Ekspektasi vs Realita Pancaran Air Hidup 30 Juni 2022

Bacaan: Roma 7 : 13 – 26 | Pujian: KJ. 436
Nats:
Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu apa yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat yang aku perbuat.” (Ayat 19).

Ekspektasi adalah harapan akan kenyataan yang terjadi secara ideal atau sesuai dengan yang dibayangkan. Sedangkan realita adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Dalam banyak hal, ekspektasi terhadap sesuatu tidak selalu sebanding dengan realitanya. Bisa lebih baik atau lebih buruk. Dalam hidup beriman pun, kita berekspektasi untuk menjadi pengikut Kristus yang selalu taat melakukan kehendak Allah. Namun realitanya, seringkali kita justru gagal melakukan kehendak Allah oleh karena berbagai alasan. Jarak antara ekspektasi dengan realita itu terletak pada seberapa gigih usaha kita untuk mewujudkannya.  

Paulus menggambarkan kehidupan pribadi orang percaya, termasuk dirinya, selalu ada dalam pergulatan batin yang luar biasa. Kita ada di antara dua pilihan, antara ingin melakukan apa yang baik atau yang jahat, antara menuruti kehendak Allah atau keinginan daging. Realitanya, yang dilakukan seringkali justru kehendak-kehendak manusiawi yang menentang kehendak Allah. Pergulatan batin itu tak pernah usai. Apalagi jika berhadapan dengan kerapuhan manusia yang menjadikan kegagalan untuk taat kepada Allah menjadi semakin besar. Lalu menimbulkan rasa frustasi.

Oleh karena itu, keselamatan manusia tidak bisa bergantung pada usahanya sendiri, melainkan bergantung penuh pada kasih karunia Allah melalui Yesus. Namun demikian, sepanjang Tuhan masih memberikan kesempatan hidup, kita pun harus senantiasa belajar dan berjuang untuk taat dan setia kepada kehendak dan ketetapan-ketetapan Allah. Meskipun hasil dari perjuangan itu tak bisa selalu sempurna dan sesuai dengan ekspektasi kita. Setidaknya Tuhan memberi akal budi dan memperlengkapi kita dengan hikmat-Nya agar kita semakin dapat berjalan menuju kesempurnaan Yesus Kristus sebagai Sang Teladan Agung. Meski kita rapuh dan seringkali harus jatuh dan bangun, tetapi perjuangan kita itu tidak akan pernah sia-sia. Amin. [wdp].

“Teruslah berjuang taat melakukan kehendak Allah meskipun kita selalu ada dalam pergulatan batin yang luar biasa untuk bertahan dari segala ujian dan pencobaan.
Karena dalam proses itulah kemurnian iman teruji dan terdewasakan.

 

Bagikan Entri Ini: