderek Gusti Yesus supados tansah lelados lan paring paseksi ingkang nyata. Lelados lan paring paseksi ingkang kados punapa? Tamtu lelados lan paring paseksi ingkang kebak bingah kados para sekabat. Wujuding menggereja ingkang cair punika sumangga kita sami mbikak diri kita lan kersa ngalami transformasi wonten ing peladosan lan njawab kabetahanipun jaman. Sumangga lelados lan paring paseksi kanthi kebak kabingahan lan syukur. Gusti Yesus mberkahi.  (KIK).

Pamuji :

  • KPK. 129    “Tansah Bingah”
  • KPJ.  428   “Bingaha, Sisaha, Gusti Kula Puji
 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •