Memberitakan Kasih Karunia Allah Pancaran Air Hidup 6 Januari 2022

6 January 2022

Bacaan: Efesus 3: 1 13 | Pujian: KJ. 389 : 1 – 3
Nats:
“Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, …” (Ayat 8).

Masuk penjara tentu bukan keinginan setiap orang, karena bagi sebagian orang, penjara adalah suatu tempat yang buruk dan mengerikan. Pemahaman itu nampaknya tidak berlaku bagi rasul Paulus. Penjara justru menjadi tempat untuk memperlihatkan jati diri sebagai murid Kristus. Meskipun berada dalam penjara, keadaan itu tidak menyurutkan semangat rasul Paulus untuk menyebarluaskan Injil ke seluruh penjuru dunia melalui surat-surat yang dikirimkannya.

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, rasul Paulus memberitakan Injil: tentang rahasia kasih karunia Allah di dalam Kristus, “… bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.” (Ayat 6). Ini menegaskan bahwa karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus berlaku universal, bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Bagi rasul Paulus, pengungkapan rahasia kasih karunia Kristus sungguh amat penting. Karena selaras dengan penghayatan dan panggilannya bahwa kasih karunia Allah bukan hanya untuk orang-orang Yahudi saja, tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (bdk. Kis. 22:21). Oleh karena itu, dalam berbagai keterbatasannya, rasul Paulus tetap berjuang memberitakan Injil. Ia menyadari bahwa sisa hidup yang dimilikinya adalah kesempatan membaktikan diri untuk memberitakan kasih karunia Allah kepada semua bangsa.

Belajar dari rasul Paulus, keadaan yang sulit dan keterbatasan yang dialaminya tidak menjadi penghambat baginya untuk terus memberitakan kasih karunia Allah. Sisa hidup yang dimilikinya dipergunakan untuk berjuang dan membaktikan diri kepada Tuhan. Bagaimana dengan kita? Di tengah keberadaan kita dengan segala dinamikanya, apakah kita mampu dan mau untuk berjuang dan membaktikan diri memberitakan kasih karunia Allah bagi sesama? Kiranya kita dimampukan seperti rasul Paulus yang setia membaktikan diri kepada Tuhan di dalam segala keadaan yang terjadi dalam hidup kita. Selamat berefleksi, Tuhan Yesus memberkati. Amin. [mere].

 “Hidup adalah kesempatan.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak