Ibadah Sejati Khotbah Minggu 21 Agustus 2022

Minggu Biasa | Pembangunan GKJW
Stola HIjau

 

Bacaan 1: Yesaya 58 : 9b – 14
Bacaan 2: Ibrani 12 : 18 – 29
Bacaan 3: Lukas 13 : 10 – 17

Tema Liturgis: Iman menjadi Dasar Tanggung Jawab Umat dalam Pembangunan Gereja
Tema Khotbah:
Ibadah Sejati

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 58 : 9b – 14
Yesaya hidup pada zaman yang penting dalam sejarah bangsa Israel, pada paruh kedua abad ke-8 SM. Kitab Yesaya ada dalam periode penting bangsa Israel, dimana mereka mengalami pembuangan di Babel, hingga mereka kembali ke Yerusalem. Yesaya 56-66 digolongkan dalam Trito Yesaya. Trito Yesaya sebagian besar ditujukan kepada bangsa yang sudah kembali ke Yerusalem. Fokus pesan dalam Trito Yesaya adalah tentang cara hidup yang benar dan dalam keadilan. Umat Israel diingatkan tentang pentingnya menjaga hari Sabat, mempersembahkan kurban, serta membangun doa.

Dalam Yesaya 58:9b-14, umat Israel diingatkan tentang pentingnya hidup dalam keadilan. Umat dilarang untuk mengenakan kuk kepada sesama, menindas dan berlaku curang kepada sesama. Umat diingatkan tentang panggilan untuk menyelamatkan dan membebaskan mereka yang tertindas, hidup berbagi kepada sesama bahkan terhadap apa yang kita sukai dan ingini (Ay. 10). Ada janji Tuhan mengenai berkat dan pertolongan kepada mereka yang hidup dalam keadilan dan kebenaran. Dalam ayat 11 dikatakan, “Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu, engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” Janji Tuhan ini menjadi penting bagi bangsa Israel, karena sepulang mereka kembali ke Yerusalem, mereka harus membangun kehidupan mereka kembali, juga membangun reruntuhan tembok-tembok Yerusalem yang telah runtuh. Dalam upaya membangun tersebut, berkat dan penyertaan Tuhan membersamai mereka, jika mereka hidup dalam ketaatan dan keadilan.

Ibrani 12 : 18 – 29
Bagian pertama perikop ini menampilkan perbedaan antara pemberian Hukum di gunung Sinai dan perjanjian baru yang dibawa oleh Yesus. Ayat 18-21 menggunakan kisah tentang pemberian Hukum di atas gunung Sinai. Ulangan 4:11 melukiskan pemberian hukum yang pertama sebagai berikut: “Lalu kamu mendekat dan berdiri di kaki gunung itu, sedang gunung itu menyala sampai ke pusar langit dalam gelap gulita, awan dan kegelapan. Lalu berfirmanlah Tuhan kepadamu dari tengah-tengah api.” Kel. 19:12-13 menceritakan tentang gunung yang dasyat yang tidak dapat dihampiri. Ul. 5:23-27 menceritakan bahwa umat Israel sangat takut ketika mendengar suara Allah yang tertuju kepada mereka, sehingga mereka memohon kepada Musa untuk pergi menghadap dan membawa berita dari Allah bagi mereka. Ayat 18-21 merupakan penuturan kembali kisah pemberian Hukum di gunung Sinai, dengan suasana yang sangat menakutkan. Adapun pada ayat 22 digambarkan antitesa dari pemberian Hukum di Sinai. Di Bukit Sion, suasananya adalah sukacita surgawi. Terdapat beribu-ribu malaikat serta suatu kumpulan yang meriah.

Umat dipanggil untuk menerima Yesus yang telah hadir untuk menyatakan firman Allah. Sebab jika mereka menolak Yesus yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita berpaling dari Dia (Ay. 25). Penulis surat Ibrani mengingatkan tentang pentingnya membangun peribadatan dengan cara yang berkenan kepada Tuhan, yakni dengan hormat dan takut (Ay. 28). Setiap kita dipanggil untuk beribadah kepada Tuhan dengan ucapan syukur dan dengan cara hidup yang benar.

Lukas 13 : 10 – 17
Sebagaimana beberapa kali telah dilakukan oleh Yesus, kala itu Ia sedang mengajar di rumah ibadah/ sinagoge. Pada saat Ia sedang mengajar ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuki oleh roh jahat sehingga ia sakit sampai bungkuk dan tidak dapat berdiri dengan tegak. Melihat penderitaan yang dialami oleh perempuan itu, Yesus memanggilnya dan menyembuhkannya. Namun tindakan yang Yesus lakukan rupanya membuat kepala rumah ibadah menjadi gusar. Hal ini bisa dimengerti karena Yesus telah menyembuhkan pada hari Sabat. Sedangkan menyembuhkan termasuk dalam tindakan melakukan pekerjaan. Melakukan pekerjaan pada hari Sabat adalah pelanggaran terhadap hari Sabat. Kepala rumah ibadah berkata kepada orang-orang yang hadir di situ, meskipun yang ia maksudkan adalah berbicara kepada Yesus. Ia mengkritik apa yang dilakukan oleh Yesus dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hari Sabat. Namun Yesus menjawab keberatan kepala rumah ibadah itu dengan berangkat dari apa yang mereka lakukan. Para Rabi justru melepaskan binatang mereka pada hari Sabat. Dan tindakan itu dianggap sebagai tindakan yang legal, tidak melawan hukum apalagi melepaskan hewan peliharaan mereka untuk diberikan minum. Jika mereka melepaskan hewan mereka pada hari Sabat saja dianggap legal, mengapa tindakan yang Yesus lakukan dengan melepaskan perempuan itu dari ikatan roh jahat dianggap sebagai pelanggaran. Jawaban tersebut membuat para lawan-Nya menjadi malu dan semua orang bersukacita karena tindakan mulia yang dilakukan oleh Yesus (Ay. 17).

Tindakan ibadah yang hanya berpusat pada ritual dan regulasi-regulasi atau hukum-hukum dan dilakukan secara kaku ternyata adalah ibadah yang tidak berkenan kepada Tuhan. Para ahli Taurat dan orang Farisi seringkali melakukan ibadah mereka dengan memegang teguh hukum Taurat dan melakukannya secara kaku, sehingga sisi-sisi kemanusiaan kerap kali tidak dipertimbangkan. Yesus yang melepaskan penderitaan perempuan yang telah delapan belas tahun mengalami bungkuk adalah ibadah yang sejati, dengan melepaskan penderitaan dan kuk yang menekan perempuan tersebut selama delapan belas tahun lamanya.

Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan pada Minggu ini mengajak kita untuk belajar tentang ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati adalah hidup dalam keadilan, berbagi kepada sesama (Yes. 58:10), dengan sikap yang hormat dan takut akan Tuhan (Ibr. 12:28), membebaskan penderitaan dari orang-orang yang menderita (Luk. 13:15-16). Ibadah yang sejati tidak hanya terletak pada simbol-simbol dan ritual belaka, namun terwujud dalam tindakan nyata di tengah kehidupan. Mewartakan kasih Allah yang membebaskan dan hidup di dalam kebenaran.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Jemaat yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

Sebagian kita tentu pernah mendengar pujian dalam Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) 264 “Apalah Arti Ibadahmu”. Lagu ini diciptakan oleh Mercy Tampubolon pada tahun 1998. Lirik lagu PKJ 264 bait 1 dan 3 demikian:

Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
Bila tiada rela sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
Bila tiada hati tulus dan syukur?

Ibadah sejati, jadikanlah persembahan
Ibadah sejati kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
Jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.
 

Berbahagia orang yang hidup beribadah,
Yang melayani orang susah dan lemah
Dan penuh kasih menolong orang yang terbeban
Itulah tanggungjawab orang beriman

Ibadah sejati, jadikanlah persembahan
Ibadah sejati kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
Jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.
 

Lirik lagu ini mengajak setiap kita untuk mewujudnyatakan peribadatan kita kepada Tuhan melalui tindakan nyata, yakni melayani orang yang susah dan lemah, melakukan tindakan kasih kepada orang yang terbeban. Demikian pula peribadatan haruslah dilakukan dengan hati yang tulus serta syukur.

Seringkali peribadatan yang kita lakukan dihadapan Tuhan terbatas pada tindakan ritual dan dalam simbol-simbol. Bukan berarti bahwa peribadatan yang bersifat ritual dan simbolik tidak perlu dan tidak penting dilakukan. Namun masalahnya kalau peribadatan kita kepada Tuhan hanya berhenti pada ritualitas saja. Bacaan Alkitab hari ini mengajak kita untuk mewujudnyatakan peribadatan kita kepada Tuhan melalui tindakan nyata kepada sesama.

Isi
Bacaan pertama pada Minggu ini sebagaimana telah kita baca dalam Yesaya 58:9b-14 mengajarkan kepada kita tentang pentingnya hidup dalam keadilan, tidak menekan dan menindas orang lain serta melakukan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Yesaya 58 digolongan ke dalam Trito Yesaya, dimana nubuat Nabi Yesaya ini diperuntukkan bagi orang Israel yang telah kembali dari Babel menuju ke Yerusalem. Dalam Trito Yesaya (pasal 56-66), umat Israel dipanggil untuk menjaga kekudusan hari Sabat serta mempersembahkan dan membangun doa melalui spiritualitas yang benar, yakni hidup dalam keadilan dan kebenaran. Dalam Yes. 58:9b-12 dikatakan demikian, “Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu, engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan ‘yang memperbaiki tembok yang tembus, yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni.” Nabi Yesaya menekankan pentingnya hidup dalam kebenaran, membebaskan sesama dari kuk yang menekan, serta kepedulian kepada sesama yang menderita dan membutuhkan pertolongan. Bahkan kalimat yang digunakan adalah ‘menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauingini sendiri’. Bukankah kita tentu akan sayang memberikan apa yang kita sukai atau ingini kepada orang lain? Namun Yesaya mengajak umat Israel untuk belajar berbagi dengan tulus, bahkan memberikan apa yang terbaik bagi orang lain.

Melalui bacaan yang kedua, kita juga kembali diingatkan tentang pentingnya membangun ibadah dengan hormat dan takut kepada Tuhan. Penulis surat Ibrani membawa pembaca pada memori tentang penerimaan Sepuluh Hukum Tuhan melalui gambaran yang mengerikan pada saat perjumpaan Musa dengan Tuhan di gunung Sinai. Penggambaran yang demikian terjadi karena keagungan dan kemuliaan Tuhan, sehingga manakala berjumpa dengan manusia yang penuh dengan dosa, manusia melihat kuasa Tuhan yang sedemikian besar, sehingga ketakutan. Dengan kesadaran akan kemuliaan dan kuasa Tuhan tersebut, pembaca surat Ibrani dipanggil untuk beribadah kepada Tuhan dengan sikap hormat dan takut kepada Tuhan. Dalam ayat 28 dikatakan demikian, “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”

Bacaan Injil hari ini juga berbicara tentang tema yang senada dengan bacaan Perjanjian Lama dan surat-surat. Yesus kala itu sedang mengajar di salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Sementara Yesus sedang mengajar, ada seorang perempuan yang menderita karena mengalami sakit bungkuk. Perempuan itu bungkuk selama delapan belas tahun lamanya. Melihat kondisi tersebut, Yesus berbelas kasih dan kemudian memanggil perempuan tersebut. Yesus menyembuhkan perempuan tersebut sehingga terbebas dari sakit bungkuknya. Namun kepala rumah ibadat merasa gusar dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Dalam ayat 14, ia menyindir Yesus dengan berkata demikian, “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Sebagaimana kita ketahui, orang Yahudi memang memiliki peraturan yang ketat perihal hari Sabat. Kata Sabat sendiri berarti “istirahat”. Pada hari Sabat, orang Yahudi dilarang untuk melakukan pekerjaan. Bagi pemimpin rumah ibadat, apa yang Yesus lakukan dengan menyembuhkan perempuan bungkuk adalah sebuah pekerjaan dan itu melanggar peraturan mengenai Sabat.

Yesus menjawab keberatan pemimpin rumah ibadat justru dengan membalikkan peraturan bagi orang Yahudi. Pada hari Sabat, para rabi akan melepaskan hewan-hewan ternak mereka untuk mencari makan. Mereka membebaskan hewan-hewan peliharaan dari belenggu, sehingga bisa merasakan kebebasan. Mereka saja melepaskan belenggu bagi hewan pada hari Sabat, lantas mengapa mereka keberatan ketika Yesus melepaskan belenggu yang mengikat perempuan bungkuk selama delapan belas tahun lamanya. Sebagian orang Yahudi, kerap kali terfokus pada hukum dan peraturan, sehingga tidak mempertimbangkan alasan kemanusiaan. Yesus membuka paradigma baru, bahwa ibadah yang sejati adalah manakala kita melepaskan belenggu bagi orang yang tertindas dan menderita.

Penutup
Ibadah adalah sarana membangun persekutuan dengan Tuhan. Ibadah yang kita lakukan tentu tidak hanya berhenti pada tindakan ritual dan simbolis saja. Ibadah keseharian yang kita lakukan haruslah kita nampakkan melalui tindakan nyata, dengan kepedulian kita kepada sesama yang menderita, kehidupan kita yang dilakukan dengan semangat keadilan dan kebenaran, berlandaskan hormat dan takut akan Tuhan. Pada bulan ini kita bersama ada dalam masa penghayatan bulan pembangunan GKJW. Melalui sabda Tuhan hari ini, kita diajak untuk mengimplementasikan peribadatan kita melalui tindakan nyata bagi sesama. Melalui kepedulian kita bagi sesama, kita mewujudkan semangat GKJW untuk menjadi berkat bagi semua orang. Amin. [ANS].

 

Pujian: KJ. 363 : 1 – 2 Bagi Yesus Kuserahkan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus Kristus;

Saperangan kita temtu nate mireng satunggaling pepujen wonten ing Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) 264 kanthi jejer “Apalah Arti Ibadahmu.” Pepujen punika karipta dening Mercy Tampubolon ing taun 1998. Ijeman pepujen PKJ 264 padha setunggal lan tiga mekaten:

Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
Bila tiada rela sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
Bila tiada hati tulus dan syukur?

Ibadah sejati, jadikanlah persembahan
Ibadah sejati kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
Jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.
 

Berbahagia orang yang hidup beribadah,
Yang melayani orang susah dan lemah
Dan penuh kasih menolong orang yang terbeban
Itulah tanggungjawab orang beriman

Ibadah sejati, jadikanlah persembahan
Ibadah sejati kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
Jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.

Pepujen punika ngatag dhateng kita supados mratelakaken pangibadah kita dhumateng Gusti kanthi tumindak ingkang nyata, inggih punika peduli tumraping tiyang ingkang sisah lan sekeng, nresnani tiyang ingkang mbetahaken pitulungan. Mekaten ugi pangibadah ingkang kita tindakaken kedah linandesan manah ingkang tulus lan kebak panuwun sokur.

Asring pangibadah ingkang kita tindakaken wonten ing ngarsanipun Gusti namung winates ing ritual utawi simbol-simbol. Punika boten ateges bilih ritual lan simbol-simbol punika boten wigatos. Nanging menawi pangibadah kita namung kandeg wonten ing ritual kemawon, punika ingkang winastan masalah. Waosan saking Kitab Suci dinten punika ngatag dhateng kita mujudaken pangibadah kita dhumateng Gusti lumantar tumindak ingkang nyata.

Isi
Waosan kapisan minggu punika ingkang sinerat wonten ing Yesaya 58:9b-14 ngajak dhateng kita bab wigatosipun nindakaken kaadilan wonten ing gesang, boten nindhes tiyang sanes, ugi preduli tumraping tiyang ingkang mbetahaken. Yesaya 58 kagolong minangka Trito Yesaya, ingkang kaserat tumraping Nabi Yesaya ingkang sampun wangsul saking Babel lan lumebet wonten ing Yerusalem. Wonten ing Trito Yesaya (pasal 56-66), umat Israel katimbalan supados njagi kasucening dinten Sabat ugi misungsungaken lan mbangun pandonga kanthi spiritualitas ingkang leres, inggih punika kanthi gesang ing salebeting kaadilan lan kabeneran. Wonten ing Yesaya 58:9b-12 kapratela mekaten “Panjenengane bakal ngandika: Lah iki Ingsun ana ing kene! Manawa sira ora ngetrapake pasangan maneh marang pepadhanira sarta ora nuding-nuding marang wong kalawan driji lan mitenah, manawa sira menehi wong keluwen apa kang sira dhewe arep lan gawe lejaring atine wong kang katindhes, pepadhangira bakal sumorot ana ing pepeteng sarta pepetengira bakal kaya wayah tengange. Pangeran Yehuwah bakal tansah nuntun sira lan bakal ndamel mareming atinira ana ing tanah kang garing sarta bakal nganyarake kakuwatanira; sira bakal kaya patamanan kang kasiraman kalawan becik tuwin kaya sumber kang ora tau gawe gela. Sira bakal mbangun gempuran kang wus atusan taun, lan bakal ndandani tetales kang wus kapasang pirang-pirang turunan. Sira bakal kasebut “kang ndandani tembok kang jebol”, “kang ndandani dalan supaya panggonan kono kena dienggoni.” Nabi Yesaya negesaken wigatosing gesang kanthi bebener, mbebasaken pasangan ingkang nekan, sarta peduli tumraping sesami ingkang nandhang sangsara ugi mbetahaken pitulungan. Malah wonten ing ayat 10 kaserat mekaten “manawa sira menehi wong keluwen apa kang sira dhewe arep.” Kita sedaya tamtu eman maringaken tumraping tiyang sanes punapa ingkang kita piyambak remeni. Nanging Yesaya ngajak dhateng kita supados sinau maringaken tumraping tiyang sanes punapa ingkang kita remeni, mbage kanthi tulus, malah ugi maringaken ingkang paling sae tumraping tiyang sanes.

Lumantar waosan kaping kalih, kita ugi kaemutaken bab wigatosing nindakaken pangibadah kinanthenan sikep urmat lan ajrih asih dhumateng Gusti. Serat Ibrani ngatag pasamuwan sami ngemut-emut prastawa panampining hukum sedasa perkawis kanthi gegambaran ingkang nggegirisi, nalikanipun Musa pinanggih kalihan Gusti ing redi Sinai. Gegambaran ingkang mekaten awit saking agung lan mulyanipun Gusti Allah. Pramila nalika pinanggih kalihan manungsa ingkang kebak dosa, manungsa ningali panguwaosipun Gusti ingkang semanten eramipun, lajeng ajrih. Kanthi ngrumaosi bab kamulyan lan kaagungan Gusti, pasamuwan ingkang nampi serat Ibrani katimbalan nindakaken pangibadah dhumateng Gusti kanthi sikep urmat lan ajrih asih dhumateng Gusti. Wonten ing ayat 28 kaserat mekaten, “Kang iku, sarehne kita padha nampani nagara kang ora bisa gonjing, payo padha ngaturake panuwun lan padha ngabekti marang Gusti Allah, miturut cara kang kakarsakake, kanthi hurmat lan wedi-asih.”

Waosan Injil dinten punika ugi mratelakaken bab ingkang sami kalihan waosan sepisan lan kaping kalih. Gusti Yesus kala semanten saweg mucal ing salah satunggaling papan pangibadah. Nalika Gusti Yesus saweg mucal, wonten satunggaling pawestri ingkang nandang sakit bungkuk. Pawestri punika nandang bungkuk wolulas taun dangunipun. Mirsani kawontenan kados mekaten, Gusti Yesus trenyuh manahipun lajeng nimbali pawestri punika. Gusti Yesus nyarasaken pawestri punika satemah luwar saking panandangipun, boten ngalami sakit bungkuk malih. Nanging pemimpin papan pangibadah punika goreh manahipun. Wonten ing ayat 41, piyambakipun wicanten, “Dina iku ana enem sing kanggo nyambut-gawe. Mulane tekaa ing salah sijine dina iku supaya diwarasake, nanging aja ing dina Sabat.” Kados ingkang sampun kawuningan, bilih tiyang Yahudi nggadahi pranatan ingkang ketat magepokan kalihan dinten sabat. Tembung ‘sabat’ anggadahi ateges ‘ngaso.’ Wonten ing dinten Sabat, tiyang Yahudi boten pareng nindakaken pakaryan. Tumraping pemimpin sinagoge, punapa ingkang dipun tindakaken Gusti Yesus kanthi nyarasaken pawestri bungkuk minangka satunggaling pakaryan, lan punika nglanggar pranatan dinten Sabat. Gusti Yesus paring wangsulan kanthi mbalik pamanggihipun tiyang-tiyang Yahudi. Wonten ing dinten Sabat, para Rabi Yahudi ngedalaken sato kewan supados pados pakan. Tiyang-tiyang punika mbebasakan kewan-kewan saking kurungan, pramila ngraosaken bebas. Para Rabi Yahudi kemawon ing dinten Sabat sami mbebasaken sato kewan wonten ing dinten Sabat, lajeng kenging punapa nalika Gusti Yesus mbebasaken pawestri saking saking bungkuk, lajeng sami goreh manahipun. Sawetawis tiyang Yahudi, namung fokus kalihan pranatan, lajeng mboten ningali alasan kamanungsan. Gusti Yesus mbikak pamanggihipun manungsa, bilih pangibadah ingkang sejatos inggih punika mbebasaken tiyang saking belenggu, ingkang katindes lan sangsara.

Panutup
Pangibadah inggih punika sarana mbangun sesambetan kaliyan Gusti. Pangibadah ingkang kita tindakaken temtu mboten cekap kandeg kanthi ritual lan simbolis kemawon. Pangibadah ing pigesangan saben dinten kedahipun nelakaken kaadilan lan bebener, linandhesan urmat lan ajrih asih dhumateng Gusti. Wonten ing wulan punika kita sesarengan ing salebeting wulan pembangunan GKJW. Lumantar sabdanipun Gusti Yesus, kita kaajak ngecakaken pangibadah kanthi tumindak nyata. Kanthi peduli tumraping sesami, kita mujudaken semangat GKJW minangka berkah tumraping sesami. Amin. [ANS].

 

Pamuji: KPJ. 350 : 1 – 2 Rahayu Wong Wedi Asih

 

Bagikan Entri Ini: