Bacaan: Mazmur 146 : 1 – 10 | Pujian: KJ. 429
Nats: “TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim, dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.” (Ayat 9).
Hidup manusia itu sangat terbatas. Sekuat apapun usaha manusia untuk melawan hidupnya yang terbatas itu, tetap saja manusia tidak bisa melawan kematian. Meskipun sesungguhnya kematian adalah pintu untuk menuju keabadian, tetapi manusia berjuang keras untuk menolaknya karena ketidak-berdayaan manusia memahami apa yang terjadi di masa depan atau di keabadian. Lalu pertanyaannya adalah apa yang bisa kita lakukan dalam hidup yang singkat ini?
Dalam bacaan hari ini, kita diajak oleh Pemazmur untuk melakukan tindakan yang dilakukan Tuhan, yaitu berpihak pada yang lemah. Sepanjang kehidupan ini, selalu ada orang yang dimarjinalkan atau dipinggirkan. Orang asing, anak yatim, dan janda adalah orang-orang yang dimarjinalkan oleh pihak lain pada zaman Pemazmur. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan. Mereka adalah korban dari ketidak-adilan. Orang yang berkuasa dan kuat mengkorupsi hak mereka sehingga hidup mereka makin tidak berdaya. Mereka makin terjepit di sudut sehingga membutuhkan pertolongan untuk bertahan hidup.
Hidup yang singkat ini perlu bermakna. Kita tidak bisa hanya hidup memikirkan kesejahteraan pribadi. Out of the box. Diperlukan keberanian untuk keluar dari kenyamanan agar kepekaan kita pada orang yang menderita makin terasah. Jika kita merasa menderita, cobalah lihat sekeliling, maka akan kita jumpai masih banyak orang lebih menderita. Di sinilah tantangan kita untuk memberi makna pada hidup yang singkat ini. Tuhan sudah memberikan contoh, bagaimana Ia berpihak pada yang lemah. Sekarang giliran kita untuk melebarkan pandangan agar menemukan siapa saja orang-orang di sekeliling kita yang membutuhkan pertolongan: Pasangan hidup kita? Anak-anak? Tetangga di kanan atau kiri? Sahabat? Teman gereja? Rekan kerja? Atau Orang yang kita jumpai di jalanan? Tuhan senantiasa memampukan kita menolong yang lemah. (pipin).
“Waktu menjadi sangat berharga ketika kita meringankan tangan untuk menggandeng orang yang lemah dan tak berdaya.”