Memimpin Diri Sendiri Pancaran Air Hidup 8 Januari 2022

8 January 2022

Bacaan: Mazmur 72: 1 11 ǀ Pujian: KJ. 413 : 1 3
Nats:
“Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa,dan bukit-bukit membawa kebenaran!(Ayat 3)

Hampir 2 tahun kita hidup berdampingan dengan Covid-19, menghadapi pasang dan surut gelombang pandemi yang tidak hanya menghempas kesehatan tubuh, tetapi juga jiwa dan rasa. Tidak sedikit di antara kita yang merasakan luka kehilangan para kekasih, sumber pendapatan, bahkan impian dan cita-cita. Pemerintah dan seluruh pihak berusaha untuk menata, mulai dari 3M sampai 6M, berbagai pembatasan dilakukan sekalipun mengundang pro dan kontra. Itulah risiko yang diambil oleh pemerintah, tujuan tertingginya hanya satu, yaitu menyelamatkan nyawa masyarakat Indonesia.

Dari pengalaman masa pandemi, kita belajar menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Demikian halnya Salomo, dari pengalamannya sebagai raja, dia mendapati bahwa hadir sebagai pemimpin itu bukanlah tugas yang ringan. Namun, alih-alih menuliskan kiat menjadi pemimpin yang sukses, Salomo lebih suka menaikkan Mazmur yang berisi doa dan harapan kepada Tuhan bagi diri sebagai seorang raja. Salomo mengingatkan bahwa seorang pemimpin bisa hadir dan memimpin hanya karena naungan Tuhan. Maka, untuk bisa melakukan tugas dan fungsinya dengan tepat, pemimpin perlu melekat pada Tuhan. Uniknya gambaran hubungan pemimpin dan Tuhan dalam Mazmur hari ini tidak hanya antara dua pihak saja, tetapi juga melibatkan alam, sebagai tempat perjumpaan dan sarana relasi keduanya. Gunung dan bukit (ay. 3), pada jaman Israel kuno umumnya merupakan tempat penyembahan kepada Tuhan. Disanalah Sang Raja dan Tuhan berjumpa dan dalam perjumpaan itu, Salomo memohon kiranya menjadi pembawa damai dan kebenaran.

Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan ada beberapa yang dipercaya untuk memimpin dilingkup yang lebih besar. Sekalipun memimpin diri adalah hal yang tersulit: menata diri, hati dan pikiran untuk selaras sejalan, dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, maka baik jika kita belajar merendahkan hati dan memohon tuntunan Tuhan dalam perjumpaan kita secara pribadi dalam doa dan harapan. Belajar untuk mendengar dan memahami kehendak-Nya serta memohon kekuatan dan penyertaan-Nya, agar kita mampu menjalani ketidakpastian hidup yang ada di hadapan kita. Amin. [WE].

 “… dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu. (Yes. 30:15c)

Renungan Harian

Renungan Harian Anak