Memilih Bersabar Pancaran Air Hidup 8 November 2025

8 November 2025

Bacaan: Mazmur 17 : 1 – 9  |  Pujian: KJ. 379
Nats: “Dari hadapan-Mulah kiranya datang penghakiman; mata-Mu kiranya melihat apa yang benar. (Ayat 2)

Sita merasakan sakit. Tulang pipinya lebam membiru. Dua puluh tahun ia bertahan dalam perkawinan yang menyakitkan. Kekerasan, kebohongan, sampai perselingkuhan menjelma salib yang dipikulnya dengan setia. Meskipun semua menyebutnya perempuan bodoh, ia enggan mengingkari janjinya kepada Tuhan untuk mengasihi suaminya dalam keadaan apapun. Sita percaya bahwa Tuhan akan menyatakan keadilan-Nya.

Rasanya tidak masuk akal melihat orang benar yang terus dilukai tetap memilih bersabar. Demikianlah pilihan Daud ketika menghadapi para pembencinya, terutama Saul yang menginginkan kematiannya. Sebagai seorang yang taat kepada Allah, Daud tidak bertindak berdasarkan sakit hatinya. Ia enggan membalas dendam atau memilih menjadi jahat. Daud bersandar pada pertolongan dan keadilan Tuhan. Daud diburu meskipun tidak bersalah. Ia percaya bahwa mata Tuhan melihat apa yang benar. Tuhan yang maha tahu menjadi penghiburan bagi orang-orang benar yang tertindas, sekaligus menjadi kengerian bagi mereka yang jahat. Setiap tindakan yang tidak benar akan berhadapan dengan keadilan Tuhan.

Ketaatan seseorang kepada Tuhan tidak menjamin hidupnya bebas dari penindasan dan ketidakadilan. Ketika seseorang diliputi kebencian, tindakannya dikuasai keinginan untuk terus melakukan kejahatan. Kita bisa merespons dengan bertindak sama jahatnya atau menyerahkan perkara itu kepada Tuhan sebagai hakim yang adil. Menyerahkan penghakiman kepada Tuhan bukan berarti didasari nafsu balas dendam atau keinginan melihat kehancuran musuh, melainkan memberi ruang bagi Tuhan untuk menyatakan keadilan berdasarkan kasih dan kemurahan-Nya. Bagian kita adalah membuka hati untuk dididik Tuhan melalui kehadiran orang-orang yang menyakitkan itu. Kadang kehadiran mereka menjadi sarana pendewasaan iman kita. Dalam penindasan dan ketidakadilan itu, penghiburan kita adalah Tuhan yang menjadi tempat berlari dan mencurahkan rasa sakit, mengubahnya menjadi kekuatan untuk bertumbuh dalam iman. Dalam kerapuhan kita, Tuhan menjadi satu-satunya yang kita andalkan serta menjadi pelindung bagi orang-orang benar. Ada orang-orang yang memilih bersabar karena percaya bahwa ada masanya kebenaran akan muncul seperti terang. Kejahatan akan ditelanjangi dan keadilan Tuhan akan dinyatakan. Amin. [wdp].

“Jika keadilan Tuhan itu pasti, mengapa harus menghabiskan energi untuk membalas dendam?”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak