Melestarikan Damai Sejahtera Allah secara Bebas Khotbah Ibadah HUT Kemerdekaan RI ke-77 (17 Agustus 2022)

Bacaan 1: Yeremia 25 : 30 – 38
Bacaan 2: Lukas 19 : 45 – 48

Tema Liturgis: Iman menjadi Dasar Tanggung Jawab Umat dalam Pembangunan Gereja
Tema Khotbah: Melestarikan Damai Sejahtera Allah secara Bebas

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 25 : 30 – 38
Secara umum, Kitab Yeremia berisi nubuat tentang penghakiman bagi bangsa Israel (Yehuda dan Yerusalem) oleh karena kesukaannya terhadap penyembahan berhala dan perbuatan-perbuatan fasik lainnya. Bahkan, nubuat itu sudah terjadi saat Nabi Yeremia masih hidup, yakni runtuhnya Bait Suci dan pembuangan ke Babel. Secara khusus, perikop hari ini berisi penegasan terhadap penghakiman TUHAN kepada semua bangsa, bukan hanya Israel. Kegemaran para pemimpin bangsa untuk berkuasa dan ”disembah” akan mendatangkan malapetaka yang menjalar dari satu bangsa ke bangsa lain. Perebutan kekuasaan di antara para raja membawa bangsa-bangsa pada kekacauan, bukan perdamaian. Demikian pula kecongkakan raja-raja yang berkeinginan untuk diagungkan, mengarahkan umat seluruh bangsa bukan menyembah TUHAN, melainkan menyembah rajanya sebagai ”ilah”. Malapetaka berupa kehancuran bangsa-bangsa bertujuan untuk mengingatkan para raja dan umat bahwa semestinya TUHAN semesta alamlah yang layak diagungkan dan disembah sebagai Allah, bukan pemimpin bangsa. Karena, pengagungan dan penyembahan terhadap raja akan membawa kehidupan umat pada kejahatan yang merusak.

Lukas 19 : 45 – 48
Ritual ibadah di Bait Suci membutuhkan berbagai sarana yang mendukung agar ibadah umat diterima oleh Allah. Di antara banyak sarana itu ialah hewan-hewan untuk dikorbankan serta uang jenis tertentu untuk dipersembahkan. Monopoli perdagangan hewan dan penukaran uang dilakukan oleh para pemuka Bait Suci. Kegiatan ini menyusahkan umat awam dan menguntungkan para pemuka Bait Suci. Umat yang berkeinginan kuat agar ritus ibadahnya berkenan bagi Allah harus diperhadapkan pada ”permainan harga” yang dikendalikan oleh pemuka Bait Suci untuk pembelian hewan korban dan penukaran uang. Nilainya berlipat ganda yang harus dibayar oleh umat. Tindakan para pemuka Bait Suci ini merampas dan merampok dengan bertopengkan ritus agamis. Oleh karenanya, Yesus menyebut dengan istilah sarang penyamun. Ritus ibadah di Bait Suci harus bebas dari kegiatan penyamunan. Ritus Ibadah adalah kebebasan umat untuk menjadi intim bersama Allah.

Benang Merah Dua Bacaan
Penyembahan terhadap Tuhan Allah adalah kebebasan tiap umat. Buah dari kebebasan itu adalah kedamaian dan kesejahteraan bersama, bukan keuntungan beberapa pihak yang mendapatkan citra nama baik atau kekayaan hartawi.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
MERDEKA…!!! MERDEKA…!!! MERDEKA…!!!

Di balik tengkingan dan teriakan ini terkandung tekad yang kuat untuk hidup layak, yakni merasakan kedamaian dan kesejahteraan. Hidup di bawah penjajahan dan perbudakan selama puluhan bahkan ratusan tahun adalah siksa. Kebebasan untuk mengembangkan kekayaan sumber daya manusia dan sumber daya alam milik sendiri praktis tertutup. Hak atas kebebasan dirampas, sehingga hak untuk menikmati damai sejahtera pun musnah. Demikianlah kiranya apa yang dialami oleh para pendahulu kita pada masa itu. Sampai akhirnya pintu tekad untuk merasakan kebebasan itu terbuka saat 77 tahun lalu kemerdekaan negara Republik Indonesia diproklamirkan.

Isi
Menapaki 77 tahun era kebebasan berbangsa dan bernegara, rasanya tekad bersama seluruh lapisan masyarakat untuk hidup damai sejahtera belum sepenuhnya digapai. Masih banyak oknum pemangku dan pelaku kebijakan dalam tatanan hidup bernegara yang berkepentingan mencari keuntungan pribadi, entah itu berupa citra nama baik atau pun kekayaan hartawi. Sehingga, kebijakan yang dibuat seringkali terasa senjang dengan pergumulan akan kesejahteraan rakyat. Kebebasan bernegara sebagai organisasi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan organisme yang memimpikan kedamaian dan kesejahteraan merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Ditambah lagi banyak oknum masyarakat awam yang semakin abai pada tekad kedamaian dan kesejahteraan bersama. Kepentingan atas kemakmuran pribadi makin menjamur. Nilai-nilai budaya arif seperti gotong-royong, musyawarah-mufakat, rukun-harmonis, dan sebagainya, kian memudar. Kebebasan individu untuk mewujudkan nilai-nilai luhur tersebut terhalang oleh perhitungan kemungkinan untung-rugi yang akan didapatkan bagi diri sendiri.

Sejatinya, iman Kristen berpadanan dengan tekad bersama atas kemerdekaan bangsa ini. Kedua bacaan yang mendasari perenungan saat ini menunjukkan bahwa makna terdalam dari kebebasan (kemerdekaan) adalah damai sejahtera. Umat TUHAN pada zaman nabi Yeremia semestinya bebas untuk menyembah Allah mereka. Namun, para raja yang congkak justru menghantarkan umat pada pengagungan pribadi raja, bukan mengagungkan TUHAN semesta alam. Ketika raja diagungkan melebihi TUHAN Allah, maka jalannya pemerintahan tidak sepenuhnya mengarah pada kemakmuran umat atau rakyat karena rentan terbatas oleh kepentingan sang raja. Keterbatasan ini menjadikan damai sejahtera sebagai anugerah Allah yang semestinya secara bebas dihayati, terhambat. Kehidupan umat pun menjadi kacau karena harus tunduk pada kekuasaan yang lalim. Nilai-nilai luhur kemanusiaan lambat laun memudar dan rusak.

Dan rupanya, tradisi para pemimpin dan pemuka umat yang semacam itu belum hilang ketika zaman Yesus berpelayanan. Para pemuka Bait Suci yang semestinya menjamin serta menjembatani kebebasan umat untuk menyembah Allah, malah merampas hak mereka. Permainan harga dalam perdagangan hewan korban dan pertukaran uang di Bait Suci tentu bukan hanya mencoreng kekudusan Bait Suci sebagai simbol kehadiran Allah atau pun merusak kekudusan peribadatan itu sendiri. Namun lebih dari itu, bahwa nilai luhur kemanusiaan dalam wujud kesejahteraan dan kedamaian umat terhambat. Anugerah damai sejahtera Allah yang semestinya dialami oleh umat secara bebas, malah dirampas oleh oknum pejabat Bait Suci.

Penghayatan atas anugerah kemerdekaan bangsa saat ini, mari kita selaraskan dengan penghayatan atas kebebasan untuk menikmati anugerah Allah berupa damai sejahtera. Setiap kita yang menerimanya, berkebebasan pula untuk menularkannya tanpa harus terhalang oleh perhitungan untung-rugi apa yang akan kita dapatkan. Lingkungan tempat kita menjalani hidup keseharian, semestinya terimbas damai sejahtera yang telah kita terima secara bebas dari Allah. Ini adalah panggilan agar kita menjadi saluran anugerah-Nya. Masing-masing kita memiliki tanggungjawab yang sama atas terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan bersama. Tanggungjawab itu semestinya kita nyatakan melalui peranan yang kita mainkan di tengah lingkungan kita berada. Entah itu di lingkungan keluarga, berjemaat, bermasyarakat, atau pun di tengah lingkungan kerja. Apa pun perannya, tanggungjawabnya sama, yakni secara bebas menyatakan damai sejahtera agar meluas.

Penutup
Cita-cita luhur akan damai sejahtera melalui kemerdekaan negara, tidak dapat kita tumpukan sepihak hanya kepada para pemangku kebijakan dalam tatanan organisasi bernegara. Kita pun sebagai organisme yang hidup menjadi bagian dari kemerdekaan bangsa ini, haruslah memiliki tekad yang kuat untuk berbagi damai sejahtera. Kemerdekaan sebagai buah perjuangan bangsa sekaligus anugerah Allah, harus kita lestarikan dengan kemauan serta kemampuan untuk menjadi lantaran meluasnya damai sejahtera-Nya, bukan malah menjadi penghambat terhadapnya. Untuk itu, mari kita membuka hati dan menyediakan diri untuk dipakai oleh-Nya. Kiranya Tuhan memampukan kita dengan hikmat-Nya. Amin. [dix].

 

Pujian: KJ. 338 : 1, 2 S’lamat di Tangan Yesus


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
MERDEKA…!!! MERDEKA…!!! MERDEKA…!!!

Nalika pitembungan punika kaulukaken kalawan seru lan sora, tamtunipun inggih adhedhasar tekad ingkang ageng supados rakyat saged ngraosaken katentreman lan karahayon. Nglampahi pigesangan ing salebeting penjajahan saha pangawulan puluhan kepara atusan taun laminipun, tamtu prekawis ingkang nyiksa sanget. Sakathahing sumber daya manusia lan sumber daya alam ingkang dados peparingipun Gusti karampas dening bangsa manca, satemah boten ndayani tumrap rentahing tentrem rahayu ingkang samesthinipun karaosaken dening bangsa punika. Kamardikan ingkang karampas ndadosaken nugrahaning Gusti Allah kandheg, boten sumrambah dhumateng rakyat Indonesia. Makaten ingkang karaosaken dening para leluhur kita ing wekdal semanten nalika bangsa punika dereng mardika. Wondene, proklamasi kemerdekaan ingkang kalairaken 77 taun kepengker, estu dados wenganing kori tumrap tekad lan pangajeng-ajeng supados katentreman saha karahayon saged karaosaken kalawan bebas lan mardika.

Isi
Samangke, kita lumebet ing taun ingkang kaping 77 anggenipun bangsa punika pinaringan nugraha supados saged mranata lampahing gesang bangsa lan nagari kanthi mandiri. Ananging, kados-kados katentreman saha karahayon ingkang ndhasari tekad kamardikaning bangsa punika dereng saged kagayuh. Taksih kathah para pamangku paprentahan nagari ingkang nggadhahi kepentingan ngupaya untunging dhiri pribadi awujud pencitraan nama baik wah malih kasugihan bandha-donya. Satemah, tatanan nagari awujud putusan-putusan saking para pejabat punika asring boten condhong kaliyan pangajeng-ajeng supados tentrem rahayu saged karaosaken sumrambah dhateng sedaya masyarakat. Makaten ugi, taksih kathah masyarakat awam ingkang lirwa dhateng tekad luhur kamardikaning bangsa punika. Pepinginan anggen ngupaya makmuring dhiri pribadi ndadosaken tetiyang lajeng boten preduli malih dhateng katentreman saha karahayon ingkang samesthinipun nyumrambah. Budaya luhur, kados ta gotong-royong, musyawarah-mufakat, laras-rukun, lan sapiturutipun, sansaya dangu sansaya awis. Itung-itungan untung-rugi dening pribadi mbaka pribadi saestu dados pepalang anggenipun budaya luhur punika kedah dipun lestantunaken.

Sejatosipun, timbalan iman Kristen laras kaliyan tekad tumrap kamardikaning bangsa punika. Kekalih waosan ingkang ndhasari gegilutan wanci punika nedahaken bilih wosing suraos kamardikan utawi kebebasan inggih punika tentrem rahayu. Para umat kagunganipun Gusti ing jaman nabi Yeremia samesthinipun inggih kalawan mardika anggen manembah dhateng Gusti Allah. Ananging, para ratu ingkang mangarsani gesangipun umat malah nganggep bilih pribadinipun pantes kaagungaken. Satemah, para ratu saking bangsa-bangsa punika sinubya-subya dening umat lan kamulyakaken anglangkungi kaluhuraning Gusti Allah ingkang maha mulya. Kasunyatan punika tamtu ndadosaken pamrentahan boten saged ngener dhateng tentrem rahayu ingkang kedahipun lestari saha kanthi bebas karaosaken dening sagung umat. Nugrahaning Pangeran Allah awujud tentrem rahayu kandheg dening para ratu ingkang asipat adigang, adigung, adiguna. Pigesanganipun para umat lajeng korat-karit, awit kedah manut dhateng pamrentahan ingkang awon.

Kasunyatan ingkang kalampahan ing jamanipun nabi Yeremia rupinipun taksih dipun warisi ngantos ing jaman nalika Gusti Yesus nindakaken pakaryanipun. Prakawis punika tetela saking waosan Injil kalawau. Para pangarsaning Padaleman Suci samesthinipun paring jaminan supados para umat saged nindakaken pangibadahipun kalawan bebas-mardika. Ananging, malah nerapaken panindhes. Kewan kurban kasade kanthi regi ingkang awis. Makaten ugi anggenipun badhe misungsung, para umat kedah nglintuaken arta kanthi regi ingkang makaping-kaping awisipun. Tumindakipun para pangarsa punika boten namung ngrisak kasucening Padaleman Suci lan kasucening pangibadah. Ananging, ugi damel jejember tumrap sucining tentrem rahayu. Nugrahaning Gusti ingkang samesthinipun karasoaken kanthi bebas-mardika dening umat, karampas dening para pangarsaning Padaleman Suci.

Reraosan bab nugrahaning Gusti ingkang paring kamardikan dhateng bangsa kita, sumangga ugi kita larasaken kaliyan reraosan bab kamardikaning gesang anggen nampi saha ngraos-raosaken nugrahaning Gusti awujud tentrem rahayu. Sok sintena kita ingkang nampeni, nggadhahi wenang kangge nggethok-tularaken katentreman punika tanpa katedheng-alingan dening itung-itungan untung-rugi punapa ingkang badhe katampi dening dhiri kita pribadi. Papan-lingkungan anggen kita nglampahi gesang padintenan kedahipun saged tinular dening tentrem rahayu ingkang sampun kita tampeni saking Gusti kanthi bebas lan mardika. Punika timbalan, supados kita dados talang nugrahaning Gusti. Timbalan adi punika kedah saged kita tindakaken lumantar jejibahan ingkang kita ampu ing pundia kita saweg manggen. Saged ing satengahing keluarga, pasamuwan, sesrawungan ing masyarakat, makaten ugi ing lingkungan kerja. Sok sintena kita nggadhahi tanggel jawab ingkang sami sinaosa pandamelan saha peran kita beda-beda satunggal lan sanesipun. Punapa kemawon peran lan pandamelanipun, tanggel jawabipun sami, inggih kanthi mardika nggethok-tularaken tentrem rahayu supados tansah lestantun.

Panutup
Luhur citaning kamardikan bangsa bab katentreman lan karahayon, boten saged kita gantungaken sasisih mawon dhateng para pamangku pranataning paprentahan nagari. Kita minangka perangan gesang kamardikaning bangsa punika kedah nggadhahi tekad ingkang bakuh ugi anggen andum tentrem rahayu. Kamardikan minangka wohing perjuangan lan ugi nugrahaning Gusti kedah kita lestantunaken srana kasanggeman mbabar tentrem rahayu sumrambah ing tiyang kathah. Pramila, sumangga kita sumaos, temah sawetahing gesang kaagem dening Gusti. Mugi Gusti maringi kita kawicaksanan. Amin. [dix].

 

Pamuji: KPJ. 362 Ing Satengahing Bebrayan Agung

 

Bagikan Entri Ini: