Menghadapi Tantangan Pembangunan Diri Khotbah Minggu 18 Agustus 2019

Minggu Biasa IX
Stola  Hijau

 

Bacaan 1         :  Yeremia 23 : 23 – 29
Bacaan 2         :  Ibrani 11 : 29 – 12 : 2
Bacaan 3         :  Lukas 12 : 49 – 56

Tema Liturgis  :  Membangun Diri Dalam Kasih Menuju Kemandirian dan Menjadi Berkat
Tema Khotbah : Menghadapi Tantangan Pembangunan Diri

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 23 : 23 – 29

Yeremia sebagai sosok yang dipakai oleh Tuhan. Dia adalah seorang nabi yang senantiasa memperingatkan umat Tuhan tentang bencana yang akan menimpa mereka karena keberdosaan mereka atas penyembahan berhala. Nubuat itu menjadi kenyataan. Nebukadnezar, raja Babel, merebut dan menghancurkan Yerusalem. Bacaan kita ini memperlihatkan kegalauan hati Tuhan terhadap umatNya Israel yang telah melupakan Tuhan dan menyembah Baal (ayat 27). Mereka tidak lagi ingat akan penyertaan Tuhan selama ini, sampai berada dalam pembuangan dan dikuasai oleh Babel dengan raja Nebukadnezar. Tidak mudah hidup di bumi asing, di tanah pembuangan, karena itu orang Israel ingin untuk memperoleh keselamatan dengan jalan apapun meskipun hal tersebut bersifat semu. Dalam kehidupan yang dikuasai bangsa lain dalam keadaan seperti itulah muncul nabi-nabi palsu! Keberadaan nabi-nabi palsu jelas bukanlah kebaikan bagi umat Tuhan. Mereka memalsukan kebenaran firman Tuhan. Mereka bernubuat atas dasar pikiran, keinginan dan mimpi-mimpi mereka. Mereka memberikan harapan-harapan palsu kepada umat Tuhan dengan mengatakan “kamu akan selamat” (ay.17) bahkan para nabi palsu juga turut serta melakukan dosa dihadapan Tuhan bahkan menguatkan hati orang-orang yang melakukan kejahatan (ay. 14). Nabi-nabi palsu yang beredar di tengah-tengah umat Tuhan ini menjadi tantangan bagi Yeremia untuk menyatakan kebenaran firman Allah. Kebenaran firman Tuhan yang dinubuatkan melalui nabi Yeremia bahwa Tuhan akan mendatangkan hukuman bagi umatNya yang telah berdosa. Hukuman yang akan didatangkan Tuhan adalah rencanaNya untuk memulihkan kehidupan umatNya. Sebab Tuhan tidak pernah merancangkan kejahatan kepada umatNya tetapi yang ada hanyalah rancangan damai sejahtera untuk hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29: 11). Oleh karena itu, Tuhan akan menghukum mereka selama tujuh puluh (70) tahun melalui raja Babel (Yer. 25:11). Tetapi nabi-nabi palsu menyatakan nubuatnya bahwa dalam dua (2) tahun Tuhan akan mengembalikan perkakas rumah Tuhan dan orang buangan dari Babel (Yer. 28: 2-3).

Ibrani 11 : 29 – 12 : 2

Penulis surat ini menganjurkan kepada para pembacanya supaya tetap menjaga dan membangun iman kepada Tuhan Yesus serta setia sampai akhir meskipun jalan hidup tidaklah mudah. Membangun diri dan kehidupan beriman banyak menghadapi tantangan. Demikianlah yang dilakukan dan dialami oleh tokoh-tokoh yang sangat dikenal oleh pembaca surat Ibrani bahkan kita semua sebagaimana disebut-sebut oleh penulis surat Ibrani. Betapa keyakinan iman yang kuat akan Tuhan Allah dalam hidup membawa mereka dikenang sebagai teladan orang setia membangun diri dan kuat iman. Tantangan mengikut jalan salib sebagaimana Tuhan Yesus lakukan adalah panggilan bagi setiap pengikutnya. Jalan tidak selalu mudah, namun siapa yang setia sampai akhir dialah yang memperoleh kebahagiaan kekal yang menjadi tujuan iman kita semua.

Lukas 12 : 49 – 56

Secara umum dalam Injil Lukas Tuhan Yesus diberi tugas oleh Roh Tuhan untuk menyiarkan Kabar Baik dari Allah kepada orang miskin. Kabar Baik ini penuh dengan perhatian terhadap banyak orang dengan berbagai macam kebutuhan. Gambaran peperangan dalam keluarga dan pertentangan antar orang tua dan anak, sahabat dan teman menunjukkan bahwa tidaklah mudah bagi dunia untuk menerima kabar baik itu. Tidaklah mudah untuk memahami dan menerima jalan Tuhan. Tidaklah mudah untuk menghayati bagaimana dapat meraih kebahagiaan yang utuh, baik lahir maupun batin, namun harus melalui penderitaan.  Hidup orang percaya merupakan hidup bersiap untuk masuk di jalan yang tidak mudah, jalan salib yang membawa pertentangan bagi siapapun manusianya. Yang mengikuti itulah yang akhirnya memperoleh kebahagiaan kekal, sebab Tuhan Yesus yang kita sembah telah memberikan teladan untuk melakukannya lebih dulu. Jalan salib, jalan penderitaan sekaligus jalan menuju kebahagiaan kekal.

Benang Merah Tiga Bacaan

Membangun diri dalam kehidupan iman bukanlah hal yang mudah. Tantangan besar yang dihadapi dapat membelokkan iman setiap orang percaya untuk tidak lagi setia dalam usaha mengungkap setiap misteri hidup.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  BAHASA INDONESIA

Pendahuluan

Jemaat kekasih Tuhan, pembangunan merupakan suatu aktifitas yang dilakukan untuk membuat sebuah keadaan atau kondisi menjadi lebih baik. Proses yang berlangsung pasti dilakukan dengan sungguh-sungguh mulai dari persiapan maupun pada saat proses berlangsung. Sebagai contoh, pembangunan sebuah rumah pasti dipersiapkan dengan baik. Gambar rancangan bangunan yang akan dibuat dan juga material untuk membangunnya disiapkan sebelum pembangunan dilaksanakan. Tukang maupun kuli bangunan dikaryakan ketika proses pembangunan berlangsung. Bahkan untuk menjamin berlangsungnya pembangunan tersebut secara baik, ditunjuklah pengawas pembangunan atau mandor. Apakah persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan dengan sangat baik itu benar-benar menjamin proses pembangunan berjalan dengan baik dan lancar? Ternyata tidak. Ada banyak hal yang bisa menjadi penghalang atau penghambat berjalannya proses pembangunan tersebut. Bisa jadi tukang sakit sehingga proses tersebut terpaksa terhenti sejenak. Bisa jadi kuli bangunannya sakit sehingga proses pembangunan tersebut harus berjalan melambat. Pendek kata, sebuah proses pembangunan bukanlah sebuah proses yang pasti berjalan dengan mulus meskipun pada waktu akan memulainya sudah dipersiapkan begitu rupa. Bagaimana dengan pembangunan diri?

Isi

Jemaat yang dikasihi Tuhan, proses pembangunan diri juga memerlukan keseriusan sekaligus kesadaran bahwa dalam berproses tidak lepas dari hambatan. Dengan demikian diperlukan sebuah strategi agar pembangunan diri tetap dapat berlangsung dan benar-benar dapat sesuai dengan tujuannya. Bacaan ketiga kita pada hari ini mengandung pembelajaran yang sangat penting perihal strategi agar proses pembangunan diri dapat terus berlangsung.

Bagi banyak pembaca masa kini, tidaklah mudah untuk memahami arti dan makna dari bacaan ketiga kita. Perlu untuk diketahui bahwa dalam komunitas masyarakat Yahudi pada zaman Yesus, ikatan keluarga jauh lebih erat dibandingkan dengan masyarakat kita pada era modern ini. Bagi generasi Kristen mula-mula, memilih untuk setia kepada Yesus dapat beresiko menimbulkan perpecahan dalam ikatan keluarga. Istilah api, pertentangan, pedang dalam hal ini mengisyaratkan dan menegaskan perihal pemurnian dan pemisahan menuju ketaatan dan kesetiaan kepada Yesus. Nabi Yeremia menegaskan bahwa Firman TUHAN disebut seperti api bahkan seperti palu yang menghancurkan bukit batu (Yer. 23:29). Pada hari raya Pentakosta, api melambangkan Roh Kudus yang dicurahkan dan diperdengarkan di antara bangsa-bangsa (Kis. 2:3). Selanjutnya, Yesus berkata: “… Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya (Mat. 10:34-36; Luk. 12:51-53).

Jemaat, kita perlu memahami bahwa nas tersebut mengandung sebuah ajakan agar para murid Yesus atau orang beriman pada zaman dulu dan sekarang hendaknya sungguh-sungguh mau berfokus kepada Yesus dalam menjalani perjalanan hidup yang merupakan proses pembangunan diri. Yesus menghendaki suatu loyalitas mutlak atau ketaatan yang utuh kepada-Nya. Kita ingat misalnya perkataan Petrus dan rasul-rasul ketika di sidang di hadapan Mahkamah Agama, mereka dengan tegas mengatakan: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia …” (Kis. 5:29b). Dalam Injil Matius misalnya, dicatat bahwa Yesus menuntut ketaatan dan cinta yang lebih besar kepada-Nya dengan kerelaan memikul salib serta kesediaan berkorban sebagai identifikasi para murid Yesus (Mat. 10:38-39).

Dengan demikian menjadi jelas bahwa proses pembangunan diri memerlukan fokus yang tepat dan totalitas. Fokus dan totalitas diperlukan karena hambatan-hambatan dan gangguan-gangguan akan terus ada dalam proses pembangunan diri tersebut. Hidup yang yang terus berfokus kepada Tuhan saja dan totalitas kesetiaan beriman (kasih kepada Tuhan) akan memungkinkan proses pembangunan diri ini terus berjalan. Tanpa fokus dan totalitas yang demikian, proses pembangunan diri akan mudah bergeser dari tujuan yang hendak dicapai atau bahkan menghentikan proses pembangunan diri tersebut. Hal semacam ini nampak seperti yang terjadi pada kehidupan umat Tuhan pada zaman nabi Yeremia dalam bacaan pertama kita. Saat keadaan hidup tidak menyenangkan secara manusiawi, mereka mudah untuk menggeser fokus kehidupan mereka. Mereka tidak lagi memfokuskan kehidupan kepada Tuhan bahkan tidak lagi mengasihi Tuhan. Sebaliknya, kehidupan yang terus berfokus kepada Tuhan dan kasih yang tetap kepada-Nya ditunjukkan oleh para tokoh yang disebut-sebut oleh penulis Ibrani dalam bacaan kedua kita hari ini. Mereka menghadapi situasi yang berat namun tetap tidak menggeser fokus dan kasih mereka kepada Tuhan. Karena itulah mereka dituntun kepada kesempurnaan dan sukacita sejati.

Penutup

Jemaat yang dikasihi Tuhan, sebagai persekutuan orang percaya GKJW juga terus berproses dalam rangka pembangunan diri. Dalam proses pembangunan diri kali ini GKJW rindu menjadi gereja Tuhan yang mandiri dan menjadi berkat. Dengan demikian GKJW juga harus senantiasa berfokus kepada Tuhan dan mewujudkan totalitas kasih kepada Tuhan agar proses pembangunan diri dapat terus berlangsung dan kerinduan untuk menjadi gereja Tuhan yang mandiri serta menjadi berkat dapat terwujud demi kemuliaan nama-Nya. (AAN)

Pujian  :  KJ.  408


RANCANGAN KHOTBAH:  Basa Jawi

Pambuka

Pasamuan ingkang dipuntresnani Gusti,

Pembangunan punika wujud anggenipun kita ngupaya pakaryan utawi kahanan ingkang langkung sae ing satengahing gesang. Prosesipun dipun tindakaken kanthi temen-temen, wiwit saking nyawisaken uba rampenipun ngantos nindakaken pakaryanipun. Tiyang mbangun griya temtu badhe nyawisaken sedayanipun kanthi sae, nyawisaken materialipun, tukangipun, kulinipun sakderengipun mbangun griya. Boten cekap menika kemawon, kangge jamin supados griya punika saged sae lan rampung tepat waktu dipunpadosaken mandor kangge ngawasi prosesipun. Pitakenanipun punapa menawi sedaya ingkang sampun dipuncawisanaken lan kegiatan pembangunan punika dipunlampahi kanthi sae saged dados jaminan proses pembangunan punika saged sae lan lancar? Kasunyatanipun boten. Katah perkawis ingkang dadosaken halangan lan hambatan proses pembangunan punika. Saged tukangipun sakit, kulinipun sakit saengga kedah lereh rumiyin pungkasanipun proses pembangunan griya punika telat. Singkatipun, proses pembangunan punika sanes proses ingkang saged kalampahan kanthi lancar senajan sampun dipuncawisaken kanthi sae. Lajeng kados pundi kaliyan pembangunan diri kita?

Isi

Pasamuan ingkang dipuntresnani Gusti,

Proses kangge mbangun diri punika  mbetahaken tumindak ingkang temen, sarta kita kedah sadar bilih proses punika boten lepat saking hambatan. Awit saking punika dipun betahaken strategi supados anggen kita mbangun diri saged kalaksanan dan sami kaliyan tujuanipun. Kados waosan kaping tiga ing dinten punika ingkang isinipun dados piwucal ingkang wigati bab rancangan bangun diri supados saged kalaksanan.

Kangge tiyang jaman sapunika, boten gampil kangge mangertosi makna saking waosan katiga. Kita kedah mangertos bilih ing tatanan masyarakat  jamanipun Gusti Yesus, raos paseduluran lan bebrayatan langkung kiyat tinimbang masyarakat jaman samangke. Kangge tiyang Kristen wiwitan, ingkang milih setya dateng Gusti Yesus punika saged dadosaken karisakan raos paseduluran utawi bebrayatan. Istilah geni, pasulayan, pedang ing bab punika negesaken bab kamurnian lan pemisahan tumuju kasetyan dateng Gusti Yesus.

Nabi Yeremia ngendikan bilih Pangandikanipun Gusti Allah kados dene geni, langkung saking punika kados palu ingkang saged ngremukaken gunung parang. (Yer 23 : 29).  Ing dinten riyadin Pentakosta, geni punika dados pralambanging Sang Roh Suci ingkang kaparingaken lan kamirengaken ing antawisipun bangsa-bangsa (Kis.2:3). Selajengipun Gusti Yesus ngendikan, ”Sabab tekaKu iku njalari wong crah karo bapake, anak wadon karo embokne, mantu wadon karo embokne maratuwa, lan wong bakal dimungsuh dening wong-wong kang nunggal saomah kabeh”. (Mat. 10:34-36; Luk. 12:51-53)

Pasamuan kinasih,

Kita perlu mangertosi bilih nats punika arupi piwucalipun Gusti Yesus supados para sakabating Gusti utawi para pitados ing jaman rumiyin lan sapunika, prayoginipun purun kanthi saestu mandheng namung dateng Gusti Yesus anggenipun nglampahi gesangipun tumuju proses pembangunan diri. Gusti Yesus ngersakaken kita tansah setya tuhu dateng Panjenenganipun.  Kita kedah enget  pangandikanipun rasul Petrus lan para rasul nalika dipunadili ing ngajengipun Mahkamah Agama, kanthi teges para rasul matur, ”Kita kedah langkung mbangun turut dhumateng Gusti Allah katimbang dhateng manungsa”. (Kis. 5:29b). Ing Injil Matius dipun serat bilih Gusti Yesus ngersakaken kasetyan lan katresnanan ingkang ageng dateng Panjenenganipun kanthi tumindak manggul salib sarta sumadya ngorbananken diri minangka dados para sakabatipun Gusti Yesus. (Mat. 10:38-39).

Bilih mekaten dados jelas bilih proses pembangunan diri punika betahaken cara pandheng ingkang pas lan tumindak ingkang temenan. Bab punika dipun betahaken karana reribet lan gangguan badhe terus wonten ing salebeting proses pembangunan diri. Namung gesang ingkang tansah mandheng dateng Gusti Yesus kemawon lan tumindak gesang ingkang setya tuhu dateng Gusti ingkang saged dadosaken proses pembangunan diri punika kelampahan. Tanpa mandheng dateng Gusti lan tumindak setya dateng Gusti, proses pembangunan diri boten saged dumugi tujuanipun malah ugi saged mandhek. Kedadosan ingkang mekaten kalawau kelampahan ing gesangipun umatipun Gusti Allah ing jaman nabi Yeremia kados ing waosan kaping sepisan. Nalika kawontenan gesang kita boten ngremenaken sacara kamanungsan, bangsa Israel gampil pindah cara pandheng gesangipun. Bangsa Israel boten mandheng Gusti Allah lan boten nresnani Gusti Allah malih. Kosokwangsulipun, gesang ingkang tansah mandheng dateng Gusti lan nresnani Gusti Allah kados para tokoh iman ing kitab Ibrani ing waosan kita ingkang kaping kalih. Nalika kita ngadepi situasi ingkang awrat kita tetep mandheng dateng Gusti Yesus. Karana punika para tokoh iman punika dipuntuntun lumampah tumuju kasampurnan lan kabingahan ingkang sejati.

Panutup

Pasamuan ingkang dipuntresnani Gusti,

Minangka patunggilaning tiyang pitados, GKJW dipun timbali terus nindakaken proses pembangunan diri. Salebeting proses pembangunan diri sapunika, GKJW saged dados grejanipun Gusti ingkang mandiri lan dados berkah. Caranipun GKJW kedah mandheng dateng Gusti Allah lan nindakaken tumindak gesang ingkang temen srana katresnan dateng Gusti Allah supados lampahing proses pembangunan diri punika saged kelampahan, lan pengajeng-ajeng dados grejanipun Gusti ingkang mandiri lan dados berkah saged kawujud kagem kamulyan asmanipun Gusti.  (AR)  

Pamuji  :  KPJ.  436

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •