Tersesat?

Bacaan : Yakobus 1 : 12 – 16 | Pujian: KJ 413 : 1 – 3
Nats: “Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!” [ayat 16]

Seorang kakak laki-laki saya, umur 8 tahun saat itu, tanpa sepengetahuan ayah-ibu, berkeliling asrama Brimob tempat kami mengunjungi saudara. Ketika dia akan kembali pulang ke rumah saudara tersebut, dia bingung harus menuju ke arah mana sebab bentuk rumah dan kamar asrama semuanya persis sama. Sebagaimana anak kecil lainnya, dalam kepanikan dia menangis sangat keras sehingga orangtua kami mendengarnya dan ternyata kakak saya tadi sebenarnya berada tidak jauh dari rumah di mana kami berada. Ya, kakak saya merasa tersesat, kemudian lega sebab ia menemukan kembali apa yang dicarinya.

Mahkota kehidupan adalah seperti mahkota kemenangan, yakni rangkaian bunga berbentuk lingkaran, yang diberikan kepada pemenang perlombaan (I Korintus 9:25). Mahkota kehidupan Allah bukan kemuliaan dan kehormatan di bumi ini, melainkan ganjaran hidup kekal, hidup bersama Allah selamanya. Cara memperolehnya adalah dengan mengasihi-Nya dan beriman penuh kepada-Nya, meskipun dalam berbagai tekanan dan intimidasi.

Cobaan dan keinginan jahat datang dari dalam diri kita, bukan dari Allah. Hal itu mulai dari berpikir jahat dan menjadi pelaku dosa, jika kita membiarkannya menjadi sebuah aksi. Saat terbaik untuk menghentikan cobaan itu adalah ketika cobaan itu belum menjadi sedemikian kuat dan bergerak cepat tidak terkontrol (Matius 4:1-11, I Korintus 10:13, dan II Timotius 2:22).

Orang yang beriman kepada Allah seringkali heran mengapa mereka masih dicobai. Apakah Allah mencobai mereka? Allah menguji manusia tetapi Ia tidak mencobai mereka dengan cara membujuk mereka berbuat dosa. Allah mengijinkan setan mencobai manusia, untuk mengasah iman mereka dan membantu mereka bertumbuh secara mandiri pada Kristus. Kita dapat melawan cobaan untuk berbuat dosa dengan kembali kepada Allah dan mematuhi firman-Nya.

Kita tidak perlu membuat berbagai alasan hanya untuk mengalihkan kesalahan diri ke pihak lain. Seorang Kristen harus bertanggungjawab atas kesalahannya, mengakuinya, dan memohon pengampunan Allah. Amin. [Esha]

“Tuhan, jangan biarkan diriku tersesat!”

 

Bagikan Entri Ini: