Memantaskan Diri Pancaran Air Hidup 8 April 2026

8 April 2026

Bacaan: Yosua 3 : 1 – 17  |  Pujian: KJ. 40: 1 – 2
Nats: “Kata Yosua kepada bangsa itu, “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan ajaib di antara kamu.” (Ayat 5)

Saat ini, saya mempunyai seorang anak laki-laki yang berusia 4,5 tahun. Selain suka bermain, dia juga memiliki rasa penasaran yang tinggi untuk mencoba hal-hal baru, termasuk hal-hal yang sering saya lakukan. Untuk beberapa hal, biasanya saya memperbolehkan dia mencoba. Akan tetapi, untuk beberapa hal yang lain, saya melarangnya karena dia masih terlalu kecil dan berbahaya baginya. Alasannya jelas, sebab dia masih belum bisa melakukannya. Dengan kata lain, untuk dapat mencoba hal-hal baru, dia perlu memiliki sebuah kesiapan serta usia yang cukup.

Seruan Yosua kepada bangsa Israel pun memiliki nuansa yang sama. Sebelum mereka menyeberangi sungai Yordan menuju tanah perjanjian, Yosua mengatakan agar bangsa Israel menguduskan diri, karena Allah akan melakukan karya besar bagi mereka. Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” (Ay. 5). Melalui ungkapan tersebut, Yosua ingin menyampaikan kepada bangsa Israel bahwa menguduskan diri [qados = dikhususkan atau terpisah (dari dosa)] merupakan prasyarat penting agar perbuatan Allah yang ajaib nyata dalam kehidupan mereka. Artinya, dibutuhkan persiapan serta kelayakan agar bangsa Israel dapat menerima anugerah yang besar dari Allah.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya ketika kita sedang menghadapi pergumulan yang berat, kita sering kali memohon agar Allah berkenan memberikan pertolongan atas segala permasalahan kita dengan segera. Kita meminta agar Allah memberikan jawaban atas segala tantangan yang kita hadapi. Akan tetapi, sayangnya kita sering lupa untuk “memantaskan diri” terlebih dahulu. Kita terlalu berfokus pada apa yang kita minta, sehingga kita kurang memerhatikan bagaimana kesiapan dan kelayakan diri kita. Seperti cerita anak saya yang membutuhkan kesiapan untuk mencoba hal-hal baru. Memang tidak ada satu alasan pun yang dapat menghalangi anugerah Allah bagi kita, termasuk dosa berat sekalipun. Namun, sebagai umat percaya, kita perlu memiliki sebuah kesadaran bahwa untuk menerima anugerah dari Allah dibutuhkan upaya memantaskan diri (menguduskan diri) secara terus-menerus, supaya perbuatan Allah yang ajaib nyata dalam kehidupan kita. Amin. [YSN].

“Sambutlah perbuatan ajaib-Nya dengan kesungguhan hati.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak