Bacaan: Kejadian 41 : 37 – 49 | Pujian : KJ. 46 : 1, 2
Nats: “Oleh karena, Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.” (Ayat 39)
Dalam bacaan kita, diceritakan Allah mempunyai kehendak atas pribadi Yusuf. Yusuf menjalani kehidupannya untuk bersinar dari mimpi ke mimpi. Melalui mimpi pertama, kita mempelajari bagaimana Tuhan memimpin Yusuf menjadi pemimpin. Ia mendapatkan mimpi tentang berkas gandum, dimana berkas gandum kakak-kakaknya sujud menyembah kepadanya. Ia menceritakan mimpi itu dengan lugunya kepada semua kakaknya dan itu menimbulkan kemarahan mereka. Mereka berpikir bahwa Yusuf mau menjadi orang yang hebat dan berkuasa dengan sombong. Mimpi kedua tentang cakrawala yaitu matahari, bulan, dan sebelas bintang, yang berarti Yusuf disembah oleh orang tuanya dan semua kakaknya. Ia menceritakan mimpi ini dan semua kakaknya menjadi bertambah marah. Apalagi kita tahu bahwa Yakub bersikap pilih kasih dan sangat mengasihi Yusuf daripada anak-anaknya yang lain.
Cara Yakub mendidik Yusuf akan merusak kepribadian Yusuf, maka Tuhan mengizinkan kakak-kakaknya menjualnya kepada orang Ismael dan kemudian Yusuf menjadi budak Potifar. Ia dipersiapkan Tuhan menjadi seorang pemimpin dan Firaun sendiri bersaksi bahwa Yusuf dipenuhi oleh Roh Allah. Tentu tidak mudah bagi anak yang biasanya dimanja bekerja sebagai budak. Di sana, Yusuf melewati dan mengerjakan semuanya dengan begitu baik. Apapun yang dikerjakannya selalu berhasil. Ia menang menghadapi godaan istri Potifar sehingga ia dipenjara. Kepala penjara merasa diberkati karena segala pekerjaan selesai di tangan Yusuf. Ia melewati kesulitan ini dengan baik.
Kita melihat bagaimana Yusuf dapat bersinar di tengah kesulitan demi kesulitan melalui mimpi demi mimpi. Yusuf pun tetap membutuhkan pertolongan Tuhan, untuk mengasah kepekaan dalam mengartikan setiap mimpi yang datang kepadanya. Itulah kehendak Allah yang ingin membentuk Yusuf menjadi pribadi yang tegar dan sesuai dengan kehendak-Nya. Di tengah kesulitan yang dihadapi, Yusuf berproses menyatakan yang baik dan benar. Ia tetap menyatakan kemuliaan Tuhan. Dalam kehidupan kita, kita harus belajar untuk menangkap segala kehendak Tuhan, tidak hanya sekedar mengetahui kehendak Tuhan saja, tetapi kita harus melakukan kehendak Tuhan di dalam hidup kita. Bersinarlah! Jangan takut! Tuhan selalu beserta kita. Amin. [Zere].
“Kita harus menggenapkan kehendak Tuhan yang Tuhan sudah letakkan di dalam hidup kita”