Bacaan: Kisah Para Rasul 17 : 10 – 15 | Pujian: KJ. 356
Nats: “Karena itu, banyak di antara mereka yang menjadi percaya. Juga tidak sedikit di antaranya adalah orang Yunani yang terkemuka, baik perempuan maupun laki-laki.” (Ayat 12)
Apakah yang dapat membuat kehidupan sebuah jemaat bertumbuh dan berkembang? Jawabannya mereka hidup dalam persekutuan kasih. Persekutuan kasih adalah kehidupan yang dilandasi oleh kasih, dimana setiap anggota jemaat dapat diterima, dihargai, dan diberi kesempatan yang sama. Mereka hidup saling mengasihi, saling mengampuni, dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Masing-masing pribadi rela memberi dan berkorban. Pada saat ada masalah yang muncul dalam jemaat, segera diselesaikan dengan baik. Namun pada kenyataannya gambaran kehidupan jemaat yang hidup dalam persekutuan kasih sulit diwujudkan. Bukan karena tidak bisa mewujudkan, melainkan karena kurangnya komitmen untuk mewujudkannya, masing-masing pribadi lebih memikirkan diri dan kepentingannya sendiri daripada yang lain.
Bagian bacaan kita saat ini menceritakan Paulus dan Silas di Berea. Setiba di Berea, Paulus dan Silas menerima sambutan yang baik dari orang-orang Yahudi di kota itu. Di Berea mereka memberitakan firman Tuhan kepada orang-orang Yahudi di sana. Mereka menerima firman Tuhan itu dengan rela hati serta rindu mengetahui kebenaran firman Tuhan (Ay. 11). Penginjilan Paulus ini membuahkan hasil, banyak orang yang mendengarkan firman Tuhan menjadi percaya, termasuk orang Yunani yang ada di Berea. (Ay. 12). Mereka hidup dalam persekutuan kasih, persekutuan yang dibangun berlandaskan firman Tuhan dan kebenaran-Nya. Di tengah-tengah itu semua, datanglah orang-orang Yahudi dari Tesalonika untuk menghasut umat percaya. Mereka tidak menginginkan Injil Kristus disebarkan. (Ay. 13)
Di bulan pembangunan ini, kita sebagai warga GKJW diajak untuk membangun persekutuan kasih di tengah-tengah kehidupan jemaat kita. Kita mau peduli, berbagi, dan bersedia untuk melayani umat. Kita juga mau mendengarkan firman Tuhan sebagai dasar persekutuan kita. Kita membangun hidup rukun dengan warga jemaat yang lain. Tantangan, cobaan, rintangan dan hambatan pasti ada di tengah-tengah jemaat, seperti umat Tuhan di Berea. Namun jangan pernah menyerah, jangan mau dikalahkan oleh para penyesat yang merusak persekutuan kasih di tengah jemaat kita. Mari kita terus berusaha hidup dalam persekutuan kasih. Jadilah warga yang tangguh dalam menghadapi segala tantangan, cobaan, dan hambatan yang merusak persekutuan kasih kita. Tuhan memampukan kita. Amin. [AR].
“Hidup dalam persekutuan kasih menjadikan hati kita damai sejahtera.”