Mengambil Keputusan yang Tepat Pancaran Air Hidup 8 Agustus 2022

Bacaan: 2 Tawarikh 33 : 1 – 17 | Pujian: KJ. 324 : 1
Nats:
“… dan berdoa kepada-Nya. Maka TUHAN mengabulkan doanya, dan mendengarkan permohonannya.” (Ayat 13a)

Kepemimpinan Raja Manasye sangat kontras dengan Raja Hizkia, ayahnya. Raja Hizkia memulihkan kerohanian rakyat Yehuda yang telah lama jatuh dalam dosa, sedangkan Raja Manasye membuat rakyat Yehuda kembali hidup menyimpang dari jalan Tuhan. Apa yang membuat keturunan raja sesaleh Hizkia bisa membuat bangsa Yehuda terjerumus kembali pada dosa yang jauh lebih buruk? Penyebab utama kemerosotan itu adalah karena Manasye lahir dan dibesarkan saat Kerajaan Yehuda berada dalam masa jaya dan damai, yaitu masa Raja Hizkia, yang membuat Manasye lengah terhadap imannya kepada Allah. Saat Manasye mengambil alih kepemimpinan sebagai raja yang masih muda dan yang belum mengenal Tuhan, ia berlaku semau hati.  

Mari kita pelajari kehidupannya untuk menjadi peringatan sekaligus contoh bagi kita.

  1. Awal yang buruk. Raja Manasye adalah seorang raja yang paling jahat di mata Tuhan. Ia meniru ritual ibadah bangsa lain. Ia membangun kembali bukit pengorbanan serta mezbah untuk menyembah Baal, Asyera, dan tentara langit, bahkan mengorbankan anak-anaknya sebagai korban bakaran, melakukan ramal, teluh dan sihir, dan berbagai kejahatan lain yang membuat bangsa Israel melakukan dosa yang melebihi bangsa-bangsa lain. Dia menyesatkan rakyatnya menjadi penyembah berhala dan dia mengabaikan semua firman Tuhan yang disampaikan kepadanya.
  2. Kehancuran total. Karena Manasye tidak menghiraukan peringatan Tuhan, Tuhan menjatuhkan hukuman yang sangat berat. Negaranya dikalahkan oleh Asyur dan dia sendiri diseret ke Babel dengan cara yang sangat menyakitkan dan merendahkan Manasye.
  3. Keputusan yang tepat. Dalam keadaan sangat terdesak ini, ia berusaha melunakkan hati TUHAN, Allahnya. Ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya, dan berdoa kepada-Nya. Kehancurannya itu menyebabkan Manasye sadar akan dirinya dan semua perbuatannya yang jahat dan menyakitkan hati Tuhan. Tuhan menerima dan memulihkan kembali Manasye yang telah bertobat itu.

Waspadalah agar kenyamanan hidup tidak membuat kita terlena sampai kita tidak lagi takut akan Tuhan. Terlena dengan kenyamanan merupakan awal kejatuhan ke dalam dosa. Ambillah waktu untuk mengoreksi hidup dan jagalah komitmen untuk memperbarui hubungan dengan Tuhan setiap hari. Jika saat ini kita sudah jauh dari Tuhan, segeralah bertobat. Amin. [Zere].

 “Allah selalu membuka pintu pertobatan untuk setiap kita.”

 

Bagikan Entri Ini: