Bacaan: Yohanes 12 : 1 – 8 | Pujian: KJ. 305
Nats: “Lalu kata Yesus, “Biarkanlah dia, supaya ia melakukannya untuk hari penguburan-Ku.” (Ayat 7)
“Kulihat awan membentuk wajahmu, desau angin meniupkan namamu, tubuhku terpaku.”
Lirik lagu di atas adalah bagian dari salah satu lagu hits beberapa tahun silam, judulnya sama dengan renungan hari ini, firasat. Kata Firasat, istilah yang tidak asing bagi kita namun kadang satu dengan yang lain berbeda memaknainya. Dalam lagu di atas, firasat dikaitkan dengan keadaan saat kita mengingat seseorang bahkan dalam fenomena alam yang biasa kita lihat. Awan jadi tampak seperti wajahnya, angin seolah menyuarakan namanya. Dalam lagu itu kemudian dipertanyakan, hal itu terjadi karena rindu ataukah pertanda sesuatu akan terjadi pada diri orang yang kita ingat terus menerus? Dari lagu tersebut, kita mendapati firasat cenderung dikaitkan dengan perasaan akan terjadinya suatu peristiwa.
Latar belakang kisah pengurapan hari ini adalah konflik antara orang Farisi dan Ahli Taurat dengan Yesus. Di perikop sebelumnya ditulis bahwa mereka telah membuat persepakatan untuk membunuh Yesus. Dalam situasi demikian, Maria memilih untuk menunjukkan kasih, hormat, dan baktinya dengan mengurapi kaki Yesus, serta menyeka dengan rambutnya sendiri. Sebuah totalitas pelayanan dan respons yang menggerakkan hati Yesus. Melalui pelayanan itu, Yesus menyatakan dengan gamblang, “… biarkan dia melakukannya untuk hari penguburan-Ku.” Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia akan segera wafat. Tetapi dalam pernyataan yang terang benderang itu, “firasat” yang terucap oleh Yesus itu tidak sepenuhnya diterima dan dipahami oleh para murid. Mereka gagal paham terhadap esensi peristiwa itu, mereka berdebat tentang minyak yang mahal itu.
Dalam hidup ini, bisa jadi kita menjumpai beragam peristiwa yang ternyata itu adalah firasat, baik tentang orang yang kita kasihi atau diri kita sendiri. Firasat bisa dipandang sebagai sarana Tuhan menyiapkan diri kita. Namun seperti kisah hari ini, semua tergantung dari respons kita. Apakah kita mau peka terhadap tanda-tanda, sehingga kita bisa memberi respons yang tepat seperti Maria? Atau kita justru sibuk menyangkal, menghindar, bahkan gagal paham? Kisah hari ini mengingatkan kita, selagi kita masih bisa bersama, mari kita mewujudkan kasih dan perhatian kita kepada orang-orang yang ada dalam hidup kita. Jangan abaikan tanda atau firasat yang ada, agar di kemudian hari tidak tersisa penyesalan di hidup kita. Amin. [WE].
“Peka terhadap tanda, menuntun kita pada respons yang tepat.”