Bacaan : 1 Raja-raja 17 : 17 – 24 | Pujian : KJ. 341
Nats: “Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman Tuhan yang kau ucapkan itu adalah benar.” (Ay.24)
Salah satu hal yang membuat manusia hidup dan terus bertahan hidup adalah asupan nutrisi yang diterimanya melalui makanan yang dimakannya. Demikian pula halnya dengan seorang bayi. Ketika lahir, ASI dari ibu yang membuatnya bertahan hidup. Memberikan ASI memiliki nilai-nilai pengorbanan yang dilakukan seorang ibu demi anak yang dikasihinya. Bahkan tanpa merasa malu, seorang ibu rela mengeluarkan payudaranya di hadapan orang banyak ketika anaknya menangis kehausan.
Bagi janda di Sarfat, anaknya adalah harta yang paling berharga. Satu-satunya generasi penerus dan hidupnya di masa tuanya kelak. Maka ketika anaknya mati, maka dunianya menjadi suram. Pengorbanannya untuk berbagi roti terakhir yang dibuatnya untuk diberikan sebagian kepada Elia, menghasilkan pemeliharaan dari Allah. Minyak dalam buli-buli serta tepung dalam tempayan miliknya tidak pernah habis. Tetapi apa gunanya semua itu, jika ia kehilangan anaknya?
Kedatangan Elia ke Sarfat agar hidupnya terpelihara, artinya keluarga janda itu menjadi berkat baginya. Di sisi lain, kehadiran Elia juga menjadi berkat bagi keluarga si janda. Namun tantangan yang muncul kemudian adalah kematian si anak. Si janda mengira bahwa kedatangan Elia membawa maut bagi anaknya (bdk ay 18). Ketika Elia berseru kepada Allah, maka Allah menjawabnya. Anak itu kembali hidup. Namun sebenarnya ada sesuatu hal yang lebih indah lagi dari peristiwa itu, yakni janda Sarfat itu mengenali dan mengerti bahwa Elia adalah abdi Allah yang benar dan setiap Firman Tuhan yang diucapkannya adalah benar. Peristiwa kematian si anak, memberi pemahaman baru bagi keluarga itu tentang Allah Israel yang menyelamatkan. Betapa kita tidak bersyukur, bahwa Allah telah mengorbankan Putera Tunggal-Nya supaya kitapun memperoleh kehidupan yang baru. (DK).
“Dipendam dalam kematian dan bangkit memberikan kehidupan baru.”