Bacaan : Matius 6 : 1 – 6, 16 – 21 | Pujian : KJ 246
Nats : “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. [ayat 4b,6b,18b]
Ingin dihargai dan dihormati adalah merupakan salah satu kebutuhan manusia. Dalam kehidupan sosial pasti orang merasa ingin diterima dan dihargai, baik oleh orang-orang di sekitarnya maupun oleh diri sendiri. Misalnya saja, k e t i k a s e o r a n g a n a k b e r h a s i l mendapatkan nilai 100 pada ujian matematika, ia pasti ingin dipuji dan diakui oleh guru, orang tua, ataupun teman-temannya. Ini wajar karena penghargaan merupakan kebutuhan dasar manusia di hadapan manusia. Namun bagaimana kebutuhan dasar manusia itu kita kaitkan dengan ibadah kita di hadapan Tuhan? Dialah yang seharusnya kita hormati, kagumi dan kita hargai, bukan diri kita.
Hal yang sering dikritisi oleh Yesus Kristus kepada manusia adalah soal kemunafikan. Salah satu kemunafikan adalah penyalahgunaan tujuan memberi sedekah, berdoa dan berpuasa. Mengubahnya dari tujuan memuliakan Allah menjadi tujuan memuliakan diri sendiri. Berkenaan dengan “ibadah kesalehan” yang kasat mata pada umumnya, Ia telah mempertentangkan cara orang Farisi yang ingin pamer dan egois dengan cara yang ia ajarkan yakni tersembunyi dan ikhlas.
Tuhan Yesus memanggil pengikut-Nya untuk sesuatu makna yang lebih. Ia menggarisbawahi betapa ajaran kesalehan yang Ia ajarkan lebih besar karena bersifat batiniah dan yang bersifat rohaniah, kasih yang Ia ajarkan lebih luas karena mencakup juga mengasihi musuh-musuh dan doa yang Ia ajarkan lebih mendalam karena dilakukan dengan bersungguh-sungguh daripada yang dipertontonkan oleh orang Farisi pada umumnya, yakni ibadah ragawi yang kasat mata saja.
Kalau kita ingin diterima Allah melalui kewajiban ibadah kita, kita harus hati-hati dengan pujian yang datang dari manusia. Sebab, kita beribadah bukan kepada manusia dan bukan dari merekalah kita mengharapkan jawaban dari sedekah, doa dan puasa kita. Bapa Yang Mahatahu, Dialah yang memberikan reward (penghargaan) atas kualitas keimanan kita kepada-Nya.[pong]
“Jangan pernah menunjuk-nunjukkan semua kelebihanmu, apalagi menunjukkan ketekunan dan kepandaiaanmu. Kalau kamu dalam menunjukkan kepandaian diri hanya sebatas di mulut tanpa bukti, suatu saat dirimu jadi tidak ada harganya.”