Bersepakatlah Renungan Harian 4 Juli 2020

Bacaan : Kejadian 27 : 18 – 29 |  Pujian : KJ. 407
Nats:
“Kata Yakub kepada ayahnya: “Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku.” (Ay. 19)

 Fenomena bunuh diri di kalangan anak muda masa kini cenderung meningkat. Bahkan, tingkat bunuh diri di kalangan anak muda usia 15-29 tahun menjadi penyebab kematian nomer dua terbesar, setelah kecelakaan. Mengapa trend bunuh diri di kalangan anak muda cenderung meningkat?  Salah satu penyebabnya adalah orang tua tidak hadir ketika anak membutuhkan pendampingan karena terlalu sibuk untuk memenuhi kebutuhan hidup. Keluarga sebagai sekolah pertama seorang anak dan orang tua adalah guru pertama yang mendidik anak tentang nilai-nilai kebaikan, untuk menjadi kuat dan mandiri sehingga ia lebih tangguh menghadapi tantangan dalam hidupnya tidak berfungsi dengan baik. Orang tua lalai memerankan tugas tersebut. Ketika anak frustasi karena menghadapi tantangan dan rintangan, mereka tidak punya tempat terbaik untuk bersandar dan mencurahkan isi hatinya.

Dalam bacaan hari ini, kita mendapati Ishak dan Ribka yang lalai menjadi guru yang baik bagi anak-anak mereka karena mereka saling berpihak dalam mendidik anak mereka, Esau dan Yakub. Hati Ishak condong ke Esau sedangkan Ribka lebih condong ke Yakub. Tanpa mereka disadari, Ishak dan Ribka telah menciptakan persaingan yang tidak sehat pada anak-anak mereka. Dan anak-anak menuai dampak buruk dari cara mereka mendampingi anak. Lihat saja cara Yakub untuk mendapatkan hak kesulungan. Atas dukungan dari ibunya, Yakub memanfaatkan ketidak-jelasan penglihatan mata ayahnya untuk mendapatkan hak kesulungan. Ini adalah contoh tidak sehat dalam mendidik anak.

Untuk melakukan pendampingan yang sehat pada anak, maka orang tua perlu bersepakat dalam mendidik anak dan melibatkan anak untuk didengar pendapatnya. Sudah saatnya bagi anak diperlakukan bukan sebagai obyek untuk mencapai tujuan tetapi anak dijadikan subyek dalam proses hidup mereka. Hal ini bertujuan agar kehidupan dalam keluarga dapat berjalan baik dan harmonis, proses pendampingan dan pendidikan anak dapat dilakukan secara sehat. (pipin).

“Anak adalah subyek bagi kehidupannya”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •