Bacaan: 2 Korintus 1 : 1 – 11 | Pujian: KJ. 144A
Nats: “Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” (Ayat 9b)
Dalam budaya Jawa, sendika dhawuh merupakan kepatuhan, interaksi antara abdi dalem (pelayan) dengan raja atau orang yang memiliki kedudukan tinggi. Sendika dhawuh menunjukkan ketaatan pada perintah yang diberikan. Walaupun sendika dhawuh lebih sering digunakan pada lingkungan keraton pada masa lalu, prinsip nilai ketaatan, penghormatan, dan tata krama masih tetap dijaga dalam kehidupan masyarakat Jawa. Para abdi dalem yang melakukan perintah raja dengan sendika dhawuh pasti ini bukan hal ringan. Ada perang batin, ada rasa berat, tetapi tetap dijalankan dengan setia dan sepenuh hati. Dan tidak semua orang sanggup melakukan kesetiaan sedemikian tinggi itu.
Dalam perikop kita hari ini, Paulus seperti “sendika dhawuh” terhadap apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Paulus tentu memiliki pengalaman mencari cara keluar dari situasi sulit dan menyakitkan yang ia alami. Namun di sini, ia menyadari bahwa Tuhan ingin ia dan teman-temannya mengandalkan Tuhan, bukan mengandalkan kekuatannya sendiri. Jika Tuhan ingin Paulus dan teman-temannya melakukan itu, kita yakin bahwa Tuhan juga ingin kita mengandalkan-Nya, bukan mengandalkan kekuatan diri kita sendiri di saat kita mengalami rasa sakit dan masalah.
Maka kita sebagai orang Kristen sendhika dhawuh kepada Tuhan adalah keharusan. Mengikut Tuhan itu seperti two in one. Ada sukacita sekaligus dukacita yang menyertai. Penderitaan yang kita alami karena iman kepada Kristus bukanlah kutuk, melainkan berkat. Jika penderitaan adalah cara Tuhan mendewasakan iman kita, maka penderitaan kita bisa menjadi berkat agar kita dapat melayani orang lain. Tuhan ingin kita lebih bergantung kepada-Nya karena Dia lebih berkuasa. Kita menerima penghiburan dari-Nya agar kita dapat menghibur orang lain. Memang tidak semua orang bisa menerima penderitaan dengan begitu saja. Ada yang mempertanyakan kebaikan Allah, ada yang mempertanyakan mengapa ia harus mengalami penderitaan itu dan bukan orang lain. Ada juga orang yang langsung menyelidiki dosa-dosa yang menjadi penyebab penderitaannya. Mari kita menaruh harapan yang baik bahwa Tuhan menyelamatkan kita. Hidup memang sulit, tetapi Tuhan itu baik. Jangan panik! Amin. [DP].
“Seberat apapun beban yang harus kita pikul, berserah pada kehendak-Nya, Dia memberi kelepasan dan kita menjadi berkat.”