Bertobatlah! Pancaran Air Hidup 22 September 2026

22 September 2026

Bacaan: Roma 16 : 17 – 20  |  Pujian: KJ. 29
Nats: Sebab, orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dengan kata-kata yang muluk-muluk dan bahasa  yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.(Ayat 18)

Ada sebuah fenomena menarik yang menjadi perhatian kita. Saat ini gereja telah “menjamur”, dimana-mana ada gereja dengan berbagai macam model. Uniknya gereja-gereja yang “baru” bisa bertumbuh dengan begitu pesat. Tetapi mengapa gereja kita sudah sekian puluh tahun minim penambahan jumlah jemaatnya bahkan terus berkurang? Apakah karena musik dan tampilannya? Atau ada hal yang lain yang perlu menjadi perhatian kita bersama untuk diperbaiki?

Gereja-gereja yang baru terbentuk sebenarnya banyak belajar dari kehidupan gereja-gereja yang membuka jalan kekristenan berkembang secara khusus di wilayah Jawa Timur. Mereka berupaya menjawab keresahan yang terjadi. Terutama tentang rasa nyaman, diterima, dihargai, dan “dimanusiakan”. Hal ini juga yang ingin disampaikan Paulus kepada rekan sekerjanya di Roma. Di mana gereja hadir bukan untuk mengumbar kata-kata manis yang kosong, tetapi gereja dipanggil untuk hadir menghargai ketulusan setiap orang di dalamnya. Paulus menasihatkan agar rekan sekerjanya berjaga-jaga dan berhati-hati dalam setiap pelayanan mereka agar mereka tidak terjebak dalam perkataan manis namun kosong. Karena ketika mereka terjebak dalam hal tersebut maka gereja tidak lagi menyampaikan kabar sukacita dan kebenaran tetapi hanya ingin memburu keinginan daging saja.

Melalui surat rasul Paulus ini, kita diingatkan untuk bertobat dari segala yang telah kita lakukan selama ini. Secara tidak sadar seringkali kita menyakiti satu dengan yang lain. Kita sebagai gereja lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok kita sendiri daripada memikirkan kesatuan dan persekutuan Jemaat. Kita juga seringkali abai dengan perbuatan yang merusak hidup persekutuan kita. Saat ini, mari kita kembali menjadi gereja yang  menghargai ketulusan, gereja yang merengkuh sesama, gereja yang dirasakan keberadaannya, gereja yang menjadi berkat bagi sesama dan kehidupan. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita. Amin. [roge].

“Gereja hadir untuk merengkuh bukan untuk menghakimi.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak