Bacaan : 2 Raja-Raja 4 : 8 – 17, 32 – 37 | Pujian : KJ. 460
Nats: “Sesudah ia masuk, ditutupnyalah pintu, … , kemudian berdoalah ia kepada Tuhan” (Ay. 33)
Ada Drama Korea berjudul “When The Devils Call Your Name” yang menjadi salah satu drama Korea yang saya tonton. Drama ini mengisahkan tentang orang-orang yang segala keinginannya dipenuhi oleh iblis dengan syarat menandatangani kontrak jiwa. Kontrak itu memiliki batas waktu. Iblis akan memenuhi semua keinginan orang itu, namun ketika masa kontrak habis, jiwa orang tersebut menjadi milik iblis. Semua yang menandatangani kontrak awalnya akan merasa begitu senang, semua berjalan baik, tepat seperti yang mereka inginkan, namun pada akhirnya tidak ada seorangpun yang tidak menyesal karena yang mereka jumpai adalah kesia-siaan, lebih mengerikan lagi adalah kematian.
Kisah drama di atas berbanding terbalik dengan pengalaman perempuan Sunem. Kalau kita membaca perikop utuh, maka kita akan melihat kondisi perempuan tadi, secara ekonomi dia tergolong di atas rata-rata. Dalam hubungan rumah tangganya juga baik, dia juga seorang yang baik hati dan perhatian kepada Abdi Allah, namun dia tidak memiliki anak. Dalam kelebihan dan kekurangannya, perempuan Sunem memberi perhatian yang tulus kepada Nabi Elisa. Dia menyiapkan tempat khusus bagi Elisa di rumahnya, dan ketika ditanya apa yang diinginkan? Dia tidak meminta apa-apa. Karena kasihnya itu, akhirnya Elisa memohonkan kepada Allah, apa yang menjadi kerinduan perempuan Sunem, yaitu seorang anak. Namun setelah beberapa tahun berjalan ternyata si anak jatuh sakit dan meninggal. Tentu hal itu menjadi pukulan berat bagi si ibu, namun dia tidak mau menyerah. Dia datang pada nabi Elisa. Dan benar, dalam segala ketidakberdayaan itu, melalui doa Nabi Elisa, si anak memperoleh hidupnya kembali.
Perjalanan kehidupan membawa kita pada berbagai pergumulan dan pilihan: menghadapinya dengan jalan mudah, ataukah kita memilih untuk menghadapinya bersama dengan Tuhan. Pada pilihan kedua, ada kalanya kita tidak mendapat seperti yang kita mau. Namun dari pengalaman perempuan Sunem dan semua kesaksian dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa pertolongan dan pernyertaan Tuhan tidak menghilangkan air mata dan duka, kesulitan dan tantangan, tetapi penyertaan-Nya membuat kita mampu menjalani segala sesuatu dan akhirnya mendatangkan kehidupan serta keselamatan jiwa dan raga. (WE)
“Ikatlah kontrak dengan Sang Pemilik Jiwa, maka jiwamu akan terpelihara”